Follow IG @samar_jenny1
Zia adalah gadis yang membenci perjodohan, itu menjadi sebuah prinsip yang dijalani. Zia sudah mempunyai kekasih mereka saling mencintai, namun sayang cinta mereka tidak mendapat restu dari orang tua.
Justru tanpa perundingan ia dijodohkan dengan lelaki pilihan sang ayah. Untuk membayar jantung, yang didonorkan seseorang.
Zia bagai menelan pahit di satu sisi ada orang tuanya, di sisi lain ada kekasih yang ia cintai. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya terjerat cinta segitiga. Di dalam perjodohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penerus Perusahaan
Zia membuka pesan dari Rio yang ternyata isinya adalah foto-foto kenangan mereka berdua saat di pantai dulu.
Ia Dia takut ketahuan oleh Raka karena masih ingat ancamannya. Zia segera mematikan ponselnya sangat panik. Bahkan, begitu paniknya sehingga ia tidak menyadari kalau Raka sedang memperhatikan.
Raka melihat dengan heran atas kelakuan Zia kenapa kelihatan begitu panik?
Lelaki itu mendekat di sofa dan duduk di sebelah Zia.
"Kamu kenapa?" tanya Raka.
Membuat Zia seketika terkejut dan menoleh salah tingkah. "Hem? Memangnya kenapa? aku tidak papa seperti yang Anda lihat. Baik-baik aja hiii...hii." Ia memasang senyum palsu.
"Dari tadi aku perhatikan kamu sibuk dengan ponselmu? Mana, aku mau lihat!" pinta Raka menjulurkan tangannya.
"Tapi ... ponselku baterainya habis, kalo tidak percaya lihat ini." Zia menyodorkan ponsel nya berharap Raka mempercayai.
Raka mengambil ponsel milik Zia dan memeriksanya tenyata benar saja. Benda itu mati.
Selamattt... huufffff. Untung aku mematikan duluan tadi. kalau tidak entah apa yang akan terjadi dengan kehidupan ku selanjut nya.
"Aku akan membawa ponselmu," ucap Raka
"Tapi ... tapi ... ibuku berjanji akan menelpon, nanti siang. Aku akan mengisi dayanya dulu ke kamar." Zia segera mengambil ponsel dengan cepat lalu segera pergi meninggalkan Raka ke kamar.
Sesampainya di kamar Zia segera cepat, menghapus foto-foto yang dikirim oleh Rio. dan dia juga memblokir nomor mantan pacarnya itu.
Dan tiba-tiba setelah ia selsai menghapus foto ada suara Raka di belakang.
"Ehheeeemmm!"
"Apa sudah selsai mengisinya?" tanya raka yang mengagetkan Zia.
"Oh! iya, tuan ini.. aku sudah selsai mengha... mengisinya maksud saya. Ini ambilah." Menyodorkan handphone kepada suaminya.
Raka menaikkan sebelah alisnya sambil mengambil ponsel dari tangan Zia.
Terlihat dia sedang memeriksa semua yang ada di dalam ponsel.
"Ini ambilah! buat apa aku memegang ponsel mu yang buruk itu bahkan jaringan saja timbul tenggelam."
Zia membulatkan mata. Bukankah kamu tadi yang memintanya? Dasar!
"Kenapa diam cepat, ambilah!"
Zia segera mengambil dari tangan Raka
"Tuan, apa kau sudah selsai mengajak berkelahi? Kenapa kau selalu kasar kepada ku?" Zia memberanikan diri berbicara.
"Memang nya apa yang kamu ingin kan dari ku apaa.. kamu ingin aku menjadi suami yang menyayangi dan meminta hak ku sebagai seorang suami? aku akan mengabulkan permintaan mu."
Raka mendekat ke arah Zia. Perempuan itu mengambil langkah mundur seribu bayangan. Semakin ketakutan saat Raka maju. Ia berjalan semakin mundur dengan tangannya.
Ia meremat ujung kaos karena ketakutan. Terus saja mundur hingga memepet di dinding tidak ada celah lagi untuk dia kabur.
Tangan Raka bertumpu di dinding menghalangi geraknya. Tangan Zia menepis tubuh Raka yang tepat berada di depan nya.
mungkin dia tidak ingat kalau semalam mencium ku. tapi jangan untuk hari ini ku mohon dia kali ini dengan sadar. jangan jangan.. kumohon!
Zia memejamkan matanya karena takut. Jantungnya berlompatan di dalam sana. Ia memejamkan mata semakin rapat-rapat saat menyadari Raka semakin mendekat.
Semalam aku bingung entah itu mimpi atau nyata. yang pasti akan ku ulangi kejadian itu lagi.
"Tolong jangan, tolong jangan, please ...." Zia menahan napas.
Tok.. tok.. tok.!
Raka mengalihkan wajah sambil membuang napas kesal. Lelaki itu berdecak begitu geram.
Zia menghela napas lega saat Raka membukakan pintu. Akhirnya dia berhasil keluar dari cengkraman hewan buas!
Zia menengok ke pintu melihat sekertaris Meysa berbicara di sana dengan Raka.
''Sepertinya aku harus berterima kasih kepada Meysa kali ini. Karena dia aku selamat," gumam Zia.
Setelah Raka bicara dengan Mesya, menatapnya dengan tajam seperti pemangsa. Zia tidak mau kalah cepat dia langsung masuk ke kamar mandi melarikan diri.
Raka hanya tersenyum tipis melihat tingkah Zia. Berjalan mengambil Ponsel yang berdering. Ia mengangkat dan itu telepon dari pak Handoko.
Pak Handoko menelpon karena ada hal penting yang tidak bisa di wakil kan oleh orang lain. Meminta Raka untuk bersiap-siap untuk ke kantor. Ia akan segera menjemputnya.
Dengan cepat Raka bergegas memanggil Meysa yang sedang di sofa ruang tengah. mengajak pergi ke tanpa memberi tahu Zia.
Zia yang masih di dalam kamar mandi penasaran karena tidak ada suara dari luar. Ia mengintip dari balik pintu yang tidak terbuka sepenuhnya.
Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri merasa aman dia segera keluar dari tempat itu.
"Huhff.. aku selamatt.. " gumam nya.
Zia belum mau membuka hati nya untuk Raka karena hatinya masih sakit mengingat apa yang dilakukan oleh Rio.
Dia tidak ingin hal serupa terjadi pada nya lagi.
Memang benar sebelum nya. dia yang menikah duluan, tapi dia ingin jujur kepada Raka dan ingin Raka menceraikan nya karena mencintai Rio dulu.
Namun, ternyata Rio menghancurkan hatinya.
Sebelum Zia mengatakan semua itu pada Raka.
Raka berada di dalam mobil duduk di jok belakang, ditemani Mesya yang duduk di depan dekat Pak Handoko yang sedang mengemudikan mobil.
Raka sepanjang perjalanan bingung dengan perasaannya.
Kenapa dia akhir-akhir ini sangat bergairah saat melihat istrinya. Sebenarnya wajar saja karena dia lelaki normal melihat tubuh dan bibir Zia yang kecil dan menggoda membuat dia sangat tertarik pada istrinya.
Namun, dia tidak ingin terlihat kalau tertarik kepadanya.
Mobil sampai di depan perusahaan miliknya. Raka menemui klien yang sudah menunggu di ruang rapat.
Seorang lelaki paruh baya, menjabat tangan Raka, lelaki itu adalah Hendri partner bisnis Raka yang sudah bertahun-tahun menjalin kerjasama.
"Selamat siang, Tuan," ucap Raka.
"Selamat siang, Raka. Maaf harus membuatmu buru-buru kemari," ucap Hendrik.
"Tidak apa, Tuan Hendri. Kita kan sudah seperti keluarga sendiri," ucap Raka. Kemudian duduk di kursi.
"Jadi begini Raka. Saya rasa sudah harus istirahat dari jabatan selama ini. Jadi ... saya akan menggantikan posisiku selama ini. Kedatangan saya kemari juga ingin mengenalkan penerusku sekaligus supaya kalian saling kenal selanjutnya."
"Benar kah? Siapa dia?" tanya Raka.
Baru saja bertanya pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Dengan napas ngos-ngosan pria yang terlihat tampan menggunakan kemeja warna hitam, tatanan rambutnya sangat keren. Dia seumuran dengan Raka hanya saja tubuh nya lebih kecil dari pada Raka, itu masuk kedalam ruangan.
"Maaf, Pa, aku terlambat," ucapnya.
"Nak kenalkan ini Raka, dan Raka kenalkan, ini putraku, yang akan menjadi penerus perusahaan milikku. Kenalkan dia adalah ... Rio Rahardian. Putraku satu-satunya," ucap Hendrik.
"Halo, senang berkenalan dengan Anda," sambut Raka.
"Aku juga sangat senang berkenalan denga Anda. Kuharap kita bisa jadi teman setelah ini, pasti aku sangat senang bisa berteman dengan CEO hebat sepertmu," puji Rio.
"Tidak perlu berlebihan. Bahkan aku tidak sehebat ayahmu."
"Baiklah Raka. Saya akan pergi dulu, harus menjemput Mama Rio ke bandara." Hendrik pergi meninggalkan ruangan rapat.
Raka dan Rio sangat asik berbincang sehingga mereka sangat akrab meski baru pertama bertemu.
Mereka berdua keluar dari ruang rapat bersama sama sambil membicarakan proyek yang akan di kerjakan.
Melihat dua orang laki-laki memiliki wajah yang mendekati perfek itu membuat perempuan yang dilaluinya bangkit. tidak terkecuali sekertaris Mesya. Perempuan itu hingga menelan saliva melihat lelaki tampan tersebut berjalan beriringan.
Andai aku bisa memiliki salah satu nya.
batin meysa.
"Raka apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Rio.
"Bahkan aku sudah menikah Rio," balas Raka sambil tersenyum tipis. Berjalan keluar dari kantor.
"Benarkah? Aku penasaran wanita mana yang bisa menaklukkan pria sepertimu?" ucap Rio terkejut.
Raka tersenyum sambil membayangkan wajah Zia. Tiba-tiba terlintas lalu dia tersenyum tipis.
"Baiklah, kapan-kapan mungkin boleh aku berkunjung ke rumah mu?" ucap Rio.
"Tentu," ucap Raka.
mereka berdua keluar dari gedung dan masuk di jemput mobil masing masing. Raka masuk ke dalam mobil nya.
Selama berada di dalam perjalanan Raka bingung dengan perasaannya kenapa wajah Zia.selalu menghantui pikiran nya.
Dan di dalam mobil yang berbeda Rio terlihat memainkan ponselnya. dia bingung karena nomor Zia selalu tidak bisa di hubungi dia berencana akan menggunakan nomor lain untuk menghubungi Zia.
Akhirnya, mobil yang di tumpangi Raka tiba di halaman rumah.
Seperti biasa Pak Handoko berpamitan untuk pulang setelah tugasnya selesai.
Hari sudah malam suasana rumah sudah begitu sepi. Mungkin pelayan sudah tidur hanya ada dua orang yang masih terjaga itu pun tanpa mengeluarkan patah kata.
Tiba tiba Raka melihat Zia berdiri di tangga mungkin bermaksud akan menyambutnya. Namun, Raka berjalan lurus tidak menghiraukannya. Berpura-pura tidak melihat ada seorang di sana.
"Apa dia tidak melihatku? Dia anggap apa aku yang berdiri di sini sejak tadi? kenapa dia berjalan melewati ku begitu saja, mungkin dia marah gara-gara kejadian tadi siang, hah, baguslah kalau dia marah dan tidak menghiraukan aku."
Zia berjalan mengikuti Raka yang sudah tidak terlihat lagi.
"Aku akan menawari dia makan malam ke kamar," ucap Zia berbicara sendiri.
Zia masuk ke dalam kamar melihat Raka sedang asik duduk di atas tempat tidur memainkan ponsel.
"Tuan, apa kamu sudah makan?" tanya Zia dengan ragu.
Raka asik dengan ponsel nya tidak menjawab pertanyaan gadis itu.
"Yang mulia apa-"
"Apa!! kau mau bertanya apa?!" ucap Raka dengan keras. Membuat Zia tersentak takut.
"Ak-aku kan cuma bertanya, kenapa kau marah seperti ini? apa kau masih marah gara gara tadi siang?" tanya Zia.
"Tadi siang? memangnya kenapa dengan tadi siang?" Raka menaikan sebelah alis.
Sebenarnya bukan apa, Raka bersifat dingin kepada Zia seperti ini. Ia hanya tidak ingin terlihat kalau dia memiliki perasaan aneh pada Zia. Itu semua karena ingin menjaga image semata.
Bersambung....