"Aku memang sanggup untuk menghapus namanya dan menggantikannya dengan nama suamiku di hatiku, tapi apa aku sanggup terus mempertahankan rumah tanggaku tanpa cinta dari suamiku? Yang selalu enggan untuk menyentuhku untuk lebih intim?" batin Suci
"Sampai kapan kamu tidak mencintaiku? Sampai kapan kamu akan terus belajar mencintaiku? Apa perlakuan manisku tidak bisa menggerakan hatimu walau pun sedikit saja Uci?" batin Arkan
"Bunda mohon nak, jadikan kakamu istri ke dua Arkan." ucap Anisa
Akan'kah rumah tangga Arkan dan Suci tetap utuh di saat Bunda dari Suci meminta Suci untuk menyutujui kakaknya menjadi istri ke dua dari suaminya?
Akan'kah Suci merelakan suaminya untuk kakanya sendiri di saat ia sudah mengandung benih dari suaminya karena menikah dengan dua wanita bersaudara kandung adalah haram? Atau Suci tetap mempertahankan rumah tangganya karena kakanya yang membatalkan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 24 Sebelum Akad
Hari ini adalah hari pernikahan Suci dan Arkan. Sesuai yang di inginkan Suci mereka menikah di rumah Suci. Arkan sangat tidak menyangka ke datangan orang-orang dari pesantren Suci, karena jarak yang sangat jauh, tapi mereka datang.
Arkan di temani dengan ke tiga sahabatnya, selain Rangga ada Raka dan Ikbal. Raka dan Ikbal sedikit bingung saat melih Sulis yang santai mengobrol-ngobrol dengan ke dua sahabatnya, seharusnya Sulis itu sudah siap-siap karena sebentar lagi akad nikah.
" Arkan, ko Sulis masih santai? Mana pakai dres doang lagi, bukannya sebentar lagi akad nikah akan segera di mulai?"
Raka dan Ikbal memang belum tau kalau calon pengantinnya sudah di ganti oleh Suci. Arkan hanya menggeleng pelan, ia tidak ingin berbicara, hatinya sangat gugup, terlebih banyak santri juga yang datang, ia malu, walau pun ia sudah belajar akad nikah memakai bahasa arab, tapi tetap saja tidak bisa di bohongi, ia gugup.
Arkan memang sengaja belajar akad nikah pakai bahasa arab, ia takut sahabat Suci yang dari pesantren ikut menyaksikan, ia tidak ingin membuat Suci malu.
" Ih lo kenapa menggeleng-geleng? Tapi ko banyak santri iya yang datang juga? Gue jadi bingung sendiri."
Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia memang sangat bingung dengan ke datangan para santri dan santriawati, yang tidak bisa di hitung jari, bahkan mobilnya bukan hanya di dalam pekarangan rumah, tapi di luar pagar juga banyak.
" Calon istri Arkan memang bukan Sulis, tapi adiknya Sulis, namanya Suci, dulu Suci mondok, jadi wajar kalau banyak santri."
Rangga menjelaskan pada Raka dan Ikbal yang kebingungan, sebenarnya ia sendiri bingung kenapa pernikahan Suci banyak santri dan santriawati, seolah-olah Suci adalah orang besar dari pesantrennya, hingga banyak yang datang.
" Apa?! Itu benar Arkan?"
Arkan hanya mengangguk pelan. Mereka semakin bingung kenapa jadi adiknya yang di nikahi?
" Lo hutang penjelasan sama kita."
" Nanti gue jelasin di kantor kapan-kapan."
Ikbal dan Raka hanya mengangguk saja, walau pun ia sudah penasaran, tapi melihat ke gugupan Arkan, ia hanya bisa pasrah.
" Santai, lo jadi gugup gitu?"
Arkan yang di tanya oleh Rangga, ia hanya menatap Rangga sekilas, tanpa mau menjawab ucapan dari Rangga. Sulis sedang mengobrol-ngobrol bersama ke dua sahabatnya yang bernama Vani dan Bella.
" Sana gih lo siap-siap."
" Siap-siap apaan Bel? Ini gue sudah cantik gini masih di suruh siap-siap?"
" Emang lo tidak mau tampil cantik di pernikahan lo?"
" Siapa juga yang menikah sama Arkan, adik gue yang nikah sama Arkan."
" Adik lo? Maksudnya gimana? Bukannya lo yang pacarnya Arkan?"
Mereka berdua terkejut mendengar jawaban dari Sulis.
" Mana mau gue nikah sama lelaki lumpuh."
" Gila lo, kalau lo tidak mau sama Arkan, kasih ke gue, gue juga mau walau pun lumpuh, kalau cuma lumpuh kapan pun bisa sembuh Sulis, tapi kalau lo cari sosok lelaki seperti Arkan belum tentu lo dapat. Arkan baik, perhatian, lembut, tidak suka menyentuh lo, lo nya terus yang melengket sama Arkan, dan bonusnya lo menjadi nyonya Wijaya, kurang apa coba?"
Saat mendengar ucapan dan pertanyaan Vani, Sulis menjadi semakin tidak rela melepaskan Arkan, memang dari awal ia ragu melepaskan Arkan, tapi sekarang ia semakin tidak rela.
Sulis menatap wajah Arkan yang sedang gugup, ia merasa kalau Arkan terlihat menggemaskan, hingga membuat bayang-bayang bersama Arkan berputar di ingatannya.
" Kenapa aku merasa semakin tidak rela melepaskan Arkan? Lalu bagai mana kalau benar Arkan sembuh? Aku tidak akan rela kalau yang menjadi kebahagiaan Arkan adalah adikku sendiri." batin Sulis
" Lo ko bengong?"
Bella sedikit bingung melihat Sulis hanya diam, tapi ia melihat arah tatapan Sulis ke arah Arkan.
" Lo nyeselkan?"
" Gue tidak tau dengan perasaan gue, hanya saja gue menjadi tidak rela iya kalau ucapan Vani benar gima dong?"
" Iya mana gue taulah, apa lagi itu adik lo sendiri, lo tidak mungkin sejahat itu'kan menikung suami adik lo sendiri?"
Sulis hanya menggeleng pelan, ia tidak bisa menjamin kalau ia tidak akan menikung adiknya sendiri, ia mencintai Arkan dari dulu, sedangkan adiknya hanya menganggap Arkan suami dan belum tentu juga hati adiknya itu milik Arkan, mengingat adiknya yang menangis hingga terdengar di seluruh ruangan.
Vani tersenyum lebar saat melihat wajah kebingungan Sulis, ia harap Sulis tidak lagi semena-mena dan berharap kalau Sulis bersikap dewasa, agar Sulis tidak lagi mengambil keputusan yang salah. Vani menatap ke arah tiga lelaki yang usianya sekitar 23 tahun dan 24 tahunan
" Eh liat deh, itu tampan banget iya? Yang tengahnya."
Vani menujuk mereka dengan ekor matanya. Bella dan Sulis langsung mengikuti ekor mata Vani
" Iya gila tampan banget, tapi usianya sepertinya sama, sama gue."
Bella memang masih berusia 23 tahun, sedangkan Vani 24 tahun.
" Iya itu calon suami adik gue saat itu, bahkan dia sudah melamar adik gue, tapi karena adik gue tidak mau membuat Arkan sedih, akhirnya adik gue nolak dia."
" Lagian lo tidak bertanggung jawab banget, lo yang nerima lamarannya, ko adik lo yang suruh nikah."
Bella dan Vani masih terus menatap Gus Ali, ada rasa kasihan dan rasa kagum dengan Gus Ali, yang masih mau hadir di pernikan wanita yang di cintainya.
" Kalau agama gue seperti wanita pada umumnya, gue langsung dekatin dia."
" Halah, jangan ngada-ngada Bella, lelaki sholeh mana mau sama lo yang pakaiannya terbuka dan suka peluk sana sini."
Vani menggeleng-geleng kepalanya mendengar ucapan dari Bella.
" Lo jahat banget iya Sulis? Lo ko tega merusak kebahagiaan adik lo? Pasti mereka berdua sangat berat harus melepaskan orang yang di cintai."
Sulis hanya menggeleng, ia tidak tau harus berbicara apa, ia tarlalu banyak yang di pikirkan sekarang, terutama dengan Arkan, lelaki yang ia cintai. Ke tujuh Ustazah juga datang termasuk ke tiga Ustazah yang mendidik Suci juga datang. Ustazah Alisah terus menatap ke semua orang-orang hingga matanya berhenti pada Arkan yang duduk di kursi roda dan memakai setelan jas.
" Apa jangan-jangan Suci menikah sama Arkan?" batin Ustazah Aisah
Mata Ustazah Alisah mulai memerah, ia tidak pernah menyangka kalau akan di pertemukan kembali dengan Arkan, lelaki yang Ustazah Alisah cintai dari kelas satu SMA, hanya saja ia hilang konteks setelah Arkan menolaknya, Arkan bilang kalau Arkan tidak menyukai wanita muslimah, karena menurut Arkan wanita muslimah itu banyak aturan dan Arkan tidak suka itu, dari situ Ustazah Alisah melangkah mundur, ia menjauhi Arkan dan kembali ke Bandung, saat itu Ustazah Alisah memang sekolah di jakarta, ikut dengan neneknya, tapi setelah di tolak oleh Arkan, Ustazah Alisah kembali ke rumah orang tuanya yang ada di Bandung, hingga sekarang ia bisa menjadi Ustazah.
" Kenapa kamu bohongin aku Arkan? Kamu bilang tidak suka wanita muslimah, ternyata kamu menikahi Suci, bahkan Suci lebih tertutup, Suci memakai cadar." batin Ustazah Alisah
ceritanya bagus kak,,,,,alurnya menarik gak membosankan,, and maafken kak aku gak komen per bab,, aku lebih suka komen setelah tamat baca ceritanya,,, yok kak lebih semangat lagi yokk😉😉😉
umpama,, bertanya, "tempat pendaftarannya dimana ya ? gitu thorr !!
bukan di mana iya ?..🙏🙏🙏