TAMAT SEASON 1
Seorang dosen cantik yang berniat untuk melupakan rasa sakitnya dan memulai hidup baru tanpa cinta, kini dikejar-kejar oleh pria yang jauh lebih muda setelah pertemuan pertama mereka di Bali.
Liburan singkat yang tadinya tak ingin saling mengenal, justru berlanjut hingga menumbuhkan rasa cinta.
Perbedaan umur yang lumayan jauh, membuat Yasmin menolak mentah-mentah ungkapan hati Eza.
Eza yang ternyata adalah mahasiswa di tempatnya mengajar, membuatnya berpikir dua kali tentang niat untuk hidup tanpa cinta lagi.
Yasmin dan Eza terlibat cinta penuh gejolak. Wanita itu pun bingung, apakah itu benar-benar cinta, ataukah hanya nafsu belaka.
Akankah percintaan mereka bisa berjalan mulus?
Sementara banyak faktor yang wanita itu pikir mustahil untuk melanjutkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dapat pacar baru
...***...
Wanita itu mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang ada di pundaknya. Santi menelpon dengan panggilan video. Tanpa berpikir panjang Yasmin menggeser tombol hijau itu dan menghadapkan kamera ke dirinya. Sekilas ia melirik pada Eza yang berjarak cukup jauh darinya. Pria itu tersenyum.
"Haii … San!" Yasmin melambai menyapa, ia tersenyum pada Santi dari layar.
"Yasmin! Kamu udah sampai? Kenapa nggak ngabarin sih!" Santi tampak berkacak pinggang dan memanyunkan bibirnya.
Eza yang menyadari lirikan Yasmin pun mendekat. Yasmin terlalu fokus pada ponselnya, hingga tak sadar jika Eza memperhatikan dirinya.
"Hehe, maaf, San. Aku terlalu asyik menikmati suasana di sini," sengirnya menutup mulut. Lalu membentuk jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.
Santi pun terlihat mulai antusias dari layar ponsel itu. "Mana, mana. Lihat, kamu ada di mana sekarang?" tanyanya kemudian.
Yasmin mengangkat ponselnya, lalu berputar ke arah kanan dengan perlahan. Memperlihatkan kepada sahabatnya itu bagaimana indahnya pantai di pulau Bali.
"Aku ada di Pantai Balangan." "Sangat indah, kan?" Dia menunjukkan seberapa senang dirinya dengan liburan yang Santi sarankan.
Tanpa Yasmin sadari, saat ia memutar tubuhnya, sosok Eza pun ikut tertangkap kamera, dan Santi melihat sekilas sosok pria itu. Yang lebih membuat Santi penasaran, Eza sempat melambaikan tangan padanya.
"Tunggu, stop! Putar lagi ke arah sebaliknya." Santi menghentikan apa yang Yasmin lakukan.
Di saat itulah Yasmin sadar, Eza sedang berada di dekatnya, tepat lima langkah di samping kanan. Tangan yang memegang ponsel ia turunkan. Ternyata Santi telah melihat pria itu. Yasmin melirik Eza sekali lagi. Pria itu tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya. Yasmin lantas segera menjauh, sejauh mungkin, hingga Eza tak lagi bisa mendengar percakapannya dengan Santi.
"Yasmin! Kamu sama siapa? Kenapa kamu pindah posisi? Jangan bilang dapat pacar baru, tapi merahasiakannya dariku?" Santi mulai menyelidik.
"Haaa, apa?" Yasmin pura-pura tak paham dengan pertanyaan Santi.
"Hisss, pria di belakang kamu tadi siapa?" Santi mulai manyun.
"Bu–bukan. Dia kebetulan ada di sini," jawab Yasmin menggeleng kepala.
"Jangan bohong, Yasmin. Tadi dia melambaikan tangan dan tersenyum."
"Oohh, benarkah? Hahaha … kebetulan, San. Udah dulu ya, aku mau bersenang senang lagi. Dahhhh …." Yasmin dengan cepat mengakhiri panggilan video itu.
"Yas, Yasmin, tung—"
Setelah mematikan teleponnya, Yasmin kembali lagi ke tempat semula, dimana Eza tengah berdiri dan mengitari pemandangan sekitar, seraya mengambil gambar lukisan alam yang begitu indah.
“Apa tadi kekasihmu?” tanya Eza penasaran, padahal sebelumnya dia sempat mendengar suara wanita yang sedang berbicara di sambungan telepon Yasmin.
“Ah, kekasih ... bukanlah, kamu tadi sempat mendengar suara cewek?” Yasmin kembali bertanya, seolah tahu, Eza hanyalah sekadar basa-basi.
“Tapi, kenapa kamu menghindar dariku, kalau itu hanya teman wanitamu?”
“Ya, sebagai laki-laki, harusnya tidak perlu semua tahu urusan wanita, bukan?” Yasmin tersenyum, dia menghindari pertanyaan Eza yang seperti memojokkannya, padahal bukanlah sesuatu yang penting untuk Eza tahu.
“Ah, baiklah. Aku hanya penasaran apa yang kalian bicarakan.” Eza pun terkekeh dengan pengakuannya, begitu juga dengan Yasmin.
Keduanya lalu berjalan beriringan menyusuri pasir pantai tanpa alas kaki, berulang kali ombak menerpa kaki telanjang mereka. Membasahi baju Yasmin bagian bawah. Namun, wanita itu sangat menikmatinya. Entah apa yang menjadi kebahagiaannya saat ini, dia begitu merasakan kedamaian, seolah semua beban terlepas habis dari benaknya. Beberapa spot foto telah mereka datangi di pantai itu. Menikmati keindahan alam dan mengabadikannya.
Obrolan seru, serta candaan sesekali mereka lontarkan satu sama lain. Membuat suasana keduanya semakin hidup dan tidak berpatung. Sesekali, Eza memperhatikan Yasmin, keringat di wajahnya begitu menarik perhatiannya. Andai saja Eza mempunyai keberanian untuk menyeka, mungkin akan dia lakukan. Namun, dia mengurungkan niat, mengingat Yasmin yang hanya menganggap Eza hanyalah orang asing, sehingga mungkin saja perhatiannya tak layak dia berikan.
“Senja, kamu capek?”
...***...
...Like dan komen karya ini jika kalian suka....
...Jangan lupa favorit dan baca bab-bab selanjutnya....
...❤️❤️❤️...
...Terima kasih ☺️...