Sebulan pernikahan sirinya, Jingga harus berhadapan dengan kenyataan baru yang menyakitkan. Aris, suami yang dicintainya menikah resmi dengan perempuan lain.
Menjadi yang pertama tapi serasa yang kedua. Pada akhirnya Jingga menyerah. Perceraian dengan Aris pun tak terelakkan.
Di saat bersamaan Rangga yang merupakan sahabat Aris juga bercerai dengan istrinya. Kesamaan kisah membuat mereka Rangga dan Jingga semakin dekat.
Aris kembali datang dengan kepastian dan perjuangan yang lebih nyata. Membuat Jingga goyah. Kembali pada cinta lama atau memulai cinta yang baru ?
Persahabatan Aris dan Rangga pun di pertanyakan.
Di hati manakah cinta Jingga akan berlabuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku kangen mas
" Jingga kenapa Ngga ? " tanya Aris khawatir.
" Janin kalian lemah ris, Jingga masih observasi seminggu ini. Jika hanya lemah masih bisa dipertahankan, tapi jika tidak berkembang harus dingkat. Mungkin Jingga terlalu stres. Jadi sebaiknya kamu menghubungi Jingga dulu sebelum kamu memulai dramamu " ucap Rangga lagi.
" Aku akan menghubungi Jingga. Tapi nanti Ngga, aku tidak mau dia khawatir dan malah kepikiran. Aku mau minta dipindahkan ke ruangan yang tidak terlalu kelihatan aku sedang di rumah sakit " kata Aris, bayangan wajah Jingga semakin nyata di kepalanya. Wajah yang akhir - akhir ini lebih sering terlihat sendu penuh beban saat bersamany.
" Baiklah, aku urus Evan dulu ya Ris. Jangan lupa telepon Jingga sebelum memulai semuanya " ingat Rangga.
" Thanks ya Ngga, aku titip Jingga sama kamu " ucap Aris. Air mata Aris menetes. Ada ketakutan yang tertahan dan sesak di dada Aris. Bagaimana jika Janinnya tidak bisa diselamatkan. Jingga pasti akan meninggalkannya. Aris berdoa dalam hati, kiranya Tuhan akan menjaga Jingga dan buah hati mereka dengan baik. Jangan sampai hati Jingga kembali patah dengan kehilangan seorang anak yang bahkan belum bernyawa.
Beberapa jam kemudian kakak Evan datang untuk membawa jenazah Evan. Keluarga Evan memutuskan untuk memakamkan Evan di kota asal orangtua Evan di Malang. Karena orangtua Evan sudah menetap di sana beberapa tahun terakhir.
Rangga mengantar Jenazah Evan sampai ke Malang sebagai penghormatan terakhirnya pada seorang sahabat, sementara Aris tidak bisa berbuat banyak karena masih harus berada di rumah sakit minimal 24 jam, karena masih menunggu hasil general check up nya keluar. Pihak berwajib juga masih membutuhkan beberapa keterangan dari Aris.
Setelah dipindahkan ke ruang rawat biasa, Aris memutuskan untuk menelpon Jingga. Tapi Aris baru sadar kalau ponselnya tadi pasti jatuh di lokasi kecelakaan. Aris tidak hafal nomer siapapun. Termasuk nomer Jingga. Kepanikan mulai melanda Aris.
Saat kebingungan melanda seorang laki - laki berseragam polisi masuk ke dalam ruangannya. Aris menegapkan posisi duduknya dengan perlahan.
" Permisi pak Aris, apa benar ini ponsel bapak. Tadi ada warga yang menemukan, lalu memberikannya pada kami. Silahkan pak " Polisi itu menunjukkan sebuah ponsel warna hitam dengan layar ponsel yang sudah retak. Dalam kondisi normal, pasti sudah dibanting sekalian sama Aris.
" Betul pak, Terimakasih ya pak " ucap Aris.
Setelah polisi tadi meninggalkannya sendiri, Aris menyalakan ponselnya. Untung saja semalam Aris mengisi dayanya hingga penuh dan hari ini pemakaian hanya sebentar. Jadi batreinya masih cukup banyak.
Nama Jingga terletak di urutan paling atas pesan whatsappnya, karena selalu disematkan. Panggilan terhubung, hanya menunggu diterima oleh Jingga.
" Mas Aris, kok mas Aris ada di rumah sakit ? " sapa dan tanya Jingga sesaat setelah menerima panggilan video call suaminya.
Aris yang tadinya ingin berbohong tentang keberadaannya, memilih untuk jujur. Alasan pekerjaan dan mengantar maminya sudah terlalu sering. Lebih baik sedikit jujur kali ini, biar besok langkahnya juga lebih mudah.
" Mas kecapekan sayang, mas kena typus. Mas harus istirahat dulu beberapa hari di sini. Maaf ya mas tidak bisa nemenin kamu. Mas memang tidak bisa diandalkan ya. Kamu butuh mas, malah masnya sakit gini " jawab Aris, jelas sedang berbohong.
" Maafin Jingga ya mas, Jingga nggak bisa merawat mas. Jingga juga harus bedrest. Mas berdoa ya mas, semoga janin kita berkembang dengan baik " balas Jingga, wajahnya sungguh membuat hati Aris teriris.
" Anak kita pasti akan baik - baik saja sayang. Dia tumbuh sekuat bundanya. Kamu jangan stres. Mas sedang memperjuankan hubungan kita, kamu harus percaya " ucap Aris.
" Tolong mas jangan membicarakan itu dulu mas. Aku mau melupakan sejenak semuanya. Mas juga harus begitu, biar mas cepat sembuh. Aku sedang tidak ingin membicarakan masalah itu " ucap Jingga meski pelan tapi cara bicaranya tetap tegas seperti biasa.
" Terimakasih sayang, kamu memang yang terbaik. Tunggu mas, mas akan sembuh lebih cepat " kata Aris.
" Ya sudah mas istirahat saja. Semoga cepet sembuh ya mas. Aku kangen sama mas " ucap Jingga malu - malu. Aris tersenyum lepas mendengar ucapan Jingga. Kata - kata yang sejak pernikahan baru kali ini dia dengar.
" Mas lebih kangen lagi. Jaga diri dan hati selama tidak ada mas " ucap Aris lalu mengakhiri sambungan video call begitu melihat anggukan dan senyuman Jingga. Setelah itu Aris langsung mematikan ponselnya tanpa melihat ratusan pesan dan puluhan telpon yang masuk bertubi - tubi dari Irma dan maminya.
Bu Laura dan Irma yang seharian tidak mengetahui keberadaan Aris terus uring - uringan. Pasalnya mereka sudah mencari dan mengawasi rumah, cafe dan tempat catering Jingga. Baik Jingga maupun Aris tidak ditemukan.
" Mi kalau mereka kabur bagaimana mi ? " tanya Irma dengan manja.
" Nggak mungkin, Aris nggak bakalan bisa nekat. Lagian kamu ini, sudah mami ajarin nggoda Aris masih saja nggak bisa. Percuma mami keluar uang buat biaya perawatanmu " ucap bu Laura dengan kesal.
" Mi, mas Aris tuh dinginnya minta ampun. Kalau ngelihatin orang kayak mau ngebunuh mi. Buru - buru ngerayu, lihat matanya saja aku nggak berani " sahut Irma kesal.
" Dasar kamu nggak bakat jadi orang kaya. Lihat mami, mana orang tau kalau dulunya mami ini sekolah cuman lulusan sekolah dasar. Kamu mami sekolahkan sampai sekolah menengah atas nyatanya cuman begini " ucap bu Laura lagi.
" Mami tuh terlalu menjiwai bohongnya. Bayangin bagaimana kalau mas Aris sampai tau mami tuh aslinya Lastri bukan Laura. Aku yakin mami nggak bisa bergaya kayak sekarang " kata Irma.
" Husttt...Jaga mulutmu, kalau ada orang lain yang denger awas kamu. Inget kamu itu tidak bisa apa - apa tanpa mami Ir. Kamu siapa tanpa mami " bu Laura mulai emosi.
" Mami yang membuat aku nggak bisa apa - apa " kata Irma ketus.
" Sepertinya kita memang harus merubah rencana kita. Semakin kita menekan Aris, semakin dia akan menjauh. Mami akan bersikap wajar seperti biasa apa adanya mami, tapi kamu jadilah istri yang sabar dan lembut. Layani suamimu tanpa tanya dan bantahan sedikitpun. Kita bodoh sudah membuang waktu hampir satu bulan. Resepsimu bagaimanapun harus tetap terjadi. Jika pun terpaksa bercerai, kamu harus mempertahankan minimal satu tahun agar kamu mendapatkan harta yang lumayan. Kamu harus berhasil makanya, buat Aris menghamilimu " tekan bu Laura.
" Suka - suka mami sajalah mau dijadikan apa lagi aku ini " ucap Irma masih ketus.
Bu Laura menerima panggilan telepon dari seseorang, dia berbicara dengan sangat serius dan meninggalkan Irma, melangkah mencari keberadaan pak Gunawan. Bu Laura menghentikan langkahnya, begitu melihat suaminya sedang bersantai di ruang baca.
" Pi kita harus ke rumah sakit sekarang " ajak Laura.
mereka merasa bersalah pada pria lain tapi sama sekali tidak merasa bersalah pasa suaminya
dan lucu sikap kayak gini dibenarkan oleh novel ini
coba author bayangkan suaki author merasa bersalah pada wanita lain tapi tidak peduli dengan perasaan author yang tidak suka dan cemburu???
saran sebelum mengatang cerita banyak pada diri author dulu itu baik atau tidak
lihat juga dari sudut pandang lain, sudut pandang pemeran utama pria jangan hanya karena author wanita author hanya lihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
coba author menila sesuatu pake penilaian dari diri author baik tidak yang dilakukan jingga hanya karena rasa bersalah dan menjaga perasaan pria lain dia mengabaikan perasaan cemas, sakit hati karena cemburu suaminya sendiri
Gak ada surat nikah juga... kasihan anakmu nanti.