Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasanmu
Kini ketiganya duduk di meja yang sama. Bukan sebagai sahabat, namun sebagai korban perselingkuhan dan pengkhianat. Laura masih menunjukan raut wajah yang penuh amarah. Sementara Mona menekuk wajahnya, tertunduk malu dengan perbuatan yang telah di ketahui oleh sahabatnya sendiri.
Dave, biang dari kekacauan ini. Terlihat kikuk dan bingung untuk menjelaskan semuanya dari awal.
Waktu terus berjalan, namun ketiganya masih sama-sama diam. Laura tiba-tiba tertawa sinis melihat Mona yang memakai gaun tidur miliknya.
"Ya, ternyata sifat tidak tahu malu itu menjalar sampai ke hal-hal yang kecil," sindir Laura yang di sadari oleh Mona.
Mona pun semakin tertunduk malu dan tak sanggup menatap wajah wanita di hadapannya.
"Bicaralah, kenapa kalian diam saja seolah aku di sini yang salah? Katakan, kapan kau akan menceraikan ku Dave?" Tanya Laura yang membuat Dave dan Mona menunjukan reaksi berbeda.
"Sayang, aku tak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun. Jangan pernah bicarakan hal yang mustahil," jawab Dave yang membuat Laura tertawa sinis.
"Tapi aku tidak mau jika terus di duakan, aku tak pantas untuk di khianati olehmu Dave. Ingatlah, aku putri dari keluarga Wijaya," tegas Laura yang menyatakan jika dirinya tak ingin di duakan.
"Laura, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Aku dan Dave menjalin hubungan karena janjinya pada mendiang ibuku," ucap Mona membela perbuatan dirinya. Yang juga di angguki oleh Dave.
Laura diam saja tak menanggapi ucapan Mona. Dia meneguk teh miliknya dan menikmati kue yang dia beli dari luar kota.
"Laura, sampai kapanpun posisimu tak akan pernah terganti. Aku menikahinya karena sudah berjanji pada mendiang ibunya... "
"Menikah? Bahkan kalian sudah menikah? Oh, hebat sekali. Aku telah di tipu oleh kedua sahabatku sendiri. Dan menjadi orang paling bodoh. Katakan saja jika kalian sudah menjalin hubungan sejak kuliah, dan akulah orang ketiga antara hubungan kalian," ucap Laura sambil melemparkan beberapa lembar foto dan juga sebuah surat tulisan tangan Mona. Tak lupa test kehamilan yang menunjukan garis dua.
Dave dan Mona tak bisa berkutik setelah melihat bukti yang terpampang nyata di hadapannya. Laura pun mengeluarkan dokumen yang sudah di tanda tangani oleh Dave dan membacakannya dengan lantang.
"Jika terjadi ingkar janji atau pun pengkhianatan, maka ganti rugi sebanyak dua kali lipat uang yang telah di pinjam. Itu artinya kau harus membayar empat milyar atas hutangmu empat tahun lalu. Dan juga seluruh aset beserta kepemilikan rumah jatuh kepada nama di bawah ini. Ya, rumah ini sekarang milikku. Dan aku berhak mengusir kalian berdua dari sini," ucap Laura yang membuat Dave berlutut di hadapannya.
"Tidak, aku tak bisa melakukan itu. Berapa kali lipat aku harus membayar hutang ku, asalkan kita tak bercerai."
"Ya sudah, bayar sekarang hutangmu. Transfer ke rekening ku, sekarang juga," tantang Laura yang di sanggupi oleh Dave.
Uang sebesar lima milyar kini masuk ke rekening Laura. Dia pun tersenyum sinis dan menatap Dave dengan angkuh sambil melipat tangan di dada.
"Kau sanggup membayarnya setelah perselingkuhanmu terbongkar. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang ingin ku tanyakan. Apa kau akan menjamin menghabiskan waktu bersamaku sampai akhir hidupmu? Apa kau rela meninggalkan Mona dan memilih bersamaku?"
Dave terdiam, pertanyaan kali ini seperti jebakan yang akan mempertaruhkan rumah tangganya.
***
Laura berbaring di atas kasurnya, setelah mengusir Dave dan Mona dari rumahnya. Begitu pun Larissa yang di bawa oleh dua orang tersebut.
Mata sembab dan isak tangis yang masih tersisa, membuatnya tak dapat memejamkan mata. Apalagi mendengar jawaban Dave dari pertanyaan terakhir yang Laura ajukan, semakin menguatkan dirinya untuk memilih berpisah.
Sementara itu, Mona di tempatkan di apartemen bersama Larissa. Dave tak akan tinggal bersama mereka dan memilih untuk pulang ke rumah neneknya.
"Om! Om Randi!" Teriaknya memanggil Randi yang tengah tertidur lelap.
Randi yang terbangun, mengenali suara itu dan segera menghampirinya.
"David, tak baik berteriak di malam hari dan mengganggu orang yang tertidur!"
"Apa yang sudah paman lakukan? Bagaimana bisa Laura melihat rekaman CCTV antara aku dan Mona? Apa paman sengaja menyimpan kamera di kamar itu?"
Dave berteriak dengan penuh amarah sembari menggenggam kerah piyama Randi.
"Tenanglah, ada apa denganmu? Salahmu sendiri yang telah berbuat nakal di belakang istrimu. Kenapa sekarang menyalahkanku atas kesalahan yang kau perbuat?" Cecar Randi sambil menunjuk ke arah Dave.
Dave yang kehilangan kesabaran berteriak dengan penuh amarah. Pria yang di kenal lemah lembut oleh semua orang, kini menunjukan perangainya.
"Aku tak akan pernah menceraikan Laura. Dia adalah wanita yang sempurna sebagai istri dari putra keluarga Kusuma. Tapi dia malah memintaku menjauh darinya," ucap Dave yang terlihat linglung karena kemarahan Laura.
"Lalu Mona, bagaimana dengan wanita itu? Kau pun mencintainya kan? Karena jika tidak, tak mungkin hubunganmu bertahan hingga sekarang," cecar Randi yang membuat Dave semakin bingung.
"Dia adalah wanita menyenangkan yang bisa menghiburku. Dia tak kaku seperti Laura, dia seolah pelengkap yang tak bisa ku abaikan. Dan dia juga... ibu dari putriku."
Randi semakin terkejut dan kesal mendengar pengakuan keponakannya. Pria yang usianya hanya berjarak tujuh tahun dengan Dave itu, tak ingin lagi mendengar hal lain yang lebih mengejutkan.
"Pergilah, urus masalahmu sendiri brengsek!"
Randi pergi ke kamarnya, membiarkan Dave yang sedang kebingungan mencari solusi atas permasalahan. Dia tak mungkin menceraikan Laura, wanita nyaris sempurna yang menjadi kebanggaan keluarga Wijaya dan Kusuma.
Sedangkan Mona, wanita selalu ada untuk menghiburnya. Mengajarkan kesederhanaan dan juga ketenangan dari sikapnya.
Kedua wanita dengan sikap yang berbeda, seolah memenuhi egonya sebagai pria. Namun perasaannya pada Laura, tak hanya sekedar cinta. Namun juga obsesi yang membuatnya seolah gila jika jauh darinya.
Sedangkan perasaannya pada Mona, hanya sebatas rasa kasihan dan juga nyaman. Apalagi mereka sudah menjalin hubungan beberapa tahun sebelum akhirnya Dave memilih menikahi Laura.
"Aku tak bisa melepaskan keduanya. Aku sangat mencintai Laura, tapi aku tak bisa mengkhianati janjiku pada ibunya Mona," gumam Dave yang semakin bingung mencari jalan keluar.
Dia pun berbaring di atas sofa, dan mencoba memejamkan mata. Seketika bayangan Laura menghantui pikirannya. Wajahnya yang cantik, senyum manisnya dan juga tatapannya yang tajam seolah tertanam di benaknya. Namun seketika bayangan Mona yang menangis di pusara sang ibu, membuat Dave kembali terbangun.
"Arrgghhh, aku bisa gila jika terus seperti ini. Aku harus membuat rencana, agar Laura bisa memaafkanku dan kita bisa kembali bersama. Laura, tak kubiarkan kau pergi dari hidupku," gumam Dave sambil memikirkan rencana untuk mendapat pengampunan dari Laura.
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣