Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Sintia perlahan mundur dengan tangan gemetaran ia bertanya. "Jefry siapa? Jefry itu? Jef—"
"Akhhhh."
Sintia berteriak, ingatan beberapa hari lalu kembali memutar dikepala, memori itu seakan tidak ingin hilang. Dari mulai sentuhan, perlakuan kasar, dan juga ancaman. Arga ingin menolong, tetapi Sintia menggeleng kuat.
"Jangan deket-deket. Kamu bau darah dia Arga! Kamu apain dia? Maksud temen kamu tadi apa?!"
Bahu Sintia berguncang, tangannya gemetaran. Mama yang melihat kegaduhan itu mendekat. Terkejut melihat anaknya yang beberapa bulan ini baik-baik saja sekarang kambuh lagi.
"Ada apa ini, Arga?"
Belum sempat Arga menjawab. Sintia lari ke arah Mama menenggelamkan wajahnya dipelukan Mama.
"Ma, aku takut. Arga—dia, dia bawa darah kesini."
Mama menatap Arga meminta penjelasan. Arga hanya diam, pria itu kemudian menyuruh Mama untuk membawa Sintia ke kamar lewat kode.
Sesampainya dikamar, Mama memberikan obat untuk Sintia agar dia lebih tenang. Setelah beberapa menit barulah bereaksi dan gadis itu menguap. Mama menyelimuti putrinya sembari mengelus rambut Sintia.
Mama turun dan menghampiri Arga yang sedang mengetik sesuatu diponsel. Sadar ada seseorang mendekat, Arga memasukan ponsel ke dalam saku celana, kemudian berdiri.
"Sebenarnya ada apa, Arga? Kenapa Sintia kambuh lagi?"
Arga menghembuskan nafas kasar, ia
memijat pangkal hidungnya.
"Tadi ada telfon dari teman aku. Dia ngomong kalo Jefry pingsan. Sintia dengar karena tadi aku nggak sengaja loud speaker dan dia langsung ketrigger begitu dengar nama Jefry."
Mama bingung berusaha mencerna apa maksud Arga. "Bisa kamu jelasin lebih detail maksudnya gimana?"
Sebenarnya berita tentang Jefry dipenjara selama 10 tahun itu nggak bener."
Arga memilih untuk duduk, menyandar pada sofa. "Belum seminggu dia dipenjara aku udah minta Sagara yang notabennya Lawyer, untuk bebasin Jefry setelah itu aku sekap dia. Berbulan-bulan ini aku sekap dia. Supaya dia sadar perbuatan dia udah terlalu jauh. Dan per hari ini kebohongan aku terbongkar."
Mama menutup mulut tidak menyangka ada plot twist seperti ini. "Ga? Kamu sekap dia dan... Kamu udah ngelakuin apa aja ke dia?"
"Apa yang aku lakuin nggak sebanding sama trauma Sintia, Ma."
****
Beberapa hari sejak kejadian terbongkarnya kebohongan Arga itu, Sintia mengurung diri di kamar lagi. Ia akan keluar jika mengambil makanan yang disiapkan Mama dimeja depan kamar. Setelah itu hening, hanya ada suara ketikan laptop pertanda gadis itu sedang melakukan sesuatu.
Kuliah homeschooling yang ia jalani juga tidak berlanjut. Arga kembali lagi ke rumah Sintia hari ini membawa sebuah boneka Teddy bear, berharap agar Sintia mau keluar dan berbicara empat mata dengan Arga.
Arga mengetuk pintu kamar sebanyak 3×. Tetap tidak ada jawaban.
"Sin, ini aku. Aku mohon buka. Aku mau jelasin tentang kemarin," ucap Arga.
"Sin ak—"
Pintu kamar dibuka, Arga langsung masuk ke kamar.
"Jelasin sekarang Arga. Tapi jangan pernah sebut nama itu lagi. Aku takut," ucapnya.
Arga duduk disofa kamar Sintia kemudian menghembuskan nafas.
"Dia aku sekap, aku cuma pengen bales apa yang udah dia lakuin sam kamu, Sin. Cuma itu."
Sintia menoleh, terlihat masih ada ketakutan dalam diri gadis itu. "Cuma? Tapi kenapa ada darah Arga!"
"Itu... Aku kelepasan."
Sintia berdiri menunjuk-nunjuk Arga. "Dengan kamu ngelakuin itu kamu nggak ada bedanya sama dia Arga. Aku benci kekerasan. Udah cukup itu terjadi sama aku jangan kamu malah kayak dia."
"Aku... Minta maaf."
Suara Arga melembut, ia menunduk.
"Lepasin dia, Ga. Kamu harus serahin dia sama pihak yang lebih pantes ngehukum dia. Aku nggak mau kamu jadi jahat karena mau ngelindungin aku."
Ucapan Sintia membuat Arga tersadar. Secara tidak langsung Arga meniru Jefry. Menggunakan kekerasan—dengan embel-embel menyelesaikan masalah. Setelah berperang dengan hatinya, Arga kemudian menatap Sintia yang memainkan jari-jarinya.
"Aku bakal minta Sagara supaya ngurus semuanya. Aku akan balikin dia ke sel. Maaf kalo aku bikin kamu kambuh lagi."
"Gak usah minta maaf, Ga. Aku tahu kamu ngelakuin semua ini buat aku. Tapi cara kamu aja yang salah."
****
Setelah berdiskusi dengan Sagara cukup lama akhirnya diputuskan untuk mengembalikan Jefry ke sel bersama dengan papanya.
Beberapa hari setelah itu muncul putusan yang mengatakan Jefry maupun papanya dihukum 20 tahun penjara. Atas pasal pelecehan, penggelapan dana, kekerasan dan masih banyak lagi.
Berkat itu juga Sintia bernafas lega. Setidaknya ia tahu bahwa Jefry tidak akan pernah bisa menemuinya karena pria itu terjebak dipenjara.
"Makasih, Ga. Udah mau dengerin saran dari aku."
Arga hanya mengangguk.