Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Keamanan Sekolah
"Apa! Jadi anakku mau di tumbalin orang, Mas?" Tanya Meshwa. Ia tentu emosi setelah mendengar cerita dari Arjuna.
"Ojo seru-seru to, Sayangku. Ndak kerungu Bima mengko. (Jangan keras - keras to, Sayangku. Nanti Bima dengar.)" Ujar Arjuna yang mengingatkan.
"Namanya juga kaget, Mas. Lagian siapa yang gak kaget setelah denger kabar kayak gitu, coba?" Cicit Meshwa.
"Yaudah, kamu tenang aja. Yang penting kan sekarang Bima gak kenapa-napa." Ujar Arjuna yang menenangkan.
"Kalo kejadian lagi, gimana, Mas?" Tanya Meshwa yang masih tampak gusar. Sebagai Ibu, ia tentu merasa khawatir dan takut jika hal yang sama akan kembali terulang pada putranya atau bahkan anak - anak lain.
"Maka dari itu, kamu kan bisa komunikasi sama pihak Yayasan. Minta mereka buat perketat pengaman di sekolah-sekolah. Nyatanya, pagar aja gak cukup buat bikin sekolah jadi aman. Seenggaknya, setiap setiap sekolah harus punya satpam, walaupun hanya satu." Kata Arjuna.
Mendengar ucapan suaminya, Meshwa pun mengangguk mengerti. Meskipun sudah tak aktif lagi di Yayasan, namun masih ada Kak Irfan yang kini menjadi Ketua Yayasan. Kak Irfan pasti bisa ia mintai pertolongan mengenai keamanan sekolah.
"Nanti aku coba bicara sama Kak Irfan, Mas." Kata Meshwa.
"Terus, Mas tau siapa yang mau menumbalkan Bima?" Tanya Meshwa kemudian.
"Sudah Mas selesaikan urusan itu." Jawab Arjuna yang membuat Meshwa merasa sedikit lega.
Meskipun ia tak tau penyelesaian macam apa yang di lakukan oleh Arjuna, namun Meshwa percaya saja pada Arjuna jika suaminya itu sudah menyelesaikan urusan dengan si penumbal.
Saat sedang berdiskusi, terdengar suara ketukan dari pintu kamar mereka. Arjuna segera membukakan pintu setelah mendengar suara Bima memanggilnya.
"Romo kok belum siap-siap ke Masjid? Adek sama Mamas udah siap." Kata Bima saat melihat Arjuna belum berganti pakaian.
"Iya, sebentar ya, Le. Romo ganti baju dulu. Romo udah mandi kok." Kata Arjuna yang kemudian bersiap untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di Masjid.
"Adek udah gak sakit lagi?" Tanya Meshwa saat Bima menghampirinya.
"Enggak, Adek udah baik-baik aja kok, Mbun." Jawab Bima.
"Adek juga nanti mau ke sekolah ya, Mbun." Imbuh Bima kemudian.
"Gak mau libur dulu, sehari. Nanti kalau Adek sakit lagi, gimana? Istirahat dulu di rumah, ya." Bujuk Meshwa yang di jawab gelengan oleh Bima.
"Gak mau, Adek mau sekolah. Adek mau main sama teman-teman." Jawab Aka dengan kukuh.
"Yasudah, gak apa-apa kalau Adek mau sekolah. Tapi harus hati-hati, ya." Kata Arjuna yang kini sudah siap dengan pakaian koko dan juga sarungnya.
Setelah selesai bersiap, Bapak dan dua anaknya itu pun segera menuju ke Masjid ketika adzan subuh berkumandang. Setelah selesai sholat, mereka segera kembali ke rumah dan melakukan aktifitas pagi seperti biasanya.
Pagi itu pun Meshwa mengantar Aka dan Bima ke sekolah. Aka dan Bima tampak biasa saja, seolah tak terjadi apapun pada mereka semalam. Kedua bocah itu tampak riang dan berceloteh di sepanjang perjalanan.
"Mbun, Adek takut. Adek takut, Mbun." Kata Bima saat hendak keluar dari mobil. Ia terus memegangi tangan Meshwa yang membukakan pintu mobil untuknya.
"Takut apa, Nak?" Tanya Meshwa sambil menangkup wajah Bima.
"Itu, Mbun! Ada rambut itu, Adek takut." Kata Bima sambil menunjuk seorang wanita yang memiliki rambut panjang hingga menyentuh bokongnya.
Meskipun sudah diikat, namun rambutnya yang lebat dan bergelombang itu tetap saja terlihat menyeramkan bagi Bima. Ia merasakan ketakutan meskipun tak tau hal apa yang terjadi hingga menyebabkannya merasa takut.
"Ya Allah..." Lirih Meshwa. Ia tentu teringat dengan cerita Arjuna yang menemukan Bima dalam kondisi di lilit oleh jalinan rambut tebal.
"Adek, lihat Mamas." Kata Aka.
Dengan patuh, Bima pun menatap ke arah Aka yang duduk di sebelahnya. Aka kemudian menyentuh dahi Bima dengan Ibu jarinya, kemudian meniup pelan kedua mata Bima.
"Di apain Adeknya, Mas?" Tanya Meshwa yang penasaran dengan apa yang di lakukan oleh putranya.
Ia pun sudah mendengar mengenai apa yang di lakukan oleh Aka semalam bersama Arjuna dari cerita suaminya itu.
"Gak di apa-apain kok, Mbun. Ini biar Adek gak takut aja." Jawab Aka yang membuat Meshwa mengangguk-anggukan kepala.
"Ayo turun, Dek." Ajak Aka.
Aka kemudian turun sembari menggandeng tangan Bima. Bima yang awalnya takut melihat wanita dengan rambut panjang itu, kini terlihat biasa saja saat melewati wanita itu.
"Wah... Emang luar biasa banget, turunan Bopo Cokro Manggala ini." Kata Meshwa dengan kagum.
Meshwa tak beranjak dari sekolah. Ia masuk ke dalam mobilnya setelah memastikan kedua putranya masuk ke kelas masing-masing.
Meshwa kemudian meraih ponselnya dan menelfon nomor Irfan. Tentu saja ia ingin menceritakan apa yang sudah terjadi pada Bima dan meminta Kakaknya itu untuk memperketat keamanan sekolah-sekolah milik Yayasan demi kebaikan bersama.
"Apa?! Yang bener kamu, Dek?" Tanya Kak Irfan setelah mendengar cerita dari Meshwa.
"Ngapain aku bohong sama Kakak. Aku juga gak nyangka kenapa bisa ada orang jahat seperti itu masuk ke lingkungan sekolah." Jawab Meshwa.
"Terus, sekarang gimana kondisi Bima?" Tanya Kak Irfan.
"Bima udah baik - baik aja. Cuma dia sedikit trauma waktu lihat rambut panjang. Untungnya Aka bisa nenangin Adeknya." Jawab Meshwa.
"Ya Allah, Astaghfirullah." Lirih Kak Irfan sambil mengusap dadanya.
Cerita dari adiknya itu, tentu mengguncang hatinya. Ia merasa bersalah karena belum bisa memberikan keamanan secara maksimal di lingkungan sekolah milik Yayasan yang berada di bawah kepemimpinannya.
"Apa kemungkinan ada anak lain yang jadi korban ya, Dek. Dan kita sama sekali gak tau mengenai hal itu." Ujar Kak Irfan.
"Aku juga belum tau masalah itu, Kak. Aku pun menakutkan hal yang sama kayak Kakak." Jawab Meshwa.
"Kalau gitu, secepatnya Kakak akan urus masalah ini. Kakak pastikan dalam dua atau tiga hari kedepan, sudah ada petugas keamanan yang akan berjaga di setiap sekolah." Ujar Kak Irfan.
"Iya, Kak. Makasih banyak ya, Kak." Ucap Meshwa yang kini merasa lega karena Kakaknya bisa cepat bertindak.
"Kakak yang harusnya berterima kasih sama kamu dan Arjuna. Kalau gak ada kalian, mungkin hal kayak gini bakal terulang lagi di sekolah kita." Ujar Kak Irfan dengan bijak.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣