Naya tidak pernah membayangkan diulang tahun pernikahannya yang ke-empat harus berakhir menjadi mimpi buruk untuknya. Brian, suaminya terpaksa menjual Naya untuk melunasi utang-utangnya. Naya yang masih mencintai suaminya rela dengan keputusan Brian. Tidak ada yang pernah menerima dirinya selain Brian.
Di sana, Naya bertemu dengan Clara dan Rose. PSK yang mengubah sudut pandang Naya tentang dunia malam, dunia para penghibur.
Noah, klien pertama Naya, seorang pewaris tunggal perusahaan otomotif terbesar di Negara itu, menginginkan Naya untuk menemaninya setiap malam.
Naya dengan segala kerapuhannya dan Noah dengan segala kekuasaan dan arogansinya. Apakah mereka bisa saling menyembuhkan luka? Atau Noah hanya akan menambah luka Naya?
Lalu, bagaimana dengan pernikahan Naya dengan Brian? Suami yang sudah mengenalkan arti keluarga untuk Naya yang seorang anak yatim piatu sejak lahir.
Clara, Rose dan kisah memilukan PSK lainnya.
Ini bukanlah kisah tentang mereka di atas ranjang. Tapi ini adalah kisah yang tidak mereka ceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arisya Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Mobil Noah memasuki area parkir bawah tanah. Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Noah mengajak Naya untuk mengikutinya. Memasuki sebuah gedung, menaiki lift, dan menekan angka 50. Tidak ada angka lebih besar dari itu.
Lift melesat dengan lembut. Tidak ada guncangan maupun suara bising. Naya hanya berdiri di belakang Noah dengan takut-takut. Naya merasa Noah kembali menjadi sosok yang dingin. Mungkinkah Noah melepaskannya dari rumah bordil itu untuk menjadikannya … Naya segera menggeleng. Memangnya apa lagi kemungkinan terburuk? Dijual? Dibunuh? Atau dijadikan korban perdagangan manusia? Sungguh, Naya sudah tidak peduli lagi.
Pintu lift terbuka, Noah melangkah keluar lalu berbelok ke arah satu-satunya pintu di lantai itu. Dengan pintu pemindai sidik jari, Noah membuka kedua pintu di depannya dengan lebar. Bersamaan dengan kedua bola mata Naya yang ikut melebar melihat isi di dalam rumah itu. Oh maafkan Naya, itu bukanlah rumah biasa. Tapi, itu adalah sebuah penthouse.
Sebuah kaca besar nan tinggi menjulang di depannya. Warna dinding yang senada dengan perabotan di ruangan itu, juga di atas sana ada lantai lainnya yang memiliki pembatas dari kaca yang pasti tidak murah. Lampu yang tergantung, hiasan bunga yang menghias di pinggir ruangan, semuanya terlihat menakjubkan. Naya yang masih menilik rumah mewah itu tidak sadar ketika Noah sudah berhenti di depannya.
“Apa kau suka?” tanyanya lembut.
Naya mengernyit. “Ini rumah anda. Saya hanya mengaguminya. Selera anda selalu bagus.” Naya mengedarkan pandangannya lagi. Ia masih belum puas memanjakan matanya.
“Benar. Seleraku memang selalu bagus,” balasnya tanpa melepas pandangannya dari Naya.
Naya menoleh ke arahnya tidak mengerti. Noah kemudian menarik tangan Naya ke sebuah ruangan yang berisi kamar besar, dan lagi-lagi jendela tinggi menjulang. Matahari pagi menyinari isi kamar itu.
“Ini kamarmu.”
Naya tersentak. “Tapi ini terlalu luas, aku bisa-”
Ucapan Naya terhenti saat Noah sudah membungkam bibir kecil itu dengan bibirnya.
“Jangan menolakku, Naya.”
Naya membeku, ini adalah ciuman pertama mereka sejak Noah pergi selama tiga minggu. Ada sesuatu dalam dirinya yang memberontak menginginkan lebih. Tapi, sebisa mungkin Naya menyadarkan dirinya sendiri.
“Noah,” bisiknya, saat Noah melepaskan ciumannya. “Jangan memberiku harapan. Aku mohon.”
Matahari semakin meninggi. Ketika sinar lembut itu menerpa wajah Naya, sebulir air mata berhasil lolos. Hati Naya masih belum sanggup menerima cinta atau apa pun itu namanya.
Noah menangkup pipi Naya. “Kalau begitu jangan berharap. Biarkan aku yang mewujudkan semuanya untukmu. Aku akan selalu menunggumu sampai kau siap menerimaku.”
Hati Naya memberontak ingin keluar dan memeluk Noah, mengucap beribu terima kasih. Tapi sebaliknya, otaknya memaksa Naya untuk berpikir rasional. Tidak akan ada keluarga mana pun yang akan menerima seorang pelacur sepertinya.
Melihat Naya yang terdiam, membuat Noah semakin frustasi. Ia memilih menarik Naya kepelukannya.
“Saya pikir, anda sedang marah.”
“Hmm?” Noah menunduk.
“Anda tidak berbicara kepadaku sejak perjalanan ke sini.”
Noah terkekeh. “Maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu.”
Giliran Naya yang mendongak.
“Jangan khawatir, Naya. Aku berjanji tidak akan membiarkanmu terluka lagi.”
...----------------...
“Kau memang pantas dihargai mahal.” Wajah penuh kenikmatan milik Mike sesaat setelah dirinya terpuaskan. Sementara wanita yang sedang berbaring tersenyum bangga.
Laki-laki telanjang itu berjalan ke arah lemari kayu dan mengeluarkan bathrobe untuk menutupi tubuhnya.
“Kau ingatkan harus membayarku dengan apa?”
“Tentu saja, Sayang. Mulai hari ini, kau dan aku memiliki tujuan yang sama.” Mike menuangkan isi botol alkohol kedalam dua gelas kristal, satu gelasnya ia ulurkan untuk wanita yang sedang menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Untuk keberhasilan rencana kita. Mari bersulang, Freya.” Mike tertawa senang. Sedangkan wanita itu, Freya, ikut tertawa dengannya.
Sesaat setelah Noah meninggalkan Mike dan Freya. Di saat itu lah, mereka seperti saling mengerti tentang tujuan masing-masing. Mike menginginkan saham perusahaan Elmer dari Noah, sementara Freya menginginkan wanita yang dilihatnya saat di lift, mati di tangannya. Rasa cemburu terbakar di hatinya saat melihat Noah lebih mengejar wanita itu daripada dirinya. Padahal wanita lemah itu jauh berada di bawahnya.
...****************...
sukses trs tuk karya2nya thor 🙏🙏😍😍
semangat mba dgn karya selanjutnya 💪💪
terimakasih banyak sdh banyak menhibur🙏🙏
semangat terus ya kak, terima kasih sudah memberikan cerita yg sangat menginspirasi. sukses n bahagia selalu❤️