Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taman Istana
Denting cangkir porselen yang beradu dengan meja marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasi Evelyn Roselia. Di sudut paviliun kaca yang dipenuhi mawar putih, bisik-bisik para wanita bangsawan beralih arah semudah angin musim gugur menyapu dedaunan kering. Nama keluarga Evander, yang biasanya hanya disebut dalam nada simpati yang merendahkan, kini meluncur dari bibir mereka dengan ketertarikan baru.
Evelyn meremas saputangan rendanya di bawah meja hingga kuku-kukunya yang dipoles merah muda memutih. Senyum manis yang biasa ia pamerkan kini tampak kaku, seperti topeng lilin yang hampir meleleh di bawah terik matahari. Ia menatap Aria dengan binar mata yang memancarkan kebencian mendalam, meski suaranya tetap dijaga agar terdengar lembut.
“Sungguh keberuntungan yang luar biasa, Lady Aria,” ujar Evelyn, nadanya agak bergetar. “Siapa yang menyangka kereta dagang Henderson akan tiba tepat waktu setelah badai di perbatasan? Dewi Keberuntungan tampaknya sedang berpihak pada keluarga Anda.”
“Keberuntungan selalu menyertai mereka yang bersiap, Lady Evelyn,” balas Aria tenang.
Ia menyesap teh kamomilnya yang mulai mendingin, berusaha menyembunyikan getaran halus di jemarinya. Di balik ketenangannya, pelipis Aria berdenyut menyakitkan. Setiap kali ia menggunakan kemampuan untuk mengubah baris naskah realitas, rasa lelah yang luar biasa selalu datang menghantam, menyedot energi kehidupan dari tubuhnya.
Aria bangkit berdiri dengan gerakan anggun yang telah ia latih berulang kali di depan cermin kamarnya. Ia memberikan anggukan sopan kepada para hadirin yang kini memandanginya dengan rasa hormat yang baru tumbuh. “Jika Anda sekalian memaafkan saya, udara di dalam paviliun ini agak menyesakkan. Saya ingin mencari udara segar di luar.”
Tanpa menunggu jawaban, Aria melangkah keluar menuju selasar yang menghubungkan paviliun dengan taman dalam istana. Begitu ia berada di balik pilar marmer yang tinggi, ia menyandarkan bahunya ke dinding batu yang dingin. Ia memejamkan mata, menghirup aroma tanah basah dan melati yang mengambang di udara sore.
“Aria, kau terlalu memaksakan diri,” sebuah suara halus selembut embun berbisik di dekat telinganya.
Sesosok cahaya keemasan seukuran ibu jari muncul dari balik lipatan gaunnya, perlahan membentuk rupa peri kecil berambut perak. Itu Lumi. Roh Pena Takdir itu menatap Aria dengan sepasang mata bulatnya yang dipenuhi kecemasan.
“Aku harus melakukannya, Lumi,” bisik Aria tanpa membuka mata. “Jika aku tidak mengubah rute kereta Henderson, kontrak pasokan botol kaca ayahku akan batal. Evelyn akan menggunakan kegagalan itu untuk menginjak-injak harga diri keluarga kami di depan semua orang.”
“Tetapi naskah dunia ini memiliki daya tahan sendiri,” Lumi memperingatkan, mendarat di atas bahu Aria yang dilapisi kain beludru. “Setiap kali kau menulis ulang detail kecil, dunia akan mencoba menyeimbangkan dirinya kembali. Jangan terlalu sering menantang arus.”
“Aku tidak menantang arus, aku sedang membuat jalanku sendiri,” sahut Aria lirih.
Aria membuka mata ketika mendengar langkah kaki yang berat namun teratur mendekat dari arah koridor. Sontak, Lumi menghilang dalam kepulan cahaya redup, kembali menyatu ke dalam batin Aria.
Seorang pria jangkung dengan jubah hitam berpotongan militer berdiri beberapa langkah darinya. Lambang naga emas yang menyala di dada kirinya mempertegas identitas sang pemilik—Pangeran Kael Ashford. Aura kepemimpinannya yang dingin seolah membekukan udara hangat di sekitar mereka.
“Anda terlihat seperti prajurit yang baru saja memenangkan pertempuran namun kehabisan darah, Lady Evander,” suara Kael terdengar berat, memecah kesunyian taman.
Aria segera menegakkan tubuhnya, menekan rasa pening yang masih berputar di kepalanya. Ia memberikan hormat formal yang sempurna. “Yang Mulia Putra Mahkota. Saya tidak tahu Anda juga menghadiri jamuan teh ini.”
“Aku tidak menghadiri jamuan teh wanita,” kata Kael datar. Langkah kakinya membawa pria itu lebih dekat, hingga Aria dapat mencium aroma samar kayu pinus dan besi dari tubuh sang pangeran. “Aku hanya sedang mengawasi beberapa hal. Termasuk bagaimana seorang putri Baron yang bangkrut bisa memprediksi perubahan cuaca di selatan dengan begitu tepat.”
Aria menatap langsung ke dalam sepasang netra keemasan Kael yang tajam. Di dunia ini, Kael adalah sosok yang tidak mudah percaya pada siapa pun, selalu mencari motif tersembunyi di balik setiap tindakan.
“Saya hanya mempelajari catatan perjalanan lama dan pola migrasi burung, Yang Mulia,” jawab Aria dengan nada seramah mungkin. “Terkadang, alam memberikan petunjuk yang dilewatkan oleh para pedagang yang terburu-buru.”
Kael terdiam sesaat, matanya menyusuri wajah Aria yang tampak lebih pucat dari biasanya. Ia merogoh saku jubahnya, lalu menyodorkan selembar saputangan sutra berwarna biru tua kepada Aria.
“Usap hidung Anda,” perintah Kael pelan.
Aria tertegun. Ia menyentuh bagian bawah hidungnya dengan ujung jari dan merasakan cairan hangat di sana. Merah. Ia mimisan lagi, efek samping dari konsumsi mana yang berlebihan untuk mengubah takdir. Dengan canggung, ia menerima saputangan tersebut.
“Terima kasih, Yang Mulia,” bisik Aria, merasa sedikit malu karena tertangkap basah dalam kondisi selemah ini.
“Jangan mengira aku tidak tahu apa yang sedang Anda mainkan, Lady Aria,” ucap Kael, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Keluarga Evander tiba-tiba bangkit, dan Evelyn Roselia tampak sangat terganggu. Anda menarik terlalu banyak perhatian hari ini.”
Sebelum Aria sempat memikirkan jawaban yang aman, sebuah tepuk tangan pelan terdengar dari arah balik rimbunnya tanaman rambat.
“Sungguh sebuah pemandangan yang menyentuh hati,” sebuah suara yang sangat familier menginterupsi.
Duke Lucien Veritas melangkah keluar dari bayang-bayang pohon ek tua. Pakaian formalnya yang berwarna ungu tua tampak sangat pas di tubuhnya yang tegap. Senyum malas menghiasi wajah tampannya, namun matanya yang gelap memancarkan kilatan kecerdasan yang berbahaya.
“Saya harap saya tidak mengganggu percakapan penting di antara Anda berdua,” ujar Lucien, membungkuk memberi hormat kepada Kael, meski gerakannya terlihat terlalu santai untuk seorang bawahan.
“Duke Veritas,” Kael menyapa dengan nada dingin yang semakin membeku. “Keberadaan Anda di bagian istana ini selalu menjadi misteri.”
“Saya hanya sedang mencari keindahan yang tersembunyi, Yang Mulia,” jawab Lucien, matanya beralih sepenuhnya kepada Aria. Tatapan itu begitu intens, seolah-olah ia bisa melihat menembus jiwa Aria dan membaca naskah rahasia yang ia sembunyikan.
Aria merasakan bulu kuduknya meremang. Di antara semua orang di dunia ini, Lucien adalah yang paling berbahaya karena ia mengetahui kebenaran tentang dunia novel ini.
“Lady Aria,” Lucien melangkah mendekat, mengabaikan ketegangan yang memancar dari tubuh Kael. “Selamat atas keberhasilan bisnis keluarga Anda. Saya selalu mengagumi orang-orang yang bisa mengubah arah angin sesuai keinginan mereka.”
“Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan untuk bertahan hidup, Duke,” jawab Aria, berusaha menjaga suaranya tetap stabil di antara himpitan dua pria paling berpengaruh di kekaisaran.
“Tentu saja,” Lucien tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa ia tahu persis berapa harga yang harus dibayar Aria untuk keajaiban hari ini. “Namun, berhati-hatilah. Terlalu banyak menulis ulang cerita bisa membuat sang pembaca merasa bosan, atau lebih buruk... membuat sang pencipta ingin menghapus karakter yang terlalu berisik.”
Kata-kata Lucien menggantung di udara malam yang mulai turun, meninggalkan getaran dingin di punggung Aria. Ia tahu itu bukan sekadar peringatan biasa, melainkan sebuah ancaman langsung tentang konsekuensi dari kekuatannya.