Dijodohkan dari sebelum lahir, dan bertemu tunangan ketika masih di bangku SMA. Aishwa Ulfiana putri, harus menikah dengan Halim Arya Pratama yang memiliki usia 10tahun lebih tua darinya.
Ais seorang gadis yang bersifat urakan, sering bertengkar dan bahkan begitu senang ikut tawuran bersama para lelaki sahabatnya.
Sedangkan Halim sendiri, seorang pria dingin yang selalu berpembawaan tenang. Ia mau tak mau menuruti permintaan Sang Papi.
Bagaimana jika mereka bersatu? Akankah kehangatan Ais dapat mencairkan sang pria salju?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di cium, jangan di tonyor.
"Assalamualaikum..." ucap Nisa, yang telah sampai di kediaman Ais..
"Hey, Nisa. Masuk sini." ajak Ais, dengan menggandeng lengannya.
"Lah, belajarnya dimana?"
"Dikamarlah, kayak biasa." jawab Ais.
"Beda, Ais. Mulai sekarang, Kamu ngga boleh asal masukin temen ke kamar. Itu tempat privasi kamu sama Kak Lim."
"Oh, iya. Lupa kalau udah nikah. Yaudah, belajar di ruang tv aja."
Ais melepas genggamannya. Ia berlari ke atas untuk mengambil beberapa buku dan perlengkapan belajar agama. Sedangkan Nisa, duduk santai di lantai ruang tv. Ada sofa yang nyaman, tapi lebih nyaman ketika kaki bersila di depan meja.
" Orang kaya. Bentaran aja udah beres semua. Padahal, baru kemarin pesta dan berantakan banget." gumam Nisa, yang menatap seisi ruangan telah rapi dan sempurna.
"Nona, temen Ais?" tanya Sapa Pak Wil.
"Iya, Om... Saya Nisa, sahabat Ais."
"Saya, kamu panggil Om? Lucu juga." tawa Pak Wil dalam hati.
Ais pun turun dengan perlengkapannya. Menggunakan sebuah mukenah cantik, mahar dari Lim untuknya.
"Barang mahal nih." lirik Nisa.
"Ngga tahu. Mas kawin kemaren." jawab Ais.
Nisa pun memulai pelajaran. Untuk mengaji, Ais masih bisa meski terbata dan banyak lupa. Tapi untuk shalat, Ia benar-benar buta. Sang Mama bukan tak ingin mengajari. Tapi sebagai seorang single parents, yang memang semua serba sendiri, dengan segala keterbatasannya. Ia bahkan nyaris tak sempat memperhatikan Ais sebagaimana mestinya.
Hafalan demi hafalan Ais kejar. Demi sebuah nilai kelulusan, karena itu yang ada dalam fikiran Ais saat ini.
"Setelah kelulusan, kita jenguk Mama." janji Lim, ketika mereka pulang dati halte bus waktu itu. Dan itu, yang membuat Ais begitu bersemangat.
"Ayo Ais, masa begitu ngga hafal-hafal juga." tegur Nisa yang mulai lelah. Bahkan, sebuah penggaris Ia genggam di tangannya
"Ini panjang banget, mana arab semua. Kepleset mulu bibir gue." sergah Ais.
"Astaghfirullah. Ya Allah, buka kan lah isi hati sahabatku. Semoga saja, ada malaikat yang dapat merubahnya hingga menjadi wanita yang cantik, manis, dan salehah." Ucap Nisa dalam Doanya..
Suara mobil terdengar memasuki halaman rumah. Hati Nisa langsung bergetar. Serasa, semua kekesalannya hilang seketika. Membayangkan datangnya Dimas dan Lim berdua, memasuki rumah dengan gagahnya.
Dan benar saja, mereka masuk berdua. Berdampingan dengan wajah lelah masing-masing.
"Masya Allah." lirih Nisa, seolah lupa dengan Ais yang tengah belajar dan bersujud hingga ketiduran.
"Loh, ini kenapa? Ais? Kok diem begini?"
Kekagetan itu mengagetkan. Lim dan Dimas akhirnye menoleh penuh tanya.
"Nisa, Ais kenapa?" tanya Lim.
"Ini, kok diem aja. Nisa lupa, kalau dia lagi belajar hafalan shalat. Tapi, kelamaan sujud."
Lim berlari, menghampiri sang istri. Ia langsung meraih tubuh mungil itu dan membaliknya.
"Ais, kamu kenapa?" tanya Lim yang tampak khawatir.
Ia mendekatkan telinga di hidung dan mulut Ais. Berusaha menganalisa apa yang terjadi padanya.
"Haish, tukang tidur." ucap Lim, lalu menjatuhkan tubuh Ais di lantai.
"Aaaakkhhh... Aku kenapa? Dimana?"
"Bisa-bisanya, lagi belajar shalat ketiduran waktu sujud." tegur Lim, menatapnya dengan wajah datar dan kesal.
"Hah, ketiduran? Ini, semua salah Nisa." tunjuk Ais.
"Kok aku?"
"Iya, kamu pasti terlalu lama menatapnya, sehinga aku terabaikan. Ngaku loe." tukas Ais.
Tukkk! Jari telunjuk Lim mendarat di dahi Ais. Setelah itu, Ia pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada istrinya itu.
"Tonyor... Tonyooor... Cium kek. Biar makin pinter gitu." omel Ais.
biar je...