Warning!! 21+
Jangan tanyakan tentang etika, norma dan agama. Karena ini pure hanya sebuah cerita halusinasi yang bertujuan untuk menghibur. Harap bijaklah dalam membaca!
❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Bagaimana perasaanmu? Jika kamu diculik dan disekap oleh pria yang tak di kenal? Menyeramkan bukan?
Tapi bagaimana, jika orang yang menculikmu adalah seorang pria muda, tampan dan kaya? Bahkan, memperlakukanmu seperti ratu. Karena dia telah jatuh cinta pada gadis yang diculiknya dan telah direnggut kehormatannya.
Hal itulah yang terjadi pada seorang gadis yang bernama Rhibie Amoura. Gadis sebatang kara yang menjalani hidup bersama sahabat-sahabatnya.
Bagaimana pula perjuangan sahabat-sahabat Rhibie untuk mencari keberadaan gadis itu, setelah sang Maha Dewi menghilang secara tiba-tiba?
Please, dukungannya ya!...🙏😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryn HR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gak Amanah
"Pak Baghal sama Kak Axelle abis dari mana? Kok, pakaiannya serba item gitu?" Tanya Joanna yang baru tiba di kediaman mereka. Diikuti langkah Jessie di belakangnya.
Baghal dan Axelle serentak menoleh bersamaan.
"Abis ngelayad" Sahut Baghal datar.
"Siapa yang meninggal?" Tanya Jessie dan Joanna kompak.
"Buaya"
Axelle hanya tertawa kecil mendengar celetukan Baghal yang seakan malas menjawab pertanyaan kedua gadis itu.
"Ish, jawab yang bener dong!" Protes Joanna seraya memanyunkan bibirnya.
Baghal hanya meresponnya dengan tatapan datar. Tanpa ada niat untuk menyahut.
"Kalian kok, udah balik? Cutinya 'kan masih tersisa empat hari lagi" Tanya Axelle, mengalihkan pembicaraan.
"Aku gak bisa lama-lama jauh dari Rhibie" Sahut Jessie, dan menatap pintu kamar milik Eldanno.
Axelle menarik tangan gadis itu, membawanya untuk duduk di sampingnya.
"Kamu yang sabar, ya! Tolong maafkan keegoisan Eldanno!" Bujuk Axelle sambil mengelus rambut Jessie.
Jessie hanya membalasnya dengan tatapan jengah.
******
Brakk!!
Papa Dimas membanting ponselnya. Setelah percakapan dengan rekan kerjanya di Eropa, di tutup. Papa Dimas begitu geram dengan keputusan sepihak itu tanpa adanya musyawarah terlebih dulu. Padahal selama ini beliau tidak pernah memberikan kekecewaan pada rekan bisnisnya. Leather yang di kirimkannya selalu berkualitas. Tapi kenapa, tiba-tiba mereka mengatakan jika leather-nya palsu?
Apa yang salah dengan leather itu? Selama ini, papa Dimas tidak pernah menurunkan standar kualitasnya. Leather itu selalu melalui proses penyamakan yang sempurna. Sehingga menghasilkan leather yang halus dan berkualitas. Sebab itulah, mereka menjalin hubungan kerjasama yang cukup lama.
"Seno? Ini semua berada di atas tanggung jawab Seno!" Geram papa Dimas, bergumam.
"Perintahkan Seno untuk menghadap ke ruanganku!" Pinta papa Dimas melalui telepon konvensionalnya pada Maya, sang sekretaris.
Setelah lima menit menunggu, terdengar suara ketukan di pintu ruangannya.
"Masuk!"
"Tuan memanggil saya?" Seno membungkuk hormat.
"Kau pasti sudah tahu, kenapa saya memanggilmu?" Ucap papa Dimas, tajam.
"Maaf, Tuan! Saya benar-benar tidak tahu"
Papa Dimas menatap Seno yang terus menundukkan kepalanya. Membaca setiap gerak-geriknya yang terlihat kaku.
"Dengan siapa kau bekerja?" Tanyanya kemudian.
"Maksud anda, Tuan?"
"Jangan berbelit-belit! Aku tahu, kau tidak bodoh. Sebab itulah, aku memilihmu untuk menjadi orang kepercayaanku!"
Seno tetap diam dengan kepala tertunduk, tanpa menyahut.
"Jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi di hadapanku! Atau aku akan mengumpankanmu pada peternakan Buaya!" Sarkas papa Dimas seraya melemparkan surat pemecatan, tepat di wajah pria itu.
"Tapi, Tuan! Saya mohon ampun! Saya bisa jelaskan semuanya!" Seno bersimpuh di hadapan papa Dimas.
"Pergi dari hadapanku, sebelum aku berubah pikiran!" Bentak papa Dimas.
Dengan lunglai, Seno pun bangkit. Lalu keluar dari ruangan itu.
Papa Dimas menghisap cerutunya. Berpikir untuk mencari solusi dalam masalah yang tengah menimpa bisnisnya. Sifat beliau yang harus diacungi jempol, beliau selalu santai dalam menyikapi masalah. Seberat apapun itu. Bukan berarti karena usia beliau yang sudah matang, tapi sifat ini sudah dimilikinya sejak remaja. Hal itulah yang membawanya menjadi orang besar.
******
Rhibie menyerahkan ponsel milik Eldanno pada pemiliknya. Matanya sudah lelah, setelah memilih-milih pakaian dari aplikasi market place itu. Entah berapa puluh peace baju yang ia masukkan ke dalam keranjang. Bahkan mungkin sampai ratusan, namun Eldanno tak kunjung protes. Padahal kalau di totalkan, belanjaannya lebih dari dua puluh jutaan.
"Yakin, beli bajunya segitu aja?" Tantang Eldanno seraya mengecup leher jenjang Rhibie dari belakang.
"Udah ah, cape" Sahut Rhibie sambil menguap.
Eldanno hanya tersenyum. Menyambut Rhibie yang memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan dirinya. Lalu bersandar manja di dadanya yang sama-sama polos.
Semenjak dirinya datang, Rhibie tak berhenti manja padanya. Apalagi saat mereka melakukan penyatuan tadi. Mungkin ini ekspresi dari gadis itu menumpahkan rasa rindunya. Setelah tiga hari tak bertemu, yang di artikan oleh Eldanno sebagai masa pingitan.
"El..."
"Hem"
"Aku laper!"
"Kamu mau makan apa?"
"Aku mau kebab"
"Kebab dimana, Sayang? Ini udah malem. Cemilan kamu masih banyak 'kan? Makan yang itu aja, ya!"
"GAK MAU!! Aku bilang, aku mau kebab!!! Kalau kamu gak mau beli, biar aku yang beli!!" Teriak Rhibie dan hendak beranjak.
"Oke kita beli. Kamu diem aja disini, gak usah kemana-mana! Aku telpon Eza dulu, biar dia yang beliin"
"Gak mau!! Aku maunya, kamu yang beliin! Gak apa-apa aku nunggu disini" Rengek Rhibie.
"Bie... Kenapa kamu jadi aneh kayak gini, sih?" Gerutu Eldanno mulai pusing sendiri dengan tingkah Rhibie.
"Huaaa....aa!! Kamu jahat, El! Hiks... Aku 'kan cuma mau di beliin kebab doang! Harganya juga murah, kok! Hiks..." Jerit Rhibie sambil menangis.
"Sssstt!! Jangan nangis dong! Iya, aku berangkat sekarang!" Bujuk Eldanno. Kemudian pria itu beranjak dari tempatnya. Memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Dan memakainya.
"Tempat yang jualannya dimana, Bie?" Tanya Eldanno seraya mengancingkan kemejanya.
"Aku mau yang di depan mini market. Gak mau di tempat lain!"
"Oke, kamu tunggu ya! Aku pergi dulu!" Ucap Eldanno dan berlalu keluar dari kamarnya.
Di depan pintu kamar, Eldanno menarik nafasnya. Mengatur emosinya yang terpancing karena sikap Rhibie yang aneh. Tak berapa lama, senyumannya mengembang kala melihat Eza yang masuk ke rumahnya.
Setelah mendapat perintah dari Eldanno, Eza yang belum sempat mengistirahatkan langkahnya segera berangkat untuk mengemban tugasnya.
*****
Sesampainya di tujuan, Eza tercengang dengan antrian yang panjang. Pria muda itu segera masuk ke dalam antrian.
Setelah lebih dari setengah jam, akhirnya kini giliran Eza untuk membeli pesanannya.
"Mau beli apa, Mas?" Tanya si pedagang.
"Kebabnya, bang!"
"Rasa apa?"
"Maksudnya?" Tanya Eza tak faham.
"Kami memiliki dua varian rasa. Kebab ayam dan sapi. Mas-nya mau rasa apa?"
"Bentar, saya telepon Bos saya dulu. Soalnya, ini pesanan beliau"
Si pedagang itu menganggukkan kepalanya, mempersilahkan Eza.
*****
Rhibie menatap ponsel Eldanno yang ketinggalan di kamarnya.
Eza memanggil...
"Eza?? Pasti anak buahnya El!" Gumam Rhibie. Lalu mengangkat panggilan itu.
"Maaf, Bos! Kebabnya mau rasa apa?" Tanya Eza di seberang sana.
Rhibie membuka mulutnya, terperangah tak percaya. Ternyata Eldanno tidak benar-benar pergi seperti yang diinginkannya. Membuat emosi Rhibie memuncak seketika.
"Eldanno-nya mana??" Tanya Rhibie dengan suara keras yang ketus. Membuat Eza menjauhkan ponsel dari telinganya, seketika.
"Maaf, Nona! Bos 'kan di rumah"
"Apa lo bilang?? Cepet lo balik lagi ke rumah! Kalau udah nyampe cepet hubungi gue!"
"Tapi Nona..."
"BURUAN!!"
"I...iya. Saya pulang sekarang!"
Dan Tut! Panggilan terputus.
"ELDAAANNN!!!"