NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nnot Senssei

Note: Ini adalah novel wuxia berlatar belakang zaman dahulu. Jadi jangan disamakan dengan novel sekarang yang sedang marak. Karena sudah pasti akan berbeda jauh.

Ini adalah novel lanjutan dari Kisah Pendekar Maung Kulon edisi pertama.

Di novel ini, perjalanan Cakra Buana yang bergelar Pendekar Maung Kulon atau yang sekarang sering disebut Pendekar Tanpa Nama, akan lebih menantang lagi. Bakal ada banyak intrik, propaganda, siasat, misteri, semuanya mungkin akan dihadirkan di novel ini.

Novel ini akan menceritakan kisah petualangan Cakra Buana di negeri Tionggoan (Tiongkok –kalau tidak kepanjangan mungkin sampai kembali ke Tanah Pasundan lagi–) untuk menyelesaikan tugas dari mendiang Pendekar Tanpa Nama yang menyuruhnya agar memberikan sebuah kitab pusaka kepada Perguruan Rajawali Putih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelabuhan Lemah Jawi

Cakra Buana menemani sang kekasih sekitar tiga hari. Selama tiga hari itu, keduanya selalu melewati hari-hari bersama. Apapaun dilakukan bersama.

Sekarang telah tiba saatnya untuk berpisah. Hari masih pagi, udara cerah dan mentari bersinar terang menerangi bumi. Suara burung terdengar indah salih sahut.

Orang-orang di daerah sekitar telah melakukan aktivitas mereka. Yang bertani mulai pergi ke sawah ladang. Yang berdagang mulai membuka lapak dagangan mereka.

"Sinta, aku pergi dulu untuk sementara waktu. Aku berjanji akan menjemputmu apapun yang terjadi," kata Cakra Buana bersungguh-sungguh.

Dia sudah berjanji. Janji yang tidak akan dia ingkari. Walaupun nyawanya melayang, dia akan tetap menjemput kekasihnya dengan rasa cinta yang terus bergelora.

Walai langit runtuh dan bumi hancur lebur, dia akan tetap menjemput wanita pujaan hatinya.

Hanya cukup Ling Zhi saja yang berpisah belum saatnya. Untuk Sinta, sama sekali dia tidak menginginkan hal itu terjadi lagi.

"Baik Kakang, jaga dirimu baik-baik di sana. Kau harus ingat bahwa di sini, aku selalu menunggu kedatanganmu," ujarnya sambil menahan tangis.

"Kau tenang saja, sampai kapanpun, aku akan tetap seperti ini kepadamu. Tidak akan ada yang dapat mengubahku, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita kecuali kematian,"

"Baik Kakang, aku percaya kepadamu. Akan aku ingat selalu semua ucapanmu,"

"Baiklah. Hari mulai siang, aku pamit pergi dulu," ujarnya sambil mencium kening sang kekasih.

Cakra Buana pergi tanpa menoleh lagi. Dia tidak ingin menambah kesedihan dalam hatinya. Pemuda itu menguatkan tekad demi satu tujuan.

Sedangkan Bidadari Tak Bersayap langsung masuk kembali ke dalam goa. Sama seperti kekasihnya, dia tidak menengok lagi ke belakang karena takut.

Takut bahwa dia akan mengejarnya jika melihat kepergian sang kekasih pujaan.

Air matanya mulai membasahi pipi. Tapi dia buru-buru mengusutnya. Dia harus tegar. Apapun yang terjadi.

Terkadang sebuah perpisahan adalah awal dari perjumpaan yang tidak akan pernah berpisah kembali untuk selamanya.

Cakra Buana menempuh perjalanan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sudah dia kuasai secara sempurna. Dia akan berangkat menuju ke Kotaraja Tanah Jawa.

Alasan tidak ingin memilih Kotaraja Tanah Pasundan adalah karena dia tidak ingin kembali ke "rumahnya" untuk sementara waktu ini. Karena kalau dia memilih Kotaraja Tanah Pasundan, sudah pasti akan ada saja orang yang mengenali dirinya meskipun kini penampilannya sudah jauh berbeda.

Seminggu kemudian, dia telah tiba di Kotaraja Tanah Jawa. Dengan bekal yang ada, tidak sulit baginya untuk mencari penginapan yang terbilang mewah.

Setelah beberapa waktu mencari, akhirnya dia menemukan orang yang bisa mengajarkan bahasa orang-orang Tionghoa kepadanya. Orang yang mengajarinya sudah terbilang tua.

Usianya sudah sekitar tujuh puluh tahun. Menurut pengakuannya, orang tersebut merupakan keturunan asli Tionghoa. Kedua orang tuanya merupakan pedagang lintas negara sehingga pada akhirnya memutuskan untuk menatap di Tanah Jawa ini.

Cakra Buana berguru kepadanya selama kurang lebih tiga bulan. Setalah bahasa Tionghoa berhasil dia kuasai, tanpa berlama-lama lagi Cakra Buana segera melanjutkan perjalanannya yang tertunda.

Tempat tujuannya saat ini adalah Pelabuhan Lemah Jawi. Pelabuhan ini sudah terkenal sejak zaman Kerajaan-kerajaan sebelumnya. Waktu yang dibutuhkan untuk tiba di sana sekitar dua minggu perjalanan.

Cakra memilih untuk pergi ke sana memakai kuda. Dirinya butuh waktu untuk beristirahat total.

Tanpa terasa lagi, dua minggu lebih telah lewat. Pendekar Tanpa Nama sudah berada di Pelabuhan Lemah Jawi sekitar tiga hari. Selama itu, dia menginap di sebuah penginapan yang cukup mewah.

Sekarang suasana masih pagi hari. Tetapi keadaan di pelabuhan sudah sangat ramai sekali. Orang-orang berbondong-bondong untuk menaiki kapal sesuai tujuannya.

Kapal yang akan berangkat ke Tiongkok dijadwalkan malam hari baru tiba di sana.

Pendekar Tanpa Nama menyukai suasana keramaian di pelabuhan. Setiap hari dia menghabiskan waktu di sana sambil meniup seruling bambu. Walaupun belum mahir, namun setidaknya dia sudah paham sedikit karena kemarin belajar juga saat dia berguru bahasa Tionghoa.

Dia melangkahkan kakinya ke sebuah kedai makan yang teradapat di sana. Kedai itu menjadi kedai favorit bagi setiap orang. Pasalnya selain karena makanan enak, di sana juga di jual arak yang lezat.

Pendekar Tanpa Nama duduk di bangku paling pojok. Dia memesan menu sarapan dan seguci arak.

Setelah menunggu beberapa saat, pesanan tiba. Pemuda berpakaian merah segera menyantapnya dengan lahap.

Namun di saat sedang nikmatnya menyantap makanan, dia mendengar ada suara desingan tajam. Walaupun agak jauh, tetapi dia dapat mendengarnya dengan sangat jelas.

Seperti suara besi kecil dilemparkan dengan kecepatan tinggi.

Dia memperhatikan keadaan di sekitar. Tak lama, terdengar jerit kesakitan dalam jarak cukup jauh. Pendekar Tanpa Nama tahu bahwa di sana telah terjadi pembunuhan. Entah siapa dan karena apa, dia tidak tahu. Pun dia tidak ingin mencari tahu. Selama tidak tahu masalahnya, untuk apa ikut campur?

Tetapi mendadak semua orang yang ada di dalam kedai merasa sangat terkejut. Semerbak bau busuk segera menusuk hidung setiap pengunjung.

Terlihat bangkai hewan yang entah apa namanya karena bentuknya saja sudah tidak jelas. Baunya sangat busuk. Bangkai itu dilemparkan oleh seseorang sehingga jatuh di tengah-tengah kedai makan.

Semua pengunjung merasakan mual. Serentak mereka lari ke luar sambil muntah-muntah. Tidak berselang lama dari bangkai busuk tadi, tiga buah kepala manusia tiba-tiba sudah berada di meja makan. Entah kapan dan bagaimana caranya orang itu bisa melakukan hal tersebut.

Orang-orang yang tahan akan bau busuk dibuat terkejut kembali. Walaupun dua kejadian menjijikan tadi terjadi secara tiba-tiba dan cukup menyeramkan, tetapi nyatanya masih ada beberapa orang yang diam di tempatnya.

Termasuk Pendekar Tanpa Nama sendiri. Dia telah menutup indera penciuman sehingga wajahnya masih tampak biasa saja.

Di saat seperti itu, dua orang berpenampilan seperti pendekar memasuki kedai dengan penuh kesombongan. Matanya menyapu seisi ruangan. Di pinggang satu orang terselip sebatang golok yang sangat tajam. Di punggung orang satunya lagi, terdapat satu pedang kecil berwarna hijau tua.

Keduanya merupakan pria. Sudah tua pula. Setidaknya umur mereka telah mencapai sekitar tujuh puluhan tahun. Yang satu gemuk seperti bola, yang satunya lagi kurus seperti bambu.

"Semua yang ada di sini, keluar sekarang juga!!" bentaknya kepada orang-orang yang ada di dalam kedai.

Suaranya menggelegar seperti guntur di siang hari. Serempak beberapa orang keluar setelah tahu siapa yang datang itu.

Ternyata kedua orang tua yang sombong tersebut sudah mempunyai nama di sana. Sehingga para pengunjung langsung lari terbirit-birit setelah mengetahui kedatangan mereka.

"Siapa kau seenaknya saja mengusir kami?" bentak salah seorang pengunjung yang diduga merupakan pendekar juga.

"Rupanya kau cari mampus," kata si kurus kering.

Selesai berkata, dia kemudian bergerak dengan sangat cepat. Mendadak satu kepala menggelinding. Orang yang bicara tadi dibuat buntung kepalanya.

Selama kejadian berlangsung, Pendekar Tanpa Nama tampak tidak takut sama sekali. Bahkan dia terlihat tidak memperhatikannya.

1
Wan Trado
yg sering terjadi tidak mau disalahkan, selalu mencari celah untuk pembenaran
Wan Trado
seseorang yg lagi tinggi tingkat fokusnya harusnya tidak bisa ada perasaan marah bercampur gemas, karena bisa mengakibatkan debar jantungnya meningkat dan aliran darah yg tidak stabil dapat membuat orang yang ditolong juga terkena efeknya.. apa mungkin karena pendekar tanpa tanding yaa sehingga apapun perasaan yang timbul tidak berpengaruh terhadap energi murni yang dikeluarkan..
Wan Trado
bercadar hitam tapi tampak cabang dan kumisnya.. hadehhh
Wan Trado
katanya siap dimadu... helehhh
Wan Trado
berapa orang yg mengerti bahasa Pasundan di Tiongkok sana ling ling, belajar sama mbah..??
Wan Trado
benar-benar bisa bahasa Pasundan ling ling 🤣🤣🤣
Wan Trado
dari Tiongkok sampai kembali ke Pasundan pilihan kedainya selalu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil 😅
Wan Trado
tuh kann, bisa membalas anggukan juga..
Wan Trado
buta kok bisa memandang satu persatu ya..
Wan Trado
yeye harusnya bukan yaya
Wan Trado
tidak ada saksi, semua terbunuh.. bagaimana dan siapa yang menyebarkan beritanya..???
Wan Trado
satu keping emas dan 80 keping perak, dibayar 2 kepung perak, disuruh ambil semua lagi.. 🤣🤣🤣
Wan Trado
yg disebut Liu bing adalah tuan ong, kok jadi tuan Zhu yang dipikirkan cakra.. 🤔
Wan Trado
biasanya orang cina daratan tidak bisa melafalkan kata yang mempunyai dua huruf mati yg berdempetan, jadi mungkin nama cakra bisa jadi dilafalkan ca ke la, begitu ya kira-kira Thor..
Wan Trado
1 0 0 1
Wan Trado
lebih mendekati kenyataan dengan tingkat kehaluan yang rendah, tidak seperti cerita kultivasi yang halu nya tinggi dan hampir tidak ada logikanya.. mantap 👍👍
Wan Trado
jaman itu hitungan jarak dengan hitungan tombak, bukannya meter
Wan Trado
berjabat tangan tidak lazim di Tiongkok
Wan Trado
kalau kisaran umur itu bisanya dalam bilangan genap, misal tiga puluhan,.. kalau disebut tigapuluh sembilan berarti sudah tau pasti dong..
Wan Trado
dijaman itu belum ada tiket ya, jadi bisa naik sesuka hati tanpa melewati pemeriksaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!