Latar Belakang : London
Genre: Comedy romance
Sansa Turner, gadis berusia 20 tahun itu cinta mati pada teman ayahnya yang bernama Alexander Ghan, seorang duda berusia 45 tahun.
Sejak kecil, ayah Sansa yang bernama Dorian Turner selalu menitipkan Sansa pada Alex saat ia memiliki pekerjaan di luar kota. Hal itu membuat Sansa dan Alex begitu dekat, keduanya jatuh cinta dan diam-diam menjalin hubungan di belakang Dorian.
Selama menjalin hubungan, Sansa selalu mendesak Alex agar memberi tahu ayahnya tentang hubungan mereka karena Sansa sudah tak sabar ingin menikah dengan sang kekasih hati. Namun Alex masih tidak punya cukup keberanian untuk memberi tahu Dorian, selain karena perbedaan usia, Sansa juga putri sahabatnya yang lebih pantas menjadi putri Alex dari pada kekasihnya.
Akankah hubungan Alex dan Sansa sampai ke jenjang pernikahan?
Akankah Dorian Turner mau menyerahkan Sansa Turner pada Alexander Ghan sebagai istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTDF #24 - Mine - Yours
...POV Alexander Ghan...
Aku menatap wajah Sansa yang tampak begitu seksi di bawahku, dengan rambut yang sudah berantakan, mulut yang terbuka, napas terengah, keringat yang membuat tubuhnya mengkilap dan jangan lupakan juga dua benda mungil yang bergerak naik turun seiring kerasnya hujamanku di bawah sana.
"Baby girl, apa kau suka ini?" Aku bertanya sembari memutar pinggulku di bawah sana. Mata sayunya itu menatapku dan bibirnya tersenyum kemudian ia mengangguk.
Aku tahu, dia sudah sangat lelah, sudah tidak terhitung berapa kali dia mendapatkan pelepasannya sementara aku baru mendapatkan dua kali pelepasan yang sangat luar biasa, yang tak pernah ku rasakan sebelumnya. Aku merasa melayang ke udara, aku merasa akan gila karena kenikmatan yang di janjikan oleh istri kecilku.
Aku menariknya hingga kami duduk, aku memintanya bergerak naik turun dan ia melakukannya dengan baik meskipun sangat pelan.
"Aku ingin kau bergerak lebih cepat, istriku," bisikku sensual di telinganya. Aku memegang kedua pinggulnya dan membantunya bergerak lebih cepat.
Kami mengerang lirih saat merasakan kenikmatan akibat gesekan dua benda di bawah sana, dan erangan kami semakin cepat seiring dengan semakin cepatnya pergerakan Sansa.
Aku yang sudah tidak tahan melihat dua benda yang terus bergerak naik turun itu akhirnya melahap salah satunya, sementara yang lainnya aku mainkan dengan tangan, aku meremasnya, memutarnya dan menjetikan lidahku disana.
"Ahh, Alexander!" Sansa kembali memekik saat aku menarik titik mungil itu.
"Aku tidak sabar ingin melihat benda ini mengeluarkan susunya, Baby girl," ucapku dengan napas yang terputus-putus.
Suara percintaan dan erangan kami menggema di kamar ini, sementara seprei sudah berantakan tak berbentuk dan bantal sudah terlempar ke sembarang arah.
"Kau juga ingin bayi?" Tanya Sansa dan bisa ku lihat binar di matanya.
"Tentu, Baby girl. Aku ingin memiliki dua bayi, minimal," jawabku yang membuatnya terkekeh.
"Ohhh, kau pintar sekali," geramku saat Sansa bergerak lebih cepat, mengapit milikku di bawah sana dengan begitu kuat. Lembah yang panas itu seolah ingin menghisap pusakaku. "Oh, ini nikmat sekali, Nyonya Alexander. Kau pintar sekali, hm. Dari mana kau belajar?" aku bertanya di sela-sela eranganku yang semakin tajam.
"Naluri seorang istri, Alex. Untuk menyenangkan suaminya," jawab Sansa sambil terkekeh.
Aku merasakan pusat tubuhnya yang semakin membesar dan memanjang di sana, pertanda ia akan segera mengeluarkan cairan panas yang akan membuat Sansa menjerit seperti tadi. Dan aku juga merasakan pusat tubuh Sansa yang berkedut-kedut, ia juga akan mendapatkan pelepasannya.
"Aahhh, bersama, Baby girl," jeritku yang membantu Sansa bergerak lebih cepat dari bawah sana.
"Oh, Alex. Penuh sekali, emmm...." Sansa mengerang, mulutnya terbuka lebar, matanya terpejam dan ia menancapkan kuku-kukunya di pundakku hingga akhirnya kami mengerang bersama-sama saat mendapati pelepasan itu juga bersama.
"Aaghhhh, Istriku. Kau hebat sekali," pujiku sementara Sansa ambruk kelelahan, ia menyenderkan kepalanya di pundakku, bisa ku rasakan napas panasnya yang menerpa kulitku.
"Ahh, ini nikmat sekali, tapi aku sangat lelah," bisik Sansa dengan napas terengahnya.
Sambil terkekeh, aku membaringkan Sansa di ranjang yang sudah sangat berantakan.
"Maafkan aku, Sayang. Aku lepas kendali, apa aku menyakitimu?" Tanyaku dengan lembut sembari merapikan rambutnya yang mengganggu wajahnya.
"Tidak, aku suka," jawab Sansa malu-malu.
Oh, Tuhan! Apa dia sekarang masih bisa malu? Aku hanya bisa terkekeh.
"Kau suka? Besok mau lagi?" Godaku kemudian ku kecup keningnya penuh cinta.
"Aku rasa ... tidak mau," cicitnya. "Milikmu besar sekali, dan panjang. Dia terlalu besar untukku yang masih kecil." Aku kembali terkekeh mendengar ucapannya yang ku anggap sebagai pujian itu.
"Alright, Baby girl. Sekarang tidurlah, kau harus istirahat yang cukup," aku berbaring di sampingnya, mendekapnya dengan posesif dan ia pun mendesakan tubuhnya ke tubuhku yang masih terasa panas akibat sisa-sisa pecintaan kami.
"Now, you're mine, and I am yours," ucapnya kemudian mengecup sudut bibirku.
"Yeah, Baby girl. Always," bisikku sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh naked kami yang masih lengket.
"I love you," bisikku mesra, Sansa hanya menggumam dengan mata yang terpejam. Aku yakin dia pasti sangat lelah. Sekali lagi aku mengecup keningnya dan kembali ku ucapkan kata-kata cinta yang manis hingga akhirnya aku pun menyusulnya ke alam mimpi.
Tbc....