Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perhatian kecil
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah tirai tebal, menyinari debu-debu halus yang menari di udara. Siska terbangun dengan rasa kaku di seluruh tubuhnya. Ia tidak tidur di kasur empuk, melainkan di sofa kulit ruang tamu yang luas. Selimut tipis menutupi tubuhnya, dan bantal di kepalanya beraroma maskulin yang familiar, wangi Rio.
Ingatan semalam kembali menghantamnya secara bertahap. Rio yang mabuk. Genggaman tangan pria itu yang panas. Bisikan "Jangan pergi" yang masih bergema di telinganya.
Siska duduk tegak, meremas pelipisnya. "Apa yang sudah kulakukan?" gumamnya pada diri sendiri.
Dari arah dapur, terdengar suara gemericik air dan dentingan sendok. Siska mengintip. Rio berdiri di sana, mengenakan kaus oblong abu-abu longgar dan celana olahraga. Rambutnya masih acak-acakan, namun wajahnya sudah bersih. Pria itu sedang membuat kopi, gerakannya lambat, seolah setiap ototnya masih protes akibat hangover.
Rio menoleh, matanya bertemu dengan Siska. Tidak ada senyum miring atau ejekan khasnya pagi ini. Hanya ada keheningan yang berat.
"Kopi hitam, tanpa gula. Sesuai seleramu, kan?" ucap Rio parau, suaranya serak karena kurang tidur. Ia meletakkan cangkir di meja tengah, lalu duduk di kursi tunggal di seberang Siska, menjaga jarak yang aman.
Siska menatap cangkir itu, lalu menatap Rio. "Kenapa kamu tidak mengusirku pagi-pagi? Atau setidaknya, kenapa kamu membiarkanku tidur di sini?"
Rio menelan ludah, pandangannya tertuju pada uap kopi yang mengepul. "Karena kalau aku mengusirmu, aku akan merasa seperti orang jahat. Dan..." Ia berhenti sejenak, mengangkat pandangan. Matanya yang biasanya tajam kini terlihat lelah dan jujur. "Dan karena aku tidak ingin kamu pergi saat aku masih setengah sadar. Aku butuh tahu bahwa kau benar-benar melihatku, Siska. Bukan Rio si playboy, bukan Rio si pewaris grup usaha. Tapi Rio yang kacau balau ini."
Jantung Siska berdegup kencang. Pengakuan itu terlalu intim, terlalu rentan untuk pria setegar Rio. Ia ingin menjawab dengan sarkasme, ingin melempar bantal dan berkata 'Dasar gila', tapi kata-kata itu macet di tenggorokannya. Sebagai gantinya, ia hanya mengangguk pelan, mengambil cangkir kopinya, dan meminumnya dalam diam. Rasa pahit kopi itu bercampur dengan rasa aneh di dadanya,rasa yang mulai mirip dengan kepedulian.
Siang Hari – Rumah Davina
Davina menatap layar komputernya, namun matanya tidak fokus. Dokumen di depannya tampak buram. Sejak pagi, pikirannya hanya dipenuhi oleh wajah Adit dan janji Zahra tentang es krim cokelat.
"Izinkan aku membantu."
Kalimat Adit semalam terasa seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, itu menawarkan kenyamanan yang sangat ia rindukan. Di sisi lain, itu mengingatkan Davina pada betapa lemahnya ia saat ini. Ia membenci ketergantungan. Ia membenci fakta bahwa air matanya tumpah di mobil kemarin hanya karena seorang pria bersikap baik padanya.
Tiba-tiba, Bu Rani datang. "Davina, ada paket untukmu sayang"
Kening Davina mengerut, seingatnya dia tidak pernah memesan apapun melalui online.
"Dari siapa bu ? Ucap Davina.
" kurirnya bilang , Dari anonim sayang , dia hanya disuruh " Ucap Bu Rani senyum hangat sambil memberikan paket yang ia terima dari kurir.
Davina menerima paket yang di berikan ibunya sambil melihatnya dengan tatapan bingung.
Di dalamnya terdapat sebuah botol vitamin prenatal merek premium yang selama ini ia hindari karena harganya terlalu mahal, terselip secarik kertas tanpa nama, hanya tertulis satu kalimat dengan tulisan tangan yang rapi dan tegas:
"Kekuatan bukan berarti menolak bantuan. Kekuatan adalah tahu kapan harus berbagi beban. Jangan menolak , ini bukan untukmu melainkan gadis kecil ku , agar ia tidak sedih kalau ibunya sakit ,minumlah demi kesehatanmu, biar zahra senang"
Davina menggenggam kertas itu erat-erat. Jemarinya gemetar. Ini bukan sekadar suap atau rayuan murahan. Adit memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan Davina abaikan karena kesibukannya. Ia memperhatikan kesehatan Davina, dan ia memikirkan kebahagiaan Zahra.
Rasa kesalnya perlahan luntur, digantikan oleh rasa takut yang lebih besar: Takut jika ia mulai berharap lagi.
" Apaan sih dia ! " Ucap Davina jengkel
Davina , menyimpan vitamin itu di laci meja.Ia terlihat jengkel namun ada rasa menggelitik sudah lama orang tidak pernah memperhatikan detail kecil darinya.Davina saja tidak pernah memikirkan kesehatannya , jangankan itu ketika hidup dengan Rio.Rio tidak pernah memberikan perhatian kecil atau bahkan memikirkan kesehatannya.
Sore Hari – Taman Kota
Langit mulai berwarna jingga. Davina memutuskan untuk menjemput Zahra lebih awal hari ini. Ia ingin menghabiskan waktu berkualitas dengan putrinya sebelum keputusan apa pun diambil mengenai Adit.
Saat mereka duduk di bangku taman, memakan eskrim, Zahra tiba-tiba bertanya, "Mah, kenapa Om Adit sedih tadi pagi? Wajahnya seperti mau menangis, tapi dia tersenyum."
Davina terkejut. Ia menatap putrinya lekat-lekat. "Zahra lihat Om Adit pagi ini?"
"Iya! Waktu aku masuk gerbang sekolah, Om Adit masih di sana. Dia melihat Mah pergi, lalu dia menghela napas panjang sekali. Seperti... seperti orang yang kehilangan mainan favoritnya," jelas Zahra polos.
Dada Davina sesak. Gambaran Adit yang berdiri sendirian, menatap kepergiannya dengan tatapan pasrah, terus menghantuinya. Ia menyadari bahwa penolakannya kemarin bukan hanya melukai dirinya sendiri, tapi juga pria yang telah menunggu selama bertahun-tahun.
Sebelum Davina sempat menjawab, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia hafal di luar kepala.
Adit: " kamu sudah minum vitamin yg aku berikan "
Davina menatap layar ponselnya.Detak jantung Davina kembali berpacu. Kali ini, bukan karena takut. Tapi karena harapan.
Sebuah mobil luxury hitam berhenti, tepat di hadapan zahra dan Davina.
"Om Adit " Ucap zahra riang.
Davina langsung melihat ke arah depan, dan napasnya seolah tercekat di tenggorokan.
Adit berdiri bersandar pada kap mobil hitamnya, pose yang santai namun memancarkan aura dominan yang sulit diabaikan. Ia mengenakan kemeja putih crisp yang kontras dengan kulitnya yang agak gelap karena sinar matahari sore. Kancing paling atas terbuka, memperlihatkan lekuk tulang selangkanya yang tegas, sementara dasi sutranya tergantung longgar di leher—tidak lagi terikat rapi seperti pria kantoran kaku, melainkan memberi kesan effortless dan sedikit liar.
Yang paling membuat mata Davina sulit berpaling adalah lengan kemeja Adit. Kain putih itu digulung kasar hingga ke atas siku, mengekspos otot-otot lengan bawahnya yang kekar dan vena-vena yang menonjol jelas saat ia memegang kunci mobil. Tampilan itu menghilangkan jarak formalitas di antara mereka, mengubah Adit dari sekadar "mantan kekasih yang sukses" menjadi pria dewasa yang matang, berbahaya, dan sangat... memikat.
Angin sore berhembus pelan, menerbangkan ujung dasi Adit dan mengacak-acak sedikit rambutnya. Saat Adit menyadari tatapan Davina, ia tidak segera berbicara. Ia hanya menatap balik, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang tahu diri,senyuman yang menyadari betul efek yang ditimbulkannya pada wanita di hadapannya.
Davina merasa pipinya memanas. Ia membenci fakta bahwa tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada otaknya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut kali ini, tapi karena daya tarik primitif yang masih tersisa kuat di antara mereka.
"Kamu terlambat tiga menit bercanda," ucap Adit akhirnya, suaranya berat dan serak, memecah keheningan yang penuh ketegangan. Namun matanya tidak lepas dari wajah Davina, menelusuri setiap ekspresi kecil yang coba disembunyikan wanita itu.
Davina menelan ludah, berusah mendapatkan kembali ketenangannya. "penguntit," jawabnya singkat, meski suaranya terdengar lebih lembut dari yang ia rencanakan.Padahal Davina tidak ingin bertemu dengan Adit tapi lagi - lagi adit punya radar ia berada.
Adit tertawa kecil, tawa yang rendah dan menggema di dada. Ia melangkah mendekat, aroma cologne kayu dan tembakau yang khas menyeruak, menyergap indera penciuman Davina.
"Bohong," bisik Adit, kini jarak mereka hanya selebar satu langkah. "Kamu sedang memperhatikanku, Davina. Dan aku tidak marah. Sebenarnya... aku senang."
Davina ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia hanya melihat ke arah mobilnya. Tapi kata-kata itu mati di bibirnya. Karena dalam diam-diam, ia tahu Adit benar. Di balik semua alasan logis dan ketakutannya, ada bagian dari dirinya yang masih lapar akan kehadiran pria ini. Pria dengan kemeja putih tergulung dan dasi longgar yang membuatnya lupa cara bernapas.