Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Langkah Menuju Cahaya Fajar"
Dewi meremas lembut kain bajunya yang masih tertutup oleh selimut tipis. Di luar jendela kamar yang sempit, suara jangkrik mulai perlahan menghilang, digantikan oleh kedipan lampu jalan yang mulai memudar seiring dengan datangnya cahaya fajar. Ia tidak bisa tidur nyenyak malam ini—pikirannya terus berputar, melompat dari satu kenangan ke kenangan lain, dari satu harapan ke harapan yang masih menggelegak di dalam dada.
“Kamu bisa melakukannya, Dewi,” bisiknya pelan kepada diri sendiri, sambil menatap bayangan dirinya yang terpantul di kaca jendela. “Hanya sedikit lagi, kemudian kamu akan mulai meraih apa yang sudah lama kamu inginkan.”
Mata nya menyapu ke sekeliling kamar yang terasa semakin sempit dari hari ke hari. Rak buku yang dulunya penuh dengan novel dan buku pelajaran kini hanya diisi oleh beberapa majalah bekas dan surat-surat lama yang sudah tidak terpakai. Di sudut kamar, sebuah kotak kardus berisi barang-barang kecil yang pernah menjadi kebanggaannya—foto-foto masa sekolah, gelang anyaman yang dibuat teman-teman, hingga buku catatan yang diisi dengan puisi dan cerita pendek yang pernah ia tulis kala masih muda.
Ia menarik napas perlahan, mencoba menghadirkan kembali sosok dirinya yang dulu. Dewi masa lalu—yang selalu membawa senyuman lebar di wajahnya, yang suka tertawa terbahak-bahak hingga air matanya keluar, yang tidak pernah merasa takut untuk mengejar impiannya. Saat itu, ia bercita-cita menjadi seorang penulis atau guru—siapa yang tahu, mungkin keduanya sekaligus. Ia senang bertemu orang baru, senang berbagi cerita, dan senang menghiasi hari-hari dengan warna-warni impian yang tak terbatas.
“Ingatkah kamu, Dewi?” gumamnya, sambil meraih salah satu foto dari atas meja rias yang sudah lapuk. Di foto itu, ia berdiri bersama Lidya di halaman sekolah saat hari wisuda. Rambutnya masih panjang dan bergelombang, mengenakan baju kebaya warna merah muda yang diberikan ibunya, dan senyumnya begitu cerah seolah bisa menerangi seluruh ruangan. Tangannya terangkat tinggi, sedang membentuk tanda cinta dengan jari-jari nya, sementara Lidya berdiri di sebelahnya dengan wajah yang sama cerianya.
Namun kini—apa jadinya dirinya?
Dewi menoleh ke arah ranjang di sisi lain kamar, di mana Arif masih terbaring lelap dengan wajahnya yang tertutup oleh selimut. Pernikahan yang mereka jalani sudah tiga tahun lebih, namun rasa kedekatan yang seharusnya ada antara suami istri seolah lenyap tanpa jejak. Awalnya, ia berpikir bahwa cinta akan tumbuh seiring waktu, bahwa mereka akan saling mengerti dan mendukung satu sama lain. Namun kenyataan berkata lain—Arif lebih suka menghabiskan waktunya dengan ponsel atau berkumpul dengan teman-temannya, jarang sekali bertanya tentang kondisi nya atau impian yang pernah ia ungkapkan.
Tak ada kata-kata kasar yang pernah terdengar dari mulutnya, tak ada kekerasan fisik yang pernah ia rasakan. Tapi justru keheningan dan ketidakpedulian yang menyelimuti kamar ini yang membuat Dewi merasa terkurung dalam belenggu yang tak kasat mata. Seolah ia hidup berdampingan dengan orang asing yang hanya berbagi atap dan makanan, namun tidak pernah berbagi hati dan jiwa.
“Tetapi kamu tidak boleh menyerah, Dewi,” ucapnya dengan nada yang lebih tegas, mengingatkan diri sendiri. “Kamu masih punya hak untuk bahagia, masih punya hak untuk mengejar apa yang kamu inginkan. Bekerja di kantin kolam renang bukan hanya tentang uang—ini adalah langkah pertama kamu untuk meraih kembali kendali atas hidupmu sendiri.”
Ia berpikir tentang rencananya yang sudah matang di benaknya. Saat penghasilannya sudah cukup, saat ia punya cadangan yang cukup untuk hidup mandiri, ia akan pergi. Tidak dengan amarah atau dendam—melainkan dengan kedamaian dan keyakinan bahwa setiap orang berhak mencari jalan hidup yang benar untuk dirinya. Ia tidak akan menyalahkan siapa pun, tidak akan membawa beban masa lalu yang berat. Yang penting, ia akan mengambil alih kendali atas hidupnya dan menjadi Dewi yang sebenarnya—siapa pun bentuknya.
Dewi berdiri perlahan dari tempat tidurnya, berusaha tidak membuat suara yang akan membangunkan Arif. Ia berjalan ke teras rumah yang sudah ia bersihkan kemarin malam, duduk di kursi kayu yang sudah cukup tua namun masih kokoh. Udara pagi masih sejuk menyegarkan, membawa aroma daun pepohonan dan tanah yang baru saja terkena embun. Di kejauhan, langit mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi ungu muda, kemudian beralih ke warna oranye muda yang lembut.
Ia melihat ke arah langit yang mulai memperlihatkan warna-warni baru, merenungkan setiap langkah yang telah ia tempuh hingga saat ini. Ada rasa sakit yang tak bisa dinafikan—rasa kehilangan diri sendiri, rasa kesal karena harus memadamkan impiannya selama ini. Namun di balik rasa sakit itu, ada juga nyala harapan yang semakin membara setiap hari. Pekerjaan baru yang akan ia mulai hari ini bukan hanya tentang uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga—ini adalah tentang martabat, tentang menemukan kembali jati diri yang hilang, tentang membuktikan bahwa ia masih bisa menjadi orang yang kuat dan mandiri.
“Kamu adalah Dewi yang ceria, yang kuat, yang tidak pernah menyerah,” bisiknya dengan penuh keyakinan, sambil menatap cahaya fajar yang mulai menyebar di langit. “Hidup mungkin tidak seperti yang kamu impikan, tapi kamu punya kekuatan untuk membuatnya menjadi lebih baik. Dan saatnya tiba, kamu akan pergi dengan kepala tegak, membawa harapan baru dan hati yang sudah siap untuk meraih bahagia yang sesungguhnya.”
Ia merasakan getaran hangat di dalam dada—rasa lega yang datang setelah lama menyimpan segala sesuatu di dalam hati. Seolah beban yang selama ini menekannya perlahan mulai terangkat, digantikan oleh semangat baru yang membuatnya ingin segera menjalani hari-hari yang akan datang.
Waktu berlalu dengan perlahan. Warna oranye muda di langit mulai berubah menjadi kuning keemasan, kemudian beralih ke putih cerah yang menyinari seluruh langit. Matahari mulai muncul perlahan dari balik bukit di kejauhan, memancarkan sinar-sinarnya yang hangat dan menyegarkan ke setiap sudut desa. Cahaya itu menyapu ke atas atap rumah-rumah, menyentuh dedaunan pepohonan, dan akhirnya jatuh tepat di wajah Dewi yang masih duduk di teras.
Rasa kantuk yang selama ini mengganggunya lenyap seketika. Ia berdiri dengan langkah yang lebih ringan, menoleh ke arah kamar untuk mengambil baju kerja yang sudah ia siapkan semalam. Baju polos warna hitam dan celana panjang yang sama—tapi kali ini, ketika ia mengenakannya, rasanya seperti mengenakan pakaian baru yang membawa harapan dan semangat baru.
Ia menyetrika kembali bagian-bagian yang mungkin sedikit kusut, menyisir rambutnya dengan hati-hati dan mengikatnya rapi di belakang kepala. Di cermin, ia melihat wajahnya sendiri—masih ada bekas kelelahan di sudut matanya, tapi ada juga kilasan keberanian yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Senyuman kecil muncul di bibirnya—senyuman yang sama cerahnya dengan Dewi masa lalu, namun kini diperkuat dengan pengalaman dan keyakinan yang lebih dalam.
“Sudah pagi, Dewi?” suara Arif terdengar dari dalam kamar, menghentikan pemikirannya.
Ia menoleh dengan senyum yang tenang. “Ya, sudah pagi. Aku akan mulai bekerja hari ini.”
Arif hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, kembali fokus pada ponselnya yang masih dipegang di tangan. Dewi tidak merasa kecewa—dia sudah tahu bahwa dukungan yang sesungguhnya harus datang dari dalam dirinya sendiri.
Ia mengambil tas yang sudah diisi dengan perlengkapan kerja, memeriksa sekali lagi apakah semua barang sudah ada di dalamnya. Sapu tangan, masker, hand sanitizer—semua sudah siap. Kemudian ia berjalan keluar dari rumah, menyambut matahari yang sudah mulai bersinar terang di langit Indonesia yang indah.
Di depan rumah, suara motor Lidya sudah mulai terdengar dari kejauhan—suara yang menjadi tanda bahwa babak baru dalam hidupnya akan segera dimulai. Dewi berdiri tegak dengan dada yang mengembang, menghirup udara pagi yang segar, dan merasakan semangat baru yang mengalir di dalam dirinya.
Matahari terbit dengan begitu indahnya, menyinari jalan yang akan ditempuhnya. Dan dalam hati, Dewi tahu bahwa meskipun jalan yang ditempuh tidak selalu mulus, ia sudah siap untuk menghadapinya—dengan kepala tegak dan hati yang penuh dengan harapan.