Spin Off dari "GHEA: Cinta Lama Belum Usai"
Tak pernah terbayangkan di benak Felichia, kalau dirinya akan mengandung anak dari Dean Alexander, sahabat Erlan Prakasa yang merupakan suami sah Felichia.
Semua hal rumit ini terpaksa Felichia lakukan atas perintah dari mertuanya dan demi menebus kesalahannya pada keluarga Prakasa.
Apa sebenarnya kesalahan Felichia pada keluarga Prakasa, hingga ia harus melakukan hal mengerikan ini?
Lalu bagaimana tanggapan Erlan saat tahu anak yang dikandung Felichia adalah benih dari Dean dan bukan merupakan benihnya?
Dan apa sebenarnya alasan Dean Alexander meminta Felichia mengandung calon anaknya, sementara dirinya juga sudah menikah dengan Melanie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MUAL
"Tekanan darah normal, semuanya normal, Dean! Ada apa denganmu?" Tanya Paman dokter mengernyit heran pada Dean yang wajahnya masih memerah.
Dean memang baru saja mual-mual lagi, setelah Paman Dokter memeriksanya.
"Dean terus mual dan muntah sejak semalam, Paman." Bukan Dean, melainkan Melanie yang menjawab pertanyaan Paman Dokter.
"Mungkin memang sebaiknya kau diperiksa lebih teliti di rumah sakit, Dean!" Saran Paman Dokter seraya menepuk pundak Dean.
"Mau Paman antar?" Tawar Paman Dokter selanjutnya.
"Nanti saja biar Melanie yang mengantarnya, Paman! Sekalian mengantar Felichia periksa," ujar Melanie yang langsung membuat Paman Dokter mengangguk.
"Felichia sudah hamil?" Tanya Paman Dokter menyelidik.
"Sudah," jawab Melanie dengan wajah berbinar bahagia.
Paman dokter melirik sejenak ke arah Dean seolah menemukan jawaban dari mual-mual yang dialami Dean.
"Ada apa? Kenapa Paman tersenyum aneh begitu?" Dean mengernyit curiga.
"Tidak ada! Paman hanya ingin memberitahumu, Dean. Kalau ada suatu syndrome yang disebut syndrome kehamilan simpatik." Paman Dokter menjeda kalimatnya sejenak.
"Syndrome apa itu, Paman?" Tanya Melanie merasa penasaran.
"Itu adalah sebuah keadaan dimana saat istri hamil, yang merasakan mual, muntah, dan ngidam bukan sang istri melainkan sang suami," jelas Paman Dokter yang langsung membuat binar kebahagiaan di wajah Melanie perlahan pudar.
Melanie dan Dean saling melempar pandang, bersamaan dengan Felichia yang sudah kembali dari halaman belakang, masih sambil menyendoki selai cokelat dari dalam botol bening yang ia bawa. Felichia memang terlihat baik-baik saja dan wanita itu sepertinya tetap bisa makan dengan lahap.
"Mungkin Dean cuma salah makan, Paman," tukas Dean memecah keheningan.
"Baiklah! Semoga saja begitu!" Paman Dokter sudah beranjak dari duduknya.
"Jangan lupa untuk mengabari Paman hasil pemeriksaanmu nanti!" Pesan Paman Dokter seraya menepuk pundak Dean.
Paman dari Melanie tersebut segera pamit dan meninggalkan kediaman Alexander.
Melanie masih diam membisu setelah kepergian sang Paman.
"Aku yakin Paman hanya sedang bercanda, Mel!" Dean menghampiri Melanie dan memeluk istrinya tersebut.
"Tapi mungkin perkataan Paman ada benarnya, Dean! Bukankah yang saat ini dikandung Felichia adalah calon anakmu?" Pendapat Melanie dengan nada suara kecut.
"Anak kita." Dean mengoreksi kalimat Melanie dan ganti berlutut di hadapan istrinya tersebut, tangan Dean sudah terulur untuk mengusap kepala Melanie.
"Lihat! Aku sudah tak mual lagi. Jadi aku tak perlu ikut kau ke rumah sakit dan aku akan pergi ke-" wajah Dean sudah kembali merah padam.
"Brengsek!" Umpat Dean sebelum pria itu berlari ke toilet dan kembali muntah-muntah. Melanie menghela nafas dan berusaha mengusir rasa pedih di hatinya. Saniga itu menjalankan kursi rodanya ke arah meja telepon lalu menghubungi sekretaris Dean.
"Batalkan semua agenda Dean hari ini! Dia sedang sakit dan tidak bisa ke kantor," titah Melanie sebelum kembali menutup telepon.
Melanie hendak berbalik saat ternyata Felichia sudah berada di balik punggungnya. Jantung Melanie nyaris melompat dari rongganya karena kaget.
"Ya ampun, Fe!" Melanie mengusap dadanya karena kaget.
"Maaf aku mengagetkanmu, Mel! Aku hanya ingin bertanya, kita pergi ke dokter jam berapa?" Tanya Felichia sedikit meringis.
"Jam sepuluh. Bukankah tadi aku sudah mengatakannya?" Melanie balik bertanya pada Felichia.
"Oh, iya! Maaf, aku lupa," Felichia kembali meringis.
"Aku akan ke kamar dan bersantai dulu. Apa boleh?" Izin Felichia selanjutnya pada Melanie.
"Iya, boleh! Tapi jangan naik turun tangga dan panggil saja maid kalau kau butuh sesuatu," jawab Melanie seraya berpesan pada Felichia.
"Baiklah," Felichia mengangguk paham dan segera berbalik. Kali ini Felichia yang dibuat kaget oleh kehadiran Dean yang mendadak sudah berada di balik punggungnya. Wajah suami Melanie itu terlihat lesu dan sedikit pucat. Mungkin karena muntah-muntah yang dialaminya.
Kalau menurut perkiraan Felichia, Dean mungkin sedang masuk angin atau kelelahan. Tapi Felichia tak berani mengungkapkan pendapatnya, karena Felichia sadar tentang posisinya di rumah ini. Lagipula, pendapat Felichia juga pasti tak akan digubris oleh tuan muda dingin yang menyebalkan ini. Jadi lebih baik Felichia diam saja.
Felichia sudah berjalan menuju ke arah tangga, meninggalkan Dean dan Melanie yang masih berada di ruang makan.
"Aku rasa ucapan Paman Dokter ada benarnya, Dean," pendapat Melanie setelah Felichia tak terlihat lagi dan sudah menghilang ke lantai atas.
"Maksudmu mual dan muntahku ini karena kehamilan wanita tadi?" Tanya Dean dengan nada sinis. Dean meneguk air putih hangat yang dibawakan oleh salah seorang maid.
"Namanya Felichia, Dean. Dan dia sedang mengandung anakmu sekarang. Bisakah kau mulai bersikap baik kepadanya?" Cecar Melanie sedikit bersungut.
"Anak kita!" Dean kembali mengoreksi kalimat Melanie.
"Baiklah, anak kita," ulang Melanie setengah hati.
"Mulailah bersikap baik pada Felichia!" Pinta Melanie selanjutnya pada sang suami.
Dean masih diam dan cemberut seperti bocah.
"Dean!" Melanie menatap memohon pada Dean.
"Baiklah! Bisa kita berhenti membahasnya?" Jawab Dean akhirnya masih sedikit ketus.
Melanie tersenyum dan menghampiri suaminya yang cemberut tersebut.
"Kau tidak jadi ke kantor, kan?" Melanie mengendurkan dasi di leher Dean lalu membuka kancing kemeja paking atas.
"Kau mau menggodaku pagi-pagi, Nyonya Dean?" Tanya Dean seraya mencondongkan tubuhnya ke arah Melanie, lau pria itu lanjut menyatukan keningnya dengan kening Melanie.
"Ck! Dasar mesum!"
"Kemejamu kotor, jadi aku mau menyuruhmu ganti baju," ujar Melanie seraya tertawa kecil dan memukul dada Dean.
"Tapi kau baru saja memancingku," Dean semakin memangkas habus jarak diantara dirinya dan Melanie.
"Dean!" Melanie memejamkan kedua matanya.
"Ayo olahraga sebentar! Kau tertidur semalam dan kita belum bercinta selama beberapa hari," bisik Dean yang langsung membuat bibir Melanie melengkungkan senyuman.
"Gendong aku!" Bisik Melanie dengan nada menggoda yang langsung membuat Dean bangkit berdiri. Dean dengan cepat menggendong istrinya tersebut, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.
****
"Hoek!"
"Brengsek! Sialan!"
Melanie yang sudah naked hanya bisa mengusap wajahnya sendiri di atas ranjang, menunggu Dean yang masih muntah-muntah dan tak berhenti mengumpat. Sepertinya ngidam Dean benar-benar parah.
Sudah satu jam berlalu, setelah Dean dan Melanie masuk ke kamar dan mereka baru melakukan foreplay. Adegan inti belum terjadi sejak tadi karena Dean yang terus mual-mual tak karuan dan bolak-balik ke kamar mandi.
Melanie menghela nafas kasar dan menarik selimut untuk membakut tubuhnya. Wanita itu melirik ke jam digital di atas nakas yang sudah menunjukan pukul sembilan lebih.
Ck!
Melanie bangkit dari atas ranjang dan ikut masuk ke dalam kamar mandi. Wajah putih Dean benar-benar sudah seperti kepiting rebus dan suami Melanie itu tetap belum berhenti mual-mual.
Dean yang malang!
"Sayang, kenapa kau masuk kesini?" Tanya Dean yang suaranya nyaris tak terdengar.
"Aku harus mandi dan bersiap-siap, Dean! Sebentar lagi aku harus mengantar Felichia rumah sakit." Jawab Melanie seraya melempar selimut yang tadi membalut tubuhnya ke sudut kamar mandi. Wanita itu sudah berdiri di bawah shower dan memulai ritual mandinya.
"Tapi kita belum melakukannya, Mel!" Dean menyusul Melanie ke bawah shower dan langsung mendekap tubuh polos istrinya tersebut. Melanie hanya tertawa kecil dan ikut memandikan Dean sekalian sebelum kemudian Dean kembali mual dan muntah.
Ya ampun!
"Kita lakukan nanti saja, Dean! Kau terlihat begitu kepayahan. Nanti kau opname saja di rumah sakit!" Usul Melanie yang langsung membuat Dean berdecak.
"Aku tidak mau!" Tolak Dean tegas.
Pria itu kembali muntah-muntah.
"Tapi kau tak berhenti muntah-muntah sejak tadi, Dean! Wajahmu juga sudah pucat," ujar Melanie dengan nada memaksa.
"Ck! Ini semua karena ide konyolmu!" Sekarang Dean malah menyalahkan Melanie.
"Anggap saja yang saat ini sedang hamil adalah aku, Dean! Dan berhentilah merasa kesal, atau mual-mualmu akan semakin parah!" Nasehat Melanie sebelum wanita itu mengakhiri ritual mandinya.
Melanie membungkus tubuh polosnya dengan handuk dan segera keluar dari kamar mandi meninggalkan Dean yang tetap sibuk mual, muntah dan mengumpat.
.
.
.
Dean dibuat ngidam sampai Felichia lahiran atau bagaimana ini?
😂😂😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.