NovelToon NovelToon
Alma3 Ratu Siluman

Alma3 Ratu Siluman

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Perperangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:247.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Alma Fatara, gadis sakti yang muda belia, kini menjelma menjadi Ratu Siluman, pendekar cantik jelita yang memimpin satu pasukan pendekar sakti dan besar.

Berbekal senjata pusaka yang bernama Bola Hitam, Alma Fatara langlang buana demi mencari kejelasan siapa sebenarnya kedua orangtuanya.

Sejumlah kedudukan istimewa sudah dia raih di usia belia itu, menjadikannya sebagai pendekar muda yang fenomenal, disegani sesama pendekar aliran putih dan membuat pendekar jahat ketar-ketir, ditaksir banyak pemuda dan dihormati oleh pendekar tua.

Kali ini, Alma Fatara akan menghadapi dua kerajaan besar dan melawan orang yang tidak terkaalahkan. Petunjuk yang mengarahkan mendekati orangtuanya semakin terbuka satu demi satu.

Sampai di manakah kemampuan Alma Fatara dalam perjalanannya kali ini? Temukan jawabannya hanya di novel “Alma3 Ratu Siluman”.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akarmani 24: Siasat Ratu Tua

*Api di Kerajaan Jintamani (Akarmani)*

 

“Kalian berempat jadilah penyusup dengan tetap berpakaian merah,” kata Ratu Warna Mekararum kepada empat murid Perguruan Pisau Merah.

Saat itu, Ratu Tua sedang melakukan briefing mengatur siasat di dalam kamar Prabu Marapata. Selain banyak orang yang sudah berpakaian prajurit Pasukan Pelindung Raja, banyak juga yang masih berpakaian merah-merah. Di antara mereka juga berdiri Sudigatra, orang tersakti di antara mereka.

“Kalian berenam, bertindak sebagai prajurit Pasukan Pelindung Raja yang mengejar penyusup. Kalian pergilah ke arah selatan lingkungan Istana sampai menemukan tembok panjang yang merupakan sisi selatan Istana. Ada dua jalan utama yang menghubungkan dengan area penjara. Setelah kalian masuk ke area penjara, ikuti jalan lurus di sepanjang tembok depan penjara. Jalan itu akan berujung kepada bangunan gudang kayu. Jalan rahasia ada di ruang terdalam dan di lantai di sudut kiri. Tindakan kalian kemungkinan besar akan menjadi kejaran Pasukan Keamanan Istana. Pada saat yang sama, kalian berenam ....”

Ratu Warna Mekararum menunjuk enam lelaki berpakaian prajurit lainnya.

“Keluar dari Istana Keprabuan ini, kalian berjalan ke arah kanan sampai jalan berbelok ke kanan, lalu ke kiri. Kemudian lurus saja sampai kalian menemukan bangunan yang dua tiang depannya berbentuk seperti kulit buah nanas. Itu gudang bahan makanan. Bakar. Setelah itu, bakar juga gudang senjata di sebelahnya,” kata sang ratu.

“Baik, Gusti Ratu,” ucap mereka yang mendapat tugas berbahaya.

“Dan kalian berdua, cari Komandan Buto Sisik dan katakan bahwa dia dipanggil oleh Gusti Prabu,” kata Ratu Warna Mekararum kepada tiga orang prajurit lainnya.

“Baik, Gusti Ratu,” jawab mereka bertiga.

Itulah latar belakang kenapa pada malam menjelang tengah malam itu terjadi kebakaran besar yang melahap dua bangunan penting, yaitu gudang bahan makanan dan gudang persenjataan.

Jika sekedar melumpuhkan prajurit biasa yang berjaga pada kedua bangunan yang minim penjagaan di kala malam, murid-murid Perguruan Pisau Merah bisa melakukannya dengan mudah. Selain dibekali pisau-pisau beracun, mereka juga dibekali satu dua tiga ilmu kesaktian.

Kebakaran dua gudang penting itu jelas membuat seisi istana panik dan membuat Senopati Gending Suro selaku penguasa de facto marah besar. Dari kejadian itu, seisi Istana yakin bahwa ancaman serangan yang dipimpin oleh Ratu Warna Mekararum nyata adanya.

Pasukan Keamanan Istana yang jumlahnya lebih seribu orang segera berbondong-bondong berusaha memadamkan api atau menyelamatkan bahan makanan yang bisa diselamatkan, karena ini menyangkut urusan perut penghuni seisi Istana, termasuk isi perut para prajurit.

“Panglima Rakeaaan!” teriak Senopati Gending Suro yang wajahnya memerah kelam dengan jelas oleh panas api yang besar dan panas amarah.

“Hamba, Gusti!” teriak Panglima Rakean yang baru tiba setelah pergi ke penjara. Dia berlari datang menghadap.

“Dari mana saja kau, Panglima. Kenapa dua gudang itu bisa terbakar?!” bentak Senopati Gending Suro. “Cari dan bunuh penyusupnya!”

“Penyusupnya ada di selatan, Gusti, sedang dikejar oleh pasukanku di dekat lingkungan penjara,” jawab Panglima Rakean, padahal pembakar itu sedang pura-pura bahu-membahu bersama ratusan prajurit berusaha memadamkan api.

“Kau kembali ke sana dan bunuh para penyusup itu. Kau tidak dibutuhkan di sini!” perintah Senopati Gending Suro.

“Baik, Gusti,” ucap Panglima Rakean patuh.

Setelah menghormat, Panglima Rakean pun berbalik pergi dengan berlari sedang.

“Senopati keparat!” maki Panglima Rakean pelan. “Seenaknya saja dia memarahiku. Dia benar-benar menjalankan kuasa seorang mahapatih, padahal Gusti Prabu tidak pernah memberinya jabatan itu. Aku jadi agak yakin dengan kebenaran bahwa Gusti Ratu Tua memang masih hidup. Jangan-jangan tudingan Raden Capang kepada Senopati benar adanya.”

Dalam larinya menuju ke selatan Istana, Panglima Rakean berubah gamang.

Namun, di tengah jalan ....

“Hei! Berhenti!” teriak Panglima Rakean sambil berlari berbelok arah, ketika dia melihat empat orang prajurit sedang berjalan bersama di jalan yang sepi.

Cukup terkejut keempat prajurit itu karena ada yang memanggil dari arah belakang. Namun, mereka berusaha bereaksi secara wajar. Mereka menengok dan berbalik arah ketika melihat kedatangan perwira yang sebenarnya tidak mereka kenal.

“Prajurit Pelindung Raja, kenapa kalian berjalan di sini, tidak membantu pemadaman kebakaran?” tanya Panglima Rakean, kini dia berjalan mendekat, mungkin sudah lelah berlari.

“Kami ditugaskan oleh Gusti Prabu, Gusti,” jawab satu dari keempat orang prajurit berseragam Pasukan Pelindung Raja itu.

“Ditugaskan apa?” tanya Panglima Rakean lagi dengan tatapan curiga.

“Menemui Gusti Pangeran Bugar Bawah dan Panglima Rakean, Gusti,” jawab juru bicara keempat prajurit itu lagi.

Terkejut Panglima Rakean mendengar jawaban itu.

“Aku adalah Panglima Rakean, apakah kalian tidak mengenalku?” tanya Panglima Rakean agak membentak. Sungguh menyakitkan hati, dia yang bertanggung jawab atas keamanan Istana, kenapa masih ada prajurit yang tidak mengenalnya. Seketika dia pun menaruh curiga.

Meski keempat prajurit itu terkejut di dalam hati, tetapi mereka berusaha tenang.

“Mohon maaf, Gusti Panglima. Kami berempat prajurit rekrutan baru,” jawab Panglima Rakean.

Sebenarnya Panglima Rakean tidak percaya jika keempatnya prajurit baru, terlebih mereka sudah mendapat tugas tidak biasa. Namun, jika dia memaksakan tangan kepada keempat prajurit itu, ia pun khawatir jika mereka memang diutus oleh Prabu Marapata.

“Lalu pesan apa yang ingin kalian sampaikan kepadaku?” tanya Panglima Rakean.

“Gusti Panglima diminta datang ke Istana Keprabuan sekarang juga untuk menghadap Gusti Prabu langsung,” jawab si prajurit.

“Baik, aku akan segera ke sana,” kata Panglima Rakean.

“Kami mohon undur diri, Gusti,” ucap si prajurit.

“Hmm,” gumam Panglima Rakean sembari mengangguk sekali.

Sambil memandangi kepergian keempat prajurit yang mencurigakan itu, Panglima Rakean berkata di dalam kepala, “Lebih baik aku memastikan lebih dulu kondisi di selatan, baru aku ke Istana Keprabuan.”

Panglima Rakean segera berkelebat lagi pergi arah selatan. Sepertinya dia sudah tidak lelah.

Sementara itu di depan gudang kayu, Pajrit Kempit memerintahkan anak buahnya membakar pintu gudang. Sebelumnya, mereka tidak bisa mendobrak pintu, jadi solusinya adalah dibakar, pintunya saja.

Gudang itu memang hanya memiliki satu pintu dan ventilasi udara hanya berupa lubang-lubang kecil di sisi atas dinding bangunan. Kini, bersama Pajrit Kempit ada sekitar tiga puluh prajurit saja.

Namun, cara membakar membutuhkan sedikit waktu, harus menunggu api merapuhkan kayu pintu.

Setelah dikira rapuh, barulah daun pintu itu dipukul-pukul dengan tombak sehingga berpatahan. Barulah mereka tahu bahwa pintu itu diganjal kayu gelondongan.

Setelah pintu bisa dijebol, maka api pun dipadamkan dan para prajurit itu bergerak masuk.

Di dalam gudang, Pajrit Kempit dan pasukannya menyebar di antara tumpukan-tumpukan kayu. Namun, mereka tidak melihat satu pun orang selain dari kelompok mereka sendiri, padahal tidak ada jalan lain untuk keluar dari gudang itu.

“Kenapa mereka bisa hilang?” tanya Pajrit Kempit bingung sendiri.

Ketika mereka berusaha memeriksa jejak kaki dengan cahaya obor, sayang tidak terlihat jejak yang jelas, sehingga mereka tidak bisa menyimpulkan.

“Pajrit Kempit!” panggil Panglima Rakean dari luar.

Mendengar suara Panglima Rakean, Pajrit Kempit segera berlari keluar untuk menghadap. Dia pun segera melaporkan kondisinya.

“Hah, hilang?” kejut Panglima Rakean.

Hal itu membuat dia harus memeriksa sendiri ke dalam gudang. Semua sisi diperiksa. Lantai, setiap sudut, dinding hingga langit-langit. Namun, para penyusup itu tidak satu pun ditemukan.

Sekedar bocoran. Ratu Warna Mekararum telah memberi petunjuk kepada personel pasukannya bahwa di dalam gudang kayu ada jalan rahasia. Kesepuluh buruan itu telah masuk pintu rahasia dan menutupnya secara rapi. Tugas mereka hanya mendekam di balik pintu rahasia hingga pasukan pergi.

Memang, akhirnya Panglima Rakean membubarkan pasukannya di gudang kayu itu dan memerintahkannya berpatroli. Sedangkan dia sendiri pergi menuju ke Istana Keprabuan. (RH)

1
asta guna
hahaha Q bisa bayangkan
asta guna
gaya tulisan om Rudi benar2 diluar Nurul hahah
Om Rudi: jiahahaha
total 1 replies
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
aku udh serius baca wkwk malah akhir kalimat bikin ktawa🤣🤣🤣 ga ada yg ngajak kopi bersama🤣
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
awokaowk keliatan klo ompong🤣🤣🤣 berjendela giginyanitu🤣🏃‍♀️
🇬 🇨 🇦 🇸 ¹
lah kirain sunat beneran 🤣🤣🤣 ternyata surat wwkk
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
hebat ya debur sama ayu Wicaksana membela ratu mekar Arum
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
namanya debur ku kira🤧ayang ayu Wicaksana
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
mampir di karya thor
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
Hihihi... Gusti Senopati melongo gak jelas, pengen marah ya harus marah 😅
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
itu pukulan kasih sayang paman, biar paman mau manggilku perempuan cantik.. Ha ha ha
🗣 𝐉𝐨𝐞 𝐀𝐥𝐰𝐚𝐲𝐬 🦅
Sabar Ning Ana, kak Alma emang seperti itu, lempar kaki sembunyi tangan 😅
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
kocar kacir dah semua pasukan karena seorang Alma gadis cerdik dan pintar... ih si Ana bahagianya
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
masih kecil lo si Ana nekat banget sih dia apalagi jatuh cinta sama om" 😁
@⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔Tika✰͜͡w⃠🦊⃫🥀⃞🦈
aku suka dengan tingkah konyol Ayu... pacarnya Debur dipanggil bubur 🤣
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah ternyata alma fatara sangat hebat dalam mengalahkan musu. dgn seorang diri dia berani menyerang walau wanita
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah, jangan maju kalau gitu, prajurit berkuda saja semua kalah, kalau kamu berani berdual alamat bisa mati ditangan wanita itu
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
iya, nih mana ada sih musuh ngecoh memakai daun. mungkin dia hanya ingin bermain saja
R. Yani aja
yang ini kunci slotnya karatan nggak?
R. Yani aja
rak kayunya, isinya apa om?
R. Yani aja
otak gue ngeleg. baca "personel pembawa obor" jadi ponsel pembawa obor... lah maksudnya gimana??? 🤣🤣🤣✌✌✌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!