Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP
Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.
Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
"Kakak pulang dulu,,," Nicho memeluk Jeje, tangannya mengusap punggung Jeje untuk membuatnya tenang. Sejak tadi Jeje terus merengek pada Nicho, meminta Nicho untuk kembali ke rumah. Rupanya Jeje juga memiliki pemikiran yang sama dengan kakaknya. Jeje yakin kalau Papa Alex akan memaafkan Nicho dan menerimanya kembali di rumah ini jika Nicho meminta maaf dan mengatakan bahwa hubungannya dengan Fely sudah berakhir.
"Pokoknya kakak harus cepat kembali ke rumah dalam waktu dekat.! Kasian Mama dan Papa hanya berdua kalau nanti aku ke apartemen lagi." Bujuk Jeje. Dari nada bicaranya seolah memaksa Nicho untuk benar - benar tinggal kembali bersama kedua orang tuanya.
Nicho terlihat manarik nafas dalam. Dia memang selalu dibuat rindu dengan sang Mama. Saat masih kuliah di New York, dia hanya bisa bertemu dengan orang tuanya setiap 3 bulan sekali bahkan kadang lebih dari itu. Dan begitu dia memutuskan kembali ke Indonesia, justru keadaan membuatnya harus tinggal terpisah dengan orang tuanya.
"Iya, kakak usahain. Kakak masih butuh waktu untuk sendiri saat ini dan mau fokus mengurus kafe lebih dulu. Kalau kembali ke rumah, Papa pasti menyuruh Kakak untuk menjalankan perusahaannya lagi,,,"
Penjelasan Nicho terlihat membuat Jeje mengerti dan bisa menerima keputusan yang di ambil oleh Nicho.
"Buruan Nich.!! Lu pamit sama adek sendiri udah kayak pamit sama istri.! Drama banget,,," Suara teriakan Alvin dari dalam mobilnya membuat Nicho dan Jeje melirik bersamaan. Keduanya sama - sama memberikan tatapan tajam pada Alvin.
"Berisik lu.!! Jalan duluan aja kalau udah nggak sabar. Ngapain minta share lok kalo masih nungguin gue." Sahut Nicho geram. Sepupunya itu memang menyebalkan sejak dulu, hanya menjadi beban keluarga dan dirinya.
"Emang enak,," Ledek Jeje dengan lidah yang menjulur.
"Awas kamu.! Kakak aduin ke om.!" Ancam Alvin dengan seringai licik. Dia baru tau kalau ternyata Jeje tinggal di rumah ini tanpa suaminya. Jeje menuturkan sendiri kalau suaminya sedang diberikan hukuman oleh Papa Alex dan di larang tinggal bersama selama 2 minggu.
Kalau saja Alvin tau dari awal, mungkin dia akan menggagalkan kegiatan Kenzo dan Jeje siang tadi.
"Ya ampun,,!! Kak Al benar - benar mulut cewek.!" Cibir Jeje kesal. Dia cemberut menatap Alvin.
"Biar kakak kasih pelajaran nanti,," Ujar Nicho. Jeje terlihat senang mendapat pembelaan dari kakaknya.
"Jaga kesehatan,,," Ujarnya lalu beranjak dari hadapan Jeje.
"Hati - hati kak,,," Jeje melambaikan tangan pada Nicho.
Nicho lebih dulu menghampiri mobil Alvin. Dia tersenyum licik.
"Banyak bac*t lu.!" Geram Nicho. Dia mengarahkan kunci mobilnya ke body mobil Alvin dan memberikan goresan kecil di sana.
"Wah brengs*k kamu Nich.!!" Pekik Alvin dengan mata melotot. Dia melihat Nicho dari kaca spion.
Nicho hanya tertawa dan masuk kedalam mobilnya.
...***...
"Boleh juga nih apartemen,,," Gumam Alvin. Dia terus mengikuti langkah Nicho sambil melihat suasana apartemen yang terasa nyaman. Gedungnya tidak terlalu mewah untuknya, tapi cukup menarik untuk di tempati.
"Gue nggak terima anak kos.!" Ujar Nicho tegas. Dari maksud ucapan Alvin, Nicho sudah paham kalau ada maksud tertentu di dalamnya. Itu sebabnya Nicho langsung menolak Alvin mentah - mentah sebelum anak itu merengek untuk meminta tinggal bersamanya.
"Pelit banget lu berbagi kamar. Nggak mungkin kan kamarnya cuma 1.?"
Alvin mencibir kesal.
"Atau jangan - jangan lu takut ketahuan karna sering bawa cewek nginep.?" Tuduhan Alvin langsung membuat Nicho melayangkan tinjuan kecil di tangannya.
"Jangan samain gue kayak lu.!" Sanggah Nicho ketus. Alvin terlihat terkekeh. Laki - laki itu memang sudah biasa gila sejak dini.
Nicho berhenti di depan pintu apartemennya. Dia merogoh access card untuk membuka pintu.
"Gila,,, cantik banget tu cewek,,," Suara gumaman Alvin terdengar menggelikan. Seperti ada pikiran kotor di dalam pikirannya. Tak mau ambil pusing, Nicho pura - pura tidak mendengarnya dan langsung membuka pintu.
"Kak Nicho udah pulang,," Nicho langsung berbalik badan saat dia baru saja melangkah masuk. Dilihatnya Sisil yang sudah berdiri di depan pintu. Senyumnya mengembang sempurna seperti biasa. Dia tidak terlihat kesal lagi meski tadi siang sudah di tolak makan siang bersama.
Nicho melirik Alvin yang sedang memandangi Sisil dari ujung kaki hingga kepala. Tatapan Alvin seakan sedang menelanjangi tubuh Sisil.
"Hai,,,," Sapa Alvin dengan percaya diri. Dia tersenyum dengan tangan yang melambai pada Sisil. Sisil hanya menoleh sekilas dan tersenyum kikuk. Dia juga merasakan ada yang menyeramkan dari tatapan mata Alvin.
"Mau kemana.?" Tanya Nicho datar, namun kedua tangannya mendorong pundak Alvin dan menggiringnya masuk ke dalam apartemen.
"Aku,,,
Sisil Tidak meneruskan ucapannya karna kalah dengan suara Alvin.
"Ini anak ngapain sih.!" Alvin terlihat protes. Dia enggan untuk masuk kedalam.
"Ada vodka di mini bar.!" Ucapan Nicho langsung membuat Alvin berhenti memberontak dan dengan senang hati masuk kedalam untuk mengambil vodka.
Sisil terlihat mengulum senyum sambil menggelengkan kepalanya. Tingkah kedua laki - laki itu terlihat lucu.
"Kenapa senyum - senyum.?!"
Teguran ketus Nicho seketika membuat senyum Sisil menghilang, lalu menggelengkan cepat kepalanya. Nicho hanya berdecak.
"Jadi hari ini bisa makan di kafe kan.?" Sisil langsung to the point. Dia menyengir kuda pada Nicho.
"Nggak.!" Tolak Nicho tegas.
"Bukannya kamu mau pergi.?" Tanya Nicho lagi. Sisil belum sempat menjawab pertanyaannya tadi.
"tadinya nggak mau pergi, tapi di paksa,,," Tuturnya memberi tau. Wajahnya seketika berubah kesal.
"Kenapa juga harus mengadakan pesta ulang tahun di club. Apa nggak ada tempat lain,,," Sisil menggerutu kesal. Dia seperti sedang mengadu.
"Club.?" Nicho mengulangi ucapan Sisil dengan kening yang mengkerut dan tatapan tajam.
Sisil menganggukkan kepalanya.
"Batalkan saja.! Jangan coba - coba pergi ke club.!" Tegas Nicho dangan suara lantang. Tatapan matanya terlihat semakin tajam.
"Eumm,,, aku pikir - pikir dulu,,,"
Nicho dibuat kepala dengan jawaban Sisil.
"Terserah kamu saja.!" Geram Nicho dan memilih untuk masuk ke dalam, namun dengan cepat Sisil menarik tangannya.
"Oke,, oke,, aku nggak jadi pergi. Tapi,,,," Ucapan Sisil menggantung dengan seringai di wajahnya.
Nicho yakin ada Sisil akan meminta sesuatu darinya.
"Kakak harus makan malam sama aku,," Ujarnya enteng. Dia menyengir, memperlihatkan senyumnya yang manis dengan deretan gigi yang rapi dan bibir yang tipis.
"Aku baru pulang. Besok saja,,," Tolak Nicho halus.
"Makan makan di apartemenku, bukan makan diluar,,," Jelas Sisil.
"Aku masak sekarang yah, pokoknya kakak Nicho ga boleh kemana - mana. Apa lagi kalau sampai nggak mau keluar dan pura - pura tidur.!" Ujarnya panjang lebar. Nicho hanya mengangguk angguk saja.
"Lepas.! Aku mau masuk."
Sisil langsung melepaskan tangan Nicho dari genggamannya. Dia tersenyum kikuk karna malu. Terlalu senang karna bisa mengajak Nicho makan malam bersama, membuat Sisil tidak sadar kalau sejak tadi dia menggenggam tangan besar Nicho.
"Maaf,,," Ucap Sisil malu.
"Hemm,,," Nicho langsung masuk dan menutup pintu.
Sementara itu Sisil terlihat kegirangan, dia berlari dan kembali ke apartemennya untuk menyiapkan makan malam bersama Nicho.
"Sekarang nggak perlu lagi mengkhayal makan malam sama Park Chanyeol, sudah ada duplikatnya disini,,," Gumam Sisil dengan senyum yang mengembang.
Bertemu Nicho seperti keberuntungan baginya. Kapan lagi dia bisa dekat dengan orang yang sangat mirip dengan idolanya. Sisil seakan enggan menyia - nyiakan kesempatan yang berharga ini.
Tidak masalah meski sikapnya jauh berbeda, asal wajahnya serupa.
...****...
...J****angan lupa vote, 😊...
Ramein lagi yuk novel othoe di akun pertama 😁
Ada yang belum mampir.?
Biar mikir jg laki model bgtu. Ribet bgt soal anak merid jg blm ada setaun