Bercerita tentang seorang anak yang ayahnya dibunuh, ketika terjadi perebutan tahta kerajaan oleh saudara ayahnya sendiri bernama Duryandra.
Ibunya diselamatkan oleh seorang Empu yang sangat sakti dan juga seoarang Nyai saat sedang mengandungnya, sampai akhirnya ibunya meninggal saat melahirkannya.
Dan kemudian ia dibesarkan oleh seorang Empu bernama Maha Surya dan seorang Nyai bernama Santi.
Nantinya anak ini akan menjadi Pendekar tak tertandingi yang akan menaklukkan berbagai kerajaan-kerajaan, serta membinasakan para raja yang semena-mena pada rakyatnya, dan juga yang tidak mau tunduk diatas perintahnya.
Novel berjendre Fantasy Komedi dan petualangan.
Novel karya anak bangsa.. Hehehee
Bukan Novel yang updet setiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra Bungsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mewarisi Ilmu
"Apa maksudnya Empu?" Tanya Arya Chakra tak mengerti.
"Jika kamu terus-terusan didalam sini, bagaimana kamu akan berkembang Le, selayaknya seorang laki-laki itu harus bisa hidup mandiri." Ujar Empu Maha Surya.
"Lalu bagaimana dengan Empu dan Nenek?"
"Hemm.. Empu dan nenek sudah terlalu tua untuk mengurusi dunia, sudah waktunya untuk menemui Sang Heyang Widi."
"Empu dan nenek jangan berkata seperti itu, Arya masih ingin terus bersama kalian."
"Tidak Le.. Takdirmu bukan didalam lembah ini, melainkan diluar sana. Kamu nanti akan banyak belajar apa itu makna hidup yang sesungguhnya." Ucap Empu Maha Surya.
Arya Chakra kembali menangis setelah sebelumnya mulai mereda, dirinya belum sanggup jika harus berpisah dengan Empu Maha Surya maupun Nyai Santi.
Namun jika Arya Chakra terus-terusan berada didalam lembah siluman, akan sangat mengganggu takdirnya yang sudah ditakdirkan sebagai pahlawan kebajikan.
Setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Empu Maha Surya, akhirnya Arya Chakra mulai memantapkan hatinya dengan semangat berlatih.
Warisan ilmu yang pertama kali Arya Chakra pelajari milik Empu Maha Surya, berbagai ilmu diwariskan oleh Empu Maha Surya dari ilmu malih rupa, malih raga, serta ilmu raga sukma bahkan juga ilmu seringan kapas.
Perbedaan dari ilmu malih raga dan raga sukma yaitu bila malih raga menjadikan seseorang mampu mengambil alih raga seseorang, saat orang itu tengah tidak sadar. Sedangkan ilmu raga sukma hanya melepaskan jiwa dari raganya.
Memang hampir mirip namun kegunaannya yang berbeda, Arya Chakra membutuhkan kurun waktu kurang lebih hampir satu tahun untuk dirinya bisa menyempurnakan ilmu-ilmu tersebut.
Setelah berlatih dan bermeditasi selama itu akhirnya Arya Chakra tinggal menerima warisan ilmu dari Nyai Santi.
Kurang lebih waktu yang dibutuhkan hampir sama, malahan lebih sedikit lama bila dibandingkan dengan Empu Maha Surya. Yang membuat lama saat menyerap semua ilmu dari Nyai Santi adalah.
Pengakuan dari sang Dewa Batara bahwa Arya Chakra layak menjadi pengemban ilmu itu selanjutnya, ilmu itu ialah ilmu Panca Sona.
Bila hanya berlatih mungkin tak membutuhkan waktu yang sangat lama, akan tetapi selain berlatih Arya Chakra harus bisa mengendalikan amarah dan sifat buruk dalam hatinya hanya dengan bermeditasi.
Dalam bermeditasi itulah yang nantinya anugrah pencerahan dari sang Dewa Batara akan diberikan, membutuhkan ketekunan dan keteguhan hati yang sangat tinggi.
Bermeditasi tanpa makan dan minum tanpa pergerakkan hanya duduk ditempat saja, setelah melalui proses yang cukup panjang dalam latihan serta bermeditasi.
Akhirnya Arya Chakra berhasil mendapat anugrah pencerahan dari sang Dewa Batara, sehingga ilmu pancasona dapat diwarisi ketubuh Arya Chakra.
Dengan mengambil ilmu tersebut dari dalam tubuh Nyai Santi, seketika tubuh Nyai Santi lemah tak berdaya sebelum terjatuh ketanah.
Dalam masa bermeditasi pewarisan ilmu pancasona memang diharuskan baik Arya Chakra maupun Nyai Santi harus melakukan meditasi terlebih dahulu, sebelum Dewa Batara mengambilnya dari tubuh Nyai Santi.
Saat Arya Chakra membuka matanya tak menyangka dirinya mendapati Nyai Santi sudah tergeletak di tanah. "Nenek.." Teriak Arya Chakra yang segera mengangkat Nyai Santi dan kemudian membawanya kehadapan Empu Maha Surya.
Melihat Arya Chakra datang dengan membawa Nyai Santi, Empu Maha Surya sudah tidak terkejut lagi. Sebab apa yang akan terjadi pada Nyai Santi saat telah berhasil mewarisi ilmu pancasona, Empu Maha Surya sudah mengetahuinya.
Arya Chakra yang sangat ketakutan bila terjadi sesuatu pada Nyai Santi, sebelum sampai dihadapan Empu Maha Surya. Dirinya telah lebih dahulu menanyakan keadaan Nyai Santi dengan berteriak. "Empu.. Apa yang sebenarnya terjadi pada nenek?"
"Coba kamu letakkan nenek disini." Empu Maha Surya memerintahkan Arya Chakra untuk meletakkan Nyai Santi dihadapannya, lalu setelah itu baru Empu Maha Surya menceritakan semuanya.
Bahwa setelah berhasil mewarisi ilmu pancasona, maka sang pemilik ilmu sebelumnya akan langsung menghembuskan nafas terakhirnya.
"Apaa?? Tidak.. Itu tidak mungkin Empu." Arya Chakra terkejut histeris, mendengar penjelasan dari Empu Maha Surya.
"Le... Itu semua sudah keputusan nenek, jadi buatlah nenekmu bangga akan tindakanmu, dan nantinya pergunakanlah ilmu itu untuk menumpas kejahatan dimuka bumi ini."
Nafas Empu Maha Surya sedikit tidak beraturan, dan beliau pun berpesan pada Arya Chakra untuk menemui teman Empu Maha Surya yang ada di sekitar Kerajaan Gajah Duduk.
"Le.. Saat nanti kamu tidak tau mau kemana, carilah teman Empu yang bernama Empu Danu Raba katakan saja bahwa kamu adalah muridku."
Setelah berkata demikian Empu Maha Surya merasakan sesak nafas dan terjatuh tepat disamping istrinya Nyai Santi, yang kemudian tak lama dari itu beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
"Empu... Empu.. Bangun Empu." Arya Chakra tak sanggup lagi menahan gejolak dihatinya, dengan menangis sekeras-kerasnya.
Namun ternyata ada teman yang selalu disisinya. "Tabahkanlah hatimu teman, mungkin ini memang takdir yang telah diberikan padamu." Ujar kera jambul merah.
"Tapi kenapa harus mengambil nyawa orang-orang yang aku sayangi." Jawab Arya Chakra.
"Mungkin itu semua agar kamu mampu menjadikan kesedihanmu itu sebagai sumber kekuatan yang mampu menjadikanmu seorang pahlawan."
Arya Chakra tak mau terus-terusan meratapi kepergian Empu Maha Surya maupun Nyai Santi, segera dia dan kera jambul merah membuat lubang pemakaman dan memakamkan keduanya tepat disampung makam Dewi Ambarwati.
Setelah selesai melakukan pemakamaan dan penghormatan, Arya Chakra kini mencoba terus-terusan berlatih sampai dapat sepenuhnya menguasai ilmu warisan dari Empu Maha Surya dan juga Nyai Santi.
Sampai pada suatu ketika diusianya yang menginjak 15 tahun Arya Chakra mampu menguasai bahkan menyempurnakan ilmu-ilmu warisan itu, dan akhirnya ia bertekad untuk menentukan takdirnya sendiri dengan pergi keluar dari lembah siluman ini.
Bersama temannya kera jambul merah akhirnya giliran Arya Chakra untuk berkelana mencari jati dirinya yang sesungguhnya, dengan berbekal berbagai ilmu kanuragan pemberian Empu Maha Surya maupun Nyai Santi.
.........