Sequel Jodoh Pilihan Allah
~Aku mencintaimu karena Allah, aku menikahimu Karena Allah, Semoga Karena Allah pulalah kita berpisah~
Shafa Azura & Zidane Ar-Rayyan pasangan fenomenal dengan kisah cintanya yang unik dan menginspirasi. Namun, sebuah tragedi terjadi, memaksa mereka terpisah. Apakah itu ujian? Atau garis takdir yang harus mereka jalani.
Mampukah Shafa bertahan dengan penantian dan cintanya kepada Rayyan?
Jangan tanyakan sampai kapan aku menunggu, Karena aku di takdirkan untuk menunggu dan kau di takdirkan untuk kembali~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lengkap
"Mommy kenapa pipi mommy merah? Mommy sakit?" Tanya Zafran sambil memandang wajah mommy nya dengan intens.
"Hah?"
Shafa yang di tegur demikian langsung gelagapan, mencoba mencari alibi yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Anu... Mommy... Mommy alergi, ia alergi" Jawab Shafa bohong. Dalam hati ia merutuki mulutnya yang tiba-tiba mengatakan alergi untuk menutupi rona merah di pipinya.
"Shafa alergi daging?" Tanya Rayyan dengan polosnya sambil menatap piring nasi berlaukkan daging dan wortel yang ada di tangannya. Shafa bahkan baru memakan satu sendok saja.
Dasar suami nggak peka!
"Emm... Sini biar a..aku makan sendiri mas" Ucapnya gugup meraih piring yang ada dalam kuasa Rayyan.
Tadi, setelah mengetahui bahwa Shafa belum makan, Rayyan segera mengambil piring yang ada di atas meja yang sudah disiapkan ibu. Awalnya Shafa menolak, tapi ia tak berkutik saat Rayyan sendiri yang turun tangan mengambilkannya makanan bahkan menyuapinya.
"Tak apa, saya sudah berhutang banyak padamu selama ini. Kamu pasti lelah mengurus Am dan Zafran sendiri selama ini" Ucap Rayyan dengan penuh penyesalan. Sekalipun ia lupa ingatan tapi ia tak lupa akan tanggung jawab. Ia merasa bersalah karena membiarkan wanita ini memikul sendiri beban dan tanggung jawab yang harusnya di pikul bersama.
"Biarkan saya menebus semuanya" Ucapnya lagi yang membuat Shafa terharu.
"Ayyahh"
"Mommy"
Teriakan nyaring dari arah pintu berhasil mengalihkan pandangan mereka. Am dan Zifara baru saja di antar masuk ke ruangan itu, sedangkan yang mengantar menghilang begitu saja. Mereka kompak memberikan family time buat Shafa dan Rayyan yang baru saja bertemu.
"Zi...Am? Jangan lari nak" Tegurnya saat melihat putri kecilnya berlari kearahnya, memeluknya erat dan menciumi pipinya. Sedangkan Am langsung berlari menghampiri Rayyan membuat Rayyan harus meletakkan kembali piring yang tengah di pegangnya.
"Hap! Anak ayah dari mana?" Rayyan menangkap tubuh Am yang melompat kepangkuannya.
"Atu tadi cali ayah di lual cama nenek dan tante Aini" Ucap Am, tanganya kini mengalung posessive ke leher ayahnya. Terlihat jelas raut rindu yang tak ingin berpisah dengan sang ayah lagi.
"Am!!!" Tiba-tiba Zifara memanggil Am tangannya berusaha meraih tubuh kakaknya tersebut.
"Hsst... Kakak Am" Shafa membenarkan panggilan putri kecilnya tersebut.
"Am!!!" Ulang Zizi.
"Mommy Zizi nakal" Adunya pada sang ibu setelah balita kecil itu berhasil menarik ujung baju Am.
Rayyan nampak tertegun saat matanya bersitatap dengan gadis cantik nan lucu tersebut. Begitupun dengan Zizi yang baru pertama melihat orang asing yang kini tengah memangku kakaknya.
Siapa dia? Apa dia juga anakku? Dia sangat mirip dengan Shafa.
Hati Rayyan menghangat, saat mata bening nan teduh milik gadis kecil itu menatapnya. Sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya.
Shafa tahu, pasti saat ini Rayyan sedang bertanya-tanya, anak siapakah yang ada dalam dekapnnya kini? Kecuali jika ibu dan kedua orang tuanya sudah menceritakan semuanya.
"Ini ayah Am!" Ucapnya ketus pada adiknya sambil terus memeluk Rayyan.
"Mommy... Am" Zizi beralih menatap Shafa bermaksud mengadukan kakaknya. Sejak kecil Am dan Zizi memang sering bertengkar, mungkin karena jarak mereka yang terlalu dekat membuat keduanya selalu berebut perhatian sang mommy sebagai orang tua tunggal.
"Jangan nangis. Sini Zizi peluk mommy" Ucap Shafa lembut pada Zifara.
Meski tengah di peluk oleh Am, pandangan mata Rayyan tak lepas dari gadis kecil yang kini berada dalam dekapan sang ibu yang tengah menepuk-nepuk lembut punggung Zifara.
Itu Ayahmu Zi.
Tak sengaja butiran bening jatuh dari matanya. Rayyan mungkin tak memiliki kenangan bersama gadis cantik itu, tapi di dalam darahnya juga mengalir darah Rayyan. Ikatan antara ayah dan anak itu pasti ada.
"Siapa namanya?" Rayyan mengusap lembut kepala Zizi yang membuatnya menoleh kembali menatap Rayyan.
"Namanya... Zi...Zifara" Jawab Shafa yang kini mencoba menyembunyikan air matanya.
"Mommy jangan menangis. Kan ayah sudah pulang" Ucap Zafran sambil mengusap wajah mommy nya, ia seakan ikut merasakan apa yang selama ini Shafa rasakan. Sedihnya Shafa adalah sedihnya Zafran, sebisa mungkin ia tidak akan memmbuat Shafa marah atau bersedih. Selama ini ia sudah sedikit banyak tahu tentang penderitaan mommy nya. Ia yang diam-diam sering melihat mommy nya menangis sambil memeluk foto ayah nya membuatnya mengerti bahwa rindu itu berat, rindu itu menyakitkan, terutama jika yang di rindu sudah tidak ada lagi di dunia.
Melihat mommy nya terisak, Am pun segera turun dari pangkuan Rayyan dan mendekat pada Shafa. Ia mendusel di samping abangnya agar bisa lebih dekat dengan mommy nya.
"Mommy..." Am ikut memeluk sang ibu dari samping. Sebagai anak yang di besarkan selama hampir 3 tahun lamanya hanya oleh seorang ibu, tentunya mereka akan sangat terluka jika melihat ibunya menangis. Karena Am yang juga memeluknya membuat Shafa semakin terisak.
Ya Allah, ampuni aku yang telah membuat Shafa berjuang sendiri. Izinkan aku menebus waktu yang hilang bersama mereka ya Allah. Izinkan aku membangun kembali keluargaku Ya Allah, Izinkan aku melihat mereka tumbuh dan hidup menua bersamanya hingga maut memisahkan kami.
Doa Rayyan dalam hati saat melihat betapa keluarga kecilnya begitu saling menyayangi seperti itu. Tanpa Ragu ia ikut merengkuh tubuh Shafa yang tengah di peluk oleh anak-anaknya. Rasanya sempurna sekali memiliki mereka meski dengan ketidak sempurnaannya kini. Rayyan berjanji akan berusaha untuk mengingat semuanya. Ia berjanji akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk anak dan istrinya sekalipun banyak momen yang terlupa. Baginya, yang terpenting kini bukan meratapi kenangan yang hilang tetapi membuat kenangan baru yang mungkin takkan terlupa hingga nanti.
"Terima kasih sudah kuat! Terimakasih sudah bertahan selama ini." Bisik Rayyan di telingan Shafa.
"Kamu wanita hebat!" Pujinya sambil mengecup puncak kepala Shafa yang tengah tertunduk. Momen hangat berkumpulnya satu keluarga yang telah lama terpisah harus buyar karena tangisan Zifara yang merasa pengap terhimpit di tubuh mommy nya. Mereka segera melepaskan pelukannya pada Shafa. Am kembali berpindah posisi dari sebelah kanan Shafa, kini duduk di antara mommy dan ayahnya.
"Cup...cup... Jangan nangis nak" Shafa merubah posisi Zizi agar lebih nyaman duduk di pangkuannya.
"Apa dia ---" Rayyan nampak ragu menanyakan soal Zifara, ia takut menyinggung perasaan Shafa.
"Iya, dia anakmu Mas. Anak yang kamu tinggalkan bahkan sebelum kamu tahu dia ada di dalam rahimku." Jawab Shafa dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat akan ucapan Rayyan di pantai Anyer kala itu. Ia yang mengaku lupa saat meniduri Shafa di masa suburnya yang sebenarnya ia sengaja karena menginginkan seorang Shafa junior bahkan saat umur Am baru menginjak 7 bulan. Ia yang kala itu berjanji akan bertanggung jawab, tidak akan meninggalkan Shafa dan akan melakukan apapun untuknya, nyatanya takdir Tuhan berkata lain. Keinginannya untuk memiliki Shafa junior memang terkabul meski tanpa hadirnya dirinya disisi Shafa selama ia mengandung, melahirkan hingga Zifara berusia hampir dua tahun.
"Ya Allah..." Mata Rayyan ikut berkaca-kaca memandang wajah cantik putrinya yang sangat mirip dengan mommynya, kecuali bagian matanya. Ia tahu mata itu mirip dengan matanya.
"Sini nak ijinkan ayah menggendongmu" Ucapnya sambil meraih tubuh Zifara. Zifara hanya diam, ketika Rayyan mengangkatnya dan membawanya dalam pelukan hangatnya, menciuminya dan mendekapnya erat.
Balita kecil itu mungkin tahu, dalam pelukan siapa ia berada saat ini.
tp akhirnya ceritanya gantung.
tolong dilanjut sampai end kak...
ternyata selama itu kak authornya vakum
semoga sehat selalu kak ya, dimudahkan segala urusan oleh Allah SWT
Aamiiiin
ayolah kakak di lanjut lg
jngan di gantung
sy selalu mendoakan semoga kak Thor naik sehat dan selalu dlm lindungan Tuhan ,,
biar bisa lanjut
sy samapai jenuh menunggu
Tp ngomong2. Ini banyak komen gn dibaca ga sih sama si Author.
ga terlalu lebay
tapi kenapa lama sX up lanjutan nya
sampe 5 x baca bolak balik
belum ada sambung nya ,
sampe cape nunggu
sampe hafal cerita nya karna berulang X di baca
malah sampe geregetan sama AUTHOR nya
kenapa blm UP lg
sampe nangis di tinggal AUTHOR ngilang begitu Saja
tapi kenapa kelanjutan nya belum ada juga tor
lanjut dong biar seru
sampe bosen bacanya 5X baca loh ,,
sampe khatam ceritanya