Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Ingatan malam itu ( 1 ).
Sesampainya di rumah. Setelah memastikan Dinda tidur, barulah Bang Rama kembali ke mess.
~
Mata Bang Rama menatap langit-langit kamarnya. Berteman sebatang rokok, ia terus memikirkan Dinda. Awal pertemuannya dengan gadis cantik itu.
Flashback Bang Rama on..
Dentuman musik di cafe begitu membahana memekakkan telinga. Ia memperhatikan setiap gerak gerik orang yang berlalu lalang, mengawasi kemungkinan ada anggota yang 'salah arah' disana.
Tidak mudah juga baginya melaksanakan misi khusus seperti ini. Rajah pada tubuhnya, anting di telinga, rambut potongan top knot undercut sudah cukup menunjang penampilannya.
Dari jauh ada seorang SPG rokok sedang menawari salah seorang customer. Terdengar perbincangan di antara mereka. SPG tersebut menawarinya dengan sopan, senyumnya pun begitu menawan.
Para pria disana sudah membayarnya dan gadis itu segera menghindar. Saat Bang Rama terfokus pada gelasnya, gadis itu menghampirinya.
"Mau coba rokoknya, Om?? Enak lho.." Kata gadis itu menawarkan dagangannya.
"Saya sudah punya rokok sendiri." Jawab Bang Rama dingin. Ia memang perokok kelas berat namun juga sangat pemilih dalam hal satu ini.
"Rokok ini tidak kalah enak sama punya nya Om. Coba dulu, ya.. Satuu saja..!!" Pinta gadis itu.
Gadis itu menarik sebatang rokok dari wadahnya lalu memberikannya pada Bang Rama. Entah kenapa Bang Rama tak bisa menolak, ia menjepit rokok yang di berikan gadis itu dan secepatnya gadis itu menyulut ujung batang rokoknya.
Perlahan Bang Rama menghisapnya dalam-dalam, terasa ringan juga, tak kalah dengan rokok miliknya.
"Kamu kerja sampai jam berapa??" Tanya Bang Rama.
"Minimal habis satu kotak ini, Om." Jawab gadis itu.
Bang Rama mengangguk lalu membayar rokok tersebut.
"Ini, Om." Gadis itu menyerahkan bungkus rokok tadi pada Bang Rama tapi Bang Rama menolaknya. "Nggak usah, kamu bawa saja uangnya.
"Jangan, Om. Saya kerja, nggak ngemis."
Jawaban gadis itu membuat Bang Rama trenyuh tapi juga salut. Ia pun akhirnya menerima sebungkus rokok tersebut.
...
Hari sudah nyaris pagi, hanya ada satu tanda 'penyimpangan' dari salah seorang anggotanya. Setelah melaporkan hal tersebut, Bang Rama segera meninggalkan tempat, tubuhnya sudah lelah, terlebih hari ini tubuhnya juga tidak begitu fit, 'minum' sedikit saja sudah membuatnya terasa oleng.
Hujan turun begitu derasnya, langkahnya sudah tak pasti. Namun saat melewati sisi gedung, ia melihat SPG rokok tersebut sedang berada dalam masalah.
Sekelompok pria bersedia membeli rokok tapi dengan syarat, gadis itu harus bersedia untuk di sentuh. Siapa sangka gadis itu menolak dan terjadilah perlawanan sengit.
Gadis itu menjerit katakutan, berontak sekuat tenaga saat beberapa orang mencekokinya satu botol minuman namun tak ada satupun yang menolong, semua seakan buta dan tuli. Sampai akhirnya, salah seorang pria menarik pakaian gadis itu hingga koyak, roknya pun sobek tinggi.
Tak suka melihat hal itu, Bang Rama sendiri langsung turun tangan. Gadis itu merangkak menepi, ia bersembunyi masih menyimpan rasa takutnya sedangkan Bang Rama menghajar para preman tak beradab itu satu persatu hingga tumbang dan sebagian lagi lari tunggang langgang.
Usai beres semuanya, Bang Rama menghampiri gadis itu, gadis yang terkapar lemas masih berusaha menutupi tubuhnya dan bersembunyi di sisi bongkaran bangunan, tubuhnya terkena cipratan air hujan.
Secepatnya Bang Rama melepas jaketnya lalu menghampiri gadis itu. Siapa sangka gadis itu merespon walau setengah sadar apalagi saat ini pakaiannya sudah berantakan.
"Tenang.. Tenang, ya..!! Saya tidak akan berbuat jahat." Hati-hati sekali Bang Rama menutupi tubuh gadis itu. "Siapa namamu? Dimana rumahmu, biar saya antar."
Gadis itu menangis sesenggukan, di tengah racauannya, Bang Rama masih sempat mendengarkan namanya. "Nama saya Adinda, sayaa............"
"Itu, Pak. Dia tiba-tiba menghajar kami, padahal kami berniat menyelamatkan gadis itu." Teriak salah seorang pria.
Mendapat laporan tersebut, kening senior Bang Rama pun berkerut.
...
"Memalukan, Rama..!! Memalukan..!!!!!! Kapan kelakuanmu akan berubah, Ramaaa??? Jangan main perempuan, Ayah ulangi.. Jangan main perempuan..!!!" Orang tua Bang Rama berteriak geram di seberang sana seakan tidak mau tau alasan apapun.
Lelah mendengarnya, Bang Rama menghela nafas panjang. "Saya nggak main perempuan. Saya terjebak, Dinda juga korban. Percaya syukur, nggak ya terserah. Tidak ada yang minta Ayah menanggung masalah saya."
"Tidak mungkin kamu tidak kenal gadis bernama Dinda itu. Kalau kamu tau tugas Intel sangat berat seharusnya kamu bisa lebih berhati-hati, kau mabuk kan?? Dia juga mabuk. Ayah juga pengen cucu, dapat kamu itu setengah mati perjuangannya, tapi nggak begini juga caranya sama anak gadis orang, Ramaaa..!!!!! Pokoknya Ayah nggak mau tau, selesaikan masalah ini segera..!!! Kamu mau Mama mu mati berdiri??? Kamu nggak kasihan sama Mama?????"
ttttt.....
Bang Rama mematikan panggilan teleponnya sepihak, kepalanya sudah pening. Ia melirik Dinda yang belum juga sadar dari pengaruh alkohol.
"Anj..... Astaghfirullah hal adzim..!!!" Bang Rama sampai mengelus dada merasakan kesemrawutan harinya.
"Jadi piye, Ram??? Danyon panik, masalahnya perwira Intel sendiri yang 'troubel', sampailah berita ini pada ayahmu." Kata senior Bang Rama.
"Alah terserah, mau di mutasi pun saya nggak peduli." Jawab Bang Rama.
"Tapi.. Ayahmu minta kamu tanggung jawab dan bawa Dinda bersamamu." Senior Bang Rama menyerahkan ponselnya lalu dua buah kertas laporan tentang latar belakang dan riwayat hidup Dinda.
Bang Rama merampasnya kasar, tak peduli yang ada di hadapannya adalah seniornya. Ia pun mulai membacanya perlahan, satu persatu dengan teliti.
"Bagaimana?? Bersedia atau tidak?? Kalau tidak..................."
"Saya bersedia."
Flashback Bang Rama off..
.
.
.
.
pada gelut ga niii kalau ketemu...
makin penasaran mba Nara👍
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara