Hutang budi membuat Aisyah terpaksa menerima permohonan majikan sang ayah. Dia bersedia meminjamkan rahimnya untuk melahirkan anak Satria dengan Zahra melalui proses bayi tabung.
Satria terpaksa melakukan hal itu karena dia tidak mau menceraikan Zahra, seperti yang Narandra minta.
Akhirnya Narandra pun setuju dengan cara tersebut, tapi dengan syarat jika kesempatan terakhir yang dia berikan ini gagal, maka Satria harus menikahi Gladis dan menceraikan Zahra.
Gladis adalah anak dari Herlina, adik tiri Narandra yang selalu berhasil menghasut dan sejak dulu ingin menguasai harta milik Narandra.
Apakah usaha Satria dan Zahra akan berhasil untuk mendapatkan anak dengan cara melakukan program bayi tabung?
Yuk ikuti terus ceritaku ya dan jangan lupa berkarya tidaklah mudah, jadi kami para penulis mohon dukungannya. Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24. MENGHASUT ZAHRA
Satria menggenggam tangan Zahra, dia tahu jika istrinya pasti cemburu. Tapi sekarang dia harus adil, memberi perhatian untuk keduanya.
Zahra memandang wajah Satria yang fokus memperhatikan jalanan. Suaminya terlihat makin tampan dan nampak gurat senyum kebahagiaan di wajahnya. Aisyah berhasil merawat serta memberikan kebahagiaan baru untuk Satria.
"Mas, kita menginap di rumah Papa kan? aku rindu kebersamaan kita," ucap Zahra yang ingin mengetes Satria. Dia ingin tahu, mana yang akan dipilih Satria, bersamanya malam ini atau pulang dan menginap di rumah Aisyah.
"Aku juga rindu kamu Ra, bahkan lebih dari yang kamu rasakan. Tapi, apakah tidak apa-apa kita tinggal Aisyah sendirian di sana? jika Bibi ada nggak jadi masalah. Aku takut terjadi apa-apa dengan dia Ra, apalagi saat ini Aisyah mabuknya lumayan parah. Kamu lihat kan, tubuhnya lemah dan pucat. Bagaimana jika dia mau pergi ke kamar mandi dan terjatuh?"
Zahra terdiam mendengarkan penjelasan panjang lebar dari suaminya. Yang dikatakan Satria memang benar, tapi kenapa hatinya begitu sakit.
Dia merasa Satria telah mengutamakan Aisyah ketimbang dirinya.
Melihat Zahra terdiam, Satria pun merasa tidak enak hati, lalu dia berkata, "Kamu tidak marah kan Ra? begini saja, kita akan jalan-jalan, menikmati momen berdua apabila Aisyah sudah ditemani oleh Bibi."
"Coba kamu hubungi Bibi Ra, kapan beliau balik kesini, jika dengan pembantu baru, aku masih belum bisa percaya dan takut untuk meninggalkan Aisyah."
"Iya Mas, nanti aku hubungi Bibi. Oh ya, kita akan jalan-jalan kemana Mas?"
"Terserah kamu saja, aku sih setuju kemanapun kamu mau."
"Terimakasih ya Mas," ucap Zahra dengan wajah sumringah.
"Iya sayang. Kamu jangan diam lagi ya, aku jadi merasa bersalah. Aku mencintaimu Ra, sampai kapanpun dan itu tidak akan pernah berubah," ucap Satria sembari memberikan kecupan di kening Zahra setelah dia menghentikan mobilnya di halaman rumah Narandra.
"Ayo kita turun, aku akan cek buah mangganya dan kamu ke kamar, ambil barang yang ingin kamu bawa. Biar kita nggak kelamaan meninggalkan Aisyah sendirian."
Zahra pun mengangguk, lalu bergegas masuk, tapi langkahnya terhenti saat melihat Herlina menghadang di bawah anak tangga.
"Oh, ternyata kamu sudah pulang? nggak takut meninggalkan Satria terlalu lama dengan madumu. Kamu pasti akan menyesal Ra dan aku pastikan cinta suamimu akan berpindah."
"Bukan urusan Tante, aku percaya dengan Mas Satria, dia akan tetap mencintai ku meski dia memiliki Aisyah. Lagipula nggak ada salahnya jika Mas Satria mencintai Aisyah, toh dia juga istrinya dan sekarang sedang mengandung keturunannya."
"Nah itu yang ku maksud, apa kamu tidak takut bakal tersingkir? bisa saja kan Aisyah tetap bertahan dan tidak ingin memberikan anak kalian setelah lahir. Banyak kok contoh kasus seperti itu."
"Satria dan Kak Narandra pasti tidak akan membiarkan hal itu. Apalagi jika bayi itu sudah terikat batin dan tidak bisa pisah dengan Aisyah. Pasti mereka akan memilih serta meminta Aisyah untuk tetap tinggal, menjadi menantu keluarga ini selamanya. Kamu bakal tersisih dan bisa jadi ditendang keluar dari rumah ini. Satria akan lebih mencintai Aisyah serta bayinya."
"Tante tidak perlu mengompori aku dan urus saja urusan Tante serta Gladis. Gladis lebih membutuhkan perhatian Tante ketimbang kami," jawab Zahra sembari berjalan meninggalkan Herlina.
"Eh tunggu! nggak sopan banget, ninggalin orang tua yang sedang berbicara. Ingat Zahra! kamu pasti akan menyesal!" teriak Herlina yang merasa kesal.
Zahra tidak mempedulikan teriakan Herlina, dia langsung menuju kamar untuk mengambil barang yang dia inginkan.
Ketakutan itu pasti ada, tapi Zahra berusaha untuk menepisnya. Dia percaya, Satria bukan suami yang seperti Herlina katakan. Dan Zahra yakin, Aisyah juga bukan wanita serakah yang akan mengambil hak sepenuhnya sebagai sesama istri.