"Kamu harus menggantikan aku di malam pertamaku atau aku tidak akan sudi membiayai operasi ibu kita."
Jalan itu terpaksa harus dipilih oleh Alissa karena tidak ingin Denis yang baru menikahinya jadi membencinya saat mengetahui kebohongannya. Ya, Alissa terpaksa berbohong agar Denis tetap menikahinya, padahal pria itu dengan jelas mengatakan jika dia hanya ingin menikahi wanita yang masih menjaga keperawanan untuk suaminya.
Bagaimana kehidupan Alissa setelah pertukaran yang dilakukannya ternyata hanya menjadikan Almira sebagai wanita pendendam yang malah membuat rencana untuk merebut posisinya sebagai istri Denis Wiratama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ingin Membuatnya Mati
Selamat membaca!
Suasana di dalam restoran mulai ramai karena suara erangan Almira kian terdengar keras hingga menarik perhatian beberapa pengunjung untuk mendekat.
"Mbak, itu kenapa saudaranya?" Salah satu pengunjung bertanya padaku.
"Saya sendiri juga tidak tahu, padahal tadi dia baik-baik saja." Aku pura-pura tidak tahu dan kembali mengalihkan pandangan untuk melihat Almira yang terus mengerang kesakitan.
"Almira, kamu kenapa?" Aku masih terus berakting sambil memasang wajah penuh keterkejutan atas apa yang terjadi pada Almira. Ya, tentu saja aku seolah-olah tak mengetahui apa yang terjadi pada adikku saat ini.
Kini aku dapat melihat keringat mulai bercucuran menetes dari dahi adik kembarku. Dia terlihat meremas bagian perutnya dengan wajahnya yang mulai pucat. "Perutku tiba-tiba keram, Kak. Aduh, sakit banget!" Almira merintih kesakitan hingga urat-urat hijau di dahinya mulai menegang, menandakan sakit yang dirasakannya sungguh luar biasa karena efek obat yang sengaja aku masukkan ke dalam minumannya.
Dengan cepat aku memanggil pelayan dan membayar tagihan dari pesanan kami. Setelah itu, aku meminta tolong pada seorang pelayan pria untuk membantuku memapah Almira hingga keluar restoran dan betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa sopir yang tadi mengantarku ternyata masih menunggu tepat berdiri di depan mobilnya yang terparkir di depan pintu masuk restoran.
"Ternyata dia tidak pergi dan menungguku," batinku masih tidak menyangka.
"Adiknya kenapa, Bu?" Sopir itu menghampiriku dengan wajahnya yang cemas. Dia langsung mengambil alih tubuh Almira dari kuasaku dan membantu seorang pelayan pria untuk membawa Almira masuk ke dalam mobilnya.
"Enggak tahu kenapa? Tapi, sepertinya dia keracunan makanan. Kita harus cepat ke rumah sakit, Pak."
Setelah berhasil membaringkan tubuh Almira di kursi tengah mobil dan duduk di kursi depan samping kemudi, sopir yang sampai saat ini masih belum aku ketahui namanya itu pun langsung melajukan mobilnya. Meninggalkan pelataran lobi restoran dengan laju yang cepat. Berkali-kali aku menatap Almira. Dia terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya dan saat itu, entah kenapa rasa bersalah tiba-tiba mengusik pikiranku.
"Aduh, Kak. Perutku sakit banget. Aku enggak kuat, Kak!" Keluhnya dan aku dapat melihat dengan jelas jika saat ini wajah Almira sudah basah oleh keringat dingin yang bercampur dengan air mata.
"Pak, bisa lebih cepat lagi? Ini adik saya kesakitan." Aku berusaha menenangkan Almira sambil meminta sopir melajukan mobil lebih cepat.
"Iya, Bu. Ini saya sudah berusaha ngebut. Sabar ya, Bu. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," jawab Sopir itu yang terlihat sama paniknya denganku karena mendengar tangis kesakitan Almira yang mengatakan dia tidak kuat lagi menahan sakit yang dirasakannya.
"Mira, kamu sabar ya! Kamu harus kuat, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."
"Tapi aku sudah enggak kuat, Kak. Rasanya aku hampir mati. Tolong aku, Kak …."
Tangisan Almira benar-benar membuatku panik setengah mati hingga tak dapat berpikir dengan tenang. Bahkan saat mobil terhenti karena lampu merah, aku meminta sopir untuk menerobosnya. Melihat Almira merasakan kesakitan yang luar biasa, aku menjadi tidak tega.
Aku mengulurkan tanganku ke belakang dan meraih tangan Almira, lalu menggenggamnya erat-erat. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk menenangkannya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 20 menit lamanya, mobil pun berhenti tepat di halaman IGD sebuah rumah sakit.
"Pak, ayo cepat turun dan bantu saya untuk bawa adik saya ke dalam!" titahku yang bergegas keluar dari mobil.
Aku dan sopir pun segera memapah tubuh Almira. Kedatangan kami langsung disambut oleh perawat yang dengan cepat membaringkan tubuh Almira di sebuah brankar dan mendorongnya ke ruang IGD. Ada perasaan takut saat itu yang mulai menyergap hatiku. Namun, aku coba menguatkan hati bahwa ini adalah yang terbaik. Setidaknya aku tetap berdoa agar Almira baik-baik saja, walau ia mengalami keguguran.
"Aku tidak ingin membuat adikku mati. Aku mohon Tuhan selamatkan dia. Mau bagaimanapun dia adalah adikku. Jadi, aku ingin dia selamat." Aku hanya mengatakan itu di dalam hati sambil terus menatap kepergian brankar Almira hingga tak lagi terlihat oleh pandangan mataku.