Setelah kejadian kecelakaan kerja di laboratorium miliknya saat sedang meneliti sebuah obat untuk wabah penyakit yang sedang menyerang hampir setengah penduduk bumi, Alena terbangun di suatu tempat yang asing. Segala sesuatunya terlihat kuno menurut dirinya, apalagi peralatan di rumah sakit pernah dia lihat sebelumnya di sebuah museum.
Memiliki nama yang sama, tetapi nasib yang jauh berbeda. Segala ingatan tentang pemilik tubuh masuk begitu saja. Namun jiwa Alena yang lain tidak akan membiarkan dirinya tertindas begitu saja. Ini saatnya menjadi kuat dan membalaskan perlakuan buruk mereka terutama membuat sang suami bertekuk lutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alena.. kamu dimana?
Sejak pagi perasaan Althaf sebenarnya tak enak, apalagi saat melihat wajah cantik Alena yang masih tertidur pulas. Namun kondisi perusahaannya yang sedang dilanda banyak masalah tak bisa Althaf lepas tangan begitu saja. Entah apa yang terjadi, tetapi beberapa supplier mendadak membatalkan kerjasama dan penarikan modal yang cukup besar dari investor.
Selain itu juga Mahyadi, investor utama sekaligus ayah mertua Althaf menarik investasinya tiba-tiba. Tentu saja hal itu memberikan dampak besar terhadap kestabilan keuangan perusahaan. Althaf harus berpikir cepat darimana mendapatkan investasi cukup besar agar rantai keuangan tidak terputus.
Proyek yang akan diluncurkan pun tertunda karena masalah supplier yang membatalkan kerjasama. Lagi-lagi Tim perencanaan harus mencari supplier baru dalam waktu dekat agar proyek segera dapat terlaksana.
Althaf tahu jika ini ada hubungannya dengan Mahyadi, bukan ancaman semata ayah kandung dari Ruby membuat Althaf menyesal telah memperlakukan anaknya dengan buruk. Althaf pun tak lagi berkompromi dan sementara waktu fokus dengan perusahaan. Mungkin setelah masalah ini beres, Althaf baru akan membuat perhitungan terhadap Mahyadi dan tentu saja menceraikan Ruby terkait dengan Mahyadi yang menarik seluruh investasinya.
Althaf dan Ruby menikah karena perjanjian dan keuntungan bisnis. Namun jika apa yang menjadi nilai utamanya telah diambil kembali maka saatnya Althaf pun mengembalikan Ruby kepada Mahyadi.
Tok
Tok
Tok
Gilbert yang baru saja selesai membuat pertemuan dengan beberapa calon investor baru bergegas masuk ke dalam ruang kerja Althaf. Ada beberapa hal yang harus dia laporkan.
“Ada apa Gill?” tanya Althaf sambil fokus dengan latar laptopnya
“Dokter Alex akan datang siang ini, nanti setelah Nyonya selesai terapi akan dilakukan pemeriksaan kesehatan,” ucap Gilbert
“Ahh saya lupa hari ini Lena ada jadwal terapi ya. Tolong kamu handel dulu pekerjaan saya sebentar ya, ada yang harus saya lakukan.” Althaf pun berdiri dan membereskan dokumen di atas meja kerjanya serta langsung menutup layar laptopnya.
Namun saat hendak beranjak, lengan Gilbert menghalang tubuh Althaf.
“Maaf tuan, anda tidak bisa pergi kemana -mana. Nanti jam 11 ada pertemuan dengan investor baru dan harus anda sendiri yang menghadirinya,” sergah Gilbert dengan raut wajah yang datar.
“Tapi Lena…..”
“ Nasib 500 karyawan perusahaan ada di tangan anda tuan termasuk saya. Apa anda ingin mereka kehilangan pekerjaannya.” Lagi-lagi Gilbert memberikan pilihan yang sulit
Althaf menghembuskan napasnya dengan kasar dan membanting tubuhnya pada kursi. Pikirannya begitu kalut, apalagi perasaannya saat ini mendorongnya untuk segera pulang.
Gilbert meletakkan sesuatu di atas meja kerja bossnya, “Silahkan Tuan bisa memantau aktifitas Nyonya hari ini lewat tablet ini,” ucap Gilbert.
Di layar tablet tertampang jelas beberapa sudut ruangan yang terpasang CCTV termasuk tempat dimana Alena akan melakukan terapi. Kedua mata Althaf menjadi berbinar-binar saat dirinya bisa melihat aktifitas Alena dari layar tablet tersebut.
“Jenius juga kamu, Gill. Nanti kamu jika tidak ada pekerjaan yang mendesak, tolong ke rumah saya sebentar saat Alena sedang terapi. Nanti laporan hasil terapi dan cek kesehatan dari Alex kamu langsung bawa.”
Gilbert hanya menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan ruangan itu begitu saja. Althaf kembali menyalakan laptopnya dan fokus kepada pekerjaan sambil sesekali melihat ke arah layar tablet. Dulu Althaf memang sengaja tidak memasang CCTV karena tidak menyukai jika ranah pribadinya direkam meski untuk alasan keamanan. Namun setelah kejadian Alena yang terjatuh dari tangga, Gilbert memberikan saran untuk memasang CCTV diam-diam tanpa diketahui oleh orang-orang yang ada di rumahnya. Sebelum Althaf memberikan izin, rupanya Gilbert sudah mengambil inisiatif terlebih dahulu.
Bisa-bisanya Gilbert mengatur jadwal pertemuan dengan calon investor begitu padat. Bahkan hingga sore ini masih ada dua pertemuan kembali yang belum terlaksana. Alih-alih bersama Gilbert, pertemuan sebelumnya terpaksa Althaf pergi bersama sekretarisnya.
“Permisi Tuan, Mr Michael sudah datang dan menunggu di ruang pertemuan di lantai 2,” ucap Siska, sekretaris utama Althaf.
Althaf memfokuskan pandangannya pada penampilan Siska dari bawah hingga ujung kepala.
“Apa kamu tidak memiliki pakaian yang lebih layak dari ini hah!!” kesana Althaf
“Maaf Tuan, tapi semua pakaian kerja saya seperti ini,” jawab Siska dengan nada bicara yang manja dan terkesan menggoda.
“Jika besok masih menggunakan baju monyet seperti itu lebih baik amputasi saja kedua kakimu!!” tegas Althaf tak suka melihat paha wanita yang dipamerkan.
“Ba-baik Tuan. Sa-saya mengerti,” ucap Siska dengan terbata-bata. Niatnya untuk menggoda bosnya menjadi percuma.
Padahal selama ini Althaf tak pernah mempermasalahkan bagaimana pakaian para karyawan dan staff nya. Namun berhubung beberapa hari ini dirinya mendapatkan kesempatan bisa berdekatan dengan Althaf sehingga dia pun memanfaatkannya untuk menarik perhatiannya.
Althaf mencubit ruang diantara kedua alisnya, kepalanya berdenyut dan teras sedikit sakit. Meskipun lelah, Althaf harus memaksa dirinya tetap profesional agar perusahaan tidak jatuh. Melihat waktu yang mepet, Althaf bergegas mempersiapkan dokumen apa saja yang akan dibawa.
Praaakkkk
Tak sengaja ujung map salah satu dokumen menyenggol sebuah pigura yang berada di sisi meja kerjanya. Seketika rasanya seperti sebuah palu menghujam jantungnya, perasaan mendadak tidak tenang. Apalagi yang jatuh adalah foto pernikahannya dengan Alena.
“Tuan, anda sudah ditunggu oleh Mr Michael. Tolong dipercepat,”ucap Gilbert tiba-tiba saja datang.
Akhirnya Althaf tidak jadi membereskan pigura yang jatuh, langsung berjalan cepat menuju ruang pertemuan. Padahal tanpa dia ketahui, sesuatu telah terjadi di rumahnya.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Karena belum memiliki kendaraan pribadi, Zaldo memesan taksi online dan langsung menuju ke rumah besar Althaf. Kelelahan setelah penerbangan jauh membuat Zaldo ketiduran dan terbangun di sore hari. Padahal niatnya ingin langsung menemui Alena begitu sampai di hotel.
Sesampainya di rumah Althaf secara kebetulan bertemu dengan Pak Ma sehingga tanpa perlu banyak pertanyaan dia dapat langsung masuk ke dalam rumah. Pak Ma memberitahunya jika Alena sedang berada di samping rumah dekat kolam renang.
Para pelayan yang sempat melihat Zaldo masuk begitu terpesona dengan wajah tampannya. Tentu saja mereka mengetahui profesi Zaldo sebagai model dan artis internasional.
Meskipun sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumah ini, tetapi tak banyak yang berubah. Tata letak furniture dan warna cat dinding masih sama seperti terakhir kali Zaldo melihatnya.
“Al.. Alena.. Abang datang..!” seru Zaldo berteriak memberitahukan kedatangannya.
Namun saat tiba di samping rumah, dia tak melihat siapapun disana.
“Alena… Alena.. kamu dimana?”
Zaldo menghampiri tempat duduk yang berada disisi kolam renang. Zaldo sempat mencurigai sisi kolam yang sedikit basah, sedikit ragu matanya mulai melihat ke dalam kolam. Terlihat sesosok tenggelam didasar kolam.
Bbbyyuurrrrr
Sebelum sempat bereaksi, Zaldo lompat begitu saja. Dengan cepat Zaldo mengangkat tubuh Alena dan meletakkannya di sisi kolam.
“Alena bangun, Alena!!!” Zaldo memeriksa tak ada napas dari hidungnya.
“Siapapun, cepat panggil ambulans!!!” Terimakasih Zaldo sekeras mungkin agar pelayan yang ada di rumah ini bisa mendengar.
“NYONYA ALENA!!! Apa yang terjadi!”
Maya panik melihat Alena tak sadarkan diri hingga menjatuhkan nampan yang berisi potongan buah dan segelas jus. Tubuhnya menegang, keringat dingin mulai keluar, nyawanya berada di ujung jurang untuk saat ini. Tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Althaf jika sesuatu yang buruk menimpa Alena.
“CEPAT PANGGIL AMBULANS!!” Teriakan Zaldo menyadarkan Maya dari lamunannya.
Bergegas Maya menuju ruang tengah untuk menelepon rumah sakit.
Zaldo masih berusaha memberikan pertolongan dengan menekan-nekan bagian perut Alena untuk mengeluarkan air yang tertelan.
“Alena, please bangun. Alena bertahanlah!”
Namun sudah beberapa menit Zaldo melakukan pertolongan pertama masih tak ada respon dari tubuh Alena. Sedangkan dia berperang dengan waktu yang menipis dan membiarkan Alena gagal napas.
“Maafkan aku Alena,” ucap Zaldo sebelum memberikan pertolongan terakhir.
lah suaminya ngga ada fungsinya.
aturan Alena Ama Gilbert aja.
ada y CEO kaya gitu.
bikin bumerang aja
yg ada tuh laki entar nyuruh Lena buat cerai.