Aku kira setelah, aku berhasil kabur dari sebuah desa yang sangat membingungkan dan penuh dengan keanehan hidupku akan lebih baik dan tidak mengalami hal-hal yang sangat membuatku takut tapi nyatanya aku salah besar, aku dan ketiga temanku malah terjebak kembali di sebuah desa tua yang lebih menakutkan dan mengerikan, yang paling aneh semua orang di desa itu menatap kami berempat dengan tatapan yang mengerikan, kecuali pada Erlangga mereka menatap Erlangga dengan senyum indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilmara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi buruk
"Ada apa, Nay? apakah ada yang salah? apa kamu mengingat sesuatu?" ucap Arin, dengan bertubi-tubi pertanyaan yang dilontarkan saat melihat ekspresi Nayla.
"Tidak ada, kita lanjut saja" putus Nayla.
"Sekarang siapa lagi yang akan bertanya?" kini giliran Erlangga kembali bersuara.
"Biar aku" kini Dika sudah mulai bersiap-siap untuk mengajukan pertanyaan pada roh. "Roh, roh apakah kami bisa keluar dari tempat ini?" tanya Dika takut.
Tak perlu menunggu lama pensil yang mereka pegang kembali bergerak, pensil itu memberikan jawaban iya di kertas tapi masalahnya bukan hanya iya saja ada rintangan juga yang harus mereka lewati.
"Apa! kenapa jadi begini" keluh Dika.
"Tidak usah banyak bicara, sekarang giliranku untuk bertanya" ucap Arin antusias. "Roh, roh apakah kamu mati disini?" semua orang tidak percaya dengan pertanyan Arin.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, roh pasti akan marah" sungut Erlangga.
"Aku tidak tahu"
Saat itu juga pensil yang mereka pegang semakin berat dan terus bergerak kesana kemari.
"Ada apa ini?"
"Mungkin rohnya benar-benar marah Arin, lebih baik sekarang kita cepat mengusir roh nya" usul Nayla.
Mereka berempat kembali berbicara bersama untuk mengusir roh yang sudah mereka undang tadi, dengan segala ketakutan dan tengana yang sudah terkuras akhirnya mereka bisa memberhentikan permainan itu, dengan pensil yang sudah patah menjadi dua bagian.
"Apakah kita benar-benar sudah mengusir rohnya?" tanya Nayla takut.
"Aku rasa begitu" sahut Erlangga.
"Yang sudah malam mari kita kembali tidur" ajak Dika pada Arin. Arin yang masih gemetar ketakutan hanya bisa menganggukan kepalanya saja, kini dirinya sudah berada di dalam pelukan Dika sejenak setelah permainan selesai.
"Jaga Arin, Dika aku rasa dia sudah takut" pesan Nayla, padahal dia juga sedang ketakutan, sebenarnya Nayla berniat mengajak Arin untuk tidur bersama malam ini, tapi melihat Arin seperti itu dia tidak tega, apalagi Nayla sendiri yang mengusulkan permainan menyeramkan ini
"Nay, ayo kita ke kamar" ajak Erlangga, setelah kepergian Arin dan Dika yang sudah menuju tempat istirahat mereka. Erlangga mengajak Nayla ke kamar bersama, karena kamar mereka bersebelahan.
"Mari Er, aku juga sudah sangat mengantuk" Nayla beralih menarik tangan Erlangga dengan lembut, keduanya berjalan beriringan menuju kamar mereka.
"Selamat tidur Nay" ucap Erlangga, sambil masuk ke dalam kamarnya, dia sempat tersenyum pada Nayla dan dibalas senyuman juga dengan Nayla.
"Selamat tidur juga Er" jawab Nayla lirih, karena Erlangga sudah masuk ke tempat tidurnya.
Baru saja Nayla akan masuk ke tempat istirahatnya di gubuk itu, tapi dia urungkan karena melihat seperti ada seseorang yang melintas di ujung lorong, karena penasaran Nayla mengikuti orang tadi.
Nayla tidak dapat melihat wajahnya, dia hanya bisa melihat dari belakang, pergerakan orang itu juga sangatlah cepat, sehingga Nayla tidak dapat menyusulnya.
"Siapa tadi? dan kemana perginya?" tanya Nayla penasaran.
Akibat tidak melihat-lihat jalan yang dilewati dan tidak tahu sudah berada dimana, hampir saja Nayla masuk ke dalam jurang, jika tidak ada yang menolongnya, beruntung orang yang menolong Nayla datang dengan tepat waktu.
"Er" ucapnya lirih, dengan segera Nayla memeluk Erlangga, dia sudah sangat ketakutan.
"Kenapa kamu bisa berada disini Nay?" tanya Erlangga lembut, sambil mengelus pucuk kepala Nayla dengan lembut..
Nayla hanya menggeleng untuk merespon Erlangga, merasa Nayla butuh menenangkan diri Erlangga segera membawa Nayla ke kamarnya.
"Minum dulu, Nay" Erlangga menyodorkan air aqua yang entah dia dapat dari mana pada Nayla.
Tanpa banyak tanya Nayla segera meneguk air mineral itu sampai tandas.
"Makasih Er" ucapnya tulus.
"Iya Nayla sama-sama, sekarang kamu tidur ya biar lebih enakan" tutur lembut Erlangga.
Lagi-lagi Nayla menggelengkan kepalanya. "Aku takut, Er" jujur Nayla.
"Kamu tenang saja oke Nay, aku disini nemenin kamu, jadi sekarang tidur ya" pinta Erlangga, karena mendengar Erlangga akan menemainnya Nayla segera memejamakan matanya untuk masuk ke alam mimpi.
Jika Erlangga selalu berada disisinya Nayla merasa dirinya sangat aman, seperti ada yang menjaganya di setiap saat.
Melihat Nayla yang sudah terlelap dengan wajah yang penuh keringat dan ketakutan yang jelas terpancar di wajah putih bersih Nayla membuat Erlangga tidak tega untuk meninggalkan Nayla sendiri di kamar itu.
"Maaf Nay, maaf jika aku belum memberi tahu semua kebenarannya pada mu" ucap Erlangga, sepertinya dia sangat-sangat merasa bersalah pada Nayla, tapi rahasia apa yang laki-laki itu simpan.
"Untuk saat ini tetap berada disini ku Nayla Putri" lanjut Erlangga lagi, dia masih menatap sendu pada Nayla.
Entah sudah sejak kapan Erlangga terlelap di samping Nayla dengan duduk sedangkan kepala Nayla beralaskan bantal paha Erlangga. Ini kedua kalinya bagi Erlangga menemain Nayla tidur.
"Hahahah, hahahaha" Nayla seperti kehabisan nafas dalam tidurnya, keringat kembali membanjiri seluruh mukanya, kini wajah putih itu sudah berubah warna menjadi merah, Nayla seperti sedang dikejar-kejar dalam mimpinya.
"Argh…!" teriak Nayla sambil membuka kedua matanya dengan sekaligus dan dia melotot.
"Nayla, ada apa?" tanya Erlangga, dia terjaga saat Nayla berteriak barusan.
Nayla melipat kedua tangannya sambil gemetar ketakutan dia tidak menjawab pertanyan Erlangga.
"Tenang oke Nay, aku disini sekarang tidur lagi ya" tutur lembut Erlangga, dia berusaha untuk membuat Nayla agar tidak terlalu ketakutan.
Di kamar yang tidak jauh dari kamar Erlangga dan Nayla. Arin dan Dika yang sedang tidur lelap dikagetkan dengan jeritan Nayla yang sangat keras, buru-buru keduanya bangun dan melihat apa yang terjadi.
"Itu suara Nayla yang, ayo kita lihat" ajak Arin, saat dia melihat Dika juga terjaga sama seperti dirinya.
"Ada apa dengan, Nayla?" tanpa permisi Arin sudah masuk ke kamar Nayla, saat dia masuk hal pertama yang dia lihat Erlangga sedang memeluk Nayla yang masih ketakutan, punggungnya saja bergetar hebat karena rasa takut.
"Tidak tahu mungkin dia mimpi buruk, tadi juga saat kalian sudah pergi ke kamar Nayla hampir jatuh ke jurang" jelas Erlangga.
Dia menceritakan semuanya apa yang terjadi tadi pada Nayla dan dirinya setelah permainan berakhir, sampai sekarang Nayla masih ketakutan dan kebawa mimpi buruk.
"Kalau begitu biarkan aku yang menemani Nayla tidur tapi kalian berdua juga tidur disini, disitu ada tempat yang bisa digunakan untuk tidur juga" usul Arin.
Erlangga dan Dika tidak bisa menolak usulan Arin, setelah Nayla lepas dari pelukan Erlangga, kini Arin beralih memeluknya, setelah berada di dalam pelukan Arin, Nayla kembali memejamkan matanya.
"Huh, syukurlah" ucap ketiganya kompak.
"Bukan kamu saja Nay yang merasa takut aku juga sama, sepertinya kita berdua paling sering kena sasaran makhluk tak kasat mata itu, tapi yang membuatku aneh kenapa Erlangga tidak pernah melihat hal-hal yang menakutkan dan dia juga tidak pernah merasa takut" batin Arin, kini dia sedang dilanda semua rasa, rasa takut, rasa iba, rasa penasaran.
Tapi saat ini rasa takut dan penasaran yang paling menguasai Arin.