NovelToon NovelToon
Istri Hasil Perjodohan

Istri Hasil Perjodohan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:231.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: To Raja

Aris yang menikahi Sania harus menerima kenyataan bahwa Sania adalah perempuan keras kepala yang susah di atur.
Karena keras kepala Sania, akhirnya rumah tangga mereka jadi berantakan.
Sania hamil tanpa diketahui siapa yang menghamilinya. Hal itu membuat Sania merasa kotor di depan semua orang, termasuk suaminya, hingga Aris yang tulus mencintai Sania harus berjuang keras menyakinkan istrinya bahwa ia menerima Sania dengan keadaan apapun.

Tapi bagaimanakah kelanjutannya? Apakah Aris berhasil meyakinkan istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

"Eh Del, ini rumah kamu?" Tanya Erika memperhatikan rumah besar yang baru pertama kali dimasukinya itu.

"Iya ni Del, rumah kamu gedenya pake banget!!!" Seru Sandra di belakang Erika.

"Bukanlah, ini tuh rumah ortu aku. Rumah aku nantinya bakal lebih besar dari ini. Nanti bakal ada bar, salon, gim dan semua fasilitas modern di dalamnya." Kata Cacah dengan cuek.

"Wahhh,, memang ya kalau anak konglomerat mimpinya pasti bikin geleng-geleng." Lagi komentar Erika.

"Kalian ni terlalu banyak komentar. Ayo masuk cepet!" Ucap Adel.

Ketiga gadis itu akhirnya berjalan memasuki ruang tamu.

"Wahhh,, ini sih rumah sultan banget."

"Del itu yang mengkilap kilat di sana apa itu asli?" Tanya Erika sambil menunjuk ke arah pajangan di rak.

"Ealah, kalian ini gimana sih! Aku ngajakin kalian ke rumah itu buat kerjain pr, bukan buat komentar sana-sini rumah aku!" Kesal Adel pada kedua temannya.

"Galak amat anak gadis, kita tuh baru pertama kali masuk rumah besar seperti ini, jadi maklum ajah kalau kita jadi berasa turun level." Kata Erika sambil terus mengamati barang-barang di rumah Adel.

"Udahla, ayok ke kamarku." Ucap Adel menaiki tangga ke lantai dua.

"Eh, Non Adel sudah pulang. Kebetulan sekali Bibi lagi butuh bantuan. Boleh tidak Non Adel bantu Bibi sebentar." Ucap Bibi Sani.

"Eh Bibi, bantu apaan Bi?" Tanya Adel berjalan kembali menuruni tangga.

"Itu Non, Non Sania minta di ambilin mangga muda. Tapi Non Sania maunya yang ambil anak muda, jadi Bibi baru saja mau ke depan minta tolong sama tetangga. Untungnya Non Adel udah di sini."

"Bibi, kok aku sih yang di suruh? Pohon mangga di belakang rumah kan tinggi banget, kalau aku jatuh gimana Bi?" Kesal Adel.

"Eh Non, tidak boleh gitu kalau bantuin orang lagi ngidam, nanti malah jadi buruk buat bayinya."

"Kalau Adel gak mau, kita bisa kok bantu ambil." Ucap Erika penuh semangat.

"Eh, iya Non, makasih ya, pohonnya ada di belakang." Ucap Bibi Sani menuntun ketiga gadis itu ke belakang rumah.

'Malas banget aku ketemu Ratu neraka. Tapi kalau gak ikut, nanti Bibi Sani bisa melapor ke Ibu sama Ayah, trus uang jajan aku kepotong.' Gumam Adel dengan kesal mengikut di belakang ketiga orang itu.

"Wah,, belakang rumah ajah seluas ini. Banyak bunga lagi. Udah berasa di Belanda ajah.." Komentar Sandra.

"Iya nih, di sini mah bisa main sepak bola." Erika menambahkan.

"Non Sania, ini ada teman Non Adel yang mau bantu ambil mangganya." Ucap Bibi Sani ketika mereka sudah dekat dengan Sania yang kini memandangi pohon mangga dengan air liur hampir menetes.

"Eh Bi. Ayo cepet kemari." Seru Sania dengan tidak sabar.

"Halo Kak." Erika dan Sandra menyapa Sania.

"Halo semuanya. Kenalin saya Sania, Kakaknya Adel. Makasih ya udah mau bantuin ambil buah mangga." Ucap Sania dengan tulus pada kedua gadis SMA itu. "Eh Dek, coba kamu yang panjat, Kakak pengen banget ni makan buah yang dipetiknya sama kamu." Seru Sania sambil mendekat ke arah Adel.

'Buset! Kenapa Ratu neraka jadi berlagak malaikat sekarang? Emang udah lupa ya soal yang kemaren?' Gumam Adel kebingungan.

"Eh Dek, kenapa malah diam? Ayo bantuin Kakak sebentar." Tambah Sania yang sudah sangat tidak sabar.

"Eh, eh,, baik Kak." Ucap Adel melangkah mendekati tangga sebelum berbalik lagi melihat kakaknya.

"Kenapa lagi Dek? Ayo cepat!"

'Sial, jangan jangan Si ratu neraka cuma pura-pura baik supaya aku bisa dimanfaatin ambilin mangga buat dia.' Gumam Adel tanpa bisa menolak permintaan kakaknya.

"Ayo dek, semangat. Demi calon ponakan!" Seru Erika memberi semangat pada Adel.

"Iya Dek, pokoknya ambil yang banyak! Biar aku juga bisa makan." Sandra menambahkan.

"Kalian tuh apa-apaan ya! Sini bantuin aku kalau mau makan mangganya juga!" Teriak Adel dari atas ujung tangga.

"Aduh Dek, jangan banyak bicara, kalau kamu jatuh Kakak ikutan kesakitan tahu." Seru Sania memperingatkan adiknya.

"Iya, iya,," ucap Adel.

Akhirnya Adel berhasil juga mendapatkan mangga muda untuk Sania.

"Wah,, makasih ya Dek. Kamu memang Adek yang paling bisa Kakak banggain!" Ucap Sania memeluk Adel.

'Eh,, ni si ratu neraka kenapa jadi baik gini?' Gumam Adel dalam pelukan Sania.

"Makasih Ya Dek," lagi ucapnya ketika ia melepaskan pelukannya dari adiknya.

"Iya Kak, tapi maaf ya cuma bisa ambil dua buah." Kata Adel.

"Iya gak papa kok Dek, kan masih ada dua teman kamu yang bisa manjatin buat kakak." Ucap Sania tersenyum lepas memandang Erika dan Sandra.

Akhirnya kedua teman Adel mengambil masing-masing 2 buah mangga muda untuk Sania sebelum mereka kembali masuk ke dalam rumah meninggalkan Sania dan Bibi Sani yang masih membereskan tangga yang telah mereka pakai.

"Non, Non duluan saja ke dalam. Bibi nanti nyusul abis beresin ini semua." Kata Bibi Sani pada Sania yang duduk di kursi taman menunggunya.

"Gak papa nih Bi?" Tanya Sania.

"Iya gak papa Non."

"Ya udah deh Bi, aku kedalam dulu." Ucap Sania lalu berjalan masuk ke dalam rumah.

Ketika ia tiba di dapur, ia meletakkan mangganya di atas meja sebelum berjalan ke depan rumah. 'Mas Aris kenapa lama sekali ya pulangnya?' Gumamnya melihat ke arah gerbang rumah.

Sania menunggu sebentar sebelum masuk lagi ke dalam rumah karena aja teringat mangga mudanya yang belum di apa-apakan.

"Eh Bi,, biar aku saja yang kerjakan."Ucap Sania ketika melihat Bibi Sani sedang mencuci mangga miliknya.

"Tidak usah Non, nanti Non kecapean," ucap Bibi Sani.

"Tapi saya ngidamnya makan mangga rujakan saya sendiri Bi." Sanggah Sania.

"Eh?" Bibi Sani tidak tahu harus menjawab apa.

"Biarin saja Bi, namanya juga Ibu hamil." Ucap Veronika yang muncul dari belakang.

"Iya deh Non, tapi hati-hati ya, apa lagi kalau pake pisau,,,"

"Iya Bi, aku bukan anak kecil lagi kok." Ucap Sania yang mulai membersihkan mangga mudanya.

"Ya udah Bi, tolong bantu saya merapikan ruang kerja suami saya ya." Kata Veronika lalu kedua orang itu pergi dari dapur meninggalkan Sania.

Sania sangat asik meracik rujak mangga mudanya ketika Aris tiba-tiba muncul dan memeluknya dari belakang.

"Sayang, kenapa kamu di dapur? Mana Bibi Sani?" Tanya Aris.

"Apaan sih kamu Mas? Jangan ganggu aku!" Gerutu Sania berusaha melepaskan diri dari pelukan Aris.

"Iya,," ucap Aris segera mengangkat Sania.

"Mas!!!!" Terima Sania karena sangat kaget.

"Duduk di sini." Ucap Aris mendudukkan Sania di atas meja makan.

"Aduh Mas, turunin aku dari sini!" Gerutu Sania karena ia terlalu takut untuk melompat dari atas meja karena memikirkan bayi dalam perutnya.

"Nanti saja setelah aku selesai membuat rujaknya." Kata aris dan mulai mengupas mangga muda yang sudah dicuci oleh Sania.

Sania akhirnya menurut dan hanya diam melihat suaminya membuat rujak untuknya.

Setelah selesai membuat rujak, Aris meletakkannya di atas meja makan dan kembali menggendong Sania lalu mendudukkannya di kursi meja makan.

Sania menelan air liurnya sambil mengambil garpu, sementara Aris mengambil nasi untuk makan siangnya.

"Mas,," Panggil Sania.

"Ya Sayang?" Jawab Aris berjalan mendekati Sania dan duduk bersama istrinya itu.

"Aku tidak mau lagi makan." Kata Sania meletakkan garpunya.

"Lho kenapa? Cicipi saja belum," Tanya Aris kebingungan.

"Bayinya minta kamu yang makan." Jawab Sania.

"Apa?"

"Iya Mas, ayo cepet makan." Kata Sania menyodorkan rujaknya ke Aris.

"Tapi sayang, aku belum makan siang, ini baru makan nasi. Kalau aku makan rujaknya sekarang bisa sakit perut nanti."

"Tapi ini permintaan bayinya." Sania berkata dengan nada lesu smabil mengusap perut datarnya.

Aris tak mampu menolak lagi "Ya udah deh sayang, jangan lesu begitu, nih aku makan ya." Ucap Aris menggigit satu potong mangga mudanya lalu memperlihatkan ekspresi konyolnya karena rasa asam pada mangga muda.

"Enakkan Mas? Habiskan." Lagi tambah Sania.

"Habiskan? Tapi sayang,," Aris mengerutkan keningnya melihat banyaknya mangga yang telah ia kupas. 'Kalau tau begini, aku tidak mengupas semua mangganya tadi.'

"Harus dihabiskan Mas! Nanti bayinya marah." Tambah Sania dengan suara sedihnya.

"Iya, iya sayang, akan ku habiskan." Ucap Aris menerima nasibnya.

1
Dwi apri
beneran atau prank nih
Tiwik Firdaus
cerifanya berbelit2 ngak ada jnungnya
Agnes Orindo
sukaaa
Dyah Oktina
aduh... typo nama nya .... kadang membuatku yg baca bingung... sbetulnya namanya ibu nya aris itu karina atau marita??? 2 episod begitu
ㅤㅤㅤㅤㅤ😻Kᵝ⃟ᴸ⸙ᵍᵏ نَيْ ㊍㊍🍒⃞⃟🦅😻
wah perjodohan
semangat terus berkarya 👍
Momo R
mungkin itulah balasanya durhaka sama suami😂
Rostanti Arahman
heeee
Elen Situmorang
aku mampir
M m
bagus tapi endingnya ngegantung
asal usul 2 keluarga yang tengyata memiliki kekuasaan belum dijelaskan
nasib Dokter Sanya juga gaada kelanjutannya
Yani Inaya Emerald Msi
aq dah klik favorit bang😄
Yani Inaya Emerald Msi
baru mulai baca, lanjutt thor
Maya Zaidan Zikco
aku mampir
Miadi
Good job, Adel
Miadi
Calon pelakor kedua yg harus dihempaskan
Miadi
Sanya, Sania, lama2 ketuker thor 🤭
Miadi
ganjen 😒
Miadi
Adel menjijikkan
Miadi
Orang kebakaran ni malahan asik MP 😅
Miadi
Gengsi digedein 😑
Miadi
Laki2 ky gitu 1 dari 1000
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!