Clara Adelin, seorang gadis bar bar yang tidak bisa tunduk begitu saja terhadap siapapun kecuali kedua orangtuanya, harus menerima pinangan dari rekan kerja papanya.
Bastian putra Wijaya nama anak dari rekan sang papa, yang tak lain adalah musuh bebuyutannya sewaktu sama sama masih kuliah dulu.
akankah Clara dan Bastian bisa bersatu dalam satu atap? yuk simak alur ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
surat perjanjian pranikah
Hari hari berlalu dengan cepat, Bima sibuk dengan urusan balas dendamnya, sementara Clara juga sibuk mempersiapkan hari H pernikahannya yang sudah di depan mata, fitting baju pengantin pun mereka lakukan di sebuah butik ternama.
"waahh.... Calon menantu mama cantik sekali!." puji Ratih yang hari ini menemani Clara dan Bastian.
"tapi bagian dada dan bahu terlalu rendah ma, kok aku merasa kurang nyaman ya!." Clara mencoba menarik bagian depan gaunnya keatas.
"ini memang modelnya seperti ini kak, kami merancang sesuai permintaan calon pengantin pria." jelas sang pegawai butik tersebut.
"ha? Bukankah waktu itu kita sepakat untuk yang model bagian dada tertutup sampai leher meskipun tanpa lengan?." Clara menoleh ke arah Bastian yang berpura pura sibuk dengan dasi yang melingkar di lehernya.
Ratih hanya bisa menepuk jidat melihat hal itu, Bastian memang sedikit ngawur jika sesuatu dirasa tidak cocok dengannya.
"eh itu, masnya bilang kalau model yang seperti keinginan kakaknya itu tidak cocok dengan tinggi badan kakak." jelas sang pegawai menjawab apa adanya.
"oh jadi begitu ya!." Clara manggut manggut lalu menatap penuh permusuhan kearah Bastian yang masih sibuk dengan kepura puraannya.
(awas kamu Bastian!.)
(hari ini kamu selamat karena ada mamamu!.) geram Clara dalam hati.
"sudah tidak apa apa, kamu cantik sekali kok dengan gaun model ini, kelihatan makin imut imut, mama juga suka dengan selera Bastian." hibur Ratih yang memang tidak berbohong, Clara terlihat makin cantik dan anggun.
"nggak bisa di ubah atau ganti gitu?." nego Clara ke pegawai butik.
"merancang gaun butuh waktu kak, sedangkan waktunya tinggal seminggu lagi, bagaimana nanti kalau tidak sesuai ekspektasi kakaknya?."
"huuff! Ya sudah." Clara pun pasrah.
"coba sini kakak bersanding dengan masnya." pinta sang desainer yang baru saja mendekati mereka karena fitting bajunya berbarengan dengan orang lain.
Bastian yang mendekati Clara lalu sama sama berdiri di depan cermin besar. "Awas kamu ya!." bisik Clara sambil mendelik tajam, Bastian hanya senyum senyum sambil merangkul pinggang Clara sesuai arahan sang desainer.
"sangat cocok sekali!." seru desainer itu sambil bertepuk tangan pelan.
"ya, saya rasa ini sangat bagus!." Ratih ikut memuji.
Setelah urusan baju pengantin selesai, Bastian mengantarkan mamanya pulang terlebih dahulu, kini giliran dia mengantarkan Clara, aura Clara sangat tidak bersahabat sejak tadi.
"berhenti dulu!." ucap Clara sembari menatap lurus ke depan.
"ada apa?." Bastian mengernyitkan keningnya lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup lengang.
Clara mengeluarkan sebuah map yang ia lipat jadi dua karena tidak muat di dalam tasnya.
"ini surat perjanjian pranikah kita!." ujarnya seraya menyodorkan map tersebut.
"Perjanjian pranikah? Kamu benar benar membuat surat perjanjian?." tanya Bastian sambil menerima map tersebut.
"ya, kamu tinggal tanda tangan saja, ini bolpoinnya sudah aku siapkan!."
"tunggu, aku baca dulu isinya." tolak Bastian saat Clara menyodorkan bolpoin.
Bastian membaca dengan serius setiap poin yang tertera di dalam surat tersebut, dahi pria tampan itu mengernyit lalu menatap wajah cantik Clara.
"apa apaan ini Cla?." tanyanya heran.
"memangnya kenapa?." Clara balik bertanya sambil tersenyum miring.
"kok isinya memberatkan aku semua? nggak ada malam pertama, nggak tidur sekamar, nggak boleh mencampuri urusan pribadi masing masing, apa maksudnya ini?."
"karena aku belum yakin sama kamu, jelas aku nggak mau rugi dong!." jawab Clara.
"tapi nggak gini juga kali Cla, aku pikir surat perjanjian ini soal harta dan hak serta kewajiban kita sebagai suami istri! Kalau begini caranya ngapain kita nikah segala!." protes Bastian yang terlihat kecewa berat.
"lah, yang pengen kita buru buru nikah siapa? Aku kan sudah bilang, aku belum siap, apalagi ada si Halloween itu!."
"cla! Aku nggak ada hubungan sama dia! Dia saja yang ngejar ngejar aku, apa kamu masih nggak percaya sama aku?."
"Bastian! Aku akan percaya jika sikapmu bisa tegas sama tuh nenek lampir! Itu pun nggak serta merta ya! Aku perlu pembuktian mendalam."
"cepat tanda tangani ini, aku sudah capek banget." imbuh Clara.
"kalau aku gak mau bagaimana?." Bastian berkata sembari menatap tajam kearah Clara.
"terserah kamu, yang jelas kamu harus tetap mematuhi peraturan yang aku buat, klau keberatan tinggal gagalkan pernikahan kita, beres kan?."
"Clara!."
"hemm!."
Bastian meremas rambutnya seperti orang frustasi, ingin rasanya ia meremas remas Clara yang duduk dengan ekspresi cuek di sebelahnya.
(percuma dong aku mendesak papa sama mama agar cepat cepat menikahkan aku dan dia!.) batin Bastian.
(tapi tidak apa apa lah, yang penting dia sudah sah menjadi milikku! Suatu hari nanti aku pasti akan menaklukkan hatinya.)
****
Bima mengernyit heran saat melihat sebuah rumah yang lumayan besar di seberang jalan, berhari hari dia menyelidiki Sofyan, suami baru mamanya.
"kamu yakin pria itu tinggal di rumah itu?." tanyanya ke seseorang yang duduk di kursi kemudi.
"yakin sekali bos, istrinya bernama Ernawati, dan anak mereka masih duduk di bangku SMA." jelasnya.
"itu artinya dia sudah lebih dulu menikah dengan wanita itu sebelum sama mama, atau jangan jangan Sofyan dan Alisa hanya berniat menipu mama, bisa jadi wanita itu ibu kandung Alisa!." ucap Bima yang hampir saja tidak percaya dengan hasil penyelidikan orang suruhannya.
"bisa jadi seperti itu bos, jadi apa yang harus saya lakukan selanjutnya?." tanya orang itu seraya memperhatikan rumah tersebut.
"kamu selidiki kehidupan Sofyan sebelum menikah dengan mama, darimana asal mereka dan seperti apa kehidupan mereka sebelum menikah dengan mamaku!."
"aku curiga mamaku hanya di manfaatkan oleh laki laki brengs3k itu! jangan lupa latar belakang istrinya juga!." imbuh Bima.
"siap bos! Itu masalah gampang, anda tunggu beberapa hari saja, saya pasti bisa mengorek informasi tentang pria itu." sahut orang itu yakin.
"bagus sekali! Kita tunggu beberapa saat lagi, aku ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri keberadaan Sofyan di rumah itu!."
Bima membuka sedikit kaca jendela mobil lalu menyulut sebatang rokok, dihisapnya perlahan, seolah olah ingin melepaskan beban hidup yang selama ini ia rasakan.
Tak berselang lama sebuah mobil berhenti di depan rumah itu, Bima langsung melemparkan Putung rokoknya lalu menegakkan badan, diawasinya dengan seksama mobil tersebut.
"siapkan kamera!." titahnya agar orang suruhannya itu merekam siapa orang yang akan turun dari mobil.
Tak lama kemudian keluar seorang pembantu rumah tangga untuk membuka pintu pagar, mobil pun terparkir di halaman yang lumayan luas.
Seorang pria yang tak lain adalah Sofyan turun dari mobil lalu membuka pintu samping, wanita sebaya dengan Marina turun sambil tersenyum bahagia, mata Bima menyipit sambil terus mengawasi mereka.
"siapa nama wanita itu tadi?." tanyanya seraya mencoba mengingat ingat sesuatu.
"Ernawati, bos!." jawab anak buah Bima yang masih asyik merekam.
"Ernawati?... Ernawati?... Sepertinya aku pernah melihat wanita itu?." gumam Bima.
"oke, kamu lakukan tugasmu, dan satu lagi, tolong selidiki kapan mereka membeli rumah itu!." perintah Bima.
"siap bos!."
"kita pergi sekarang!." ajak Bima yang merasa cukup untuk hari ini.
Mobil segera meninggalkan area tersebut lalu meluncur ke jalan raya, isi kepala Bima masih di penuhi tanda tanya tentang wanita yang di duga istri lain dari Sofyan itu.
(siapa dia?. sepertinya wanita itu tidak asing buatku?.) batin Bima.