NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Satu Malam

Terjerat Cinta Satu Malam

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Irna Mahda Rianti

Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.

Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. I'm with you

"Kau berbohong, Sagara!" Bianca berdiri dan menangis dihadapan Gara.

Gara berdecak ragu, "Aku serius, Bi. Maafkan aku, bukan maksudku untuk mempermainkan mu, aku memang tertarik padamu, dan aku memang mencintaimu. Tapi, ada wanita yang selalu terbayang-bayang dalam pikiranku. Dan wanita itu, adalah wanita yang dulu pernah tidur denganku. Maafkan aku, dia ternyata hamil anakku, Bi. Kejadian itu terjadi, jauh sebelum aku mengenalmu, Bi. Semua itu terjadi tanpa kesengajaan. Maafkan aku,"

"Kau bohong, Sagara! Aku tahu, kau berbohong! Kau tak mungkin pernah melakukan hal keji seperti itu. Aku tahu, bahwa kau adalah laki-laki yang baik. Aku tahu, itu. Jangan buat aku takut seperti ini, Gar! Aku sangat mencintaimu, dan aku tak ingin mengakhiri kisah ini denganmu. Jangan main-main, aku tak mungkin meninggalkanmu." Tegas Bianca.

"Bi, jangan begitu. Kau membuatku berat untuk pergi. Kumohon, carilah laki-laki lain, dan batalkan pertunangan kita. Aku tak layak untukmu, aku bukan lelaki yang baik untukmu. Maafkan aku ..." Gara tertunduk merasa bersalah.

Terlihat wajah kesal dan kecewa di mata Bianca. Bianca masih kaget, ia antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Gara. Sedih, jelas, merasa terpukul, sudah pasti, tapi Bianca tetap tak ingin mendengar alasan lain. Ia mencintai Gara, oleh karena itu ia harus tetap bersama Gara.

"Aku tak akan membatalkan pertunangan kita. Aku akan tetap menikah denganmu!" Tegas Bianca.

"Itu gak mungkin, Bi. Berat hatiku jika bersamamu, aku terbayang-bayang akan semua kesalahanku." Ujar Gara.

"Gara, jangan sampai kau jadikan aku wanita yang jahat. Kau milikku, dan aku tak rela kau mencintai wanita lain. Mengerti! Aku tak peduli jika kamu telah menghamili wanita lain, karena aku pun telah melakukan hubungan dengan seseorang! Kita impas bukan, Gara? Tak ada alasan bagimu untuk menolak ku, karena kau juga melakukan kesalahan yang sama! Pertunangan tetap kita lakukan, dan kuharap kamu jangan membuat masalah lagi, Sagara!" Tegas Bianca.

"A-apa? Kau telah berhubungan dengan orang lain?" Gara kaget.

"Ya, memang kenapa? Kalau kau tak mau aku jadi orang jahat, tetaplah bersamaku. Kalau kau tak ingin ada yang terluka, kumohon menurut padaku, Gara. Tetaplah di sampingku, pertunangan tetap dilaksanakan besok dan aku tak ingin mendengar alasan apapun. Jika kau tak hadir, aku pastikan, wanita yang kau maksud, tak akan pernah hidup tenang. Aku akan mencari tahu semuanya!" Bianca berlalu meninggalkan Gara, setelah ia mengancamnya.

"BIANCA! TUNGGU!"

Bianca tak mendengar ocehan Gara. Ia berlalu dengan emosi. Bianca awalnya tak akan mengaku, tapi karena ia kesal pada Gara, akhirnya ucapan bahwa Bianca telah berhubungan dengan orang lain pun terbongkar oleh mulutnya sendiri. Bianca sedikit menyesal, tapi ia terlanjur mengatakannya, dan sengaja meninggalkan Gara seorang diri.

"Aaaarrrgggghhhhh, kenapa hidupku jadi runyam begini? Harus bagaimana aku sekarang? Kalau Ayah dan Bunda tahu, bisa habis aku dicoret dari kartu keluarga. Mungkin saja, aku akan jatuh miskin, dan justru aku tak akan bisa membiayai anakku nantinya kalau aku dibuang oleh keluargaku." Gara mengacak-acak rambutnya.

Ia bingung, entah harus bagaimana dirinya. Mendengar kenyataan bahwa Bianca bukan wanita baik-baik, membuat Gara pun jadi menyesal telah memilihnya. Namun, jika Gara memilih Hila, ia tak siap jika harus kehilangan perusahaan. Gara tak mau, dirinya hancur begitu saja. Karena ia harus membiayai Hila dan anaknya dikemudian hari, walaupun mereka tak bisa bersama.

Aku selalu mengingat perkataan Andra tentang kehamilan Nisha. Yang ternyata, aku sendiri begitu bodohnya, karena membiarkan wanitaku yang sedang mengandung anakku menjalani kehamilannya sendiri. Ia begitu kuat, tak pernah mengeluh atau menangis padaku. Hila selalu kuat, dan aku merasa jadi lelaki bodoh. Jika saja dulu aku cari tahu kebenaran Hila, tentang kematiannya, mungkin saja aku bisa menemani hari-harinya menjalani kehamilan. Aku terlalu bodoh. Hila? Sedang apa dirinya sekarang? Kenapa tiba-tiba aku merindukannya? Hila, apa kau merindukan aku? Haruskah aku datang ke rumahnya? Batin Sagara.

...❤❤❤...

Gara tak ambil pusing. Satu hari menjelang pertunangannya, ia malah berada didepan pintu rumah gadis yang selama ini selalu ada didalam bayang-bayangnya. Ya, Gara telah berada di rumah Hila. Gara memutuskan untuk bertemu dengan Hila, karena banyak hal yang belum Gara ucapkan pada Hila. Gara belum meminta maaf pada Hila, dan Gara menyesal, membiarkan Hila terpuruk dalam kehamilan itu, sendirian.

Tok, tok, tok ... Gara mengetuk pintu.

Tak lama, pintu pun dibuka. Hila terlihat seperti orang yang sedang kelelahan. Matanya langsung membulat, ketika melihat Gara berada dihadapannya. Ingin rasanya Hila menutup pintunya kembali, dan ia tak ingin Gara masuk lagi kedalam kehidupannya. Hila sesegera mungkin mencoba menutup pintunya, namun tangan Gara secepat kilat menahan pintu yang akan ditutup oleh Hila.

"Lepaskan tanganku," teriak Hila.

"Tidak, aku ingin bertemu denganmu. Kenapa kau harus acuh padaku, Hil?" Gara tak mengerti.

"Kamu tak seharusnya ada disini, jangan ganggu aku lagi, Sagara." Ujar Hila.

Gara terus menahan pintu agar tak tertutup. Gara ingin berbicara pada Hila. Sekalipun, Hila kini ingin menjauhinya.

"Hil, aku ingin berbicara padamu. Aku ingin meminta maaf. Kumohon, izinkan aku berbicara. Aku ingin kamu mendengarkan ucapanku. Please, Sahila ...."

"Gar, aku tahu, kamu akan bertunangan, aku tahu, esok adalah hari yang kalian tunggu-tunggu. Kamu tak pantas ada disini. Kamu tak boleh seperti ini, kamu tak boleh mengecewakan wanita yang telah memilihmu." Tegas Hila.

"Baiklah, baiklah. Tapi kumohon, karena aku telah ada disini, izinkan aku untuk masuk dan berbicara padamu. Setelah aku selesai berbicara, aku janji, aku akan pergi Hil. Kumohon ...."

Hila menatap Gara dengan sendu, "Baiklah, silahkan masuk. Tapi kumohon, bicaralah pada intinya, dan setelah itu, kamu harus segera pergi."

"Baik, Hila. Terima kasih banyak,"

Gara pun masuk, dan ia duduk di karpet rumah Hila. Hila pun duduk di hadapan Gara. Rumah kecil nan mungil ini, yang menjadi saksi bisu atas kehamilan Hila selama ini. Tak ada yang merawatnya, tak ada yang menjaganya, tak ada yang membantunya, semua Hila kerjakan sendiri.

Terkadang, ada Bagas yang membuat harinya sedikit terobati. Hila sangat terluka, ia sendiri, tenggelam dalam sepi. Padahal, di masa-masa kehamilan seperti ini, wanita hamil pasti butuh perhatian. Sedangkan Hila, ia begitu kuat dan tangguh menghadapi semua ini sendiri. Mungkin, membawa penyesalan pun percuma. Hila tahu, ini adalah karma atas perbuatannya.

"Ada apa?" tanya Hila.

"Maafkan aku, Hil." Gara menunduk.

"Maaf untuk apa?"

"Izinkan aku berbicara, izinkan aku mengeluarkan semua yang ada didalam hatiku. Kumohon, kamu mau mendengarkannya."

"Ya, silahkan bicara ..." ucap Hila.

Gara menghela napasnya dalam-dalam. Ia menguatkan hatinya untuk bicara.

"Aku menyesal, tak mencari tahu keadaanmu, Hil. Aku menyesal, percaya begitu saja pada mereka bahwa kau telah tiada. Aku terlalu bodoh, dan tak ada niatan mencarimu. Maafkan aku, aku membiarkanmu melewati kehamilan ini sendirian. Maafkan aku, yang tak peduli akan proses tumbuh kembangnya janin kita. Maafkan aku, karena aku sungguh tak tahu kamu hamil. Disaat masa-masa kehamilan, yang seharusnya kamu mendapat perhatian lebih dariku, mendapat perlakuan hangat dariku selaku Ayah biologis bayimu, tapi ternyata kamu malah sendirian melewatinya. Aku tak tahu, bagaimana kesulitanmu selama ini. Aku memang bodoh, maafkan aku, Hil. Aku tahu, bagaimana kamu bertahan hidup dengan bayi kita. Aku terlalu bodoh untuk peka dalam hal ini." Gara menunduk lesu.

Hila terdiam. Hatinya bak diiris-iris pisau, jika mengingat momen awal kehamilannya.

"Asal kamu tahu, aku menjalani kehamilan ini dengan penuh perjuangan. Aku lakukan semuanya sendiri. Diawal kehamilan ini, di tempat ini, saat aku sangat lapar menginginkan sesuatu masuk kedalam lambungku, tapi perutku tak menerimanya, aku sempat drop, aku sakit berulang kali dan aku tak punya siapa-siapa untuk sekedar menenangkan diriku yang kesulitan mencerna makanan. Setiap pagi, aku hanya sarapan seadanya, aku berharap bayiku akan kuat, dan bisa aku ajak hidup susah. Aku selalu berdoa pada Allah, bahwa aku tak mengapa menjalani kehidupan pahit ini, aku ikhlas karena aku tahu, ini adalah karma untukku. Karena itu, aku tak sedih, aku tak kecewa, Tapi, aku hanya berharap, tolong sehatkan lah bayiku, tolong selalu lindungi dia walaupun keadaanku sangat sulit seperti ini. Aku begitu berharap padanya, aku begitu menjaganya sebisaku, semampuku, agar ia tetap sehat didalam perutku, karena apa? Karena dia tak akan mungkin meninggalkan aku. Bayi ini, adalah teman hidupku selamanya. Aku bahagia menantikan kehadirannya, karena dia tak akan meninggalkan aku, karena dia tak akan seperti kedua orang tuaku, yang tega membuangku, dan juga, karena dia tak akan sepertimu, yang melupakan aku. Karena hanya bayiku, satu-satunya harapan hidupku, yang suatu hari nanti, akan selalu bersamaku, menjagaku, ada di setiap hari-hariku, tertawa bersamaku, dan selalu ada untukku." Air mata Hila menetes tiba-tiba tanpa ia sadari.

"Hila, maafkan aku. Banyak sekali dosaku padamu, Hil. Aku sungguh menyesal, membuatmu terlantar seperti ini. Aku kesini, hari ini, aku hanya ingin meminta maaf padamu. Aku tahu, sebagai laki-laki, aku terlalu bodoh, aku terlalu pengecut dan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk hidupmu. Aku tahu, kamu pasti membenciku, karena aku akan bertunangan. Maafkan aku, tapi aku akan berusaha menggagalkan pertunangan itu, demi kamu, dan bayi kita. Karena kini aku sadar, yang aku butuhkan adalah kamu, dan anak kita, Hil. Aku tahu, aku egois. Tapi, aku begitu mengaharapkan mu, hanya saja aku bingung bagaimana mencari jalan keluarnya. Mungkin, aku harus berani mencoba, dan aku sudah yakin, aku akan membatalkan pertunangan itu." Ucap Gara.

"Tidak, Gara. Jangan sampai kamu melakukannya. Aku akan sedih, jika pertunangan mu batal. Aku tak ingin merusak hidupmu. Hiduplah sebagaimana mestinya, jadilah lelaki yang membanggakan. Jangan pikirkan aku, karena aku tak mau menjadi benalu dalam hidupmu. Jangan pernah terpikir untuk membatalkan pertunanganmu demi aku, karena itu sangat menyakiti hatiku."

"Apa maksudmu, Hila? Ada anakku yang suatu hari nanti membutuhkan pengakuanku sebagai Ayahnya. Kau tak bisa seperti ini terus, Hil. Jangan memikirkan aku, tapi pikirkan kamu dan bayi kita! Kalian butuh aku, kalian butuh perlindungan dariku. Tak bisakah kau mempertimbangkannya?" Gara berpikir keras.

"Sagara, jangan hancurkan hidupmu hanya karena wanita seperti aku. Ini murni kesalahanku, kamu tak perlu merasa bersalah. Jika kamu sayang pada anakmu, tetaplah jadi Sagara, tetaplah menjadi Direktur dengan jabatan tinggimu. Jika kamu mencintai aku, cintailah wanita yang menjadi tunanganmu, karena aku akan bahagia, jika melihat kamu bahagia. Biarkan aku menata hatiku, biarkan aku mengurus bayi ini sendiri, aku tak mau menghancurkan nama baikmu, karena kehadiranku," Hila menunduk.

"Kenapa kamu egois Hila? Kenapa kamu tak sedikitpun meminta aku kembali padamu?"

"Aku hanya ingin, anakku bangga suatu hari nanti. Bahwa ia memiliki Ayah yang kaya raya dan terhormat. Walaupun aku tak bisa bersamamu, setidaknya, aku bisa menunjukkan pada anakku, bahwa ia memiliki Ayah yang hebat." Air mata pun terjatuh lagi di pelupuk mata Hila.

Gara tak tahan mendengar ucapan Hila yang terus-menerus membuatnya pergi. Gara pun mendekati Hila, seketika itu pula Gara langsung memeluk Hila dengan erat. Gara tak tahu, bagaimana perasaannya saat ini. Memeluk Hila, adalah salah satu solusi dari semua permasalahannya. Hila merasa tak enak, karena Gara memeluknya, ia ingin melepaskan pelukan itu, tapi ternyata Gara memeluknya sangat kuat.

Dalam pelukan hangat itu, Gara berbicara tepat di telinga Hila,

"Sudah, cukup. Jangan diteruskan ucapan tak masuk akal itu. Aku tak ingin mendengar penolakan darimu. Jangan bicara lagi, Hila. Ucapan mu menyakiti hatiku.Tolong, izinkan aku memperjuangkan kisah cinta ini, walau aku mungkin akan sedikit terlambat, tapi aku serius denganmu, Hila. Lambat laun, aku akan meraih cintamu. Dengarkan aku, semakin kamu memintaku jauh darimu, maka saat itu juga, semakin aku ingin berusaha mendapatkan mu, Sahila ... Aku harus bertanggung jawab pada bayi yang kau kandung. Aku tak mungkin membiarkan kalian terluka. Aku janji, secepatnya aku akan menyelesaikan masalah ini, Hil. Percayalah padaku, Sahila ...." Gara melepaskan pelukannya, dan memegang bahu Hila.

"Cukup, jangan berbicara hal-hal yang memuakkan!" Hila menutup matanya.

Gara mendekatkan wajahnya pada wajah Hila. Terdengar buruan napas diantara keduanya yang saling bertautan. Gara terus menghadap Hila, dengan wajahnya yang mulai mendekati wajah Hila. Tak lama, satu kecupan mendarat di bibir Hila, dan membuat Hila begitu kaget, tak menyangkan bahwa Gara akan mencium bibirnya.

Cup ... satu ciuman pun mendarat di bibir Hila.

Dengan cepat, Gara menutup bibir Hila dengan telunjuknya. Menandakan bahwa Hila tak boleh berbicara,

"Aku akan mencoba perjuangkan kamu, Hil. Sabarlah, dan tunggu aku. Maafkan jika aku nanti sedikit terlambat. Tapi, aku pastikan kau dan bayi kita, akan hidup bahagia. Karena saat ini, esok dan seterusnya, kamulah pengisi di hatiku. Kamu lah alasanku untuk tersenyum, Sahila. Tanpa sadar, aku mulai mencintaimu. Semoga, cintaku padamu bisa terwujud, walau aku tak tahu, kapan aku bisa memilikimu seutuhnya. Sahila Tanzania, aku mencintaimu ... tunggu aku, dan aku akan perjuangkan kamu juga bayi kita."

*Bersambung*

1
kalea rizuky
g rela jalang Bianca dpet gata
kalea rizuky
males deh di bkin mati anaknya/Shame/
kalea rizuky
hmmmm emank murahan klo g murahan g bsa hamil uda jalang sombongnya
Nur Aini
Luar biasa
Nur Aini
Lumayan
Sovi Yana
keren ceritanya lanjutan elang
Pitri Minarti
duh gara kata katanya menyejukkan banget👍💚
Pitri Minarti
sedih banget😭😭😭
Eka Rauf Ginting
capek capek baca bayinya meninggal.. alur ceritanya jga bertele tele..
ningnong
😭😭😭😭😭
SR.Yuni
Demi nama besar rela korbankan kebahagiaan anak, anak akhirnya cari jalan keluar yg salah dan fatal akibatnya. Mendidik anak bukan berarti menentukan jalan hidup anak.
Sri Widjiastuti
indahnya pengorbanan!!
Sri Widjiastuti
Aamiin.... setuju calista
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
kluarga gara sama jg dng keluarga sahila lebih mementingkn harta
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
aq kok kasihan sama sahila ya
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
dasar pengecut sagara, gue benci laki2 kek bgtu, pengen ku bejet2
Ernawati
iiihhh davian kok gitu sih
Ernawati
semoga gata dapat wanita yg baik karna dia sulit jtuh cinta
Chandra-Jelita
author nya ternyata termasuk gemar nonton sinetron, sampai jadi referensi di ceritanya 🤔🤣🤣🤣🤪
Kadek Bella
gimana lanjutannya Calista sama elang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!