"Aakkhh sakit sekali larass." Teriak rahmat kesakitan di atas ranjang
Laras terus menangis melihat penderitaan suami nya, Hampir satu minggu ini rahmat terus kesakitan pada tongkat nya.
Bahkan kemaluan rahmat tampak bengkak kemerahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Motor baru
Cucian yang laras dapat kan semakin banyak dari hari kehari, Tempat bangunan loundry nya pun sudah tinggal pasang atap saja. Karena ini sistem borong, Maka mereka sering bekerja sampai malam juga.
Hari ini laras dengan di temani keponakan nya mendatangi sebuah dealer motor, Sudah mendapat izin dari rahmat untuk membeli kendaraan.
"Ini bagus bulek." Sarah menunjuk yang warna merah.
"Bulek ndak suka warna nya! Yang hitam atau putih saja." Tolak laras.
"Kalau merah kan tampak jreng bulek." Sarah ngeyel ingin warna itu.
"Nanti kalau beli untuk mu baru yang merah, Bulek mau warna putih saja." Ujar laras.
"Aku mau di belikan juga bulek?!" Kaget sarah bukan main senang nya.
Laras pura pura tidak mendengar pertanyaan keponakan nya, Rahmat menyuruh laras membeli kan untuk sarah juga walau pun bekas.
"Tapi bekas ya nduk." Ujar laras pelan takut keponakan nya kecil hati.
"Ndak masalah bulek! Aku udah seneng loh di beliin." Girang sarah memeluk bulek nya.
Setelah menyelesai kan pembayaran secara lunas, Laras melaju kan motor nya dengan perasaan riang.
"Langsung beli punya ku bulek?" Tanya sarah ketika mereka berhenti di lapak barang bekas.
"Mumpung ada uang nya, Maaf ya nduk cuma bekas." Ucap sarah.
"Bulek ngapain minta maaf! Ayo dong masuk." Sarah menarik tangan bulek nya.
Sesuai dengan keinginan nya sarah, Laras membeli kan honda beat berwarna merah dengan harga lima juta. Sarah terus tersenyum sangking senang nya.
"Ya allah terima kasih atas rezeki nya." Sarah menciumi motor nya.
Beriringan mereka menuju pulang dan tak lupa juga laras membeli alat loundry, Mumpung ada teman lewat sini.
"Laras..!"
"Ya buk haji ada apa?" Laras turun dari motor karena di panggil bu haji namroh.
"Kalau ibu loundry kamu mau ngantar ndak?" Tanya bu haji.
"Ya mau to buk, Kan memang antar jemput." Sahut laras.
"Ayo kerumah, Cucian ibu banyak." Ajak bu haji ceria.
Rumah buk haji sangat besar dan mewah, Laras duduk di teras menunggu cucian yang di ambil oleh buk haji.
"Ras banyak banget ini loh." Buk haji mengeluar kan cucian banyak.
"Lah kok sebabanyak ini buk." Laras mendelik tak percaya.
"Ini sprai emang udah lama kotor, Makin lama makin bertumpuk! Sprai di hitung kiloan juga ras?" Tanya buk haji.
"Satuan bu, Satu nya sepuluh ribu lengkap dengan sarung guling dan bantal." Jelas laras.
"Ini ada lima sprai nya ras, Kalau baju entah berapa kilo." Ujar buk haji.
"Nanti saya foto kan pas di timbang ya bu." Ujar laras.
Setelah bertukar nomor ponsel, Laras menyusun nya di motor baju dan sprai bu haji namroh. Rezeki motor baru dapat sebanyak ini.
"Ini aku saja yang bawak nya." Sarah mengambil sekantong besar.
"Ada perkiraan tiga puluh kilo ras?" Tanya buk haji.
"Lebih kayak nya buk, Ini mau paket lengkap kan?" Laras menanyakan kepastian bu haji.
"Iya lah ras, Pokok nya rapi bersih." Jawab bu haji.
"Baik bu, Terima kasih sudah memberi saya rezeki." Ujar laras senang.
Mereka pun pulang membawa cucian banyak, Tidak peduli dengan mata orang yang menatap iri kepada nya. Kendaraan laras lah yang membuat mereka sewot.
"Pakai motor siapa ras?!" Teriak bu dila ketika laras lewat.
"Iya bu." Laras tidak bisa berhenti karena sangat riweh.
Bu dila mengejar anak nya dengan rasa penasaran yang amat tinggi, Cucu dan anak nya sudah naik motor baru dan membawa barang sebanyak itu.
"Ayo naik mbah, Ngapain lari lari." Sarah menghentikan motor nya.
"Kalian dari mana sih, Ini kok pada bawa motor sendiri sendiri?" Heran bu dila.
"Nanti di ceritain sama bulek, Udah ayo diam saja." Sergah sarah ngebut.
Tiba lah di rumah laras dan menjadi perhatian orang, Laras cepat mengambil barang bu haji dan memasukan kedalam rumah. Mbak sri melongo dan ikut menyusul.
"Kok banyak banget ras bawaan mu." Mbak sri datang masuk kedalam rumah.
"Alhamdulilah mbak cucian dari bu haji namroh." Jawab laras senang.
"Wiiih banyak banget ras, Ayo kita naik kan ketimbangan." Mbak sri membantu mengangkat cucian.
"Tiga puluh tujuh kilo bulek." Seru sarah mengambil video untuk di kirim kan kepada bu haji.
Bu dila masih diam memperhatikan pekerjaan anak nya, Untung nya sekarang rezeki laras memang sedang naik daun.
"Aku memang beli motor untuk mengantar jemput barang begini." Cerita laras.
"Banyak uang mu ras beli motor sampai dua." Ujar bu dila penasaran.
"Yang cash cuma punya sarah bu, Harga nya tiga juta. Punya ku ya kredit to." Laras berdusta.
"Apa ndak ribet urusan nya ras? Kok tiba tiba udah dapat motor." Heran mbak sri.
"Ndak mbak, Karena ambil dua ya agak gampang lah." Dusta laras lagi.
Bu dila membantu memisah kan cucian laras antara celana dan baju, Serta gamis panjang. Karena baju bu haji banyak memakai gaun.
"Bikin acara mendoa untuk motor baru." Gurau bu dila.
"Nanti saja bu sekalian rumah depan siap." Sahut laras.
"Oh iya, Biar ndak repot dua kali jadi nya." Angguk bu dila.
"Alhamdulilah kamu sudah tidak susah seperti dulu lagi ras, Semoga kesuksesan mu tidak membuat sombong." Mbak sri tulus mendoa kan laras.
"Amiin."
Berbeda hal nya dengan mbak sri yang ikut senang karena hidup laras semakin membaik, Bu rt dan lula mulai bergosip karena iri hati mereka.
Bermula dari ningsih yang baru belanja sayur, Tak sengaja ia melihat motor baru terparkir di depan rumah nya laras.
"Aku yakin rahmat di kota itu jadi gigolo, Kan bayaran nya besar." Seru bu rt sangat geram.
"Iya ya bu, Ndak munafik rahmat memang ganteng! Mungkin karena itu lah banyak tante yang naksir." Sambung lula.
"Lihat ini."
Ningsih menunjukan foto dan video rahmat saat berjalan jalan keluar negeri, Sontak saja bu rt semakin panas. Sudah lama jadi orang kaya tapi belum bisa keluar negeri.
"Pasti itu si tante girang yang ngajak dia pergi, Haissh uang lendir gitu kok bangga." Kesal bu rt.
"Enak banget sih rahmat, Ini negara mana ning?" Tanya lula.
"Jepang kata nya, Tuh ada bunga sakura nya." Tunjuk ningsih.
"Besok kalau di pulang pasti tambah cakep, Pasti uang yang di dapat semakin besar." Bu rt berkata sambil memiring kan bibir nya.
Mereka terus bergosip bahwa sejak tadi ada yang memperhatikan dengan mata merah menyala, Seolah tidak terima jika laras dan rahmat di kata katai dengan mereka.