Parasit sering dipakai sebagai kata kiasan pengambaran : *Cara Hidup Seseorang*
Sebagaimana kisah yang terjadi dalam kehidupan Ambar Kirania, seorang Ibu muda bersama Rulof Kardasa, seorang Pejabat ASN. Begitu juga dengan Mathias Naresh, Pengacara muda bersama Angel Chantika, seorang calon model.
》Apakah mereka mampu hidup bersama parasit, atau tenggelam dan dihancurkan oleh para parasit?
》Ini adalah kisah orang-orang yang bertahan dan berjuang saat berada dalam lingkaran Manusia Parasit.
🙏🏻Yuuuukk., mari baca karya keduaku.♡
🙏🏻Semoga tidak berada dalam lingkaran ini.♡
Selamat Membaca.
❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Serangan
...~•Happy Reading•~...
Sebelum Magrib, Ambar tiba di depan rumah. Ketika melihat Ambar turun dari ojol, keluarga Rulof yang sedang menunggu segera mendekat sebelum Ambar masuk ke dalam rumah. Mereka khawatir, jika Ambar sudah masuk tidak akan membuka pagar untuk mereka.
"Astagaaa... Kalian bikin kaget." Ambar memegang dada melihat keluarga Rulof mendekatinya.
Ambar membuka pagar, langsung mereka menerobos masuk. Hal itu membuat Ambar tertegun di depan pagar. Dia menarik nafas panjang dan memegang dada, lalu mengikuti mereka masuk ke dalam rumah.
Ketika Seni melihat mereka masuk, dia tau nyonyanya sudah pulang. Dia mengambil air mineral hangat dan berikan kepada Ambar. "T'rima kasih, Seni." Ambar meneguk air tersebut perlahan dan mencoba bersikap tenang.
"Seni, kau tidak berikan kami minuman?" Tanya Mama Rulof, karena Seni hanya melayani Ambar.
"Ibu mau minum air mineral panas atau dingin?" Tanya Seni agar beradu mulut dengan keluarga majikannya.
"Kami mau teh manis panas." Mama Rulof berkata dengan suara tegas.
"Kalau itu, saya tidak bisa sediakan, Bu. Yang ada hanya air mineral panas atau dingin." Ucap Seni sambil berdiri menanti.
Akhirnya mereka menyerah, meminta air mineral hangat. Ambar tidak masuk ke kamar untuk membersihkan tubuh. Dia langsung duduk di ruang tamu untuk berbicara dengan keluarga Rulof.
"Silahkan bicara Kak Inge. Apa yang kalian ingin bicarakan dengan saya, sampai menunggu begitu lama." Ambar melihat Inge dan tidak mau melihat yang lain, karena wajah mereka seperti orang lapar yang ingin memakannya. Hal itu membuatnya bergidik.
"Sebelum Inge menjawab, apakah benar kau baru pulang kerja? atau kau habis pergi bersenang-senang, karna suamimu sudah meninggal?" Mama Rulof menatap curiga.
"Saya pergi bersenang-senang mencari makan untuk keluarga. Jadi, kalau Mama hanya perlu jawaban itu, ngga usah tunggu saya pulang. Tadi Kak Inge bisa bertanya waktu telpon." Jawab Ambar asal, karena sedang lelah tetapi ditanya hal yang sudah jelas.
"Kau sekarang tidak menghormati saya? Saya ini mertuamu." Mama Rulof mulai kesal. 'Sekarang bilang mertua. Kemarenan bermesraan dengan wanita mantueernya.' Ambar membatin.
"Saya ini sedang lelah, Ma. Jadi katakan maksud kalian, saya mau istirahat." Ambar berusaha bicara sopan dan sabar.
"Begini, Mama mau pulang ke Makassar, jadi kami mau minta bagian dari warisan yang dijanjikan Rulof." Inge berkata setelah diberikan kode oleh suaminya.
"Warisan? Kalian mau mengusir kami dari rumah ini?" Ambar terkejut mendengar permintaan Inge. Bagi Ambar, rumah yang ditempatinya adalah warisan dari Rulof.
"Bukan itu, kami tahu Rulof memiliki beberapa bidang tanah dan juga tabungan di bank. Jadi berikan bagian yang dijanjikan Rulof untuk kami, sebelum Mama pulang ke Makassar." Ucap Inge.
"Waaah.., syukur kalau begitu. Tolong Kak Inge tunjukan beberapa bidang tanah dan tabungan Mas Rulof itu kepada saya. Setelah itu, baru kita bicarakan lagi." Ambar berkata serius.
"Sebelum Kak Inge bisa tunjukan itu, saya berharap Kak Inge jangan datang mengganggu keluarga ini. Saya sedang berusaha mencari makan untuk anak saya." Ambar mencoba tenang.
"Kau jangan berpura-pura tidak tahu. Kau istrinya masa tidak tahu." Richo memprovokasi.
"Naah, itu. Saya istrinya tidak tahu, sedangkan kalian tahu. Semoga Mas Rulof bisa tersenyum senang melihat ini." Ucap Ambar, pahit.
"Jangan kau mengalihkan pembicaraan. Kami tahu, kau hanya berpura-pura." Ucap Inge menegaskan.
"Terserah kalian mau bilang pura-pura atau kura-kura. Sekarang silahkan kalian tinggalkan rumah ini. Nanti kembali lagi menjemput saya untuk pergi lihat tanah-tanah yang ditinggalkan Mas Rulof itu." Ucap Ambar langsung berdiri.
Mereka keluar dari rumah dengan kesal, tetapi Richo membisikan sesuatu kepada Inge. "Tiara, pergi ke dapur ambil kantong plastik." Ucap Inge, dan Tiara menurut saja tanpa mengerti maksudnya.
kemudian Inge ke rak sepatu. Dia mengambil semua sepatu dan sandal Rulof yang berharga mahal sampai yang murah dan memasukan ke dalam tas yang diambil Tiara.
Ambar hanya melihatnya tanpa berkomentar, ketika Tiara kembali ke dapur untuk mengambil tas lagi. Ambar hanya menginginkan mereka segera meninggalkan rumahnya.
"Ambar, kami mau bawa baju-baju Rulof juga." Ucap Inge lagi, karena telah dibisiki oleh suaminya.
"Nanti saat kalian datang menjemput saya untuk melihat tanah, baru kalian membawa baju-bajunya." Ambar yang sudah tidak sabar melihat kelakuan keluarga Rulof dan ingin beristirahat.
Setelah keluarga Rulof telah meninggalkan rumahnya, Ambar segera menutup pintu pagar lalu masuk ke rumah. Dia menutup pintu rumah sambil bersandar di pintu dengan memegang dadanya.
"Ibu tidak apa-apa?" Tanya Seni yang baru turun dari kamar Juha.
"Iya, Seni. Saya mandi dulu, jangan sampai Juha turun." Ambar segera masuk ke kamarnya.
Setelah selesai mandi, Ambar masuk ke dapur untuk mencari Seni. "Seni, ada yang bisa kita makan?" Tanya Ambar, karena sudah merasa lapar.
"Ada Bu, tadi saya sudah masak untuk makan siang dan masih ada untuk makan malam." Seni menjelaskan.
"Kalau begitu, tolong siapkan, ya. Saya mau ke kamar Juha." Ambar beranjak naik ke kamar Juha. Ambar selalu memberikan uang untuk Seni membeli bahan makanan bagi mereka bertiga.
Ambar masih memiliki uang dari gajinya untuk keperluan hari-hari. Sedangkan uang hasil penjualan perhiasan yang didepositokan belum bisa dicairkan. Dengan kelakuan keluarga Rulof, Ambar makin tidak mau mencairkan. 'Bagaimana dengan masa depan anakku.' Ambar membatin sambil turun bersama Juha.
"Juha, berdoa lalu makan. Nanti kita bicara di kamar, ya. Malam ini Mama akan tidur dengan Juha." Ambar ingin menyenangkan putranya. Juha mengangguk senang.
Mereka bertiga makan dengan hati yang sedikit lega. "Bu, tadi ketika mereka masuk, saya was-was Ibu Inge ke dapur untuk cari makan seperti biasanya. Sedangkan ada makanan ini di lemari." Seni jadi tersenyum mengingat rasa cemasnya.
"Ibu tadi juga sudah pasrah, ketika mereka serobot masuk. Ibu sudah berpikir, kita akan makan roti untuk sarapan besok." Ambar menggelengkan kepalanya.
Semua kebutuhan sehari-hari selama sebulanan yang telah dibeli Rulof, sudah habis sebelum akhir bulan, bahkan pertengahan bulan. Karena Inge sering datang ke rumah dan membawa yang sudah dibeli Rulof.
Ambar biarkan saja Inge membawanya, karena dia berpikir Rulof akan mengisi lagi sebagai gantinya. Ternyata sebelum diisi, Rulof keburu meninggal. Maka semua kebutuhan mereka tidak bersisa, kosong.
"Juha, dulian ke kamar. Nanti Mama menyusul, ya. Mama bantu Mba Seni dulu." Ambar melihat Seni mau menyampaikan sesuatu tetapi ragu-ragu. Juha mengangguk, setelah cuci tangan lalu naik ke kamarnya.
"Bu, apakah bapak sakit karna kelakuan keluarganya itu." Tanya Seni pelan dan ragu-ragu.
"Kenapa kau berkata begitu?" Tanya Ambar, mengingat dia belum bicara dan menanyakan tentang peristiwa sakitnya Rulof kepada Seni.
"Begini Bu, hari itu bapak bangun pagi sudah mandi dan rapi mau ke kantor. Ketika mau sarapan, saya hanya memberikan air mineral dan roti yang Ibu tinggalkan untuk Juha. Karna Juha tidak menghabiskan semua."
"Bapak bertanya, kenapa tidak membuat kopi untuknya dan saya bilang, kopinya sudah habis. Bapak langsung berdiri, memeriksa lemari dan kulkas. Bapak sangat terkejut, melihat semuanya kosong."
"Bapak tidak berkata apa-apa dan kembali duduk sarapan. Ketika bapak ambil tas kantor dan mau jalan keluar, tiba-tiba bapak memegang dadanya dan jatuh ke lantai." Cerita Seni.
"Padahal saya sudah sampaikan seperti yang Ibu katakan beberapa hari sebelumnya, bahwa kebutuhan rumah sudah mau habis. Tetapi sepertinya bapak tidak mendengar atau tidak mengingatnya." Ucap Seni lagi.
"Yaaa... Entahlah, Seni. Hanya Tuhan yang tahu. Kalau menurut dokter, ada pembuluh darahnya yang pecah karna jatuh itu." Ambar berdiri, tidak mau memikirkan atau menebak penyebab kematian Rulof.
...~●○♡○●~...