Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Ambisi sang Tuan Muda
Langkah kaki Kinanti Larasati berderap cepat di atas tanah berbatu, seolah-olah dia tengah dikejar oleh monster yang paling menakutkan. Gadis itu menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Setelah pertemuan yang mengejutkan sekaligus mengintimidasi di pinggir jalan pagi itu, Kinanti memilih melarikan diri, meninggalkan Baskara begitu saja tanpa menoleh lagi ke belakang.
Tujuannya hanya satu,rumah Ibu Romlah. Dia harus segera menenggelamkan diri dalam tumpukan baju kotor demi mengalihkan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Dasar pria keras kepala! Egois! Sok berkuasa!" umpat Kinanti lirih di sepanjang jalan. Suaranya bergetar menahan kekesalan yang amat sangat. Seumur hidupnya, belum pernah dia bertemu dengan pria seangkuh dan sedingin Baskara Dirgantara. Pria itu memperlakukannya seolah-olah masa depan Kinanti adalah barang dagangan yang bisa dibeli dengan mudah.
Sementara itu, di tepi jalan yang mulai dilewati satu dua warga kampung, Baskara masih berdiri mematung. Matanya lurus menatap punggung kecil Kinanti yang perlahan menghilang di belokan jalan. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai yang sulit diartikan. Pria itu kemudian berbalik, melangkah tegap menuju mobil mewah hitamnya. Pintu mobil ditutup dengan dentuman keras, sebelum mesin menderu dan kendaraan itu melaju membelah jalanan kampung menuju pabrik beras milik keluarganya.
Suara bising mesin pabrik langsung menyambut kedatangan Baskara begitu mobilnya memasuki area parkir khusus. Tanpa memedulikan sapaan hormat dari para karyawan yang berpapasan dengannya, Baskara melangkah lurus menuju gedung utama, tepatnya ke ruang kerja pimpinan.
Di dalam ruangan yang ber-AC sejuk itu, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan rambut yang mulai memutih tampak sedang memeriksa beberapa dokumen. Dialah Pak Ramli, pemilik sah dari seluruh aset pabrik ini sekaligus ayah kandung Baskara.
Mendengar pintu ruangannya terbuka, Pak Ramli mendongak. Begitu mendapati sang putra sulung yang masuk dengan wajah datar tanpa ekspresi, Pak Ramli langsung meletakkan pulpennya. Beliau tidak ingin membuang waktu untuk basa-basi.
"Bagaimana? Apa kamu setuju atas perjodohanmu dengan anak Adrian?" tanya Pak Ramli langsung pada intinya. Tatapannya menuntut jawaban pasti.
Baskara tidak langsung menjawab. Dia berjalan menuju sofa kulit di sudut ruangan, lalu mendudukkan tubuhnya dengan santai.
Melihat keterdiaman anaknya, Pak Ramli menghela napas panjang, lalu bangkit dari kursi kerjanya. Beliau berjalan mendekat, berdiri di depan Baskara dengan gurat wajah penuh kecemasan.
"Baskara... Ayah melakukan ini bukan tanpa alasan. Ayah hanya tidak suka melihat mantan istrimu, Chnthia, masih saja terus-menerus mengganggu kehidupanmu. Kamu tahu sendiri bagaimana wataknya. Kalau kamu tidak segera menikah lagi dan membangun rumah tangga yang baru, wanita licik itu pasti akan tetap datang ke rumahmu dengan sejuta alasan apapun!"
Suara Pak Ramli mendadak meninggi saat ingatan masa lalu kembali mengusik benaknya. "Ayah sudah memperingatkanmu jauh-jauh hari sebelum kamu memutuskan untuk menikahi wanita itu dulu, Baskara! Dan lihat apa yang kamu dapatkan sekarang? Penghinaan! Pengkhianatan! Belum lagi sifat wanita licik itu yang gila harta dan terus memerasmu!"
Mendengar nama wanita dari masa lalunya disebut, rahang Baskara mendadak mengeras. Sorot matanya yang semula tenang berubah menjadi sedingin es yang mematikan. Luka lama akibat pengkhianatan Cynthia Praditya seolah dikuliti kembali.
"Sudahlah, Yah. Jangan sebut-sebut lagi nama wanita itu di depan aku," potong Baskara dengan suara berat yang sarat akan penekanan. "Setahu Ayah juga bukan aku yang mengejarnya lagi. Wanita itu sendiri yang selalu datang mencari celah, memanfaatkan anak kami, Natasha, sebagai tameng agar bisa masuk kembali ke dalam hidupku."
Baskara terdiam sejenak. Bayangan wajah polos Kinanti yang menangis di pinggir jalan tadi mendadak melintas di kepalanya. Gadis desa yang berani menolaknya mentah-mentah itu jauh berbeda dengan Cynthia yang penuh kepalsuan dan tipu daya.
Baskara menarik napas dalam-dalam, lalu menegakkan posisi duduknya. "Aku setuju," ucap Baskara tegas, membuat suasana ruangan mendadak hening. "Aku setuju untuk menikahi Kinanti Larasati."
Pak Ramli sedikit terkesiap, namun belum sempat beliau tersenyum lega, kalimat Baskara berikutnya justru membuat sang ayah tertegun.
"Kalau bisa, secepatnya lamar gadis itu ke rumahnya. Minggu ini juga," sambung Baskara dingin tanpa keraguan sedikit pun.
Ayah Ramli menatap ke arah anaknya dengan mata melebar, benar-benar terkejut atas permintaan sepihak untuk mempercepat proses lamaran terhadap gadis desa tersebut. Ini sangat tidak mirip dengan Baskara yang biasanya penuh perhitungan dan keras kepala.
"Apakah... ada sesuatu yang Ayah tidak tahu, Baskara?" tanya Pak Ramli penuh selidik. Beliau menatap putranya dengan dahi berkerut heran. "Tumben sekali kamu langsung setuju, bahkan meminta dipercepat? Tidak ada penolakan atau perdebatan sama sekali seperti biasanya?"
Baskara menghela napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya kembali ke sofa. Wajahnya kembali datar, menyembunyikan rapat-rapat ketertarikan misteriusnya pada Kinanti yang baru saja dia temui pagi tadi.
"Ayah menyuruhku untuk segera menikah lagi kan demi menjauhkan Cynthia? Dan sekarang aku mengiyakan keinginan Ayah. Terus... apa yang salah?" ucap Baskara balik bertanya dengan nada acuh tak acuh.
Sebelum ayahnya sempat mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang menjebak, Baskara langsung berdiri dari kursinya.
"Sudahlah, Yah. Masalah ini jangan diperpanjang lagi. Lakukan saja proses lamarannya secepat mungkin," ucap Baskara mengakhiri percakapan secara sepihak. "Aku mau ke gudang belakang dulu untuk memeriksa stok beras yang akan dikirim sore ini."
Tanpa menunggu persetujuan atau kalimat balasan dari ayahnya, pria bertubuh jangkung itu langsung membalikkan badan. Langkah kakinya yang lebar dan tegas membawanya keluar, meninggalkan Pak Ramli sendirian di dalam ruangan yang kini dipenuhi oleh tanda tanya besar mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi antara Baskara dan Kinanti pagi ini.
Langkah kaki Baskara bergaung di koridor pabrik yang luas. Begitu kakinya menginjak area gudang penyimpanan beras yang, pria itu sebenarnya tidak benar-benar fokus pada tumpukan beras di depannya. Pikirannya justru melayang kembali ke pinggir jalan setapak tadi pagi.
Bayangan wajah Kinanti Larasati yang basah oleh air mata, namun menatapnya dengan binar mata yang penuh keberanian dan penolakan, terus berputar-putar di kepalanya. Selama ini, wanita mana pun yang mendekatinya selalu memuja kekayaan atau ketampanannya. Baru kali ini, seorang gadis desa berumur sembilan belas tahun menatapnya seolah-olah dia adalah sebuah petaka.
Baskara mendengus pelan, menyilangkan dada sambil bersandar pada salah satu pilar besi gudang. Gadis yang menarik, batinnya. Ada semacam ego kebapakan dan lelaki matang yang terusik di dalam dirinya. Dia tidak sabar ingin melihat bagaimana gadis itu akan tunduk di bawah aturannya setelah mereka sah menjadi suami istri nanti.
Tiba-tiba, getaran keras di saku celana jasnya memecahkan lamunan Baskara. Pria itu merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel pintarnya. Begitu melihat nama yang tertera di layar digital tersebut, rahang Baskara langsung mengeras seketika.
Cynthia Praditya
Baskara membiarkan ponsel itu bergetar selama beberapa detik, berniat mengabaikannya. Namun, karena panggilan itu tak kunjung mati, dengan helaan napas kasar dan ekspresi wajah yang berubah sedingin es, Baskara menggeser layar untuk menerima panggilan tersebut.
"Ada apa lagi, Cynthia?" tanya Baskara langsung, tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat tajam dan intimidatif.
Dari seberang telepon, terdengar suara tawa renyah yang dibuat-buat, disusul dengan nada manja yang sangat manipulatif. "Wow, santai sedikit, Mas Baskara. Kenapa ketus sekali pada ibu dari anakmu sendiri? Aku hanya merindukan Natasha. Aku berniat datang ke rumahmu akhir pekan ini untuk mengajaknya berbelanja dan menginap di apartemenku."
"Tidak perlu," potong Baskara cepat dan mutlak. "Natasha sedang sibuk dengan ujian sekolahnya. Jangan mengganggu ketenangannya dengan drama-drama sialanmu lagi, Cynthia."
"Oh, ayolah, Baskara. Kamu tidak bisa memisahkan seorang ibu dari putrinya yang malang," sahut Cynthia di seberang sana, suaranya mendadak berubah menjadi sedih yang penuh kepalsuan. "Atau... sebenarnya kamu yang merindukanku tapi gengsi untuk mengakuinya? Kamu tahu kan, pintu hatiku selalu terbuka kalau kamu mau kita rujuk kembali demi kebaikan masa depan Natasha?"
Baskara mengepalkan tangan kirinya hingga buku-buku jarinya memutih. Sifat angkuh dan gila harta wanita ini benar-benar tidak pernah berubah sejak perceraian mereka tiga tahun lalu. Cynthia hanya memanfaatkan Natasha sebagai alat untuk terus menguras hartanya dan mencari celah agar bisa kembali menikmati kemewahan keluarga Dirgantara.
"Dengar baik-baik, Cynthia," ucap Baskara dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Jangan pernah bermimpi untuk kembali ke rumahku. Dan satu hal lagi yang harus kamu tahu... akhir pekan ini aku akan melamar seorang gadis. Aku akan segera menikah lagi dalam waktu dekat. Jadi, berhentilah bertingkah seolah-olah kamu masih punya hak atas hidupku!"
Tanpa menunggu balasan atau jeritan histeris dari mantan istrinya, Baskara langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Dia memasukkan kembali ponselnya dengan kasar. Keputusannya sudah bulat 100%. Dia harus mempercepat pernikahannya dengan Kinanti, bukan hanya untuk memenuhi keinginan ayahnya, tapi juga sebagai benteng kokoh untuk menyingkirkan Cynthia dari hidupnya selamanya.
Sementara itu, di sudut kampung yang lain, suasana bertolak belakang tengah terjadi di halaman belakang rumah Bu Romlah. Bunyi kecipak air dan kucekan kain terdengar berulang-ulang. Kinanti Larasati sedang berlutut di depan sebuah ember besar yang penuh dengan busa sabun.
Air matanya sudah berhenti mengalir, namun matanya tampak sangat sembab dan merah. Dia meluapkan seluruh rasa sesak, amarah, dan ketakutannya pada tumpukan pakaian kotor di depannya. Dia mengucek kain-kain itu dengan sekuat tenaga, seolah-olah dengan cara itulah dia bisa menghancurkan takdir buruk yang sedang mengepungnya.
Kenapa hidup ini tidak adil? ratap Kinanti dalam hati. Aku hanya ingin bekerja normal, mengumpulkan uang, dan kuliah. Kenapa aku harus dijual kepada seorang duda kaya hanya karena utang dan kemiskinan?
"Kinanti..."
Sebuah tepukan lembut di pundaknya membuat Kinanti terkesiap. Gadis itu buru-buru menghapus keringat di dahinya sekaligus memastikan tidak ada sisa air mata yang terlihat. Dia mendongak dan mendapati Bu Romlah, wanita paruh baya pemilik rumah, sedang berdiri menatapnya dengan pandangan penuh rasa iba.
"Eh, iya, Bu Romlah. Ada apa?" tanya Kinanti, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar ceria.
Bu Romlah menghela napas panjang, lalu ikut berjongkok di samping Kinanti. Beliau merebut selembar pakaian yang sedang diperas dengan sangat kencang oleh Kinanti. "Nduk... kamu itu sedang mencuci baju atau sedang memendam amarah? Kain ini bisa robek kalau kamu peras seperti ini," ucap Bu Romlah dengan nada keibuan yang lembut.
Kinanti langsung menundukkan kepalanya, mendadak merasa bersalah. "Maaf, Bu... Kinan tidak fokus."
Bu Romlah memegang kedua tangan Kinanti yang tampak memerah dan kasar akibat deterjen murahan. "Ibu sengaja keluar karena sejak tadi mendengar isakanmu dari dalam rumah. Ada apa, Kinan? Apa ada masalah berat di rumah? Ceritalah pada Ibu, siapa tahu bebanmu bisa sedikit berkurang."
Pertanyaan yang tulus itu hampir saja membuat pertahanan Kinanti kembali runtuh. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang kembali mendesak ingin keluar. "Kinan... Kinan mau dijodohkan oleh Bapak dan Ibu, bisik Kinanti akhirnya, tak mampu lagi memendam rahasia itu sendirian.
Bu Romlah sedikit terkejut, namun beliau segera mengelus punggung Kinanti untuk menenangkannya. "Dijodohkan? Dengan siapa, Nak?"
"Dengan Om Baskara... anaknya Juragan Ramli pemilik pabrik beras," jawab Kinanti dengan nada suara yang sangat putus asa. "Kinan tidak mau, Bu. Kinan masih sembilan belas tahun. Kinan masih ingin bebas bekerja dan kuliah. Tapi Ibu dan Bapak memaksa karena... karena alasan ekonomi keluarga kami."
Bu Romlah terdiam cukup lama mendengar nama Baskara disebut. Sebagai orang lama di kampung itu, Bu Romlah tentu tahu siapa keluarga Tuan Ramli dan bagaimana tabiat anak laki-lakinya yang kaya raya namun dingin itu.
"Kinan..." Bu Romlah menatap lurus ke dalam mata bening Kinanti dengan tatapan yang sangat dalam. "Ibu tahu ini pasti sangat berat untuk anak seusiamu. Menikah di usia muda dengan seorang duda yang sudah memiliki anak tentu bukan impian gadis mana pun. Tapi, sebagai orang luar, Ibu hanya bisa menasihatimu satu hal."
Bu Romlah menggenggam erat tangan Kinanti. "Bapak dan ibumu adalah orang baik. Mereka tidak mungkin menjerumuskan anak tunggal mereka ke dalam kesengsaraan jika mereka tidak benar-benar terdesak atau jika mereka tidak yakin pria itu bisa menjagamu. Terkadang, takdir tidak datang dengan cara yang kita sukai, Kinan. Jalani dulu dengan ikhlas demi orang tuamu. Siapa tahu... di balik ketakutanmu saat ini, pria itu justru adalah pintu pembuka bagi semua impian-impianmu yang tertunda."
Kata-kata Bu Romlah terngiang-ngiang di telinga Kinanti. Gadis itu terdiam mematung, menatap air sabun yang keruh di dalam ember. Pikirannya kembali melayang pada kalimat ancaman terakhir Baskara di pinggir jalan tadi: “Kalau memang kamu ingin melihat kedua orang tuamu bahagia, turutilah apa yang mereka inginkan.”
Kinanti memejamkan matanya rapat-rapat. Perlahan, sebuah kepasrahan yang pahit mulai merayap di hatinya. Dia tahu, tidak ada jalan keluar lagi untuk melarikan diri. Demi senyuman bapak dan ibunya, dia harus siap menukar kebebasan dan masa mudanya untuk masuk ke dalam kehidupan sang Tuan Muda yang sedingin es.