Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Dia Pergi
Halo, double up nih. Part ini didedikasikan untuk kalian yang bersemangat di part sebelumnya. Aku seneng banget waktu baca komen kalian yang gemesin dan buat aku jadi semangat. Tapi maaf belum sempat balas komen kalian. Sebagai gantinya aku up lagi. Selamat menikmati and enjoy reading.
****
Palmerah, Jakarta Barat.
Januari 1996
Mansion Ario memiliki tiga bagian utama, satu bagian merupakan mansion utama yang ditempati sepasang suami istri dan seorang balita berusia 1,5 tahun. Sementara di sisi kiri dan kanannya, terdapat dua rumah minimalis yang jaraknya tak jauh dari mansion utama—tetapi kedua bangunan tersebut berdiri di belakang mansion utama.
Sisi kiri ditempati oleh sepasang suami istri yang tak lain asisten merangkap sahabat dari pemilik mansion. Sementara sisi kanan, ditempati oleh istri kedua dari pemilik mansion. Ya, pemilik mansion—Deron Devranel Ario memiliki dua istri.
Deron lebih sering bersama istri pertamanya, terkadang sebulan atau dua bulan sekali ia bermalam bersama istri keduanya. Dia dan istri keduanya, Areta Maura Syakila—menikah bukan karena keinginan, tetapi karena keadaan.
Areta, ia trauma pada pernikahan kedua orangtuanya yang mengalami kegagalan, dirinya bertekad untuk tidak akan menikah. Saat itu, seseorang menawar Areta dengan harga tinggi untuk dijadikan salah satu dari istrinya. Penolakan Areta terjadi saat pria itu melamarnya di depan umum, Areta menolak mentah-mentah. Padahal, Areta sudah menolak dengan halus, lagi pula siapa juga yang mau menjadi istri simpanan yang hanya didatangi saat butuh.
Pria itu marah dengan penolakan yang Areta lakukan, ia hampir saja melecehkan Areta, jika Deron dan asistennya, Aldo—tidak segera datang. Setelah bebas, Areta segera berlari keluar, di sana kedua sahabatnya, Zaskia dan Heni menunggu. Areta menangis dan memeluk erat keduanya.
Atas kejadian itu, Zaskia meminta suaminya, Deron untuk memperistri Areta. Usul konyol tersebut membuat Areta kesal, ia tidak mau menikah dan sahabatnya malah menyuruhnya menikah dengan suaminya sendiri.
"Lo gila ya, Zas? Disaat semua orang pengen orang yang mereka cintai cuma mencintai dia dan memiliki dia, lo malah mau berbagi suami sama orang lain? Eror nih otak lo!"
Zaskia menggeleng, kemudian tersenyum pada Areta. Kedua tangannya meraih tangan Areta dan menggenggamnya. "Gue ga papa kalau harus berbagi sama lo. Menikah itu bukan hal yang buruk, ga semua pernikahan akan berakhir kehancuran. Percayalah sama gue! Deron itu suami yang baik, dia ga akan ninggalin lo."
"Zaskia, gue ... arghhhh, sial." Areta menjambak rambutnya sendiri.
Zaskia terus membujuk Areta hingga gadis itu mau. Setelah melalui bujuk rayu panjang, Areta mengangguk pasrah dengan rencana konyol sahabatnya itu.
Satu Minggu kemudian, pernikahan itu di gelar. Deron membuat pernikahan itu meriah, sama seperti pernikahannya yang pertama. Setelah itu mereka pergi tujuh hari ke Swiss untuk honeymoon.
Memang Deron hanya mengunjungi Areta sebulan sekali, itu permintaan Areta. Istri keduanya itu tidak mau membuat Areta merasa mengambil milik sahabatnya. Dan selama mereka bermalam, Deron belum pernah menyentuh Areta meski hanya memeluk. Selama ini mereka memang tidak, lebih tepatnya belum melakukannya. Areta yang trauma dan Deron yang menghargai privasinya.
Semuanya baik-baik saja, hingga hari itu. Deron pulang pukul 1 dini hari dengan rahang mengeras, tangannya terkepal erat setelah bertemu dengan seseorang yang selama ini menghantui pikirannya.
Pria itu kesal kemudian meninju tembok yang ada di sebelahnya. "Apa aku sanggup kehilangan mereka? Zaskia, Rio, Areta," gumamnya pelan.
"Tuan?"
"Tidak Frans, biarkan dulu dia. Mr. Davanendra menyayanginya dan aku sendiri tak sanggup melakukannya."
Seorang pengawal lain menghampiri Deron yang tengah kalut itu. "Tuan, nyonya menunggu tuan di ruang utama. Beliau tertidur."
Deron segera menuju ruang utama dan benar saja istrinya itu ketiduran di sofa. Deron menyelipkan kedua tangannya di bahu dan kaki istrinya, menggendong wanita itu ke kamar. Ia mencium keningnya. "Maaf membuatmu menunggu."
"Eughhh." Mata itu terbuka, mengerjab pelan sebelum memicing ke arah suaminya.
"Maaf membuatmu terbangun, tidurlah lagi," ujarnya sambil membelai pipi tembam Zaskia.
"Kamu dari mana saja?"
"Maaf, Sayang. Di kantorku sedang ada masalah, terpaksa aku harus lembur agar besok bisa menemanimu dan Areta bersantai." Deron terpaksa berbohong, ia tidak mungkin membeberkan alasan yang sebenarnya kenapa ia pulang larut.
"Seharusnya kamu pulang, kami akan mengerti keadaanmu. Jangan lembur terlalu sering, kamu bisa sakit."
"Maafkan aku. Zaskia, apa hari ini aku boleh bermalam di tempat Areta?" Deron sebenarnya ragu untuk meminta izin, Zaskia telah menunggunya hingga ketiduran, sedangkan dirinya malah bertolak ke tempat Areta. Ia takut Zaskia kecewa padanya. Namun, jika bukan sekarang, ia bingung kapan lagi. Sebelum terlambat, mungkin inilah saat ia mengungkapkan sesuatu.
Zaskia tersenyum tipis dan mengangguk. "Jangan khawatir. Mungkin dia akan senang jika kamu datang, aku tidak apa."
"Sungguh?"
"Iya, Sayang."
"Terimakasih." Deron menaikkan selimut Zaskia kemudian mencium dahi, pipi dan bibir istrinya. "Sampai jumpa."
Deron tersenyum penuh arti, entah mengapa Zaskia merasa ia tidak akan melihat senyum itu lagi. Deron keluar, meninggalkan Zaskia yang tanpa sadar meneteskan air mata.
"Kenapa rasanya kamu akan pergi jauh, Mas?"
Wanita itu, Zaskia Anggun Moreta—mengambil bantal yang biasa digunakan suaminya. Memeluk bantal itu erat-erat seakan menyalurkan pelampiasan. Kuku jarinya memutih akibat mencengkeram bantal itu terlalu kuat.
Dihirupnya aroma sang suami, aroma yang telah menjadi candu untuknya. Ia hirup aroma itu banyak-banyak, seakan tiada lagi aroma tersebut keesokan harinya. Ia tetap terisak pelan sampai tertidur karena kelelahan.
...***...
Deron benar-benar mendatangi Areta. Pria itu membangunkan istri yang belum pernah disentuhnya.
Areta mengerjab, terkejut dengan kehadiran Deron yang berada di sisi lain ranjangnya. "Ap–apa yang kau lakukan di sini?"
Deron menggeser tubuhnya, mendekati Areta yang terlihat ketakutan. Areta bergeser mundur tatkala Deron semakin mendekat.
"Pergilah! Kau kenapa seperti ini? Aku tidak bisa, pergilah pada Zaskia!"
Deron menggeleng kuat, dengan cepat pria itu merengkuh tubuh istrinya. Mendekapnya dalam balutan hangat tubuhnya. "Jangan menghindariku Areta. Sungguh, kamu dan Zaskia sama, sama-sama istriku. Jangan menghindar lagi."
Areta memberontak, ia masih takut pada kejadian satu tahun lalu. Areta mulai menangis, ia merasa Deron memeluknya semakin kuat. "Kumohon ... lepaskan aku. Deron lepas ...," isaknya lirih.
"Mengertilah, aku tidak akan menyakitimu." Deron membisikkan beberapa kalimat di telinga istrinya, Deron memeluknya erat sembari mengecup pucuk kepala istrinya beberapa kali.
Meski sesenggukan, akhirnya Areta mau menatap Deron. Suaminya tersenyum teduh, Areta merasakan pipinya memanas, ia kembali menenggelamkan wajah di dada Deron. Ia tidak pernah merasa senyaman ini di pelukan seseorang, memori dua puluhan tahun silam kembali ke ingatannya. Areta mencengkeram bagian belakang kaus Deron.
"Aku ga mauu ...."
"Areta, Sayang ...." Deron mengusap kepala istrinya.
"Mereka berakhir, aku ...."
Deron terpaksa mengurai dekapannya, ia menangkup wajah sembab istrinya. Menghapus air matanya kemudian mencium kelopak yang terlihat mengkilap itu. "Sayang dengar, sejak aku menikahimu, meski pernikahan ini bukan keinginan kita—aku telah berjanji pada Zaskia dan diriku sendiri bahwa aku tidak akan meninggalkanmu. Kisah kita akan berakhir bahagia, aku janji untuk itu. Percayalah padaku, Areta. I love you my wife."
Deron menempelkan bibirnya, hanya menempel untuk sesaat—merasakan betapa kenyalnya bibir di depannya. Lama-kelamaan bibir itu mulai bergerak—melum*t bibir basah yang ia tempeli. Rasanya seperti Strawberry dan sedikit asin karena air mata Areta yang tak berhenti sejak tadi. Setelah membujuk Areta berkali-kali, Deron akhirnya mulai melancarkan aksinya. Ia mau membuat kenangan manis untuk Areta.
"Sejak aku mengikatmu, melafalkan ijab kabul di depan penghulu, istri pertamaku dan saksi lainnya. Aku bertekad untuk mencintaimu, menyanyangi dan membahagiakan kamu. Berjanjilah untuk tidak takut dan menghindar, karena akulah pelindungmu. Your husband, Areta Maura Syakila. Do you love me too, my wife?"
...****...
Zaskia mencari Deron ke seluruh mansion, namun ia tidak merasakan suaminya ada di mansion. Ia duduk di salah satu kursi yang berada di halaman.
Semua bermula ketika anak mereka mencari ayahnya, Zaskia menyuruh Rio pergi ke rumah Areta. Rio tidak menemukan ayahnya di sana, dia hanya menemukan Areta yang masih terlelap. Tak percaya dengan yang dikatakan putranya, Zaskia berjalan ke rumah Areta. Rumah itu sepi, semua ruangan sudah ia itari, tetap saja suaminya tidak ditemukan.
Seorang pria dengan kemeja dan jas yang tersampir di bahunya menghampiri Zaskia. Pria itu datang bersama istrinya, Alisa Heni Widyawati—duduk di sebelah Zaskia dan menenangkannya.
Seseorang berjalan mendekat, dia menggunakan dress peach dan menggerai rambutnya. "Ada apa ini?"
Tidak ada yang menjawab, Zaskia melirik sekilas orang yang baru datang tersebut. Orang itu berjalan mendekat ke arahnya, ia baru menyadari sesuatu. Zaskia menggeleng. "Shit." Deron pergi setelah melakukannya dengan Areta.
Zaskia berdiri tanpa menghiraukan tatapan yang terarah kepadanya. Dia bahkan menepis tangan Heni yang akan meraih pergelangan tangannya. "Di mana Fransisco dan Eduard?"
Aldo terdiam di tempatnya, begitu dua nama terucap dari bibir Zaskia.
"Jacky, kemarilah!" Zaskia memanggil seorang pengawal yang berada tak jauh dari mereka berkumpul.
"Ya, Nyonya."
"Kemana perginya Fransisco dan Eduard? Saya tidak melihat mereka sama sekali."
"Sa–saya tidak tau, Nyonya."
"Katakan! Jika kamu mengetahui sesuatu."
"Tuan Fransisco memanasi mobil jam 04.05 pagi, sedangkan Tuan Eduard membagikan beberapa senjata api pada kami semua. Lalu Tuan Deron, sepertinya tuan pergi lebih dulu karena saya tidak melihatnya bersama Tuan Fransisco, Eduard maupun Levin."
Zaskia memejamkan mata lalu mengembuskan napasnya pelan. "Baiklah, kamu boleh pergi."
"Permisi, Nyonya."
Zaskia berbalik, menatap satu-satunya pria diantara mereka. "Lo juga salah satu asistennya, kan? Ga mungkin kalau suami gue ga kabarin lo apa-apa."
Aldo menghela napas. Pria itu mengeluarkan ponsel lalu menyerahkannya pada Zaskia. Wanita itu menerimanya, lalu membaca pesan yang tertera di sana.
Al, gue titip kedua istri dan anak gue. Oh iya, kalau perkiraan gue benar, gue kayaknya bakal punya baby lagi. Tapi sebelum itu, tolong minta Areta memastikannya 2 Minggu lagi. Perusahaan, gue serahin semua sama lo. Thanks.
Zaskia mencoba menghubungi Deron dengan gusar.
"Gue udah coba berkali-kali tapi nihil. Kayaknya dia langsung ganti kartu setelah kirim pesan."
Zaskia menggerutu kepada suaminya yang entah kemana. Ia mengembalikan ponsel tersebut pada Aldo kemudian beralih menatap Areta. Ia berjalan mendekati Areta.
Wanita itu menatapnya memelas dengan tanda tanya. "Bilang kalau semua ini cuma bohong, Zas! Bilang sama gue kalau ini cuma mimpi!" Areta memekik kemudian menarik lengan Zaskia mendekat, memeluk Zaskia erat. Menumpahkan tangis di bahu Zaskia. "Zaskia, please say if this is just a dream. Please, Zas ...."
Zaskia hanya mempu mengusap punggung Areta yang bergetar. Hatinya juga sakit, tak menemukan kata penenang yang tepat karena dirinya sendiri diliputi rasa gundah gulana.
Zaskia merasa bajunya semakin mengetat dan bagian belakangnya sangat basah. Areta semakin mengeratkan tumpuannya. "Dia udah janji ga akan ninggalin gue, ninggalin kita ... tapi, janji hanyalah janji."
Tes.
Tes.
Cairan bening itu mulai membasahi baju Areta, Zaskia terisak kecil di sana. Deron memang pernah memberinya petuah, tapi saat itu ia menganggapnya hanya candaan. Ia tak menyangka jika Deron benar-benar meninggalkannya.
Jika suatu saat nanti aku pergi tanpa alasan yang jelas, jangan cari aku. Jangan lakukan apa pun untuk bisa menemukanku. Jika kamu adalah tempat pulangku, seberapa jauh perjalananku, aku akan pulang kepadamu. Namun jika aku tidak kembali, maka ikhlaskan dan doakan aku.
"Areta ...." Pandangan Zaskia memburam, tubuhnya merosot hingga membuat Areta yang mencengkeramnya menjadi terkejut. Wanita itu memeluk Zaskia dengan erat.
"Zas ...."
"Zaskia, lo denger gue, kan?"
"Zaskia?"
Aldo dan Heni yang berbicara berdua terkejut mendengar teriakan Areta. Mereka melihat Areta yang menumpu badan Zaskia.
"Aldo tolong," cicit Areta.
Aldo menerima tubuh Zaskia sebelum terjatuh, ia segera menggendongnya memasuki mansion. Sementara Heni memeluk Areta dari samping.
"Zaskia bakalan baik-baik aja, kan Hen?"
Heni tersenyum kemudian merangkul Areta untuk memasuki mansion. "Jangan khawatir. Zaskia itu cewek kuat, tegar. Dia udah melewati fase paling sulit diantara kita bertiga, mungkin dia shock tadi. She will be fine."
Heni menghadapkan Areta ke arahnya, memegang kedua lengan wanita itu. "Ratu yang ini juga ga boleh sedih. Deron itu setau gue ga akan ngingkarin janjinya, sekali dia berucap itu yang akan dia perbuat. Jadi tunggu dan bersabarlah."
Heni tersenyum dan melepaskan tangannya. "Ayo masuk!" Areta segera menghapus air matanya dan mengangguk.
Baru beberapa saat keduanya melangkah, telinga mereka mendengar seorang anak laki-laki yang sesenggukan. Areta segera menoleh ke belakang, dilihatnya seorang anak laki-laki dengan pakaian rapi tengah digendong salah satu pengawal.
"Pi, Pi, Pi, Io mau Pi. Di mana Pi, Io?" Anak itu berontak ingin turun dari gendongan pengawal. Tangisnya semakin kencang.
"Huaaa, Pi akal. Pi ninggalin Io, Pi ga ajak, Io." Anak itu terlihat memukul dada pengawal itu. "Io mau susul Pi, turun akel! Io mau susul, Pi."
Areta segera melepaskan rangkulan Heni, berjalan mendekati anak yang masih merengek itu. Sementara Heni hanya melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Areta mengusap sisa air matanya, berdiri di depan anak itu dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Ia baru ingat, jika weekend mereka berempat akan menghabiskan waktu di luar. Biasanya Deron dan Rio akan bermain pesawat-pesawatan, di mana Rio dipanggul di atas pundak ayahnya.
Areta kembali menghapus air mata yang hampir terjatuh. "Rio, Sayang."
Anak kecil itu menoleh, mengulurkan tangan pada Areta. "Ma, ma, ma ... Pi, Io pegi, Ma ntar Io susul Pi. Mi, asih bobo di rumah, Mi tadi angis."
Areta segera menggendong bayi tersebut, diciuminya bayi itu. Rio kecil memeluk leher Areta. "Ayuuu Ma, ari Pi," ucapnya masih sambil terisak.
Areta segera membawa anak itu masuk. Sementara Heni masih mengamati Areta yang terlihat kesusahan saat bayi itu kembali memberontak.
TBC!!
Semoga suka sama part ini.
Jangan lupa like sama komen.
See you❤️