Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang di Balik Permainan
Ruangan itu terasa membeku.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Pria dengan jas hitam itu berdiri di ujung lorong.
Tenang.
Seolah kedatangannya memang sudah direncanakan.
Seolah ia tahu Niel dan Aluna akan berada di sana.
Niel berdiri paling depan.
Tatapannya tajam.
"Siapa kamu?"
Pria itu tersenyum kecil.
"Pertanyaan yang sama seperti dulu."
Niel mengernyit.
"Dulu?"
Pria itu berjalan perlahan mendekat.
"Ya."
"Kau selalu bertanya hal yang sama."
"Siapa aku?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Lalu kenapa Aluna harus berada di sini?"
Setiap kalimat yang keluar membuat wajah Niel semakin serius.
Karena pria itu berbicara seperti seseorang yang benar-benar mengenalnya.
Aluna menatap pria tersebut.
Ada perasaan aneh muncul di dadanya.
Bukan takut.
Tapi seperti...
Mengenal.
"Kamu siapa?"
tanya Aluna pelan.
Pria itu berhenti.
Tatapannya beralih kepada Aluna.
"Lucu."
"Kau tidak mengingatku."
"Tapi bagian kecil dalam dirimu masih mengenal."
Aluna terdiam.
Niel langsung memperingatkan.
"Jangan dekati dia."
Pria itu tersenyum.
"Masih sama."
"Kau selalu berdiri di depannya."
"Seolah-olah kau bisa melawan seluruh dunia sendirian."
Niel mengepalkan tangannya.
"Aku tanya sekali lagi."
"Siapa kamu?"
Beberapa detik hening.
Lalu pria itu menjawab.
"Namaku Adrian."
"Dulu..."
"Aku adalah salah satu orang yang bekerja dalam Proyek Takdir."
Suasana langsung berubah.
Darren bergerak waspada.
"Anggota penelitian?"
Adrian mengangguk.
"Tapi bukan seperti yang kalian bayangkan."
"Proyek itu bukan hanya tentang menghapus ingatan."
Tatapannya beralih ke Aluna.
"Proyek itu dibuat untuk memahami satu hal."
"Apa?"
tanya Aluna.
Adrian menjawab pelan.
"Takdir manusia."
Semua terdiam.
"Kami ingin tahu..."
"Apakah keputusan manusia benar-benar berasal dari pilihan mereka sendiri."
"Atau hanya hasil dari sesuatu yang sudah ditentukan."
Aluna menatapnya bingung.
"Dan aku?"
Adrian tersenyum tipis.
"Kau adalah jawabannya."
Niel langsung maju.
"Jangan bicara seolah dia benda penelitian."
Adrian menatap Niel.
"Dan kau masih belum berubah."
"Kau marah setiap kali seseorang menyebut Aluna sebagai subjek."
Niel diam.
Karena kalimat itu tepat.
Adrian melanjutkan.
"Padahal kau sendiri adalah bagian dari proyek itu."
Darren menatap Niel.
"Tuan..."
Namun Niel tidak bereaksi.
Karena ia sudah mulai menyadari.
"Subjek N."
Adrian mengangguk.
"Benar."
"Nomor pertama."
Aluna menoleh cepat kepada Niel.
"Nomor pertama?"
Adrian berjalan mendekati meja tua di ruangan itu.
"Proyek Takdir tidak dimulai dengan Aluna."
"Proyek itu dimulai denganmu."
Niel menatapnya tajam.
"Apa yang kalian lakukan padaku?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia hanya membuka sebuah laci lama.
Di dalamnya ada sebuah buku catatan.
Buku yang terlihat sudah berumur bertahun-tahun.
Ia meletakkannya di meja.
"Ini milikmu."
Niel mengambilnya perlahan.
Tangannya berhenti ketika melihat tulisan di sampul.
Tulisan tangan kecil.
Tulisan yang ia kenal.
Karena itu adalah tulisannya sendiri.
Namun halamannya berisi sesuatu yang tidak pernah ia ingat.
Hari ke-47.
Aku berhasil membuat Aluna tersenyum hari ini.
Mereka bilang kami hanya bagian dari percobaan.
Tapi aku tahu dia bukan percobaan.
Dia adalah satu-satunya orang yang membuatku ingin keluar dari tempat ini.
Napas Niel tertahan.
Aluna membaca dari sampingnya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Itu..."
"Itu tulisanmu."
Niel tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya...
ia melihat bukti bahwa masa lalu yang hilang itu benar-benar ada.
Adrian menatap mereka.
"Kalian berdua bukan dipertemukan secara kebetulan."
"Kalian dipilih."
"Dan sekarang..."
Ia melihat ke arah Aluna.
"Permainan yang dulu berhenti..."
"akan dimulai kembali."
Tiba-tiba seluruh layar di ruangan menyala.
Satu per satu.
Menampilkan gambar lama.
Gambar Niel dan Aluna saat kecil.
Lalu muncul sebuah tulisan besar.
FASE KEDUA DIMULAI.
Niel menatap layar.
Wajahnya berubah.
"Mustahil..."
Adrian tersenyum tipis.
"Selamat datang kembali."
"Di permainan takdir kalian."
__________________________________
Wajah di layar itu membuat seluruh ruangan membeku.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Niel hanya berdiri diam menatap layar yang menampilkan seseorang yang selama bertahun-tahun ia yakini sudah tidak akan pernah ia lihat lagi.
Ayahnya.
Pria yang selama ini hanya tersisa dalam ingatan samar.
Pria yang menjadi alasan banyak pertanyaan dalam hidupnya.
"Niel..."
Suara Aluna terdengar pelan.
Namun Niel tidak menjawab.
Tatapannya masih terpaku.
"Mustahil..."
Bisikan itu keluar begitu saja.
Adrian memperhatikan reaksinya.
"Kau mengenalnya."
Niel perlahan mengepalkan tangan.
"Tidak mungkin dia ada di sini."
Darren menatap layar.
"Tuan..."
Niel menggeleng.
"Dia sudah meninggal."
Kalimat itu terdengar penuh keyakinan.
Namun wajahnya mengatakan hal yang berbeda.
Ada keraguan.
Ada ketakutan.
Karena jauh di dalam dirinya...
ada bagian kecil yang selalu merasa bahwa cerita tentang kematian ayahnya tidak pernah benar-benar lengkap.
__________________________________________
Rekaman mulai berjalan.
Sosok pria di layar masih membelakangi kamera.
"Jika kalian melihat rekaman ini..."
Suaranya terdengar berat.
"Berarti kalian sudah menemukan tempat ini."
Niel menahan napas.
Suara itu sama.
Tidak berubah.
"Proyek Takdir bukan sebuah penelitian."
"Ini adalah sebuah jawaban."
Aluna menatap layar dengan bingung.
"Jawaban untuk apa?"
Tidak ada yang menjawab.
Karena pria di rekaman melanjutkan.
"Manusia selalu percaya bahwa pilihan mereka adalah milik mereka sendiri."
"Tapi bagaimana jika setiap keputusan bisa diprediksi?"
"Bagaimana jika seseorang bisa mengetahui jalan hidup manusia sebelum mereka menjalaninya?"
Lampu merah terus berkedip.
Suasana semakin menekan.
"Proyek ini dibuat untuk membuktikan satu hal."
"Bahwa takdir dapat dihitung."
Niel menatap layar tajam.
"Lalu kenapa melibatkan kami?"
Seolah mendengar pertanyaan itu...
rekaman menjawab.
"Karena kalian adalah hasil terbaik."
Aluna langsung menoleh.
Hasil?
Kata itu kembali terdengar seperti mereka bukan manusia.
Melainkan eksperimen.
________________________________________
Tiba-tiba layar berubah.
Muncul dua data.
SUBJEK N — NIEL ARVANDRA
SUBJEK A-07 — ALUNA
Darren membaca data tersebut dengan wajah serius.
"Tuan..."
Niel tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya...
namanya sendiri terasa asing.
Seolah ada kehidupan lain yang pernah ia jalani.
Sebuah kehidupan yang sengaja dihapus.
Rekaman kembali berjalan.
"Subjek N memiliki kemampuan adaptasi tertinggi."
"Namun ada satu hal yang tidak bisa diprediksi."
"Ikatan dengan Subjek A-07."
Aluna menatap Niel.
"Ikatan?"
Ayah Niel dalam rekaman melanjutkan.
"Emosi."
"Keterikatan."
"Perasaan ingin melindungi."
"Semua itu tidak seharusnya muncul."
Niel membeku.
Karena ia mulai memahami.
Mereka tidak hanya mengamati kemampuan mereka.
Mereka mengamati hubungan mereka.
___________________________________________
Tiba-tiba rekaman berhenti.
Layar menjadi hitam.
Lalu muncul satu kalimat.
DATA TERAKHIR TERKUNCI.
Adrian berjalan mendekati layar.
"Dia menyimpan bagian terpenting."
Niel menoleh.
"Kau tahu?"
Adrian diam.
"Kau tahu apa yang terjadi pada ayahku?"
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Adrian menjawab,
"Ya."
Jawaban itu membuat Darren langsung bergerak.
"Kau tahu selama ini?"
Adrian tetap tenang.
"Aku tahu sebagian."
"Kenapa tidak pernah mengatakan?"
Adrian menatap Niel.
"Karena saat itu kau belum siap."
Niel tertawa kecil tanpa humor.
"Lucu."
"Semua orang selalu bilang aku belum siap."
"Tapi tidak ada yang pernah bertanya apakah aku ingin tahu."
Suasana menjadi hening.
Aluna melihat wajah Niel.
Untuk pertama kalinya...
ia melihat luka yang selama ini disembunyikan pria itu.
Bukan luka fisik.
Tapi luka seseorang yang bertahun-tahun hidup dengan pertanyaan tanpa jawaban.
Aluna perlahan mendekat.
"Niel."
Pria itu menoleh.
"Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian."
Kalimat sederhana itu membuat ekspresi Niel berubah.
Karena dulu...
ada seseorang yang mengatakan hal yang sama.
Dan sekarang...
orang itu adalah Aluna.
_________________________________________
Tiba-tiba suara pintu terdengar.
Klik.
Semua langsung waspada.
Pintu besar di ujung ruangan perlahan terbuka.
Bukan jalan keluar.
Melainkan menuju ruangan yang lebih dalam.
Adrian melihat ke arah sana.
"Dia memberikan kita akses."
Niel menatap curiga.
"Siapa?"
Adrian tidak menjawab.
Karena semua orang sudah tahu.
Seseorang sedang mengarahkan mereka.
Seseorang yang ingin mereka menemukan kebenaran
Mereka berjalan masuk perlahan.
Di dalam ruangan itu...
hanya ada satu benda.
Sebuah meja.
Dan sebuah foto lama.
Niel mengambil foto tersebut.
Tangannya langsung berhenti.
Karena foto itu menunjukkan dirinya dan Aluna saat kecil.
Tetapi kali ini...
ada satu hal yang berbeda.
Di belakang mereka berdiri seseorang.
Seseorang yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Dan di bawah foto itu tertulis:
"Hari pertama permainan dimulai."
Aluna menatap foto tersebut.
"Niel..."
"Ada seseorang lagi."
Niel memperhatikan wajah orang ketiga itu.
Dan jantungnya seakan berhenti.
Karena orang itu...
adalah dirinya sendiri.
Namun lebih dewasa.
Lebih tua.
Dan terlihat seperti seseorang yang sudah mengetahui semua kejadian yang akan terjadi.
__________________________________________
Niel masih memegang foto itu.
Tangannya tidak bergerak.
Matanya terus menatap sosok yang berdiri di belakang mereka.
Seseorang yang wajahnya sangat mirip dengannya.
Namun itu tidak mungkin.
"Ini..."
Suara Niel tertahan.
Darren mendekat untuk melihat lebih jelas.
"Tuan..."
Ia juga terlihat tidak percaya.
Aluna bergantian melihat foto dan wajah Niel.
"Aku tidak mengerti."
"Siapa orang itu?"
Niel tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
ia merasa seperti sedang melihat bagian dirinya yang hilang.
Adrian berdiri di belakang mereka.
"Kau akhirnya menemukan foto itu."
Niel langsung menoleh.
"Kau tahu tentang ini?"
Adrian tidak membantah.
"Foto itu diambil sebelum semuanya berubah."
"Sebelum ingatan kalian dihapus."
Aluna menatapnya.
"Apa maksudmu?"
Adrian menghela napas.
"Dalam Proyek Takdir, bukan hanya ingatan yang bisa dimanipulasi."
"Mereka juga mencoba memahami kemungkinan."
"Kemungkinan?"
Aluna mengerutkan kening.
Adrian melihat foto itu.
"Jalan hidup yang berbeda."
Ruangan menjadi semakin sunyi.
Niel menggenggam foto tersebut.
"Katakan yang sebenarnya."
Adrian menatapnya.
"Orang di foto itu..."
"adalah seseorang yang tidak pernah kalian kenal."
"Tapi mungkin..."
"dia adalah alasan kenapa kalian semua berada di sini."
Tiba-tiba seluruh sistem kembali menyala.
Sebuah pesan baru muncul di layar.
FASE KEDUA: AKTIF
SUBJEK N DAN A-07 TELAH KEMBALI KE TITIK AWAL.
Aluna menatap tulisan itu dengan wajah pucat.
"Titik awal..."
Niel melihat sekeliling.
Tempat ini bukan hanya laboratorium.
Bukan hanya tempat penelitian.
Tempat ini adalah awal dari semua hal yang mereka lupakan.
Adrian berjalan menuju pintu keluar.
"Kita harus pergi."
Niel menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena sekarang mereka tahu kalian sudah kembali."
"Siapa mereka?"
Adrian berhenti.
Lalu menjawab pelan.
"Orang-orang yang sejak awal..."
"mengatur permainan ini."
Pintu ruangan terbuka.
Namun sebelum mereka keluar...
Niel melihat satu tulisan kecil di bagian bawah foto.
Tulisan tangan yang hampir tidak terlihat.
"Jika kalian membaca ini, berarti aku gagal menghentikannya."
Niel membeku.
Karena tulisan itu...
adalah tulisannya sendiri.
Bersambung.....