Diwarnai dengan keegoisan karena didik keras sedari kecil, bukan hanya diterima tempat pendidikan ketika mereka bersekolah di akademi militer. Apakah cinta Agatha dan Jefry bisa mengalahkan sifat ego mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembaran
Sampai diruang kerja, Jefry menghapus foto itu dari galerinya. Dia mulai berpikir ada yang tidak beres. Namun dia tidak menanggapi.
Panggilan masuk dari nomor tak di kenal sebanyak empat kali namun di cuekin oleh Jefry. Ada pesan masuk " Angkat Jef aku Bertha" Jefry hanya melihat dan menghapus nomor itu bahkan di blokir olehnya. Bertha yang mengetahui nomornya di blokir langsung marah.
"Main kasar ya kamu Jeff, awas."
Sementara itu dirumah sakit, Dokter Agatha mulai menjelaskan kondisi unclenya Bertha, dan tentu sebagai dokter lulusan New York, dia menyombongkan dirinya. Namun oleh Agatha dibalas dengan lembut namun telak, membuat Bertha tak berdaya.
"Terus, apa yang harus saya lakukan?"
"Jelas bapak harus bisa hidup sehat. Yang berlebihan di kurangi, yang kebiasaan tidak bagus di hilangkan. Stay positive thinking, itu akan lebih bagus." Agatha mempraktekkan terapi- terapi mandiri yang bisa dilakukan di rumah oleh beliau. Sebelum pamit keluar ruangan, Bertha mendengar Agatha menerima telephone dari nada bebicaranya Bertha tahu itu pasti Jefry suaminya dokter Agatha.
Bertha mulai menjalankan niatannya. Sebagai anak seorang diplomat, pamanya mantan seorang perwira, Bertha mendaftar menjadi dokter yang bekerja di rumah sakit tentara sebagai dokter kontrak. Padahal dirumah sakit ini ada satu dokter spesialis penyakit dalam. Yang dari hasil evaluasi kepala rumah sakit tidak banyak pasiennya. Namun karena faktor kerabat, anak mantan pejabat negara dia di terima.
Seperti biasa rutinitas dokter Agatha pagi hari, waktu di antar oleh suaminya. Semua tenaga medis dan administrasi hafal betul kebucinan komandan intel ini Kolonel Jefry Xaverius Wibowo. Meskipun sudah usia tiga puluh sembilan tahun, kharismanya masih sangat terpancar. Gantengnya, bodinya, buat yang ditatap klepek - klepek.
"I love you sayang."
"Love you more mas." Mobil pun melaju keluar kompleks rumah sakit. Aksi sepasang suami istri ini disaksikan oleh Bertha. Sudah pasti marah dan cemburu buta.
Bertha protes karena dia ditempatkan sebagai dokter IGD, dia mau menempati klinik penyakit dalam yang sudah pasti dikepalai oleh seorang perwira. Semua tenaga media di rumah sakit tentara ini merasa heran, gemas pada dokter bule ini.
"Dokter sudah tahu kabar yang lagi tranding topik."
"Kabar apa ners mamat."
"Itu dokter bule.....
"Dokter bule???"
"Ya dokter masa ngak tahu??"
"Swear mat, ngak tahu."
"Julukan dokter yang baru itu."
"Ooo dokter Bertha, kenapa?"
"Mau rebut posisi Letkol dokter Prasetyo di klinik penyakit dalam. Beliau tidak mau ditempatkan sebagai dokter IGD." Agatha kaget. Dia tidak menyangka bahwa ada orang luar yang menggeser posisi orang dalam.
"Apa kata dunia mamat?" Mamat tertawa dan diikuti oleh Agatha.
"Harus belajar banyak tentang kepemimpinan iya kan dokter, biar bisa tahu siapa dia."
"Sebenarnya aku malas ngebahas ini. Tapi saya rasa dia harus banyak belajar bagaimana menempatkan diri di lingkungan ini."
"Setuju dokter."
Agatha dihubungi agar ke IGD karena ada pasiennya. Agatha langsung memeriksa dan meminta menyiapkan ruang operasi dan timnya. Sementara Agatha masih membahas kondisi pasien berdasarkan hasil CT Scan. Benturan yang membuat pendarahan dan harus segera di operasi.
Pukul empat, Jefry sudah datang menjemput istrinya. Namun informasi yang diterima dari asisten nersnya Mamat bahwa istrinya sedang melakukan operasi. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu di kantin.
Sedang menikmati kopi americano. Jefry di hampiri oleh dokter Bertha.
"Sendiri??"
"Iya, nunggu istriku."
"Lagi operasi tadi pasien pendarahan otak."
"Iya."
"Boleh duduk disini?"
"Silahkan, kan sudah duduk juga."
"Terima kasih." Jefry kembali kepada rutinitasnya mengerjakan pekerjaannya di ipad. Sedangkan Bertha mulai merasa tidak senang karena di cuekin.
"Kamu kenapa sih Jef??"
"Aku, ....maksudnya??? Kenapa???"
"Kamu seperti menghindar dari saya."
"Menghindar??? Sekarang kamu ada di depan saya bagaimana menghindar??"
"Kamu ngak perna hadir dalam reuni, kamu blokir nomor saya. Kenapa???"
"Saya memang ngak perna ikut reuni semenjak berumah tangga. Saya berpikir, berkumpul bersama istri dan anak lebih penting. Kamu tanya saja sama teman - teman. Soal nomor kamu di blokir, menurut kamu alasannya apa??"
"Kamu ngak mau berhubungan dengan saya."
"Tepat sekali. Kamu sudah tahu sangat kenapa bertanya."
"Jef, aku mau kamu melihat aku juga. Aku sayang kamu, Jeff." Agatha tiba di kantin dan dilihat oleh Jefry, langsung dia mengangkat tangan dan berdiri.
"Sayang." Jefry langsung memeluk dan mencium Agatha di depan dokter Bertha.
"Aku menganggu ya. Silahkan kalau mas masih ada keperluan dengan dokter Bertha. Ade bisa tunggu."
"Ngak ada sayang, ayo kita pulang. Dokter permisi." Jefry langsung mengandeng tangan Agatha istrinya. " Mas akan jelaskan semua sayang di rumah."
"Iya." Agatha yang sebenarnya sedikit curiga. Hanya bisa lapang dada ketika suaminya mengatakan mau menjelaskan semua ini. Sementara itu Dokter Bertha merasa harga dirinya di injak- injak. Kebencian dan kemarahan sudah tertanam di pikiran dan hatinya.
"Kalau Rebeca tidak bisa mempertahankan miliknya. Maka aku Bertha berbeda dari sepupu ku itu."
Jefry dan Agatha dalam posisi diatas tempat tidur, tentu Jefry baru menyelesaikan olahraga malam bersama istrinya. Agatha memeluk suaminya dan dibalas dengan ciuman mesra di keningnya.
"Ini masa lalu mas, Bertha dulu sekolah di sini. Dia ke Amerika mengikuti orangtuanya karena di usir oleh Rebeca. Padahal dia sudah kelas sebelas akhir. Rebeca marah, karena membaca diary Bertha dimana ada foto mas. Disitu Bertha menuliskan rasa sukanya kepada mas dari kelas delapan."
"Wah mas dulu rebutan ya?"
"Lihat aja suamimu ini gimana gantengnya??"
"Iya yang gantengnya kelewatan. Mas tahu dari mana??"
"Dia menyerahkan diarynya kepada mas sebelum dia berangkat."
"Baru nasib diarynya?"
"Ya dibakar oleh saudaranya sendiri."
"Mas terakhir berhubungan dengannya kapan??"
"Kita bertemu lagi waktu Rebeca sudah di nikah dengan papanya Josep. Di New York olympiade."
"Mas membuka hati buat dia??"
"Adek kok seperti intel."
"Jawab mas."
"Ngak lah, masa mas tega mau keluarga mas orangtua mas dipermalukan oleh keluarga itu. Dia menyakinkan mas, kalau dia bukan Rebeca, namun mas tidak merespon sedikit pun. Sampai kita bertemu."
"Benar???"
"Tentu hati ini kalau dibelah dokter bedah hanya ada nama Agatha, agatha, Agatha, Agatha. Swear!!! I love you istriku sayang."
""Pengen pingsan deh."
"Janganlah dek."
"Pasti dia mau mempertegas perasaannya kan???"
"Iya."
"Habislah aku di musuhi oleh dokter bule?"
"Dokter bule???"
"Panggilan buat dokter Bertha."
"Jadi tadi yang para ners ngomongin tentang tahta dokter Prasetyo dan dokter bule yang di maksud adalah Bertha."
"Buat salah apa dia??"
"Mana adek tahu. Mas kan tahu kalaupun diceritakan memori adek buat gosip - gosip itu ngak bakal tersimpan. Sudah penuh denga kata cinta kolonel Jefry dan Nael putraku. Yang juga meratukan ku."
"Kalau dia macam - macam sama kamu. Hukum militer aja dek. Ingat sayang mas ngak mau kamu di remehi oleh orang lain. Kamu itu berharga buat mas. Dibalas jika keterlaluan. Mas akan jadi pembelamu."