NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hamka terluka

  Edo duduk terdiam di sudut kamar kos. Sejak Hamka tertidur karena obat pereda nyeri, rasa bersalah itu justru makin menghimpit dadanya. Semua bermula dari ucapannya sendiri.Ucapan bodoh yang memancing segalanya.

Sore itu, Rio datang dengan senyum meremehkan, menantang balapan seperti biasa. Edo, yang terbakar gengsi, justru menimpali, “Berani lawan Hamka? Motor lo nggak selevel.” Kalimat itu yang akhirnya membuat Hamka menerima tantangan, meski awalnya ragu.

Dan lebih bodohnya lagi, Edo melakukan kecurangan.

Saat balapan berlangsung panas, Edo yang berdiri di pinggir lintasan panik melihat Rio hampir menyusul. Ia melempar isyarat salah.lampu senter yang seharusnya jadi tanda aman, justru membuat Hamka mengira jalur depan kosong. Detik berikutnya, Hamka terjatuh keras karena pasir yang sengaja ditebar tim Rio.

Namun Hamka bangkit.

Dengan tubuh terluka, darah mengalir di lengan dan lutut, ia kembali menaiki motornya. Raungan mesin terdengar seperti amarah yang ditahan. Rio terkejut—semua orang terdiam—saat Hamka menyalip di tikungan terakhir dan menyentuh garis akhir lebih dulu.

Hamka menang.

Tapi kemenangan itu dibayar mahal.

Kini, Edo mengusap wajahnya kasar. “Gue bangsat,” gumamnya lirih. Ia menoleh ke arah Hamka yang terbaring, wajahnya pucat namun tenang. Dalam tidurnya, Hamka meringis kecil, membuat Edo semakin menyesal.

Hamka baru saja terbangun .Setiap tarikan napas membuat dadanya nyeri. Lututnya diperban seadanya, sementara lengan kanannya penuh luka lecet akibat terjatuh saat balapan motor liar sore tadi.

“Gue bawa lo ke dokter sekarang juga,” kata Edo tegas, berdiri di samping kasur.

“Jangan,” sahut Hamka cepat. “Gue masih hidup, Do. Nggak perlu dokter.”

“Ini bukan soal hidup atau nggak!” Edo mendengus. “Terus lo maunya apa?”

Hamka diam sebentar, lalu berkata pelan, seolah menelan gengsi, “Panggil… Naura.”

Edo langsung menoleh. “Naura? Tetangga lima langkah lo itu?"

“iya..,” jawab Hamka lirih. “Tolong.”

Edo tertawa tak percaya. Bukankah Hamka pernah bercerita tentang anak tetangganya yang selalu ngajak ribut percis seperti kucing dan anjing.

“Lo demam ya?” Edo menyentuh kening Hamka.

“Gue serius, Do."

Meski bingung, Edo akhirnya memanggil Naura.

Tiga puluh menit kemudian ..

Hamka gelisah sejak beberapa menit lalu. Tubuhnya memang terbaring di kasur kosan Edo, tapi pikirannya mondar-mandir ke mana-mana. Matanya terus melirik ponsel di samping bantal.

“Do…” panggilnya pelan.

“Kenapa lagi? Sakitnya kambuh?”

“Bukan,” Hamka mengernyit. “Naura kok belum nyampe? Lo yakin alamat yang lo kirim bener?”

Edo mengangkat ponselnya. “Bener, Ka. Ini titik kosan gue. Lengkap sama patokan warung kopi.”

Belum sempat Hamka membalas, terdengar suara motor berhenti mendadak di depan kosan.

" Nah itu pasti dia." ujar Edo seraya melangkah keluar kamar.

" Kak Edo ya?" tanya Naura ragu.

" Iya bethuuull...ayo cepat masuk .Hamka ada di dalam."

Gadis ini memang cantik .

Rugi banget si Hamka cuma jadiin dia tetangga doang'

Naura mengikuti langkah Edo yang lebih dulu berjalan di depannya .Sepintas ia mengedarkan pandangannya ke rumah kosan yang cukup nyaman dan bersih .

Bangunan dua lantai itu terdapat enam kamar di setiap lantainya.Dan kamar Edo ada di lantai satu pintu nomer 4 yang letaknya tak jauh dari gerbang depan .

Hamka langsung tersenyum lega.

Pintu kosan terbuka . Naura berdiri , rambutnya sedikit berantakan dengan wajah kesal maksimal.

“Alamat apaan sih yang Lo kirim?Tukang ojegnya sampai bingung malahan muter sampe tiga kali." Naura memberengut kesal

" Noh dia yang kirim ..bukan gue ."

Edo tertawa tak bersalah. “Yang penting nyampe.”

Naura melirik Hamka yang terbaring. “Lo kenapa malah senyum? Sakit apa seneng gue nyasar?”

“Seneng,” jawab Hamka jujur. “Gue kira lo nggak dateng.”

Naura mendengus, tapi langkahnya tetap mendekat. “Jangan GR. Gue ke sini demi Babe Ramli dan Tante Tika."

Meski mulutnya ketus, Hamka tahu

kegelisahannya akhirnya reda. Karena di balik omelan dan ribut kecil itu, Naura benar-benar datang.

" Kenapa dia?” tanyanya pura-pura tak tahu.

“Jatuh,” jawab Edo singkat. “Dia minta lo yang ngerawat.”

Naura menyilangkan tangan. “Kenapa harus gue? Suruh aja fans-fansnya yang selalu nempel dan glndotan sama dia !"

“Naura…” Hamka bersuara lemah. “Gue nggak bercanda.”

Naura menatapnya tajam, lalu menghela napas panjang. “Dasar keras kepala.” Meski mulutnya terus mengomel, tangannya sudah sibuk mengeluarkan perban dan antiseptik dari kresek yang sudah di beli Edo.

Saat cairan antiseptik menyentuh luka, Hamka meringis. “Pelan dikit napa.”

“Biar kapok balapan liar!” balas Naura ketus.

Ia sudah tahu jika apa yang terjadi pada Hamka gara-gara laki-laki itu mengikuti balapan liar.

“Kalau lo ke dokter dari awal, nggak perlu gue yang repot.”

Mereka terus saling balas kata, tapi tangan Naura tetap telaten. Luka Hamka dibersihkan dan dibalut rapi. Di balik semua kekesalan itu, ada kepedulian yang tak pernah mereka akui.

Selesai merawat, Naura berdiri dan menatap Hamka serius. “Gue bisa nutupin dari orang tua lo. Tapi satu syarat.”

Hamka menelan ludah. “Apa?”

“Kalau kenapa-kenapa, lo ke dokter. Dan berhenti balapan bodoh itu.”

Hamka tersenyum tipis. “Deal.”

Edo tersenyum melihat pemandangan itu.

Di kosan sempit penuh ribut , Hamka sadar,kadang orang yang paling sering kita ributi justru orang yang paling peduli, meski caranya selalu dengan marah-marah.

Hamka sudah setengah terlelap ketika Naura selesai membereskan perban .

“Udah. Jangan banyak gerak,” kata Naura sambil berdiri. “Gue pulang.”

Hamka langsung membuka mata. “Eh… Naura.”

“Apa lagi?” Naura menoleh dengan wajah curiga.

Hamka menelan ludah, lalu menunjuk kakinya yang dibalut tebal. “Kita pulang bareng .”

Edo yang sejak tadi duduk di kursi langsung melongo .

Naura tertawa sinis. “Bilang aja kalo Lo mau jadiin gue tumbal supaya Lo selamat dari amukan Babe Ramli kan ."

Hamka mencoba bangun, lalu langsung meringis dan jatuh kembali ke kasur. “Tuh kan… korban ketidakpedulian tetangga.”

Naura memutar mata malas. “Drama banget."

Hamka berpikir cepat. “Gue udah pesen taksi online .Sebentar lagi nyempe."

Naura mendengus kesal.

" Cancel aja.Kita pake motor Lo ." sahut Kallea cepat .

Hamka baru tahu jika Naura ternyata bisa mengendarai motor .Namun kenapa gadis itu selalu memesan ojeg online jika berangkat sekolah .

Oh iya..Hamka faham .Om Hari pasti tak akan mengizinkan putri kesayangannya itu memakai motor.

“Cepat. Sebentar lagi jam ghibahnya ibu-ibu komplek .Gue nggak mau ya tetangga mikir gue ada apa-apa sama Lo ” katanya ketus.

Hamka keluar tertatih sambil membawa helm. “Santai aja. Kita kan musuh bebuyutan.”

Di jalan, Hamka duduk berjarak .Sebisa mungkin tidak menyentuh punggung Naura .

" Lo yakin bisa kan?" tanya Hamka ragu

“Bawel...ayo pegangan ,..kalo jatuh gue nggak tanggung jawab ya."kata Naura.

“Gengsi,” jawab Hamka.

Motor baru berjalan beberapa meter,tiba-tiba ada kucing lewat dan Naura mengerem dengan mendadak . Hamka hampir jatuh. Refleks, ia memeluk Naura erat.

“WOY!” teriak Naura panik. “Katanya gengsi?!”

“Ini refleks !” balas Hamka. “Naluri bertahan hidup!”

Naura mengomel sepanjang jalan, sementara Hamka tersenyum puas di balik helm. Untuk pertama kalinya, ribut mereka terdengar seperti tawa. Dan di antara ejekan serta teriakan kecil itu, perlahan tumbuh sesuatu yang tak lagi sekadar pertengkaran.

Meski tak satu pun dari mereka berani mengakuinya.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!