Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 POLOS
"Siapa gadis ini walau wajahnya cantik, kenapa dia sangat polos atau mungkin bodoh," pikir Kael.
"Kakak..." panggil Seyna sambil menautkan jari telunjuknya satu sama lain.
"Hmm?"gumam Kael yang mssi belum mencerna apa yang terjadi.
Seyna buru buru mendekat ke arah Kael, tetapi Kael langsung menaruh telapak tangannya di dahi Seyna agar gadis itu tidak mendekat lagi.
"Kakak..lepaskan...lepaskan," ucap Seyna yang berontak karena ingin mendekat lagi ke arah Kael.
"Kau ini siapa?"tanya Kael dingin sorot matanya tajam.
Seyna yang melihat itu terdiam, lalu menunduk merasa takut. Kael yang melihat itu mendengus lalu mendekat ke arah Seyna yang membuat Seyna segera memalingkan wajahnya.
"Heii...gadis kecil look at me" ucap Kael mencoba menatap ke arah Seyna.
Seyna masi merasa kesal memalingkan wajahnya dan berkata lirih, "Kakak jahat seperti orang orang itu," ucap Seyna sambil menunjuk beberapa orang yang lewat.
"Kata siapa aku jahat?"tanya Kael lalu berdiri tegap sambil bersedekap.
"Itu kakak memelototiku, memangnya Seyna salah apa?"ucap Seyna sambil cemberut dan menoleh ke arah Kael.
Entah kenapa saat Kael melihat gadis itu, ia merasa lucu dan ingin terus melindungi gadis kecil itu.
"Aku tidak memelototi mu, memang tampangku saja tegas," ucap Kael membela diri.
"Sama saja, seperti mereka yang selalu menjahatiku," kesal Seyna lalu segera berlari seperti anak kecil menjauh dari Kael.
Kael yang melihat itu ingin mengejarnya tetapi tiba tiba sebuah tangan menahannya.
"Tuan Kael.." ucap asistennya.
"Kau..ini selalu saja datang di waktu yang tidak tepat," kesal Kael sambil menunjuk nunjuk wajah asistennya itu.
"Tuan Kael, Tuan Amar sudah mau melaksanakan tunangannya dengan putri keluarga Damar," ucap Asistennya meminta Kael untuk segera hadir menyaksikan.
"Masalah tidak penting itu, kenapa harus aku ikut. Aku sedang berbicara dengan seorang gadis dan gara gara kau sekarang aku tidak melihat batang hidungnya lagi," ucap Kael.
"Tapi tuan, jika tuan tidak datang yang ada kakek tuan akan marah," ucap asisten itu raut wajahnya memelas.
"Dasar kau ini, selalu saja memakai nama kakek. Memangnya aku yang akan bertunangan?kenapa aku harus ikut repot."
"Ya sudah ayo kesana," ajak Kael disusul asisten itu.
Sedangkan Seyna hanya menatap kepergian Kael dari balik dinding, walau raut wajah Kael terlihat tegas entah kenapa dia tidak begitu menyeramkan seperti rumor rumor yang bertebaran.
"Kael, akan aku buat kau penasaran," gumam Seyna senyum sinis terukir di wajah imutnya.
Seyna berjalan menuju ke arah tangga menatap acara pertunangan Alisha yang sedang dilaksanakan, tetapi saat acara pertukaran cincin itu. Seyna segera melempar lukisannya dari atas tepat di samping Alisha, semua orang disana sontak terkejut.
"Ada apa ini?" ucap Alisha yang terkejut.
Dirga segera meminta Raihan untuk membalik lukisan yang jatuh itu. Raihan dengan tangan bergetar membalikkan kanvas itu dan seketika ruangan menjadi sunyi.
Lukisan itu menggambarkan seorang wanita mengenakan gaun merah, terbaring di genangan darah dengan tatapan kosong. Di belakangnya, ada dua sosok bayangan hitam memegang pisau, dan di bagian bawah tertera tulisan samar.
"Darah akan menuntut darah."
Alisha menjerit, memegangi dada.
"Apa… apa maksudnya ini!" serunya gemetar.
Dirga dan Reni saling berpandangan panik, wajah mereka pucat pasi.
"Bukan kami! Kami tidak tahu dari mana lukisan itu datang!" bela Reni cepat.
Namun Nyonya Jesika Wicaksana, ibu dari calon tunangan Alisha, langsung menatap tajam ke arah mereka.
"Tidak tahu? Di acara sebesar ini, lukisan seperti itu bisa muncul begitu saja?" katanya dengan nada dingin penuh tuduhan.
Sementara itu, di atas tangga, Seyna berdiri diam, senyum sinisnya semakin lebar melihat kekacauan yang ia ciptakan.
"Pertunjukan kecil yang menarik," bisiknya pelan sebelum berbalik dan berjalan menuju kamarnya dengan langkah ringan.
Dari bawah, tatapan Kael Adikara mengikuti kepergian gadis itu. Ia tidak mengerti mengapa pandangannya tak bisa lepas darinya. Ada sesuatu di balik mata tenang Seyna sesuatu yang gelap, namun menawan.
"Zidan" ujar Kael pelan tanpa menoleh.
"Cari tahu siapa gadis itu."
Zidan, asisten dari Kael mengangguk cepat, sementara kakek Adikara yang menyaksikan semua kekacauan itu mendengus marah.
"Keluarga Darma benar-benar memalukan!" serunya lantang.
"Jesika, batalkan saja pertunangan ini! Aku tak ingin keluarga Adikara terlibat dengan orang yang tidak tahu sopan santun."
Jesika langsung mengangguk dengan ekspresi menahan malu, sementara Dirga hanya bisa tertunduk.
Di kejauhan, Seyna menatap ke luar jendela kamarnya mata dinginnya memantulkan kilau bulan.
"Satu langkah sudah berhasil," bisiknya, suaranya nyaris seperti angin.
"Kalian pikir aku gila? Tunggu saja… aku akan tunjukkan arti sebenarnya dari gila."
Saat Jesika dan putranya Amar ingin pergi, Alisha buru buru menghadangnya dan berlutut di depan Jesika.
"Nyonya...tolong maafkan kelalaian kami, tapi jangan batalkan pertunanganku dengan Amar," pinta Alisha memelas.
Jesika tidak menggubris dan langsung mendorong tubuh Alisha dan pergi begitu saja keluar dari kediaman keluarga Damar. Para tamu yang melihat itu hanya berbisik lirih, lalu segera diusir oleh Alisha.
"Pergi kalian!Pergii!" teriak Alisha tak terkendali.
Sedangkan Reni dan Dirga yang merasa dipermalukan segera mengambil lukisan itu dan tujuan dari mereka adalah menuju ke kamar Seyna.
"Apa kau yakin Seyna yang melakukannya, bukannya dia sudah kau kunci di kamar?"tanya Reni sambil mengimbangi langkah kaki dari Dirga sang suami.
"Bisa saja Risa membantunya keluar," ucap Dirga sambil berjalan cepat ke arah kamar Seyna.
Mereka akhirnya sampai di kamar itu, saat mau membuka pintu kamar itu sudah terkunci.
"Lihat kan?kamar itu sudah terkunci?" ucap Reni.
Dirga langsung mencari kunci kamar tersebut dari sakunya, dan segera membuka pintu tersebut. Terlihat Seyna dan Rayyan yang sedang tertidur pulas. Dirga segera berjalan cepat menuju ke arah Seyna dan menarik mencengkram tangan Seyna dengan keras hingga Seyna terbangun dan merintih kesakitan.
"Paman..ada apa...aku sedang bersama Rayyan," ucap Seyna pelan.
"Dasar gadis gila dan bodoh," kesal Dirga lalu menampar wajah Seyna berulang kali.
"Kau yang melempar lukisan ini," ucap Dirga sambil mendorong tubuh Seyna ke arah lukisan yang dibawa oleh Reni.
"Itu...ituu," ucap Seyna gugup.
"APAA?"ucap Dirga sambil menendang perut Seyna.
Rayyan yang terbangun segera mencoba melindungi sang kakak, tapi dia malah didorong oleh Dirga hingga terjatuh.
"Paman...lepasin kakak, kaka tidak bersalah," gumam Rayyan lirih.
Sedangkan Seyna hanya diam merintih kesakitan lalu mencoba duduk menatap wajah pamannya, raut wajahnya datar.
"Aku..aku tidak bersalah paman, bukankah paman sudah mengunciku bersama Rayyan?"tanya Seyna sambil menatap Dirga, sorot matanya lembut tetapi menyimpan sebuah tatapan tajam dibaliknya.
"Terus siapa yang melempar ini?"teriak Dirga mengambil lukisan dari tangan Reni lalu melempar ke arah wajah Seyna.
.......
MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH
Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!