NovelToon NovelToon
Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:7.2M
Nilai: 5
Nama Author: desih nurani

Sahabat dan cinta. Kedua elemen itu sangat sulit untuk dibedakan. Dalam persahabatan terkadang tumbuh sebuah cinta. Cinta yang sulit di mengerti. Cinta yang sangat jarang disadari. Sahabat. Sebuah ikatan yang tak bisa diuraikan dengan sebuah kata-kata.

Dillara Chalista Putri Pratama. Gadis cantik yang selalu ceria. Namun dibalik keceriaannya terdapat sifat cengeng dan manja. Terkadang sifat kekanak-kanakannya akan muncul. Saat ia berada di dekat orang yang paling dekat dengannya.

Arlan Digantara. Pria tampan bertubuh tinggi, memiliki kepintaran diatas rata-rata, sopan dan banyak digemari kaum hawa. Namun ada yang mereka tidak tahu. Pria itu memiliki sifat jahil dan terkadang cuek jika ia sedang bersama orang yang paling dekat dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Honeymoon? (Ara)

Ah, senangnya bisa kembali ke rumah. Sehari semalam berada di rumah sakit membuatku sangat bosan. Ku jatuhkan tubuhku diatas kasur. Rasanya seperti sudah satu bulan aku tidak tidur disini.

"Sayang, aku keluar sebentar. Jangan lupa minum obat, setelah itu istirahat. Jangan banyak gerak."

Aku bangun dan duduk di tepi ranjang. Ku lihat Alan sedang merapikan kemejanya.

"Mau kemana kok rapi banget?" tanyaku penasaran. Alan membalikan tubuhnya dan menatapku sambil tersenyum.

"Aku harus ke kantor sebentar. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Hanya sebentar, setelah itu aku akan langsung pulang." ucapnya. Ia berjalan kearahku.

"Janji, langsung pulang ya?" ucapku sambil menatapnya lekat. Dia mengecup kening ku.

"Janji, hanya sebentar. Aku pergi dulu."

Aku sangat terkejut saat dia mengecup bibir ku. Aku menatapnya lekat, dia hanya tersenyum dan mengulurkan tanganya. Ah, aku hampir lupa mencium tangannya. Dengan cepat aku mengecup punggung tangannya dengan penuh semangat.

"Assalamualaikum." ucapnya langsung meninggalkan kamar.

"Wa'alaikumusalam." ucapku menatap punggungnya yang mulai menghilang dibalik pintu. Aku kembali merebahkan tubuhku. Ku tatap langit-langit kamar. Bayangan Alan bersama Jihan pun tiba-tiba melintas di benakku. Kenapa aku bisa lupa? Sepertinya aku harus menanyakan masalah ini setelah Alan pulang. Hoamm.. aku sangat mengantuk. Padahal aku belum minum obat sama sekali. Sepertinya aku harus tidur sebentar, mataku sangat berat. Ku tarik selimut hingga menutupi setengah tubuhku. Mataku mulai terpejam, semoga mimpi indah.

***

Sebuah pergerakan berhasil mengusik mimpi indahku. Ck, siapa sih yang ganggu aku tidur. Ku tarik selimut agar lebih rapat. Namun lagi-lagi seseorang menariknya.

"Ck, jangan ganggu. Masih ngantuk tahu, sana pergi. Baru juga tidur 2 menit." ucapku membalikan tubuhku dengan kesal. Kesal sekali rasanya saat sedang enak tidur ada yang mengganggu.

"2 menit? Sebaiknya buka mata kamu sayang, 2 menit atau 2 jam?" bisik seseorang tepat di telingaku. Aku membalikan tubuhku dengan cepat. Ku buka mataku perlahan. Alan? Sejak kapan dia pulang. Alan juga sudah terlihat lebih segar dan memakai baju santai.

"Ck, jangan ganggu Ara tidur." ucapku memeluknya. Aku menenggelamkan wajahku di dadanya. Aroma sabun menyeruak masuk di hidungku.

"Wangi, Ara suka." ucapku menghirup aroma tubuh Alan sepuasnya.

"Tapi sayang, istri cantikku ini sangat bau." ucapnya. Enak saja dia bilang aku bau. Mana pernah si cantik Ara ini bau. Aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya. Ku manyunkan bibirku sedikit.

"Jangan cemberut seperti itu, nanti aku bisa khilaf." ucapnya menyetuh bibirku.

"Biarin." ucapku kembali memejamkan mataku. Aku masih sangat mengantuk.

"Ck, jangan tidur lagi. Ini sudah hampir magrib." ucapnya menarik pipiku. Aku langsung meringis kesakitan.

"Sakit Alan, kalau pipi Ara bengkak gimana?" rengekku langsung bangun. Aku mengelus pipiku dengan lembut.

"Ck, jangan cengeng. Sana mandi. Bau tahu." ucapnya sambil menutup hidung. Ish, kesel banget kan? Aku bangun dengan perasaan kesal. Ku hentakkan kaki beberapa kali, biar dia tahu kalau aku sedang marah.

Selesai mandi dan berganti pakaian. Aku langsung menyambar mukena milikku. Ku lihat Alan sudah duduk diatas sejadah.

"Iqomah." ucapnya tanpa melihat kearahku. Aku pun mengikuti perkataannya. Setelah selesai solat, aku pun kembali naik keatas kasur. Memang kondisi tubuhku belum normal. Masih sangat lemas dan sering pusing.

"Makan, setelah itu minum obat." ucap Alan duduk disebelahku.

"Suapin ya? Kan makan dari tangan organ lain itu lebih enak." ucapku tersenyum. Ku tarik tangan Alan dan meletakkannya di pipiku.

"Iya manja, bangun." ucapnya manarik tanganku.

"Kalau makan aja gak minum obat?" tanyaku ingin tahu seperti apa reaksinya. Alan menatapku dan mendekatkan wajahnya.

"Aku akan memaksa kamu untuk meminumnya." bisisknya. Ck, aku kira dia akan menangtakan. 'Boleh sayang, asal kamu makan yang banyak.' ternyata aku salah. Aku paling malas yang namanya minum obat. Rasanya yang pahit membuat aku sulit menelannya.

"Pahit Alan, lengket tahu di lidah. Kamu kan tahu sendiri aku susah nelennya. Apa lagi obatnya gede banget." rengekku menggoyangkan tanganya.

"Jangan manja sayang, gimana mau punya anak. Minum obat aja pake merengek segala. Sekarang kamu makan."

Apa? Anak? Kenapa Alan jadi bahas kesitu sih. Aku kan jadi malu. Huaa...pasti pipiku merona deh. Aku menutup kedua pipiku. Jangan sampai Alan melihatnya, aku kan malu.

"Kenapa?" tanyanya. Aku langsung menggeleng.

"Sudah jangan banyak tingkah, buka mulut kamu. Kamu harus sembuh." ucapnya mulai menyuapiku. Kenapa rasanya sangat aneh.

"Alan, makanannya gak enak. Ada pahit-pahitnya. Ara mau makan bubur aja. Ini pahit." ucapku sambil mendorong nasi yang Alan pegang.

"Kamu masih belum sembuh, normal jika mulut kamu pahit. Salah kamu sendiri tidak makan dua hari. Tubuh kamu butuh nutrisi Ara." ucapnya menatapku tajam. Kenapa dia memarahiku? Aku langsung menunduk karena mataku mulai memanas.

"Siapa suruh Alan pergi. Ara kan khawatir, Ara juga terus kepikiran. Ara..." belum selesai aku bicara, Alan sudah terlebih dahulu memelukku.

"Maaf, aku tidak ada maksud untuk membuat kamu khawatir. Aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaanku dengan cepat. Lusa kita akan pergi kesuatu tempat. Semoga kamu senang." ujarnya. Aku langsung mendorongnya dan menatapnya lekat.

"Pergi? Kemana? Honeymoon?" tanyaku dengan penuh semangat. Ya, siapa tahu aja beneran honeymoon. Selama ini Alan tidak pernah membahas masalah honeymoon. Huaaaaaaa... Jika itu benar, aku sangat senang.

"Bukan honeymoon, cuma liburan. Aku ingin menghabiskan waktu berdua bersama istriku yang manja." ucapnya mencubit hidungku. Ada sedikit rasa kecewa. Tapi tak jadi masalah. Asalkan hanya kita berdua, aku akan sangat bahagia.

"Kemana?" tanyaku sambil menaikkan sebelah alis ku.

"Suatu tempat, nanti juga kamu akan tahu. Rencana besok kita pergi, tapi melihat kondisi kamu seperti ini. Aku undur satu hari. Tapi kalau.. "

"Ara udah sehat kok. Akkkk, Ara mau makan lagi. Terus minum obat." potongku, aku tahu apa yang akan Alan bicarakan. Aku tidak mau kondisiku menghancurkan segalanya. Ku buka mulutku agar Alan kembali menyuapiku.

"Dasar." ucapnya mengusap kepalaku. Lalu ia pun menyuapiku dengan begitu sabar. Karena rasanya pahit, jadi aku sedikit sulit untuk menelan.

"Sudah, Ara sudah kenyang." ucapku mengambil air minum. Alan meletakkan piring diatas nampan dan mengambil beberapa butir obat. Hih, aku merinding melihatnya.

"Buka mulut kamu lebar-lebar." ucapnya. Demi liburan, aku akan melakukan apapun. Ku tutup mataku dan ku buka mulutku lebar-lebar.

"Tunggu!" ucapku karena belum siap. Aku menarik napas dalam-dalam.

" Ara bisa minum sendiri." ucapku mengambil obat di tangan Alan. Dengan susah payah aku menelan semua obat. Hoek, pahit banget. Ku teguk air putih hingga tandas. Napasku memburu tak menentu.

"Lihat, jika ada keinginan pasti ada jalan." ucap Alan menyapu bibir ku. Aku hanya bisa tersenyum.

"Aku keluar dulu sebentar." ucapnya hendak bangun, namun dengan cepat aku tahan.

"Mau kemana? Jangan tinggalin Ara." ucapku menatapnya lekat. Alan terlihat membuang napas begitu dalam. Tangannya terulur untuk menyetuh kepalaku.

"Hanya ingin menaruh ini sayang." ucapnya menunjuk nampan. Ah, aku kira dia mau pergi lagi. Aku pun mengangguk.

"Jangan lama." ucapku saat Alan hendak keluar. Alan tersenyum dan mengangguk.

Huh, aku harap kedepannya tak ada lagi masalah diantara kami. Tak ada lagi kata perpisahan. Aku tidak sanggup jika jauh-jauh darinya.

Ting! Suara ponsel Alan pun berbunyi. Aku mengambilnya karena kebetulan tak jauh diriku.

Jihan! Kenapa dia mengirim pesan? Apa jangan-jangan...

Ceklek! Aku sangat tekejut dan meletakkan kembali hp Alan ditempat semula. Aku tersenyum saat Alan memberiku tatapan aneh.

"Ada apa?" tanyanya duduk disebelahku. Aku menggeleng. Alan terus menatapku, lalu ia mengambil ponselnya. Aku memalingkan wajahku. Cukup lama kami terdiam. Alan juga masih sibuk dengan ponselnya. Ck, pasti sedang membalas pesan Jihan. Bikin kesal aja. Kalau ada istri disebelah kenapa harus ada orang ketiga sih?

Ku remas selimut dengan kuat. Rasa kesal pun terus menyelimuti hatiku.

"Ara ngantuk, kalau sudah isya tolong bangunkan." ucapku langsung tidur membelakanginya. Ku dengar suara Alan menghela napas. Aku tidak perduli, saat ini aku sedang kesal.

Ku tutup mataku dan kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Namun tak lama Alan menarik selimut dan melingkarkan tanganya di perutku. Aku juga bisa merasakan hembusan napasnya di telingaku.

"Kamu marah? Karena pesan Jihan?" bisiknya ditelingaku. Dengan cepat aku membalikan tubuhku.

"Jahat... Jahat... Jahat... " ku pukul dadanya sekuat tenaga. Aku sangat kesal padanya. Kejadian di depan gerbang kampus pun kembali ku ingat. Bagaimana bisa dia menjemput orang lain, sedangkan istri sendiri diabaikan.

"Kamu lebih peduli pada Jihan dari pada istri kamu sendiri. Kamu jemput dia, sedangkan aku? Kamu sama sekali tak peduli. Kamu kira aku gak lihat apa? Keterlaluan!"

Aku mengeluarkan semua unek-unek dalam hatiku. Alan menarikku kedalam dekapannya. Aku terus meronta dan memukulnya. Saat ini aku ingin memukulnya sampai puas.

"Maaf sayang, kamu salah faham." ucapnya menahan tanganku. Aku menangis sejadi-jadinya.

"Alan jahat." ucapku memeluknya dengan erat. Kini baju Alan sudah basah karena air mataku.

"Maaf, kamu salah faham sayang. Kemarin itu aku sengaja menjemput Jihan karena dia harus segera menyelesaikan pemotretan. Dan, aku juga meminta saran darinya untuk membeli ini." ujarnya sambil mengelurkan sebuah kado. Aku menatapnya bingung. Kapan Alan membelinya dan...

"Hadiah kecil, semoga kamu menyukainya." sambungnya. Aku menerima hadiah itu dengan ragu.

"Bukalah, memang tidak ada yang spesial. Tapi aku harap kamu menyukainya."

Aku menatap Alan. Lalu aku membuka perlahan isi kadonya. Masyaallah, sebuah gaun yang sangat cantik. Aku menatap Alan lekat. Jadi aku sudah salah sangka lagi padanya. Aku langsung memeluknya.

"Maaf, Ara sudah berburuk sangka sama Alan." ucapku kembali menangis. Ku rasakan Alan mengecup kepalaku.

"Aku mengerti, aku yang seharusnya minta maaf. Maaf sudah mengabaikan kamu, maaf sudah membuat kamu sakit dan maaf selalu membuat kamu menangis. Tapi jujur, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Jihan. Hanya sebatas teman dan rekan kerja." ucapnya menangkup wajahku. Aku mengangguk . Ku tarik tangannya dan ku cium dengan lembut. Aku yang seharusnya minta maaf, aku begitu sering membuat Alan susah.

"Alan, Ara minta maaf. Selama ini, Ara selalu membuat Alan susah. Ara bukan istri yang baik buat Alan. Ara minta maaf." ucapku sesegukan. Aku tidak bisa menahan perasaanku lagi.

"Sudah lah, jangan menangis terus." ucapnya memelukku. Tapi air mataku tak juga mau berhenti keluar.

"Alan, air mata Ara gak mau berhenti keluar." ucapku sambil menghapus air mataku. Dadaku juga terasa sesak karena hidung tersumbat. Alan tertawa dan membantu menghapus air mataku.

"Makanya jangan suka menangis, masih untung air matanya gak kering." ucapnya. Aku tersenyum malu. Memang benar apa kata Alan, aku sangat cengeng.

"Sudah isya, kita solat dulu. Setelah itu istirahat, jangan menangis lagi." ucapnya, aku mengangguk pelan. Tapi, kenapa air mataku masih tak mau berhenti sih? Hiks, bagaimana ini?

1
Lazna El Hanan Az-zarkasyi
Luar biasa
Lazna El Hanan Az-zarkasyi
lebih suka papa Arnold dari pada arham, Arnold aja masih bisa nerima Alan padahal dia jelas di selingkuhin, sampe hamil pula, lah si arham dari jaman dulu pikirannya cetek, selalu gitu, berarti dia gak bisa move on
Lazna El Hanan Az-zarkasyi
semua penderitaan (Dara, Nisa, Hilda, sama mama kandung nya Alan) titiknya ada karena si Bayu
Ayu galih wulandari
Semangat & sukses ya kak...👍👍👍😍😍😍
Ayu galih wulandari
Selamat kak author cerita ini sunggh2 luar biasa ...maafff kaeuun daku baru bacavlg ...bokehndoong request untk kelanjutan inincerita anak2 mereka sampai besar ...🤗🤗😘😘😘😘 mkc kak 🙏🏼🙏🏼
Ayu galih wulandari
Jafi penadaran aqu thor lanjuut dech
Ayu galih wulandari
Bahagua sll Ara ya bumil lagi ,bahagua sll Arlan yg mau jd Abi 😘😘😘😘
Ayu galih wulandari
Visualnya keyeen keyeen...mic kak author😘😘😘😘😘
Ayu galih wulandari
Aqu sedih banget pas part ini 😔😔
Ayu galih wulandari
Bagus banget alur ceritanya kak author😍😍😍
Ayu galih wulandari
MadyaaALLOH Vidual Alan sm Ara daoat cucok syantik wajah lembut mata teduh ,senyumannya semua indah seperti bidadari ,Alan yg cool ,tampan , wajahnya jg teduh banget..😍😍😍😍😍
Ayu galih wulandari
Lanjuuut kak 😍😍😍
Ayu galih wulandari
Bagus. banget ceritanya dr awal season ke 1 spai season ke 2😍😍😍😍
Ayu galih wulandari
Teadisi turun temurun terkadang susah di terima krn sdh ada dr dl ,semoga Alan & Ara sll bersama .😍😍😍😍
Ayu galih wulandari
Lanjuuut kak...maafff aqu baru merapat lagii...hpku agak eror InShaaALLOH skrg & setrusnya baik baik aja ..😘😘😘
Ayu galih wulandari
Bagus banget alur ceritanya dr season ke 1 sampai season ke 2 ...SEMANGAT KAK AUTHOR..😘😘😘😘😘
Hr sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻
My dream
gercep juga kak' author sat set , agak laen emang 🤭😁
My dream
next lanjuuut.... 💪 kak' author ❤️
Berkah Kafa Jaya
Alur Ceritanya banyak kejutan tdk Horor🤩🌟🌟🌟🤩menghibur Mak2 yg lagi Galau dari pd Ngrumpiin Org mending gabung ma Kak Thor desih nurani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!