Insiden Pertemuan Absurd
------------------IPA---------------------
Peristiwa konyol menjadi sebuah awal pertemuan kedua insan sejoli yang sama-sama saling dilanda kesialan saat itu.
Kesialan yang menjadi sebuah hal yang sangat memalukan dan mencemoohkan. Membuat salah satu seorang dari sejoli itu menjadi bahan perbincangan dan kelucuan oleh orang-orang yang belum mereka kenal.
Perdebatan? Tentu saja. Selalu. Dimanapun dan kapanpun mereka bertemu.
Mereka sama-sama ingin saling menjatuhkan. Namun takdir mempersulit mereka.
Akhirnya, mereka sama-sama jatuh. Namun jatuh dalam sebuah cinta yang tumbuh, bukan jatuh dalam sebuah jurang kesengsaraan seperti yang mereka inginkan.
Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.
Mereka sama-sama jatuh.
Apa mereka akan bangkit bersama?
Atau mereka bangkit bersama orang yang sudah ditakdirkan bersama mereka dan bangkit bersama jodoh mereka masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NindyCF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IPA--24
Akan selalu aku usahakan agar aku tetap disampingmu. Tanpa harus meminta saat kau dalam situasi sulit seperti saat ini.
***
Chiiiittttttttt
Suara decitan panjang dari motor milik Rizki itu sangat menyeramkan. Membuat aspal jalanan menjadi berbekas roda hasil motor hitam itu. Sementara Rizki masih mematung dan berharap dia tidak kehilangan kesadaran sepenuhnya, karena sedari tadi lelaki itu terus melamun dengan detak jantung yang sangat cepat. Bagaikan drum yang dipukul sebanyak lima kali dalam satu detik.
Setelah beberapa menit hanya diam diatas motornya, akhirnya Rizki turun dan berjalan pelan menghampiri Keisha.
"Ngebohongin gw lagi lo? Lo bohongin gw lagi, hah? Iya, lo bohongin gw lagi?!" bentak Rizki kepada Keisha.
Sementara Keisha masih menatap Rizki datar tanpa berkedip. Bahkan tubuhnya pun tak bergerak sedikitpun. Rizki malah semakin geram. Melihat Keisha yang hanya diam bagaikan orang yang tidak tahu apa-apa.
"Jawab!" bentak Rizki kesal.
Keisha tetap diam. Tanpa menjawab ucapan Rizki yang sudah sangat emosi dibuatnya.
"Maksud lo apa?!" teriak Rizki sambil menendang ban motornya dengan emosi.
Rizki mengepalkan tangannya kuat-kuat. Mencoba menarik nafas agar emosinya mereda dan tak berbuat hal diluar kendali dirinya, apalagi jika harus melukai Keisha karena emosinya yang sudah sangat tidak bisa dikontrol.
Rizki menatap Keisha tajam. Laki-laki itu membayangkan saat dia harus tiba-tiba mengerem mendadak seperti tadi. Membuat motor dan dirinya hampir saja terguling ke depan dan meluncur indah di atas aspal.
Rizki mengerem mendadak karena pemandangan yang dia lihat sedikit membingungkan. Dia melihat Keisha sedang menatap dirinya sembari berdiri sendirian disamping motornya. Tubuhnya tak lecet sedikitpun atau setidaknya terluka, tidak.
Sementara di dalam telepon tadi, Keisha terlihat sangat ketakutan diantara beberapa orang yang memberi kebisingan dan berisik yang membuat Keisha bergidik ngeri.
Dan kali ini, Rizki malah melihat Keisha berdiri tenang disamping motor Keisha yang terparkir dipinggir jalan.
"Ngomong Keisha!" teriak Rizki frustasi.
Keisha tetap diam. Tanpa mengubah raut wajah dan gerakan tubuhnya. Keisha tetap diam sambil memandang Rizki. Dan tak lama kemudian, sebuah cairan bening perlahan mulai berjatuhan dipipi Keisha.
Rizki tertawa meremehkan Keisha. Sambil mencoba agar tidak terpengaruh dan memperdulikan Keisha yang sekarang menangis.
Paling lo nangis gara-gara gw bentak. Gw tau, lo pasti bentar lagi bakalan bilang 'Lo tau ki, gw gak suka dibentak.' Sabar Ki, jangan mudah terpengaruh sama dia. Batin Rizki.
Keisha mulai bergerak maju. Mencoba menghampiri dan mendekat ke arah Rizki. Sedangkan Rizki yang sedang emosi itu malah melangkah mundur dan berusaha menjauhi Keisha.
"Jangan mundur..." lirih Keisha.
Rizki mengernyit bingung. Namun dia tetap melangkah mundur untuk menjauh dari Keisha.
Keisha juga tetap berjalan pelan menghampiri Rizki dengan airmata yang masih mengalir deras.
"Rizki..." ujar Keisha pelan.
Rizki menelan ludahnya kasar. Mencoba agar tidak berlari ke arah Keisha untuk memeluk dan mengusap rambut gadis itu dengan lembut. Tidak, Rizki tidak boleh mudah dipermainkan lagi oleh gadis itu.
Keisha diam menghentikan langkahnya. Tanpa perintah dan kemauan dirinya, Rizki juga ikut diam. Lalu Keisha menggeser sedikit pandangannya. Menatap sesuatu dibelakang Rizki. Rizki semakin bingung dan perlahan kepala Rizki memutar sedikit demi sedikit kebelakang agar bisa melihat apa yang dapat mengobati rasa bingung dan penasarannya.
Belum sempat lelaki itu menengok kebelakang, Keisha menarik Rizki kebelakang tubuhnya dan menghalangi Rizki dari bahaya itu. Membuat Keisha yang menjadi korban dan menyelamatkan Rizki dengan semampunya. Dan kini, Keisha berhasil. Berhasil menyelamatkan Rizki dan menjadikan dirinya sebagai korban tunggal.
Jleb
Sebuah pisau yang mengkilat di keadaan malam hari itu menusuk dan menembus tubuh Keisha. Cairan merah kental dari perut Keisha dan cairan bening dari mata Keisha itu saling berjatuhan dan berlomba-lomba keluar lebih banyak sama-sama saling membanjiri seragam putih abu-abu yang Keisha pakai saat ini.
Tubuh Keisha tumbang, namun tertahan Rizki yang memang berada dibelakang tubuh Keisha. Keisha menatap Rizki yang juga sedang menatapnya. Memberikan senyum lemah yang membuat Rizki semakin lemas dengan pikiran kosong yang membuat dia tak tahu harus melakukan apa.
Rizki sudah tidak kuat menahan berat tubuh dirinya dan tubuh Keisha. Perlahan, Rizki mendudukan dirinya di atas aspal. Menjadikan paha miliknya menjadi bantal sementara untuk Keisha.
"Jangan tidur..." ucap Rizki pelan.
Ucapan Rizki tak berpengaruh. Keisha perlahan menutup matanya bersama senyum yang mulai luntur diwajah pucatnya.
Rizki menatap Keisha tak percaya. Menyentuh dan mengelus pipi Keisha yang masih basah karena airmata. Rizki mengusap mata Keisha yang sudah sepenuhnya tertutup dan menghapus sisa airmata gadis itu yang belum kering sedikitpun.
Tatapan Rizki turun dan menatap marah pada pisau yang masih menancap di perut Keisha. Perut yang kali ini terus menerus mengeluarkan bau amis dan cairan kental.
Seketika Rizki langsung tersadar dan mendongakkan kepalanya. Dia menggertakan giginya saat tak menemukan siapapun disana selain dirinya dan Keisha.
Menggeram marah saat dia sadar bahwa dirinya tak sempat melihat orang yang menjadi dalang kejadian ini. Dan bodohnya, Rizki tak langsung bertindak karena terlalu lama mencerna kejadian ini dengan lambat. Membiarkan darah Keisha semakin banyak keluar dan menggenang di jalanan.
Dia juga baru menyadari, bahwa disini adalah jalan yang tak ramai dipakai. Disini sepi dan tak ada yang lewat. Memang karena jalan yang kurang sering dilalui ditambah suasana malam yang semakin mendukung jalan ini tak dilintasi oleh orang-orang. Tidak ada yang bisa dimintai bantuan untuk saat ini.
Rizki mengangkat tubuh Keisha perlahan dan membiarkan darah Keisha ikut melebar dan menyentuh pakaiannya.
Berlari dengan hati-hati dan berharap pisau itu tak bergerak semakin melukai tubuh Keisha. Rizki menggendong Keisha ke arah jalan raya. Meninggalkan motor kesayangannya dan motor Keisha ditempat tadi.
Rizki berlari semakin cepat. Tak ingin Keisha semakin kekurangan darah dan tersakiti karena pisau itu. Setelah menempuh beberapa menit perjalanan, akhirnya dirinya sampai dijalan raya.
Orang-orang dijalan raya satu persatu menghampiri dirinya dan membantu memasukkan Keisha ke dalam salah satu mobil pengendara yang melintas. Membawa Keisha ke rumah sakit terdekat dan mendahului beberapa pengendara lain dijalan agar lebih cepat sampai ditempat yang Keisha butuhkan.
Jangan bikin gw marah. Jangan bikin gw kecewa. Jangan bikin gw ngamuk. Jangan bikin gw liar. Jangan bikin gw makin jadi. Tahan diri lo, dan buktiin ke gw, kalo lo... lo bukan cewek lemah. Buktiin ke gw kalo lo bukan cewek barbar yang gampang nyerah dan lemah kayak gini. Batin Rizki panjang lebar.
skolah ap suka bully siswa siswi
Ini masih up kan thor???