NovelToon NovelToon
Jodohku Suporter Bola

Jodohku Suporter Bola

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hanyrosa93

Sekelompok anak muda beranggotakan Rey Anne dan Nabila merupakan pecinta sepak bola dan sudah tergabung ke kelompok suporter sejak lama sejak mereka bertiga masih satu sekolah SMK yang sama
Mereka bertiga sama-sama tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena terbentur biaya kala itu Akhirnya Anne melamar kerja ke sebuah outlet yang menjual sparepart atau aksesories handphone Sedangkan Rey dan Nabila mereka berdua melamar ke perusahaan jasa percetakan
Waktu terus berlanjut ketika team kesayangan mereka mengadakan pertandingan away dengan lawannya di Surabaya Mereka pun akhirnya berangkat juga ke Surabaya hanya demi mendukung team kesayangannya bertanding
Mereka berangkat dengan menumpang kereta kelas ekonomi karena tarifnya yang cukup terjangkau Cukuplah bagi mereka yang mempunyai dana pas-pasan
Ketika sudah sampai tujuan yaitu stadion Gelora Bung Tomo hal yang terduga terjadi temannya Mas Dwi yang merupakan anggota kelompok suporter hijau itu naksir Anne temannya Rey.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanyrosa93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Rumah

Rey dan Nabila sudah kembali ke rumahnya masing-masing setelah kemarin menjalani kegiatan di villa dekat pegunungan. Pagi itu, udara masih terasa segar, sisa embun di dedaunan belum sepenuhnya menguap. Rey duduk di sofa, memandangi layar ponselnya yang belum juga dia sentuh sejak kemarin. Ada pesan dari Nabila yang belum sempat dibaca, meskipun perasaan tidak menentu mulai menggumpal di dada. Seolah ada sesuatu yang belum selesai, sebuah percakapan yang tak tuntas.

Nabila juga merasa hal yang sama. Pagi itu, di dapurnya, ia sedang meracik secangkir teh hangat saat matanya terarah pada foto Rey yang masih terselip di dalam dompetnya. Foto itu diambil beberapa bulan lalu, saat mereka pergi ke sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Mereka berdua tertawa lepas, seperti dua orang yang tidak punya beban. Namun, belakangan ini, kebersamaan itu terasa sedikit berbeda—seperti ada jarak yang tumbuh tanpa mereka sadari.

Rey akhirnya membuka pesan Nabila. Tertulis singkat, "Semoga perjalanan pulangmu lancar. Aku senang kemarin." Tetapi ada sesuatu yang terasa terpendam di balik kata-kata itu, sesuatu yang membuat Rey ingin segera membalasnya. Mungkin ia juga merasakan hal yang sama, tetapi belum tahu bagaimana cara mengungkapkannya.

Pikirannya kembali melayang ke Villa kemarin. Mereka duduk di beranda, menikmati sore yang indah dengan secangkir kopi. Nabila tampak berbeda, lebih santai dan hangat, seperti seseorang yang sedang membuka diri. Rey ingin melanjutkan obrolan itu, ingin bertanya lebih banyak, tetapi saat itu, mereka hanya terdiam. Mungkin karena ada ketakutan yang menghalangi, ketakutan untuk mengakui sesuatu yang sudah lama dipendam.

Sementara itu, Nabila sudah sampai di mejanya, membuka laptop dan mulai mengetik sesuatu. Ia menulis, menghapus, dan menulis lagi. Kata-kata yang muncul di layar tak mampu menggambarkan apa yang dirasakannya. Ia ingin berbicara, tapi rasanya ada sesuatu yang harus dipikirkan lebih matang sebelum langkah selanjutnya diambil.

Akhirnya, Rey memutuskan untuk mengirim pesan itu. "Aku juga senang kemarin. Terima kasih sudah menemani." Setelah menekan tombol kirim, hatinya berdebar, seolah menunggu respon yang bisa mengubah segalanya.

Nabila yang baru saja menatap layar laptopnya, melihat notifikasi pesan masuk. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Perlahan ia mengetik balasan, "Aku senang bisa menghabiskan waktu bersama kamu. Rasanya seperti sudah lama kita nggak berbicara seperti itu." Setelah mengirimnya, ia pun menunggu, merasa sedikit cemas.

Rey membaca balasan itu dan seketika rasanya ada titik terang yang muncul di benaknya. Ia merasa bahwa meskipun banyak hal yang belum terucap, setidaknya mereka berada di jalur yang sama. Keduanya membutuhkan waktu untuk memahami perasaan mereka, tetapi mungkin inilah awal dari sesuatu yang baru.

Hari itu, meski keduanya kembali menjalani rutinitas mereka masing-masing, hati mereka tetap terhubung, seolah ada jembatan tak tampak yang menghubungkan mereka, meski jarak memisahkan.

***

Sementara aku, sekarang sudah mulai sehat kembali setelah kemarin diantar ke klinik oleh Yuda. Badanku sekarang sudah agak segar kembali, dan rasa pusing kepala pun sudah hilang, begitupun demamnya sudah reda. Yuda pun sekarang sudah tidak sibuk seperti kemarin lagi.

Aku merasa lega bisa kembali merasa lebih baik. Beberapa hari lalu, tubuhku rasanya seperti terbungkus kabut tebal, begitu lemah dan tak berdaya. Setiap kali mencoba untuk bergerak sedikit saja, dunia ini berputar dan rasa pusing menghantamku begitu keras. Demam yang datang begitu tiba-tiba juga membuatku kesulitan tidur, padahal tidur adalah satu-satunya hal yang benar-benar aku butuhkan saat itu.

Yuda, yang selama ini selalu menjadi sosok yang dapat diandalkan, tidak ragu untuk mengantar aku ke klinik. Wajahnya yang biasanya ceria dan penuh semangat kini tampak lebih serius, dan aku tahu betul dia sangat khawatir. Aku masih ingat saat aku hampir tidak bisa berdiri di depan pintu, dan Yuda memegangi tubuhku dengan hati-hati, memastikan aku tak jatuh. "Tenang saja, Sayang. Kita ke klinik sekarang, biar kamu lebih cepat sembuh," katanya dengan nada menenangkan, meskipun aku bisa merasakan kekhawatiran dalam matanya.

Di klinik, dokter memberikan obat dan menyarankan aku untuk banyak beristirahat. Aku merasa agak canggung karena Yuda tidak berhenti mengawasi setiap gerak-gerikku, seakan-akan aku bukan teman biasa lagi, melainkan seseorang yang harus dia jaga. Aku bisa melihat betapa dia peduli, meski terkadang aku merasa sedikit cemas dengan perhatian berlebihan yang dia berikan.

Sekarang, setelah beberapa hari, aku mulai merasa lebih baik. Tubuhku yang tadinya lemas kini sudah mulai bertenaga kembali. Pusing dan demam yang mendera pun sudah hilang, meskipun masih ada sedikit rasa lelah yang membuatku ingin berbaring sejenak.

Yuda juga kini sudah lebih santai. Sebelumnya, dia terkesan sangat sibuk, selalu mencari cara untuk membantuku sembuh, bahkan ketika dia harus menyisihkan banyak waktu dan energi dari kesibukannya sendiri. Aku tahu dia punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama dengan proyeknya yang sedang berjalan di kantornya, namun dia tetap memprioritaskanku. Kepribadiannya yang penuh perhatian itu tak bisa kuabaikan, meskipun kadang-kadang aku merasa tak nyaman dengan seberapa besar perhatiannya.

Kami sekarang bisa berbicara lebih ringan, seolah-olah semuanya kembali normal. Namun, aku tak bisa menghilangkan perasaan aneh yang timbul ketika aku memikirkan bagaimana Yuda menjaga diriku selama aku sakit. Aku bertanya-tanya apakah dia merasa lebih dari sekadar teman, atau apakah itu hanya bagian dari dirinya yang memang sangat peduli pada orang lain.

Hari-hari berlalu, dan meskipun aku sudah merasa lebih baik, ada saat-saat ketika aku merasa Yuda masih memperlakukan aku dengan cara yang berbeda. Ada banyak hal yang tak terucapkan, dan aku mulai berpikir bahwa mungkin perasaan kami satu sama lain sudah mulai berubah. Tapi aku tak tahu pasti, dan aku juga tak ingin buru-buru membuat kesimpulan. Yang jelas, aku merasa sangat beruntung memiliki Yuda di sisiku, apapun itu.

Tentang Dion teman lamaku yang dulu pernah dekat denganku, aku tidak menceritakan kepada Yuda. Biarlah itu menjadi sebuah cerita masa lalu dan kemarin dia hanya iseng mengirimiku pesan dan ingin tahu keadaanku. Aku tidak ingin mencari ribut dengan Yuda hanya masalah sepele.

Dion memang pernah menjadi bagian dari hidupku, namun itu semua sudah berlalu. Aku tahu, kalau aku menceritakan semuanya kepada Yuda, dia mungkin akan merasa cemburu atau bahkan salah paham. Aku tidak ingin hal itu mengganggu hubungan kami sekarang. Terkadang, masa lalu datang mengetuk, tapi itu hanya untuk mengingatkan kita bahwa kita telah melewati banyak hal. Dion hanyalah bagian dari cerita yang sudah usang, dan aku tidak merasa perlu membawa itu kembali ke permukaan.

Aku tidak ingin ada ketegangan antara aku dan Yuda hanya karena hal sepele seperti ini. Toh, Dion hanya iseng mengirim pesan, menanyakan kabarku, tidak lebih dari itu. Aku tahu dia hanya ingin tahu bagaimana keadaan aku, tetapi aku tidak berniat membiarkannya mengganggu kehidupan yang sudah aku bangun sekarang. Bagiku, yang terpenting adalah hubungan dengan Yuda, yang aku jaga dengan sepenuh hati. Masa lalu adalah masa lalu, dan aku ingin fokus ke masa depan kami berdua. Tidak ada alasan untuk membesar-besarkan sesuatu yang tidak perlu, dan aku yakin, jika aku menjelaskan dengan jujur, Yuda akan mengerti, meski saat ini, aku memilih untuk diam.

***

1
Hanyrosa93
sabar
Hanyrosa93
wkwkw biar tegang
Protocetus
baru main udh kecelakaan 😮‍💨
Protocetus
Crazy up min
Hanyrosa93
boleh, yang mana ya novelnya?
Protocetus: kunjungin aja Mercenary of El Dorado
total 1 replies
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Mercenary of Dorado
Hanyrosa93: boleh
total 1 replies
Nay
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!