Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Pintu Ruang Kepala Sekolah
Lorong lantai dua yang menuju ruang Kepala Sekolah terasa lebih lengang dari biasanya. Langkah kaki Callista dan Kenzo berdampingan menapak ubin marmer yang bersih, menciptakan irama teratur yang memecah keheningan koridor. Meskipun tidak ada lagi kecanggungan emosional yang menyiksa di antara mereka, ada aura keseriusan yang mendadak melingkupi atmosfer di sekeliling dua siswa berprestasi tersebut.
Kenzo berjalan dengan gestur tegap seperti biasa, menyelipkan kedua tangannya di dalam saku celana seragamnya.
"Lo udah tahu soal program seleksi pertukaran pelajar ini sebelumnya, Nzo?" tanya Callista pelan, memecah keheningan di antara mereka sebelum mencapai pintu kayu jati berukir di ujung lorong.
Kenzo menoleh tipis, menatap Callista dengan sorot mata yang teduh dan matang. "Bapak sempat menyentuh topik ini minggu lalu pas rapat pengurus yayasan. Tapi detail resminya baru bakal dijelaskan sama Pak Kepala Sekolah hari ini. Ini program tahunan kerja sama provinsi dengan beberapa sekolah di Singapura dan Australia."
Callista mengangguk-angguk kecil. Singapura dan Australia. Nama dua negara itu melintas di pikirannya membawa beban tersendiri. Bagi siswa SMA Wijaya, lolos seleksi ini bukan sekadar gengsi akademis, melainkan tiket emas menuju universitas ternama di masa depan.
Kenzo mengetuk pintu kayu tebal itu tiga kali dengan ritme yang teratur.
"Masuk," suara berat Pak Hartawan, Kepala Sekolah SMA Wijaya, terdengar dari dalam.
Ketika Kenzo mendorong pintu, harum aroma kayu jati, pendingin udara, dan kertas dokumen langsung menyambut mereka. Pak Hartawan duduk di balik meja kerjanya yang luas, didampingi oleh Pak Bambang yang sudah lebih dulu tiba. Di atas meja, beberapa tumpukan map tebal berwarna merah dan emas tersusun rapi.
"Silakan duduk, Kenzo, Callista," tutur Pak Hartawan ramah seraya mengisyaratkan dua kursi busa di depan mejanya.
Keduanya duduk dengan sikap sempurna.
"Langsung saja ya," Pak Hartawan membuka pembicaraan sambil merapikan letak kacamatanya. "Evaluasi kepanitiaan Bulan Bahasa kemarin menunjukkan bahwa kalian berdua memiliki kapasitas kepemimpinan, manajerial, dan komunikasi akademis yang sangat luar biasa. Nilai rapor kalian berdua juga konsisten berada di jajaran teratas angkatan Sepuluh."
Pak Hartawan menggeser dua map emas ke hadapan Kenzo dan Callista.
"Ini adalah berkas pendaftaran Young Asian Leaders Exchange Program. Tahun ini, SMA Wijaya mendapatkan kuota dua orang siswa untuk dikirim mengikuti seleksi tahap akhir di tingkat provinsi," lanjut Pak Hartawan tegas. "Pihak sekolah dan dewan guru telah memutuskan untuk merekomendasikan kalian berdua sebagai wakil resmi sekolah kita."
Callista menatap map emas di depannya dengan dada bergemuruh. Kesempatan emas ini adalah impian setiap siswa, namun di saat yang sama, ia melihat tabel persyaratan yang tertera di halaman depan. Kualifikasi nilai, esai kepemimpinan, wawancara bahasa asing, dan proyek sosial yang sangat padat.
"Program seleksi ini akan berlangsung intensif selama dua bulan ke depan," tambah Pak Bambang menimpal. "Artinya, jadwal kalian akan sangat padat. Selain mempertahankan nilai harian di kelas, kalian harus mengikuti bimbingan khusus setiap sore setelah jam sekolah usai."
"Baik, Pak. Kami akan mempersiapkan diri sebaik mungkin," jawab Kenzo tegas tanpa ragu sedikit pun.
Pak Hartawan menatap Callista. "Bagaimana, Callista? Apakah kamu siap menerima tanggung jawab dan tantangan ini?"
Callista menarik napas panjang, meremas jemarinya di atas pangkuan, lalu mengangguk mantap. "Saya siap, Pak. Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan sekolah."
"Bagus," Pak Hartawan tersenyum puas. "Ingat, kalian berdua adalah pasangan tim wakil sekolah. Kalian harus saling mendukung dalam penyusunan riset dan proyek sosial nanti. Pengarahan awal bimbingan dimulai sore ini jam empat di ruang multi-media."
Ketika keluar dari ruang Kepala Sekolah, matahari siang sudah berada tepat di atas kepala, memancarkan terik hangat di pelataran sekolah.
Callista memeluk map emas itu erat di dadanya. Ada rasa bangga yang membuncah, namun juga bayangan kelelahan dan tanggung jawab besar yang siap menghadang di depan.
"Selamat, Callista," kata Kenzo pelan saat mereka berjalan kembali menuju koridor kelas. "Gue yakin lo bisa lewati seleksi ini dengan mudah."
Callista tersenyum tipis. "Makasih, Kenzo. Tapi lo tahu sendiri kan, riset proyek sosialnya bakalan menyita waktu banget. Lo sendiri gimana? Beban OSIS lo kan masih banyak."
"Gue bisa atur waktu," balas Kenzo tenang, menyunggingkan senyum tipisnya yang khas. "Lagian, kita kan satu tim lagi di program ini. Gue bakal bantu lo kalau lo butuh bantuan riset."
Callista menatap Kenzo, merasa bersyukur atas kedewasaan cowok itu. Tidak ada jarak canggung di antara mereka; hubungan mereka kini bertransformasi menjadi rekan tim akademis yang solid dan saling menghormati.
Saat mereka berdua tiba di depan pintu kelas Sepuluh-Tiga, jam istirahat pertama baru saja dimulai. Kelas tampak ramai oleh anak-anak yang hendak menuju kantin.
Dari ambang pintu, Callista langsung melihat Sean yang sedang berdiri di dekat mejanya, membawakan dua kotak susu rasa cokelat dan seplastik gorengan hangat dari kantin Pak Min.
Ketika mata Sean menangkap keberadaan Callista dan Kenzo yang berjalan berdampingan membawa map emas tebal, Sean menghentikan gerakannya sejenak. Sorot matanya menunjukkan rasa ingin tahu, namun tidak ada lagi api cemburu atau ketakutan liar di dalamnya.
Callista melangkah cepat mendekati mejanya, meninggalkan Kenzo yang berjalan menuju bangku belakang setelah menyapa Sean dengan anggukan kaku yang sopan.
"Gimana di ruang Kepsek tadi, Cal?" tanya Sean penasaran seraya menyerahkan kotak susu cokelat dingin pada Callista. "Soal pengocokan pengurus kelas ya?"
Callista duduk di kursinya, meletakkan map emas itu di atas meja. "Bukan, Sean. Ini..." Callista membuka map tersebut dan memperlihatkannya pada Sean. "...sekolah nunjuk gue sama Kenzo buat mewakili SMA Wijaya di seleksi pertukaran pelajar tingkat provinsi."
Sean menunduk, membaca judul cetakan emas di sampul berkas tersebut: Young Asian Leaders Exchange Program.
Mata Sean menelusuri nama Callista dan Kenzo yang tercetak resmi di lembar rekomendasi sekolah. Untuk sepersekian detik, Sean terdiam. Ia sadar betul betapa tingginya panggung yang sedang dipijak oleh Callista dan Kenzo—dunia akademis bernilai tinggi yang membutuhkan fokus ekstra.
Namun, alih-alih menarik diri atau menunjukkan raut menderita seperti dulu, Sean mengangkat wajahnya. Ia menyunggingkan senyuman paling tulus dan hangat yang membuat matanya sedikit menyipit.
"Wah... keren banget lo, Cal!" puji Sean jujur, suaranya dipenuhi rasa bangga yang teramat sangat. "Gue tahu otak lo emang encer dari kecil, tapi direkomendasiin sekolah buat level internasional gini... gila, lo hebat banget!"
Callista menatap Sean terpaku, terkejut sekaligus tersentuh oleh reaksi sahabatnya. "Tapi, Sean... jadwal bimbingannya bakal padat banget tiap sore. Gue mungkin bakal sering pulang lambat dan sibuk riset sama tim..."
Sean terkekeh pelan, meletakkan plastik gorengan di meja Callista. "Terus kenapa? Lo takut gue kesepian?" Sean menepuk dadanya pelan dengan nada usil. "Tenang aja, Bu Sekretaris. Tugas gue sebagai sahabat dan pelindung lo gak berubah. Gue bakal tetap nungguin lo selesai bimbingan sore, anterin lo pulang, dan pastikan stok susu cokelat lo gak pernah kosong."
Air mata haru menggenang samar di sudut mata Callista. Ia menggenggam erat kotak susu pemberian Sean. Di tengah impian besar dan persaingan ketat yang baru saja dimulai, Callista tahu ia tidak akan pernah goyah—sebab ada Sean yang selalu siap menjadi rumah dan tempatnya berlabuh.