Ketika kekayaan harus ditebus dengan tumbal, apakah kau masih ingin menjadi kaya dengan cara instan???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAREWANGAN 24
"Jangan melamun di sini, bahaya!" ucap Anas tersenyum menatap ku.
"Iya Nas,"
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Anas
Aku menggeleng, bagaimana bisa menemukan sesuatu sedangkan aku sendiri seperti tidak di terima di gudang ini.
Aku buru-buru keluar untuk mencari udara segar, namun tak lama Anas memanggil ku.
"Ada apa Nas," ucapku menghampirinya
"Barang-barang di koper ini milik siapa?" ucap Anas kemudian membuka isi koper yang ia temukan.
"Dari barang-barangnya sih seperti milik Mbah Kung,"
Anas tampak mengeluarkan satu persatu isi koper itu. Semuanya berisi pakaian berwarna hijau dan beberapa bunga kantil yang sudah kering.
"Lebih baik barang-barang seperti ini di bakar saja Fik, karena aku yakin ini semua berhubungan dengan Parewangan yang dimiliki oleh ibumu,"
"Iya sih Nas, tapi aku gak berani. Dulu ibu pernah berpesan untuk tidak menyentuh barang-barang yang ada di sini apalagi memasuki ruangan ini," jawabku
"Jangan bilang kalau kamu takut," sahut Anas kemudian memasukkan kembali baju-baju itu kedalam koper dan membawanya keluar.
Akan tetapi ada yang aneh saat Anas sudah mendekati pintu masuk.
Tiba-tiba Ia jatuh pingsan membuat aku panik bercampur takut.
*Brakkk!!
Apalagi saat ku lihat tiba-tiba pintu gudang tiba-tiba terkunci dengan sendirinya.
Aku berusaha menggedor-gedor pintu dan memanggil Bik Sumi, tapi tak ada respon apapun.
Ku lihat wajah Anas tiba-tiba memucat. Kulitnya terasa begitu dingin seperti Es.
Aku merogoh ponselku untuk menghubungi Abu Musa. Sial, kenapa Hp ku juga tiba-tiba baterainya habis dan mati. Padahal baru selesai aku charge tadi, tapi kenapa tiba-tiba sudah habis saja.
Dalam keadaan panik gini aku bingung harus ngapain saat aku hendak membaca doa, tiba-tiba kembali dadaku terasa sesak. Aku kesulitan bernapas hingga rasanya seperti tercekik.
Ku lihat sosok Mbah Kung yang ku lihat dalam mimpi berjalan menghampiriku.
Rasanya aku ingin berteriak minta tolong tapi lidahku kelu. Bahkan tubuhku terasa kaku dan tak bisa bergerak sama sekali.
Mbah Kung menatap nanar kearahku. Matanya yang merah menyala seolah ingin menunjukkan kemarahannya kepada ku.
Ia mendekatiku hingga wajah kami saling berhadapan. Entah aku tidak bisa lagi mengungkapkan bagaimana rasa takutku saat itu.
Tiba-tiba kurasakan tubuhku terasa panas saat Mbah Kung berusaha merasuki tubuhku, rasanya panas dan perih seperti tubuhku di kuliti menggunakan pisau. Ingin ku berteriak sekeras-kerasnya meminta pertolongan namun tak ada seorangpun yang datang menolongku.
Bahkan Anas masih tergeletak pingsan di sampingku.
*Brakkk!!
Seketika aku sadar saat mendengar seseorang mendobrak pintu gudang.
Ku lihat sosok pria paruh baya datang menghampiriku. Ia mengusap ubun-ubun ku dan seketika kurasakan tubuhku terasa sejuk dan sangat ringan hingga aku tertidur sejenak.
"Bagun Le," ucapnya sambil mengguncang tubuhku
Aku yang sempat tertidur kembali terbangun. Ku lihat pria itu kemudian menggendong Anas dan membawanya keluar dari gudang.
Akupun mengikutinya perlahan.
"Apa yang terjadi Mas," tanya Bik Sumi tampak khawatir
"Gak papa Bik," jawabku kemudian merebahkan tubuhku ke sofa.
Ku lihat Pria itu membaringkan Anas ke atas karpet. Ia mengusap wajah Anas sambil membisikan sesuatu di telinganya.
Tak lama Anas pun terbangun.
"Dimana aku?" tanya Anas tampak linglung
"Di rumah Fikri toh le," jawab Pria itu menyunggingkan senyumnya
Ia kemudian menghampiriku yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya.
"Bagaimana kondisi mu le, apa sudah baikan?" tanyanya sambil menepuk pundakku
"Alhamdulillah Pak De, sudah baikan,"
"Syukurlah kalau gitu," jawab pria itu kemudian duduk di samping ku
Ia kemudian mengeluarkan sebungkus rokok, "Boleh merokok di sini gak?"
"Silakan Pak De,"
"Kalau ada kopi hitam boleh lah Fik,"
"Astaghfirullah maaf Pak De, sampai lupa gak ngasih minum, tunggu sebentar ya Pak De, Fikri buatkan dulu," aku langsung bergegas menuju ke dapur untuk membuatkan segelas kopi hitam
Saat aku kembali ke ruang tamu ku lihat pria itu tak ada, yang ada hanya Anas yang terlihat memijat kepalanya.
"Dimana bapakmu Nas?" tanyaku penasaran
"Ada di depan," jawab Anas
Aku segera keluar untuk melihat ayah Anas.
Ku lihat ia sedang duduk menikmati sebatang rokok kretek di tangannya.
"Monggo silakan di minum kopinya Pak De," aku meletakkan segelas kopi hitam di samping ayah Anas
"Kamu pasti sangat tertekan menghadapi semua ini sendirian Fik," ucap pria itu seolah tahu apa yang aku rasakan
"Begitulah Pak De,"
"Jangan khawatir Badai pasti berlalu kata Chrisye," jawabnya membuat ku tersenyum mendengar kelakar garingnya
"Iya sih, tapi sudah terlalu lama awan hitam tak kunjung pergi,"
"Sabar Le, mendung tak berarti hujan, nanti Pak De kirim pawangnya biar gak jadi hujan,"
"Tapi sudah banyak yang jadi korban Pak De, aku gak mau bertambah lagi korban selanjutnya,"
"Apa kamu tahu siapa yang akan jadi korban selanjutnya?" tanya Pria itu berbisik
Ku menggeleng.
"Anas," jawabnya singkat
Tentu saja aku terkejut mendengar ucapan Ayah Anas. Bagaimana bisa ia setenang itu padahal ia tahu Anas akan jadi tumbal berikutnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan agar Anas bisa selamat Pak De,"
"Jalani saja hidupmu seperti biasanya, biar kau tahu bagaimana caranya melawan pengabdi setan," jawab Pak De kemudian menghabiskan kopinya.
Sebelum pulang Pak De memberikan sebuah cincin kepadaku.
"Sepertinya cincin ini cocok sama kamu,"
Aku tidak tahu itu cincin apa, yang jelas aku menerimanya dengan senang hati. Apalagi Aku suka dengan desain cincinnya yang terlihat begitu elegan.
Sepertinya ini akik mahal, tapi kenapa Pak De memberikannya kepadaku.
"Jangan lupa dilepas kalau mau ke kamar mandi ya, karena nanti penunggunya marah," ucap Pak De membuat aku kaget dan langsung melepasnya.
"Kok ada penunggunya Pak De, emang ini cincin apaan?" tanyaku
"Itu cincin keramat, mudah-mudahan saja cincin itu bisa menyelamatkan mu dari makhluk yang selama ini meneror mu,"
Pak De Lingga adalah seorang dukun sakti jadi wajar saja kalau ia memiliki cincin keramat.
"Terimakasih Pak De," jawabku
"Kalau ada waktu main ajak ibumu main ke rumah Pak De,"
"Insya Allah Pak De,"
"Yaudah kalau gitu aku pamit ya," ucapnya kemudian memanggil Anas untuk keluar
"Pak De gak mau lihat kondisi Ibuku," ucapku berharap Pak De mau melihat Ibu dan membantu mengobatinya
"Sudah dong fik," jawabnya singkat
"Emangnya kapan Dad?" tanya Anas
"Semalam dalam mimpi," jawabnya membuat aku tertawa
"Jangan bercanda Dad?" ucap Anas mendengus kesal
"Emang bener Nas, namanya juga dukun nas jadi suka lihat duluan di halu sebelum ketemu sama realnya. Kalau gak gitu mana bisa Daddy ada di sini sekarang?" jawab Pak De
"Benar juga sih, gimana Daddy tahu aku lagi dibikin sekarat sama Buto Ijo,"
"Itu namanya radar le,"
"Iya, iya,"
Ku lihat Anas begitu dekat dengan ayahnya hingga membuat ku merasa iri. Andai saja Bapak masih hidup.
Aku jadi bersedih lagi jika ingat Bapak.
"Fik, aku sama bapak pamit ya?"
Aku seketika terhenyak saat Anas menepuk pundakku untuk berpamitan.
Setelah Anas dan ayahnya pulang aku segera menuju ke atas untuk melihat Ibu.
Ku lihat Bik Sumi sedang menyuapi ibuku.
Akupun memutuskan untuk kembali ke kamar untuk beristirahat.
Entah kenapa siang itu aku bermimpi bertemu dengan seorang pria tampan duduk di tepi ranjang seolah sedang menjagaku.
"Tidurlah yang nyenyak, mulai sekarang Barra akan selalu menjagamu,"
kok berubah jadi anak pakde lingga
bahasa ceritanya terlalu easy going, agak serampangan menjurus kasar untuk in-out nya.
alangkah baiknya jika bahasanya dibuat sedikit baku, kalau pun pakai tradisi / adat / mitologi / bahasa ke jawen, dibuat ke Jawa sekalian, jangan terlalu pake bahasa anak gaul sekarang, jadi ilfeel
cekap semanten
menawi lepat, nyuwun pangapunten