Anita dijual oleh kekasih juga sahabat baiknya pada seorang pria tua. Hingga suatu hari ia mendapati diri tengah berbadan dua dan terusir dari rumah. Hidup penuh derita dilalui Anita dengan tetap mempertahankan janin dalam rahimnya.
Sampai anak itu tumbuh besar dan menjadi seorang anak jenius yang mampu membawa Anita dalam kehidupan lebih baik. Anak yang dilahirkan itu pula, membawa Anita untuk bertemu lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan Lebih Menyakitkan
Pukul 07.15 Reno kembali ke rumah Harish, setelah lima jam menanti di depan tanpa ingin masuk atau pulang ke rumahnya. Dini hari ia baru tiba dari luar kota, melihat arloji dan tak mungkin untuknya masuk atas alasan kesopanan.
Lagi pula, Anita dan Arga pasti sudah terlelap di dalam. Sehingga Reno memutuskan untuk tetap diam dalam mobil, tanpa berniat untuk pulang lebih dulu. Ingin bertemu Anita sewaktu ia kembali, walau rela menanti yang tak pernah ia lakukan sama sekali.
"Di mana Anita?" tanya Reno langsung pada wanita yang menyambut dirinya.
"Ada di kamar, mau saya panggilkan?" sahut Divya.
"Tidak. Bisakah saya ke kamarnya? ada hal penting yang harus saya sampaikan, sebelum pernikahan hari ini. Saya tidak bisa menunggu lagi," ucap Reno serius.
"Ah, tentu saja." Divya merasa ada yang aneh.
Memanggil pelayan untuk mengantarkan Reno ke kamar putrinya, Divya berpikir memang ada hal sangat penting ingin dibicarakan berdua. Semua terlihat dari ekspresi serta nada serius lelaki berkemeja hitam, tergulung sampai bawah siku. Tak ada jas atau dasi yang melengkapi, sudah dilepaskan oleh Reno dari ia tiba dini hari tadi.
Berjalan mengikuti pelayan menuju kamar Anita, tangan memegang sisi leher dan menggerakkan kepala bergantian kanan juga kiri. Rasanya sungguh lelah untuk duduk terus menerus. Sebuah pintu menghentikan langkanya bersama pelayan, Reno memilih untuk langsung masuk dan meminta agar pelayan pergi.
Di dalam, ada Anita sedang menyisir rambut di depan meja rias. Tadi ia bangun lebih awal, membantu untuk sibuk di dapur, lalu menyegarkan tubuh. "Kenapa pagi-pagi kemari? kamu ba—," terhenti seketika ucapan Anita.
Reno langsung menyusupkan tangan kanan di balik kaos, memegang benda kenyal seseorang akan dinikahinya hari ini. Tangan lain menaikkan dagu Anita, sampai kepala menghadap ke atas lalu mendaratkan kecupan pada bibir, sehingga kata tak sanggup untuk dilanjutkan, oleh kelakuan dari lelaki yang berjalan cepat tanpa bicara ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan?!" tegas Anita setelah membebaskan bibirnya, berusaha mengeluarkan tangan dari balik kaos abu tua ia kenakan.
"Jangan bergerak, atau aku akan memainkannya sekarang!" ancam Reno. "Jangan dikeluarkan juga!"
"Sebentar lagi kita akan menikah, aku hanya ingin membersihkan kotoran di tanganku saja. Jadi biarkan itu di sana beberapa jam lagi," sambung Reno.
"Kamu pikir ini kamar mandi?! bersihkan tanganmu di kamar mandi sana, jangan di dadaku!" kata Anita.
"Sama saja, ini juga keran air. Jadi aku membersihkannya di sini," sahut lelaki tetap memegang tanpa ingin melepaskan.
"Eh?" tak paham Anita.
"Dulu sewaktu Arga kecil, ini jadi keran air untuknya! bagian mana yang tidak kamu pahami?!" tegas lelaki tengah berdiri di balik tubuh Anita, dipukul cepat tangannya.
"Keluarkan!" jengkel Anita menepuk tangan Reno keras. "Ah! kenapa kamu memegang ujungnya?!" protes Anita keras.
"Sudah aku bilang diam!" tegas Reno.
Anita menghela napas kasar, apa-apa sajalah yang dilakukan oleh lelaki di balik tubuhnya. "Diam saja, jangan berulah di dalam! atau aku akan memukul milikmu dengan sisir!" ancam Anita mengangkat sisir di tangan.
"Kamu yang akan menyesal kalau sampai memukulnya," santai Reno.
Tangan sudah membelai wajah dari perempuan lain, tak dipergunakan oleh Reno walau sudah membilasnya berulang kali dan juga langsung mandi sewaktu di hotel. Bibir sudah berkata manis, walau sebenarnya ingin sekali muntah, dinetralkan dengan bibir Anita.
Itu adalah Rara—perempuan sudah menjual Anita lewat pria tua suruhan Reno, dan perempuan sama yang menyebarkan foto dari Anita. Perempuan yang juga dianggap saudara sendiri, namun tega mengkhianati tanpa perasaan sedikitpun.
Reno menutup kedua matanya kemarin, berbicara kalimat pujian dan membiarkan orang bayarannya melepaskan semua pakaian Rara. Obat diberikan Lisa, bekerja dengan sangat baik dan melancarkan semua rencana mendadak dibuat oleh Reno.
Empat laki-laki dibiarkan menikmati tubuhnya, merekamnya dan langsung menyebarkan ke seluruh dunia di hari sama. Rara ditinggalkan dalam kamar hotel tanpa busana, semua pakaiannya di buang oleh lelaki yang sudah menikmati tubuhnya.
Tak ada wajah terlihat kecuali wajah Rara dalam video kini sudah dinikmati oleh mata-mata pemburu kenikmatan. Reno membalaskan jauh lebih menyakitkan dari apa sudah dilakukan pada Anita.
Jika hari itu, Reno menggunakan orang lain untuk mencarikan perempuan demi melampiaskan rasa sakit hati, kemarin ia menggunakan bodyguard untuk menjemput Rara dengan sangat spesial.
Perempuan dengan dendam serta ambisi luar biasa untuk menghancurkan Anita, justru tanpa sadar telah menghancurkan hidup sendiri. Mencari laki-laki kaya untuk bisa mendapat kekayaan, tanpa pikir panjang saat bodyguard datang menggunakan mobil mewah.
Sakit hati atas Vano yang ternyata masih mencintai Anita hingga sekarang, membuat Rara nekat melakukan kebodohan tanpa pernah tahu siapa yang ia lawan. Pria tua yang ia pikirkan telah mengambil kesucian Anita, nyatanya adalah laki-laki paling berkuasa dan bisa melakukan banyak hal tanpa kesulitan.
Sekarang, dia masih ada dalam kamar hotel tanpa pakaian atau ponsel. Reno menghancurkan ponselnya, memerintahkan bodyguard untuk membuang semua barang-barang Rara. Karena ia juga, Reno harus dicampakkan pagi itu, dan kini ia bayar dengan sangat mahal.
Merasa jijik telah menatap tubuh perempuan dianggapnya sangat rendah, Reno menatap wajah calon istrinya untuk menghilangkan setiap bayang tak ingin diingat seumur hidup. "Kenapa wajahmu merah?" tanya Reno, menatap lekat perempuan sudah ia angkat ke atas ranjang.
"Jangan melihatku seperti itu," turun pandangan Anita.
Reno tersenyum, mencubit gemas sisi wajah Anita. "Aku ingin membersihkan kotoran di mataku," sahut Reno.
"Kamu belum mandi? cuci muka sana! jorok!" ucap Anita.
"Kamu tidak akan mengerti kotoran apa itu, jadi diam saja. Aku mengantuk, usap rambutku dengan lembut seperti Arga!" sahut Reno, memejamkan kedua mata. "Di mana dia? aku tidak melihatnya,"
"Baru bertanya? dia ada di rumahmu, kakek neneknya tidak ingin dia tinggal di sini dan memintanya kembali semalam. Aku tidak bisa jauh darinya," berubah sendu perempuan bercelana jeans sampai atas lutut itu.
"Harusnya kamu bahagia, karena banyak yang menyayangi putra kita!" ucap Reno. "Orang tuaku menyukai anak kecil, itu sebabnya aku dibuang saat sudah besar! dasar tidak punya perasaan!" berubah tinggi nada bicaranya.
"Hehehe, tidurlah. Aku benci mendengarmu marah-marah," cengengesan Anita. "Aku akan membangunkan mu besok."
"Sekalian saja tunggu sampai aku beruban, baru bangunkan! seharusnya kita menikah kemarin, di tunda hari ini! dan sekarang kamu mau membangunkan aku besok?! sekalian tunggu aku keriput, baru menikah!" protes Reno keras. "Menjengkelkan," umpat Reno namun tersenyum.
Anita masih berbaring menghadap ke arahnya, tersenyum lebar akan perkataan dari lelaki yang masih saja ingin untuk tangannya mengusap lembut rambut seperti ketika ia membantu Arga terlelap.
Kedua mata Reno sudah tak bisa untuk terjaga, sayup-sayup mulai terpejam. Pernikahan hari ini, tak boleh lagi ditunda. Cukup kemarin ia menunda, karena harus membalas setiap perbuatan Rara dan tak bisa menunggu sampai ia menyadari lalu kabur.
ap ms ad seosean 2 ny