Pernahkah kalian melihat Mertua dan Menantu bersitegang??
Itu hal biasa, Banyaknya Mertua yang hanya bisa menindas menantu dan tidak Suka kepada menantunya, berbeda dengan mertua dari Almira, Rahayu dan Sintia. Dan Rafa
Mertua yang memperlakukan anak menantunya seperti anak sendiri bahkan sangat menyayangi ketiganya. Mertua yang sangat jarang ditemui karena sangat langkah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Shofiyah menatap Ramlah dengan tajam, dia bukan tidak tahu kisah masa lalu Ayu yang kelam saat ditinggal oleh ibunya pergi bersama selingkuhannya karena ayah Ayu saat itu hidup miskin. Sekarang setelah mereka memiliki segalanya dan Ayah Ayu meninggal, dia datang menuntut bakti Ayu sebagai anak.
"Semuanya sudah berlalu, toh biar bagaimanapun saya adalah ibunya Ayu, kau tidak berhak mengusir ku". Ucapnya dengan sombong.
Shofiyah menyeringai sinis melihat kelakuan sang besan yang tidak tahu malu itu, bahkan seakan tidak punya harga diri.
"Hahaha, tapi sayangnya kamu dengar sendiri, Ayu tadi tidak mengusir ku, jadi orang itu tahu diri dikitlah, apa perlu kupanggil kan dokter THT untuk mengurus telinga kalian yang budek itu". Ucap Shofiyah melangkah mendekati Ayu dan menatapnya khawatir.
"Kamu dengar sendiri Ayu, inilah ibu mertua yang selalu kau banggakan, kau tidak dengar dia menghina ibumu sendiri, kamu mau jadi anak durhaka?? Hardiknya dengan keras bahkan membentak Ayu.
"Jangan pernah meninggikan suaramu apalagi membentak putriku Ramlah, kau harusnya sadar akan kelakuanmu yang meninggalkan anak dan suamimu hanya untuk mengejar nafsu egois mu, kau pikir Ayu ini batu tak memiliki perasaan, kau sudah membuangnya bersama ayahnya jadi jangan sok menggurui aku". Ucap Shofiyah melotot tajam kepada Ramlah.
"Pergilah bu, aku tidak mau berurusan dengan kalian, sejak tadi aku sudah menyuruh kalian pergi dari sini, aku tak bisa dan tak punya tenaga untuk ribut sama ibu, kepala ku pusing". Ringis Ayu kesakitan.
"Kita kerumah sakit saja yah nak, kasihan kamu". Ucap Shofiyah mengelus kepala Ayu dengan sayang sambil memijitnya pelan.
"Kepalaku pusing bunda, aku juga mual". Rengek Ayu dengan manja.
Melihat interaksi Ayu dan Shofiyah, Ramlah merasakan sedikit getaran aneh dalam hatinya, dia seperti tercubit dan tersentil atas sikap yang tidak pernah Ayu tunjukkan padanya.
"Iya nak, begitu memang efeknya, sabar yah". Ucap Shofiyah memeluk Ayu yang merengek manja seperti ini.
"Tante liat sendiri??, bisa dengar sendiri kan, bagaimana Ayu sangat manja kepada ibundaku, apakah Ayu pernah menunjukkan sikap seperti itu pada tante, tidak kan??, harusnya tante paham kenapa Ayu lebih memilih keluarga kami dibandingkan Tante yang notabennya orangtua".
"Yang dikatakan adikku benar tante, seorang anak akan mencintai kita tergantung bagaimana kita memperlakukan mereka jadi harusnya tante intropeksi diri, kenapa bisa Ayu hanya memberikan tatapan datar dan dingin kepada Tante sedangkan bundaku tidak".
"Ala, kalian hanya bermuka dua karena hanya didepan Ayu kalian baik buktinya Aiman berselingkuh sampai menikah lagi dan akan punya anak kalian diam saja, itu kah kalian bilang tulus". Dia menatap Tajam ketiga saudara Aiman dengan penuh Amarah.
"Tente, tante, tante ini betul-betul aneh, Ayu itu bukan anak kecil yang tidak tahu mana yang tulus dan tidak, mana yang benar dan yang tidak, masalah Aiman, tante tidak usah sok tahu, toh kenyataannya tidak seperti itu". Sufyan menggelengkan kepalanya tersenyum mengejek.
"Ibu Tidak mau tahu Ayu, kamu usir mereka semua, mulai hari ini ibu akan temani kamu dan mengurus mu disini". Ucap Bu Ramlah dengan memaksa.
"Maaf bu, sudah ada ibu mertuaku yang tinggal disni, saya tidak membutuhkan ibu seperti dulu, ibu bukannya pernah bilang, ibu tidak mau mempunyai anak seperti Ayu yang lahir dari benih orang miskin dan melarat, nanti hidup ibu akan susah karena merawat ku jadi maaf aku tidak mau, ibu bisa pergi". Ayu membuang pandangannya kemudian memeluk Shofiyah semakin dalam.
"Dasar anak kurang ajar, aku ini ibumu, kau tidak bisa membuang ibu seperti ini dan malah menyayangi orang yang bukan darahmu". Bu Ramlah mendekati Ayu dengan wajah garang.
Dia tidak terima diperlakukan seperti ini oleh anak yang dia lahirkan, baginya Ayu harus berbakti padanya karena dia adalah ibunya.
"Maaf bu, pergilah kumohon, aku tidak membutuhkan ibu, pergilah". Ucap Ayu dengan lirih, kepalanya berdenyut hebat.
"Pergilah tante, kalau tante tidak mau bergerak, kami akan menyeret paksa tante keluar dari rumah ini sekarang juga". Sufyan menatap tajam keluarga Ayu yang bebal dan tidak tahu diri.
"Diam kalian, kalian itu semua hanya pura-pura melindungi Ayu karena harta Ayu, kalian yang harus pergi dari sini". Teriaknya dengan penuh amarah, bahkan urat-urat dilehernya semakin menyembul.
"Aku tidak membutuhkanmu bu, kaulah yang membuang aku dan ayah sejak aku kecil, membuatku sangat membencimu, kau hanya memikirkan dirimu manusia egois, hanya karena tidak tahan susah kau meninggalkan kami seperti sampah". Teriak Ayu dengan amarah.
Sejak tadi dia berusaha menahan diri karena kepalanya berdenyut hebat. Tapi melihat kelakuan ibunya yang meneriaki dan menghina keluarga yang begitu menyayanginya, dia tidak terima.
"Kau meneriaki ibu dan membela mereka Ayu, kau tidak takut jadi anak durhaka?? Tanyanya dengan terkejut.
Dia tidak menyangka jika Ayu akan meneriaki dirinya seperti ini di hadapan orang yang dia benci karena melindungi Ayu.
"Jangan selalu Play victim bu, selama ini aku berusaha menghormati ibu tapi ibu kira aku tidak tahu saat ibu ada di rumah ku, ibu mengambil barang yang tidak sedikit hanya untuk menyenangkan anak-anak ibu yang baru, apa tidak ada kah sedikit ibah dan sayangmu padaku, kenapa kau selalu lakukan ini padaku". Teriak Ayu dengan histeris.
"Aku anak ibu yang ibu buang, aku anak ibu yang hidup menderita setelah semuanya, aku anak ibu yang tidak pernah ibu beri kasih sayang, bukan aku yang durhaka tapi ibu orangtua yang tidak punya hati". Ayu semakin berteriak menunjuk sang ibu meluapkan segala emosi yang selama ini dia pendam.
"Sufyan, Rafa, seret paksa mereka keluar dari sini nak, kasihan Ayu". Perintah Shofiyah kepada anak dan menantu lelakinya itu.
"Andai bisa ditukar, aku tak mau lahir dari ibu seperti mu". Ayu menangis dengan tubuh bergetar hebat.
Shofiyah memeluk sang menantu kemudian meneteskan air matanya, dia tahu semua menantunya merasakan hal yang sama satu sama lain.
Ayu, Almira, Sintia dan Rafa memiliki penderitaan dari keluarga yang sama bebannya, Mereka selalu dituntut dengan materi dan di Cap durhaka jika tidak membantu padahal mereka diperlakukan tidak adil oleh keluarga dan orangtua mereka. Memiliki orangtua tapi seperti Yatim piatu.
"Ayo kak, kita usir mereka, mereka semua keterlaluan, kasihan Ayu dia sedang hamil". Ucap Rafa segera bergerak memegang dan menarik paksa ibu dan kedua adik tiri Ayu.
"Lepasin aku anak miskin, lepasin". Teriak Ramlah tidka terima, dia memberontak tapi tidak bisa lepas dari cekalan kuat dari Rafa.
"Aku tidak akan tinggal diam, kalian harus membayar penghinaan ini". Teriaknya meronta-ronta.