Pernikahan selama sepuluh tahun tidak bisa membuat dirinya mengandung walaupun dengan melakukan inseminasi buatan.
Karena keluarga suami yang menginginkan ahli waris akhirnya menyingkirkan dirinya dengan memberikannya sebuah perusahaan sebagai kompensasi perceraiannya dengan sang suami.
Bagaimana kelanjutan hidupnya setelah diceraikan oleh suaminya?
Apakah Nikita menemukan kembali cinta dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Chapter 24
Seminggu kemudian, tuan Kenzo mengajak istrinya kembali ke Jakarta. Nikita sangat bahagia karena ia akan kembali beraktivitas seperti biasa. Apa lagi tanggungjawabnya sebagai seorang CEO harus lebih optimal dalam menunjukkan kinerjanya.
Asisten pribadinya, Meilan selalu melaporkan perkembangan perusahaannya dan itu tidak terlepas dari campur tangan tuan Kenzo agar perusahaan istrinya tidak mudah goyah walaupun di terpa isu tidak sedap.
"Apakah kamu senang kita kembali lagi ke Jakarta, sayang?" Tanya Kenzo sambil mengusap-usap perut Nikita yang makin membesar.
"Tentu saja Kenzo, aku sangat bahagia duduk di kursi kebesaranku." Ujar Nikita dengan penuh rasa bangga.
"Nikita, bagaimana kalau kamu mengolah perusahaan besar yang aku miliki di Jakarta juga dan itu bergerak di pengolahan produksi makanan. Tapi, dengan syarat tinggalkan perusahaan pemberian ibu mertuamu itu dan pilih perusahaan milikku yang ingin kamu kelola." Ucap tuan Kenzo.
"Mengapa aku harus mengembalikan perusahaan yang mereka sudah berikan kepadaku sebagai bentuk kompensasi karena sudah menceraikan aku?" Tanya Nikita sinis.
"Kalau kamu mempertahankan perusahaan itu, berarti kamu rela menukar kebahagiaanmu dengan materi dan itu berarti kamu siap untuk di rendahkan walaupun perusahaan itu berkembang pesat maupun jatuh, mereka akan mencibir dirimu Nikita, sayang." Ucap tuan Kenzo.
"Apakah kamu ingin mengatakan aku lebih rendah lagi menukar tubuhku dengan harta yang kamu miliki saat ini?" Tanya Nikita sarkas pada suaminya.
"Mengapa dangkal sekali pikiranmu Nikita?" Jika aku menawarkan sesuatu kepadamu apa yang aku miliki, itu berarti kamu harus siap menerimanya karena kamu adalah pemiliknya juga karena kita ini suami istri Nikita.
Emang salah aku memintamu seperti itu?" Lagi-lagi tuan Kenzo makin gusar dengan perkataan istrinya yang terlalu frontal kepadanya.
"Tolong jangan memaksaku untuk meninggalkan sesuatu yang sudah aku rintis dengan susah payah dan sudah hampir berhasil. Kalau aku menerima semua milikmu menjadi milikku, akan aku pertimbangkan lagi nanti.
Kalau kamu tetap memaksaku untuk mengembalikan perusahaan milikku kepada keluarga mantan suamiku, itu berarti kamu juga harus siap aku tinggalkan usai anak ini lahir.
Jika kamu ingin membawa pergi anakmu dariku, lakukan itu tuan Kenzo, aku tidak peduli." Timpal Nikita sengit.
"Mengapa setiap kali kita berdebat, kamu selalu mengancamku dengan anak kita?" Apakah sebuah harga diri lebih penting dari pada darah dagingmu sendiri?" Bentak tuan Kenzo di dalam kamarnya di pesawat jet pribadi miliknya.
Beruntunglah pintu kamar itu kedap suara hingga suara pertengkaran mereka berdua tidak kedengaran oleh pramugari di luar sana.
"Nikita, apakah kamu tidak memiliki cinta sedikitpun dihatimu untuk kami berdua?" Apakah kamu lebih memilih perusahaan itu dibandingkan dengan kami?" Suara tuan Kenzo mulai melemah. Hatinya sangat sedih menghadapi sifat Nikita yang saat ini masih sangat labil, entah itu karena bawaan bayi ataukah dirinya yang belum siap membuka hatinya untuk tuan Kenzo.
"Kita hanya bertengkar dengan masalah yang sama. Kamu dengan prinsip hidupmu dan aku dengan harga diriku. Ini bukan masalah perusahaan itu Kenzo. Ini lebih kepada amarah yang tidak akan pernah padam bagaimana mereka tega membuang diriku dan di singkirkan seperti sampah begitu saja oleh ibu mertuaku karena aku tidak bisa memberikannya seorang pewaris.
Aku hanya ingin berdiri di kakiku sendiri tanpa bantuan kamu Kenzo. Aku hanya ingin membalaskan dendam ku atas penindasan mereka yang tidak memiliki hati.
"Salah ku di mana, kalau aku tidak bisa hamil anaknya mas Aryo?" Ucap Nikita berkaca-kaca.
"Nikita, jika hanya sekedar menunjukkan suatu potensi besar yang kamu miliki untuk memajukan perusahaan itu, hanya atas nama balas dendam, sampai kapanpun kau hanya tetap dianggap sebagai wanita pecundang yang ambisius.
Mereka tetap tidak menganggap kamu ada dan bahkan tidak menyesal menendang dirimu dari lingkaran keluarga mereka karena kamu sudah di anggap gagal sebagai wanita yang tidak bisa menghadirkan seorang cucu di tengah kebahagiaan mereka." Ucap Kenzo datar.
Setelah membalas ucapan istrinya dengan suatu nasehat bijak, Kenzo membuka laptopnya dan meneruskan pekerjaannya.
Ia sudah lelah berdebat dengan istrinya yang sulit untuk kompromi. Nikita pura-pura tidak peduli dengan ucapan suaminya, tapi jauh di dalam hatinya ia membenarkan semua ucapan suaminya bahwa apa yang ia lakukan tidak berpengaruh pada penilaian keluarga mantan suaminya karena ia sudah dianggap tidak ada.
Nikita membuka email yang masuk dan memeriksa semua laporan yang masuk dari berbagai relasi perusahaannya dengan perasaan yang belum tenang.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Setibanya di Jakarta, Nikita kembali ke perusahaan dan Kenzo dengan setia menemani sang istri karena kondisi Nikita yang mudah terserang keram perut.
"Hei, apa kabar ibu hamil!" Sapa Meilan bahagia saat berpapasan di lobi perusahaan.
"Selamat pagi nyonya Nikita!" Sapa beberapa karyawan dengan santun.
"Apakah, tuan tampan itu sekarang menjadi pengawal pribadimu nona Nikita?" Sindir Meilan dengan cekikikan.
"Dia sedang memastikan calon bayinya baik-baik saja, bukan karena diriku." Ucap Nikita dengan bahasa Sunda agar Kenzo tidak mengerti dirinya sedang digosipkan oleh istrinya sendiri.
"Jangan seperti itu Nikita, tanpa anak ini yang kamu kandung saat ini, cintanya sangat besar padamu." Ucap Meilan.
"Ternyata ada juga pembela suamiku." Timpal Nikita.
"Jangan terlalu jual mahal ibu Nikita, suatu saat nanti kau akan gigit jarimu ketika ia lelah mengejar cintamu.
Tidak ada yang kurang dari dirinya, dia tampan, kaya dan jenius dan satu lagi dia bukan tipikal lelaki hidung belang. Dia hanya menatap lurus dengan hatinya pada satu wanita yaitu dirimu, apakah itu tidak bisa membuat hatimu bergetar?" Ucap Meilan.
Nikita terhenyak dengan perkataan asistennya Meilan, namun hatinya masih labil menentukan siapa yang ia cintai saat ini. Apakah itu Aryo mantan suaminya ataukah tuan Kenzo, suaminya yang sah saat ini.
"Aku ingin ke ruang kerjaku Meilan. Tolong atur meeting siang ini karena ada banyak hal yang ingin aku sampaikan kepada para pemegang saham!" Titah Nikita.
"Baiklah nona Nikita, silahkan ke ruang kerja anda, sepertinya tuan Kenzo sudah berada di atas sana." Meilan memencet pintu lift untuk bos-nya menuju ke lantai sepuluh.
Di dalam ruang kerjanya sudah ada dua meja antara meja Nikita dan meja kerja untuk Kenzo.
"Apakah kamu begitu kuatir hingga duduk di sini menungguku bekerja?" Tanya Nikita kesal dengan suaminya yang terlalu posesif pada dirinya.
"Siapa tahu saat aku menginginkan dirimu, aku tidak perlu mengendarai kendaraanku untuk bisa sampai ke sini dan mengajakmu bercinta." Ucap Kenzo dengan wajah datar.
"Sialan!" Apakah di otaknya hanya tersimpan ruang mesum tiap kali memikirkan aku?" Umpat Nikita membatin.
"Katakan saja jika kamu kesal sayang, tidak usah ngedumel dalam hati, nanti kamu bisa jerawatan. Sayang sekali wajah mulus itu harus tumbuh jerawat." Ucap Kenzo dengan tetap fokus pada laptop miliknya.
Di tempat yang berbeda, keadaan nyonya Ruby yang saat ini sedang kena stroke ringan. Ia menjadi lamban berpikir dan suaranya sudah mulai melemah.
Tuan Aryo sangat sedih melihat keadaan ibunya karena ulahnya. Tapi ia juga sedikit lega karena ia bisa duduk di kursi kebesaran milik ibunya.
Sebenarnya tuan Aryo Dwisasono merupakan lelaki cerdas dan bisa memimpin perusahaannya, namun ia tidak begitu bersemangat karena ibunya juga sering meremehkan kemampuannya.
"Mami, kamu akan lihat apa yang akan aku lakukan dengan perusahaan milik kakek. Aku juga berguna dan hebat seperti Nikita, mantan istriku. Aku hanya membutuhkan waktu untuk menunjukkan eksistensi ku dalam memajukan perusahaan ini." Gumam tuan Aryo lirih.
Aryo mengambil kunci mobilnya menuju ke apartemen milik Arumi. Entah mengapa ia sangat merindukan gadis muda itu.
Arumi dan Arini sedang menyiapkan makanan siang untuk mereka berdua. Keduanya sedang memasak opor ayam dan beberapa lauk lainnya sebagai pelengkap makanan siang mereka.
"Wah!" Kakak ini sangat lezat. Oh iya, puding coklat yang aku buat sudah mengeras belum ya?" Arini membuka kulkas dan mengeluarkan puding coklat yang ia buat sebagai pencuci mulut.
Puding di potong beberapa potong untuk mereka berdua. Keduanya sudah duduk rapi dan mulai membaca doa makan.
Ting...tong!"
Bunyi bel kamar apartemen mereka terdengar beberapa kali.
"Coba lihat dek, siapa yang datang!" Titah Arumi kepada adiknya.
Sebelum membuka pintu itu, Arini melihat ke layar CCTV dan ternyata Aryo.
"Ka, itu siapa ya?" Tanya Arini yang belum mengenal Aryo.
Arumi menghampiri layar CCTV dan ternyata" Astaga itu tuan Aryo dek!" Arumi segera membuka pintu kamar apartemennya.
"Assalamualaikum Arumi!" Sapa tuan Aryo lembut.
"Waalaikumuslam tuan Aryo!" Silahkan masuk, kebetulan kami mau makan siang, ayo sekalian ikut makan siang di sini." Ucap Arumi.
"Wah, rejeki nomplok nih, kebetulan sekali aku belum makan siang." Timpal tuan Aryo dengan wajah berbinar.
"Tuan Aryo!" Kenalkan ini adik Arini yang anda tolong melunasi biaya operasinya dengan cuma-cuma. Sekarang dia sudah sehat." Ucap Arumi memperkenalkan keduanya.
"Arini, ini malaikat penolongmu." Ucap Arumi pada adiknya.
Keduanya saling berjabat tangan dan menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Terimakasih tuan Aryo!" Berkat kebaikan anda, saya sudah sehat sekarang dan bisa beraktivitas lagi." Ucap Arini penuh hormat.
"Alhamdulillah, aku senang mendengarnya Arini. Semoga kalian makin kompak untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian." Ucap tuan Aryo yang sedang menyindir Arumi.
"Silahkan makan tuan Aryo!" Semoga anda menyukai masakan kami berdua." Ucap Arumi yang sedang melayani tuan Aryo terlebih dahulu sebelum dirinya.
"Terimakasih Arumi." Aryo menikmati makanannya bersama dua wanita cantik.
"Wah, ternyata kalian berdua jago masak." Aryo memuji dua wanita ini.
"Berarti, Arini bisa dong melamar kerja di restoran tuan Aryo." Ucap Arumi.
"Emang Arini kuliah di jurusan kuliner?" Tanya tuan aryo.
"Dia baru kuliah di sana, tapi dia ingin membantuku mencari nafkah." Ucap Arumi.
"Emang tuan Aryo punya restoran?" Tanya Arini.
"Tuan Aryo memiliki beberapa restoran terkenal di Jakarta dek." Ucap Arumi.
"Wah hebat!" Semoga masih ada lowongan untuk aku menjadi pelayan di sana." Ucap Arini dengan malu-malu."
"Uhuk...uhuk!"