Kisah seorang gadis yang baru saja lulus SMA, namanya Dinda Kirana. Dari kecil ia di besarkan oleh sang nenek, karena orangtuanya meninggal yang disebabkan oleh kecelakaan. Selain nenek, ia juga memiliki kakak angkat yang bernama Anton.
Mereka tinggal bertiga, karena orangtuanya Anton juga meninggal karena kecelakaan bersama orangtuanya Dinda. Karena sudah 10 tahun lebih mereka tinggal bersama, Anton dan Dinda sudah seperti saudara kandung.
Tetapi, tiba-tiba sang nenek menjodohkan mereka. Awalnya mereka menentang perjodohan itu, tetapi karena sang nenek jatuh sakit. Akhirnya pernikahan mereka pun terlaksana.
Seperti apa kelanjutan ceritanya? Ikuti terus update setiap dan dukung Author dengan menekan hati yang berwarna biru. Biar gak ketinggalan keseruan mereka!
Terima Kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arry Hastanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semangat Dinda!
Rasa mual yang ia rasakan tidak seberapa dengan rasa sakit hatinya. Dinda hanya tertidur lemah di atas ranjang tanpa perhatian dari sang kakak. Tak ada semangat baginya, sebagian hidupnya sudah tidak berarti lagi. Meratapi nasib pun tak ada gunanya, bahkan penyesalan pun tak akan membalikkan semua harapannya.
Menangis hingga terkuras air matanya, masih tidak bisa menyembuhkan rasa sakitnya. Sehari, dua hari, tiga hari, Dinda tidak menjalankan Ibadah. Semakin terpuruk lah ia, hingga ia mendengar sebuah bisikan suara yang entah dari mana datangnya.
"Bangunlah! Kembali kepada Tuhanmu, maka kebahagiaan akan selalu menyelimutimu." Suara bisikan.
Dinda mengira bisikan itu adalah suara sang kakak, tetapi ketika ia membuka matanya, tak ada siapapun di dalam kamarnya, kecuali dirinya. Ia pun beranjak dari tidurnya, mengambil baju ganti di dalam lemari. Ia berniat untuk mandi, karena sudah tiga hari lamanya dia tidak mandi.
Ia keluar dari kamarnya, karena kamar mandinya berada di luar kamar. Dia mengguyur seluruh badannya dengan air hangat. Semangatnya serasa kembali setelah air menyentuh tubuhnya. Walaupun masih ada rasa kesedihan di hatinya.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Dinda menuruni anak tangga. Di lihatnya Anton dan Loren sedang bermesraan duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV. Kebetulan hari itu hari libur, jadi Anton dan Loren tidak pergi bekerja. Dinda tak memperdulikan keberadaan mereka, ia langsung menuju ke arah meja makan.
"Mbak Inah! Ada makanan apa?" Panggil Dinda yang merasa lapar.
"Eh.. Non Dinda! Akhirnya Non Dinda keluar dari kamar juga. Sebentar Non, aku siapin sarapan buat Non Dinda." Sahut Inah bersemangat.
Anton yang mendengar teriakkan Dinda pun langsung menoleh kebelakang. Matanya memandang Dinda penuh arti. Hatinya sangat merindukannya, tapi egonya sangat membencinya. Sehingga ia mengalihkan pandangannya ketika Dinda balik memandangnya.
Ada rasa benci di raut wajah Dinda, ia merasa sang kakak sudah membuatnya jatuh sedalam-dalamnya. Hingga ingin bangkit pun serasa susah untuk menggapai pengait. Biarpun hatinya benci, tapi ia tidak bisa menyimpan rasa dendam kepada sang kakak yang telah menyayanginya sebagai seorang adik selama sepuluh tahun terakhir.
"Ini Non, makan yang banyak ya! Aku dengar dari Den Anton, Non Dinda sedang hamil." Suruh Inah yang duduk di depan Dinda.
"Iya Mbak, padahal nenek ingin melihat aku hamil, tapi nenek malah meninggalkan kita hiks!" Sahut Dinda menangis.
"Sudah Non, jangan nangis lagi! Non Dinda makan dulu ya!" Kata Inah sambil mengelap air mata Dinda.
Setelah makanannya habis, Dinda naik ke kamarnya dengan di temani Inah. Padahal Loren melihat Dinda, tapi ia pura-pura tidak melihatnya. Malahan ia sengaja memeluk Anton dengan mesra, tujuannya agar Dinda cemburu. Tetapi pada kenyataannya, Dinda sama sekali tidak cemburu.
"Non! Non Dinda hamil kok Den Anton malah mesra-mesraan sama gadis yang gak punya sopan santun itu!" Celetuk Inah sambil merapikan tempat tidur Dinda.
"Biarin saja Mbak! Lagian aku sama kak Anton akan segera bercerai, nanti dia akan menikahi pacarnya." Sahut Dinda yang juga membantu Inah.
"Tapi Non, Non Dinda kan sedang hamil. Gak boleh atuh bercerai dalam Agama." Kata Inah memberitahu.
"Iya, Dinda tahu Mbak. Kita tunggu sampai aku lahiran." Sahut Dinda bersedih.
Ketika mereka sibuk bersih-bersih kamar, ponselnya Dinda berdering. Ia pun segera mengangkat panggilan itu. Ternyata Yuki lah yang menelponnya dan ia berencana untuk datang ke rumah Dinda. Sebenarnya Dinda belum memberi tahu Yuki kalau neneknya meninggal, karena baru hari ini Dinda mengaktifkan ponselnya.
*****
Sekitar 30 menitan, Yuki sampai di rumah Dinda. Ketika ia memasuki rumah Dinda, ia melihat Anton yang sedang bercanda dengan Loren. Raut wajah Yuki terlihat tidak senang, karena pria tampan yang ia sukai ternyata sudah punya kekasih. Yuki tidak tahu sebelumnya jika Anton punya pacar, karena Dinda tidak pernah bercerita tentang hal itu.
"Hai Kak, apa kabar?" Sapa Yuki kepada Anton.
"Kabar baik, Dinda ada di kamarnya!" Sahut Anton memberitahu Yuki.
Seperti biasa, jika Yuki datang kerumah Dinda, ia selalu mengobrol dengan Dinda di kamarnya. Jadi, ketika ia sampai, Setelah Yuki menyapa Anton dan Loren, kemudian ia langsung naik dan masuk ke kamar Dinda.
"Din, Kamu jahat banget sih! Nenek kamu meninggal tapi kamu tidak kasih tahu aku! Tadi aku di pertengahan jalan di beritahu Rizal kalau meninggal." Protes Yuki sambil memeluk Dinda.
"Maafin aku Yuk! Aku baru hari ini buka ponselku dan aku juga baru saja buka pesan-pesan darimu." Sahut Dinda yang mencoba untuk tegar.
Dinda mulai bercerita kepada Yuki tentang masalahnya. Bahkan ia bercerita tentang rahasia terbesarnya yang selama ini ia tutup-tutupi. Tentang pernikahan dan juga kehamilannya, tak terlupakan tentang sang kakak yang tidak mengakui bahwa janin yang ia kandung bukanlah anaknya.
Yuki terkejut dengan semua perkataan Dinda. Dia masih bingung, antara percaya dan tidak percaya. Tetapi semua terdengar jelas di telinganya, tidak mungkin Dinda mengarang cerita dalam keadaan seperti ini. Yuki tahu kalau Dinda suka bercanda, tetapi kali ini raut wajah Dinda sangat serius dan terlihat sedih.
"Katakan, kalau apa yang kamu ceritakan hanyalah candaan!" Suruh Yuki yang masih tak percaya.
"Kali ini aku tidak bercanda Yuk, semua ini benar-benar terjadi!" Sahut Dinda meyakinkan Yuki.
Yuki berdiri dari duduknya, hendak menghampiri Anton yang begitu tega kepada Dinda, tetapi Dinda melarangnya, karena dia tidak mau ada keributan. Apalagi Dinda tahu kalau sang kakak sangat mencintai Loren, dia tidak mau merusak hubungan mereka berdua. Lagi pula ia punya rencana untuk kebaikannya dan calon bayinya.
Mereka berdua pun berdiskusi tentang apa yang akan Dinda lakukan kedepannya. Yuki sebagai sahabat merasa bersalah, karena dia tidak bisa membantu banyak hal. Apalagi di usia Dinda yang masih belasan tahun, tetapi sudah memiliki beban masalah yang cukup rumit. Kehamilannya dan juga masa depannya.
Setelah berdiskusi panjang kali lebar kali tinggi, Dinda pun mengajak Yuki untuk pergi menemui Rizal. Dia butuh masukan dari Rizal tentang rencananya. Karena menurut Dinda, Rizal orang yang tepat untuk di ajak berdiskusi dan Dinda juga tidak mau jika rencananya nanti malah menyusahkan dirinya dan sang bayi.
"Kalian mau kemana?" Tanya Anton dengan nada dingin.
"Kita mau keluar sebentar Kak, kasihan Dinda butuh orang yang bisa ngertiin dia!" Jawab Yuki tak kalah dingin.
"Oh.. Kalian mau nemui ayah dari bayi yang kamu kandung? Oh.... Silahkan! Tuntut dia untuk bertanggungjawab!" Tanya Anton meledek.
Loren tersenyum sinis saat Anton meledek Dinda. Tetapi Dinda tidak memperdulikannya, ia dan Yuki segera keluar dari rumah tanpa memperdulikan mereka berdua.
"Dinda hamil!" Tanya Loren pura-pura terkejut.
"Iya dia hamil! Kamu inget waktu kamu sakit dan aku antar kamu ke rumah sakit. Saat itu Dinda pergi ke rumah Rizal dan hanya mereka berdua di dalam rumah. Ah... males bahasnya!" Jawab Anton menceritakan.
"Pantes aja, aku sering lihat Dinda ngerayu Rizal berkali-kali. Aku lihat Dinda sekarang genit, kayak gadis nakal." Kata Loren berbohong.
"Itulah alasanku tidak mengijinkan dia pergi sendiri, karena aku tahu Dinda tuh gimana!" Sahut Anton yang setuju dengan perkataan Loren yang menuduh Dinda sebagai gadis nakal dan penggoda.
Memang setelah melakukan hubungan suami istri, Dinda merasa ketagihan, bahkan ia tak malu-malu menggoda Anton untuk melakukannya hingga berkali-kali. Hal itu membuat Anton berfikir negatif tentang Dinda, hingga akhirnya ia menuduh Dinda tidur dengan Rizal.
Bersambung....
sukses
semangat
mksh