NovelToon NovelToon
Kultivator Tanpa Bakat

Kultivator Tanpa Bakat

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Tamat
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

Apa jadinya jika kau lahir tanpa bakat dan harus kehilangan satu-satunya orang yang kau cintai? itulah hal yang di alami oleh Xiao Chen.

Tapi suatu hari dia menemukan Kristal yang dapat memutar balikan waktu dan ini tidak gratis.

Apakah ini keberuntungan atau justru kutukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Tekad Xiao Chen

​"Kak, rumahmu yang mana?" tanya Jun Fei dengan rasa ingin tahu.

​Xiao Chen yang berjalan di sebelahnya menoleh. Ia masih harus mengingat kembali tata letak desa di masa kecilnya, karena memorinya dominan berpusat pada masa tua.

​"Kalau tidak salah, seharusnya di sana." jawabnya, sedikit ragu sambil menunjuk ke arah pinggiran hutan.

​Jun Fei mengerutkan kening, keheranan. "Lah, kenapa harus tidak salah? Tidak mungkin Kak Xiao lupa rumah sendiri, kan?"

​Xiao Chen sedikit terkejut, lupa bahwa ia bukan lagi Xiao Chen yang lugu dan kecil. Ia harus cepat mencari alasan.

​"Aku memang sering lupa kalau sudah lelah. Tapi ini hanya sementara, kok!" Ia tertawa canggung, berusaha terlihat wajar.

​Setelah berjalan sedikit menjauh dari keramaian desa, mereka memasuki area yang agak terpencil. Di sana, di antara semak belukar dan pohon-pohon kecil, terlihatlah gubuk kayu reyot tempat ibunya tinggal.

​"Nah, itu dia." Xiao Chen langsung berlari ke depan. "Ayo, Jun! Akan kuperkenalkan kau kepada Ibuku!"

​Xiao Chen membuka pintu yang sudah usang. "Aku pulang, Bu!" serunya dengan suara bersemangat yang berusaha disembunyikan.

​Terdengar suara batuk dari dalam, namun kali ini disusul dengan jawaban yang penuh kehangatan. "Sudah pulang, Nak?"

​Xiao Chen masuk bersama Jun Fei. Walaupun rumah gubuk itu jelek dan sederhana, Xiao Chen selalu menjaga kebersihannya di masa lalu demi kenyamanan ibunya.

​"Iya, Bu. Hari ini, aku pulang dengan membawa seorang saudara baru." ucap Xiao Chen, langsung masuk ke kamar ibunya.

​Sang ibu masih terbaring lemah, wajahnya pucat, dan ia batuk beberapa kali. "Saudara baru?"

​Xiao Chen duduk di sebelah ibunya, menggenggam tangan ibunya yang dingin—tangan yang sangat ia rindukan.

​"Iya, Bu. Boleh tidak kalau Xiao Chen mengangkat anak ini menjadi adik dan bagian dari keluarga kita?" tanyanya lembut, memohon izin. "Ibu tidak perlu khawatir soal makanannya. Aku yang akan memberinya makan dan menjaganya."

​Ibunya tersenyum tulus, senyum yang menghangatkan hati Xiao Chen. "Ibu justru senang, Nak. Akhirnya anak Ibu dapat bergaul juga. Semakin banyak keluarga, Ibu juga semakin senang. Jadi, siapa nama anak ini?"

​Xiao Chen menepuk pundak Jun Fei, mendorongnya maju sedikit. "Perkenalkan dirimu, Jun."

​Jun Fei maju, ia terlihat sangat malu-malu dan canggung, tidak terbiasa dengan kehangatan seperti ini. "N-namaku Jun Fei... B-bibi... Maksudku Nyonya."

​Melihat ibunya tersenyum dan tampak bahagia menerima kehadiran Jun Fei, Xiao Chen membalikkan badan. "Aku pergi ke belakang dulu, Bu. Kalian bicara saja." Ia meninggalkan Jun Fei dan ibunya untuk memberi mereka ruang berinteraksi.

​"Jangan panggil Ibu seperti itu, Nak," suara lembut ibunda Xiao Chen terdengar. "Panggil saja aku Ibu juga, ya. Ibu sudah menganggap Nak Jun Fei sebagai anak Ibu sendiri."

​Mendengar kata-kata itu, Jun Fei merasakan sesuatu yang asing, namun sangat nyaman, menjalar di hatinya. Perasaan dihargai, diterima, dan diakui sebagai bagian dari keluarga. "B-baik, Bu."

​Di ruangan belakang, Xiao Chen duduk di lantai, memeluk lututnya erat-erat. Mendengar percakapan mereka, ia tidak bisa lagi membendung air mata. Air mata kebahagiaan dan kelegaan.

​Perasaan luar biasa ketika dapat bertemu kembali dengan ibunya, yang ia yakini telah tiada, membanjiri hati kecilnya. Semua pengorbanan dan ancaman kutukan pengulangan hidup terasa sebanding.

​"Aku janji, Bu! Aku pasti akan menyembuhkanmu!" bisik Xiao Chen, penuh tekad. "Aku bersumpah, kali ini aku akan menjadi orang hebat!"

1
Rajo kaciak
MC nya 42 THN ?
Agen One: nanti kembali ke masa lalu
total 1 replies
Galih Agung
ceritanya bagus.. MC nggak naif
Galih Agung
lanjutannya nggak adakah
Galih Agung
selesai ini??
A 170 RI
ok thor
A 170 RI
lanjut thor
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Aman Wijaya
lanjut
Agen One: siapppp
total 1 replies
Aman Wijaya
arti sebuah kebersamaan walaupun bukan saudara kandung
Aman Wijaya
rasa tanggung jawab dan kepercayaan harus dijunjung tinggi dalam sebuah ikatan persahabatan dan persaudaraan.mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
gaaas terus Thor
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
Mereka bertiga siap beraksi di pasar gelap untuk meraup emas dan perak.semoga sukses
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll mantab Thor
Aman Wijaya
jiwa pedagang kalian bertiga
Aman Wijaya
gaaas terus Thor lanjut
Aman Wijaya
gaaas terus Thor
Aman Wijaya
lanjut terus
Aman Wijaya
markotop top top top
Aman Wijaya
semangat kalian bertiga pasti bisa bertahan hidup dan melindungi ibu kalian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!