Berawal dari sebuah pertemuan secara kebetulan dalam sebuah insiden, ternyata mereka telah dijodohkan oleh kakeknya sejak mereka masih belia. Dan sebuah insiden semalamlah yang menjadi awal pertemuan mereka.
Saling mengenal tetapi tidak sadar jika mereka yang telah dijodohkan. Dari sebuah keterpaksaan perjodohan hingga muncul benih cinta yang tak mereka sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna LA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Hari ini berlalu sangat cepat, dan membuat sesak di dada. Ara membereskan meja kerjanya karena sudah diberitahu mamanya untuk bersiap pergi ke butik. Ara segera menuju ruangan mamanya yang kemudian lanjut pergi ke butik bersama.
“Ma, Ara enggak mau ya jika warna baju yang mama pesan untuk Ara terlalu mencolok dan dengan desain heboh.”
“Mana pernah mama memesan baju seperti itu.”
“Ya mungkin saja hari ini mama memesan baju yang seperti itu.”
“Ya sudah, nanti liat sendiri seperti apa bajunya, kalau cocok pakai, kalau enggak tinggal Ara pilih lagi yang lain.”
Perjalanan dari kantor ke butik ternyata tak memakan waktu lama. Saat ini Ara dan mamanya sudah berada di dalam butik langganan mereka. Dan saat mereka datang sudah di sambut ramah oleh pemiliknya langsung.
“Selamat siang jeeeng, selamat datang kembali, makin cantik ya putrinya jeng! Andai belum berjodoh mau lah saya lamar untuk anak saya yang masih SMP jeengg.” Celoteh pemilik butik sambil mencubit gemas pipi Ara. Dan hanya dibalas senyuman oleh Ara.
“Aduuhh jeeng, kelamaan dong kalau tunggu anak jeng yang masih SMP, maaf jeng bagaimana bajunya?” jawab mama mengalihkan pembicaraan utama yang menjadi alasan mereka berkunjung.
“Ooh iyaaa yuukk ikuti saya, semua sudah siap seperti yang jeng minta.”
“Noraaa keluarkan koleksi dressnya!” pinta si owner.
“Waaaahh cantik-cantik jeng koleksinya.” ucap mama saat pegawainya mengeluarkan koleksi butik itu.
“Nah sayang pilihlah mana yang cocok dengan mu!”
Ara memilih membolak-balikan baju-baju itu, dan mama juga memilih beberapa untuk dicobanya.
“Maaa Ara coba ini yaa?” sambil menunjukkan dress berwarna peach.
Ara menuju ruang pas untuk mencoba dressnya, tak berapa lama kemudian dia membuka tirainya. Mamanya secara reflek mengambil foto Ara.
“Iiihhh mama malah difoto, cocok enggak Ma buat nanti?”
“Cocok sayang simpel tapi tetap elegan, terlihat dewasa tapi tetap imut juga sayang.”
“Ya sudah, Ara mau yang ini saja Ma.”
“Oke sayang, jeng mau yang ini saja ternyata, tolong dibungkus ya!”
Sembari menunggu, Ara meminta foto yang tadi diambil mamanya kemudian mengunggah di sosmednya. Dan ternyata langsung di lihat oleh Devan
Kak Devan
Haii cantik! Mau kemana niih?
Ara 🌼
Ada acara keluarga nanti malam kak. Kakak enggak kerja kah?
Kak Devan
Kerja kok, tapi izin pulang awal karena ada sedikit urusan.
Ara 🌼
Oohh begitu, baiklah semoga lancar urusannya kak 😊
Kak Devan
Abang meleleh dek liat senyumanmu.. Hiyaaaaaa!! Peace ya Ra!
Ara 🌼
Kak Devan ada-ada saja yaa, Ara lanjut lagi ya kak, masih banyak nih acaranya mama.
Kak Devan
Semangat ya Ra!!
Ara 🌼
Tentu kak, kakak juga 😊
Makin meleleh Devan diberi emoticon senyum dari Ara. Sehingga sedikit membaik moodnya yang berantakan.
“Rud nanti tolong kamu yang bawa mobilku ya, sekalian nanti malam ikut acaranya, agar aku ada teman mengobrol saat jenuh dengan acaranya.”
“Baik tuan, tetapi bukankah seharusnya tuan mengobrol dengan calon kakak ipar agar lebih mengenalnya.”
“Astaga Rud, kamu bawel seperti kakek, apa kamu ini memang duplikat dari kakek?”
“Bukan tuan bukan, jadi apakah kita mau langsung pulang sekarang tuan?”
“Ya sudah Rud yuk pulang sekarang, capek juga hari ini, aku akan beristirahat sebentar di rumah sebelum acara nanti.”
“Baik tuan, mari silakan!!” Rudi mempersilakan Devan untuk segera keluar ruangan.
“Eeehh kan aku belum membereskan meja kerjaku Rud, tunggu sebentar!” ucap Devan yang hendak berbalik ke ruangannya
“Sudah selesai saya bereskan semuanya tuan, mungkin besok tuan tinggal bubuhkan tanda tangan saja.” cegah Rudi.
“Baiklah, terima kasih Rud, kamu memang yang selalu bisa mengertiku.”
“Sama-sama tuan, Tuan apakah boleh nanti mampir ke apartemen dulu untuk ambil beberapa baju ganti?”
“Untuk apa? Pakai saja baju yang ada di lemariku, ada beberapa setelan yang belum pernah kupakai.”
“ Tapi tuan..”
“Tidak ada tapi, mengerti!”
Mereka tiba di lobby kantor dan mobil Devan sudah terparkir di depan. Selama di perjalanan Devan hanya menutup matanya tetapi bukan tidur hanya mencoba mengistirahatkan pikirannya. Tak lama juga mobil Devan sudah memasuki gerbang kediaman Sanders.
“Sudah pulang nak.”
“Ya kek, Devan istirahat dulu ya kek.” pamit Devan kemudian segera berjalan ke kamarnya.
“Rud ambil sendiri ya bajunya, cari yang cocok denganmu!” teriak Devan sebelum memasuki kamar.
Tinggal berdua Rudi dan Kakek. Akhirnya mereka berdua mengobrol dan Rudi menceritakan semua yang terjadi pada Devan hari ini.
“Ooh jadi begitu, mengapa Devan tak pernah menceritakannya kepada kakek ya Rud?”
“Mungkin tuan Devan tidak mau mengecewakan tuan besar, jadi tuan menerima semuanya begitu saja.”
“Lalu siapa gadis yang bisa mempengaruhi suasana hati Devan itu Rud, aku kira Devan tak pernah memiliki gadis pujaan hatinya.”
“Nona Ara tuan, dia adalah anak dari Bu Mayra CEO dari Wijaya Group.”
“Siapa kamu bilang Rud?” tanya kakek tak percaya.
“Nona Ara tuan, kalau tidak salah nama lengkapnyaa..”
“Berlian Aurora kan?” sahut kakek cepat.
“Iya tuan, apakah tuan besar sudah mengetahuinya?” tanya Rudi.
“Hahahaha!!!” Kakek tertawa terbahak-bahak.
“Ada apa tuan, apa tuan baik-baik saja?” tanya Rudi panik.
“Ya iya iya aku tak apa, aku baik-baik saja, ya sudah sana lakukan dulu apa yang diminta Devan, sebelum dia mengamuk lagi Rud.” ucap kakek yang belum bisa berhenti tertawa karena kabar yang diberikan oleh Rudi.
“Baik tuan, saya permisi naik dulu.”
“Iya Rud, sana!”
“Jadi Devan sedang jatuh cinta dengan Ara tapi dia tak tahu bahwa gadis yang dijodohkan untuknya adalah Ara atau Aurora. Apa jangan-jangan Devan belum membuka amplop yang dulu kuberikan ya?”
“Akan seperti apa saat mereka bertemu nanti malam ya?” monolog batin kakek dan terus tertawa karena kebodohan cucunya itu.
“Devan Devan!!”
Kakek sangat bahagia karena ternyata Devan sudah memiliki rasa untuk Ara, tak perlu susah payah untuk mendekatkan mereka ternyata malah mereka saling kenal, bahkan Devan sudah memiliki rasa untuk Ara. Kakek hanya sedikit menyesal karena baru tahu masalah ini, tetapi juga bahagia karena ternyata mereka berjodoh dan semesta mendukungnya.
Saat ini Kakek berada di kamarnya, menatap 2 bingkai foto di depannya.
“Nak, semoga kalian juga berbahagia untuk Devan jagoan kalian, kalian harus bangga terhadapnya, restui langkahnya untuk perjodohan ini nak.” ucap kakek sambil mengusap bingkai foto papa dan mamanya Devan, kemudian beralih dengan satu bingkai lain.
“Sayang, jagoan kecil kita sekarang sudah menjadi seorang pria hebat, terima kasih karena dulu sudah membatuku untuk merawatnya, memberikan kasih sayang yang tak pernah putus hingga akhir hidupmu. Restui cucumu itu sayang, semoga lewat perjodohan ini Devan temukan kebahagiaannya seperti kebahagiaan kita dulu bahkan aku berharap lebih dari itu.”
“Semoga kalian di surga memberikan restu dan turut berbahagia untuk Devan.” ucap kakek yang kemudian memeluk kedua bingkai yang ada di kedua tangannya.
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Devan dan Rudi sudah menunggu kakek Sanders di ruang keluarga. Devan dengan usil memotret Rudi berkali-kali.
"Harusnya tuan yang berfoto selfie, bukan tuan yang memotret saya, sini saya potretkan."
"Awas kamu Rud kalau macam-macam memotret."
"Sudah terlanjur tuan, dan sudah saya kirimkan ke ponsel tuan." jawab Rudi.
"Eeehh keren juga ya aku ini, hahaha. Boleh lah kuunggah juga." ucap Devan.
“Nak, sudahkah kamu membuka amplop besar yang kakek berikan saat itu?” tanya kakek yang juga sudah siap untuk berangkat itu.
“Belum kek, Devan lupa, memang apa isinya kek?”
“Isinya adalah foto dan profil diri gadis yang kakek jodohkan untukmu saat ini.”
“Sudah tak perlu Devan buka kek, Devan percaya dengan pilihan kakek, toh juga sebentar lagi kita juga akan bertemu kan.”
“Ya kamu benar, yuukk kita berangkat.” ajak sang kakek.
“Tak usah membawa sopir tuan, biar saya saja yang menyetir.” tawar Rudi.
“Baiklah, terserah kamu nak.” jawab kakek, yang kemudian Rudi segera mengambil mobil di garasi.
jangan sampai emosi mu menghancurkan hati Ara ingat baru bertunsngsn loh bisa bubar apa kg yg udah nikah aja aja yg cerai
jangan sampai ego merusak segala2 y Devan🤭
Semoga berhasil dan lancar acaranya