NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Pusara Masa Lalu Satya

Satya menghela napas. Ia dan Eko memang sudah lama tahu. Tentang hubungan Rina dan Taufik.

Tahu juga, kalau Rina hanya dimanfaatkan untuk diambil duitnya. Namun, namanya wanita yang dalam bucin tingkat tinggi.

Mereka milih diam. Sebab Rina seakan tak bisa diberi peringatan. Membentak. Bahkan tak segan memotong gaji, kalau keduanya menyinggung dengan kata.

Pak To tanpa sadar, menangkap Satya. Mulai menyadari keberadaannya. Ia berdehem. Mengusap kasar peluh di dahi, lalu kembali menatap Rina dengan pandangan dingin tanpa kompromi.

“Begini saja. Besok, kamu nggak usah ke bengkel. Bapak kursuskan kamu salon. Urusan bengkel, Bapak serahkan Satya.”

“Apa?” Satya tersentak.

Eko tak kalah kaget. Terlebih Rina yang langsung merengut. Langkah kakinya bahkan sampai menghentak tanah berkali-kali.

Geram. Seakan itu kode. Kalau ia menolak mentah-mentah keputusan sepihak ayahnya.

“Bapak jahat! Bengkel ini kan punya Bang Wahyu. Kok diserahkan sama si buruk rupa sih?” Ia mendengkus kasar. Melotot tajam ke arah Satya. “Mentang-mentang Bang Wahyu masih di ….”

“Diam kamu!” bentak Pak To tajam. “Bengkel ini sudah sepatutnya dikelola Satya, asal kamu tahu.” Tangannya menunjuk wajah Rina dengan telunjuk gemetar hebat. Memotong kalimat putrinya dengan emosi yang meluap-luap.

“Kenapa dia? Kenapa bukan yang lain?” Rina kembali menunjuk Satya, penuh emosi. “Apa maksudnya dia lebih patut?” Dada gadis tua itu naik turun memburu. Menuntut penjelasan di tengah konflik yang dia buat sendiri.

“Karena bengkel ini … benar atas nama Wahyu. Tapi dibangun menggunakan modal dari Pak Arif, ayahnya, Satya.” Pak To tanpa sadar menceletuk. Kalimat itu meluncur begitu saja, meruntuhkan kebohongan yang dijaga ketat selama bertahun-tahun.

Eko dan Rina kaget bersamaan. Atmosfer bengkel seketika membeku dalam keheningan yang luar biasa mencekam.

“Apa?” Eko melongo, menatap Satya seolah baru pertama kali melihat sahabatnya itu. “Dia anaknya Pak Arif? Konglomerat yang dulu beritanya heboh itu? Kok bisa?”

"Tidak mungkin. Pak Arif, majikan Bapak dulu …." Rina membulatkan mata. Tak percaya. ".... Bukannya Pak Arif, istri dan anaknya meninggal dalam kebakaran?" Ia melangkah mundur dua langkah, menatap parut luka bakar di wajah Satya dengan kengerian yang kembali menjalar ke seluruh tubuh.

“Apa mungkin luka itu ….” Kalimatnya terputus. Tak sanggup dirangkai. Tubuhnya gemetar. Menyadari bahwa pemuda miskin yang selalu ia zalimi adalah ahli waris tunggal, yang mungkin, bisa saja selamat dari tragedi berdarah masa lalu.

“Bukan, Mbak,” elak Satya, masih berusaha menutupi. Ia mundur selangkah, meraba parut luka melepuh di pipinya, yang terasa mendadak panas di bawah lampu neon bengkel. “Luka ini karena saya kurang hati-hati saat ….”

“Sudah cukup, Den.” Pak To memotong, suaranya bergetar menahan gejolak yang sudah lama ia simpan.

Pria tua itu menggebrak pelan tumpukan ban bekas di dekatnya, memicu kepulan debu tipis yang bersaing dengan ketegangan di antara mereka. “Saya sudah mengecek cctv, sudah bertanya sama Eko juga. Tentang perlakuan Rina sama Aden. Maafkan Bapak, ya, Den.”

Pak To mengusap wajah yang mulai berkerut dalam. Menyembunyikan rasa bersalah yang bertahun-tahun menggerogoti jiwanya. “Bapak sudah tidak mau menutupi ini lagi. Toh, anak Bapak, Wahyu, sudah mendekam. Masa hukumannya juga tinggal setahun. Bapak … sudah tak takut dengan ancaman Nyonya. Bapak nggak tega melihat Aden diperlakukan tak adil. Bapak merasa bersalah.”

Air mata Pak To tumpah, kalimat terhenti sesaat. Bahunya berguncang hebat di tengah drama keluarga yang berkelindan dengan intrik korporasi masa lalu.

Kemudian setelah agak tenang, ia kembali melanjutkan, “Ini saatnya Aden harus membongkar semuanya. Jangan memikirkan nasib keluarga Bapak. Aden harus mengambil lagi hak Aden sebagai pewaris Arif Utama.”

Penjelasan itu membuat Rina menelan ludah. Langkah kakinya goyah, wajah angkuhnya seketika pias dan pucat pasi.

Di sisi lain, Eko hanya melongo. Tanpa sadar menjatuhkan tangki oli kosong yang dipegangnya hingga berdenting nyaring ke lantai semen. Tak pernah menyangka, kalau selama ini ia berteman dengan perwaris konglomerat.

“Saya sudah dicoret dari keluarga, Pak,” cicih Satya, “sudah terlanjur. Toh saya lebih senang hidup begini. Bisa selamat dari kebakaran saja, saya sudah bersyukur.” Meski ikhlas, ia masih mengepalkan tangan. Kembali mengingat malam kelam saat api melahap habis masa kecilnya yang sempurna.

“Tidak bisa begitu, Den.” Pak To hampir berteriak histeris. Ia mencengkeram kedua bahu Satya, menatap lekat mata pemuda itu dengan keputus-asaan yang memuncak.

“Bapak takut, takut ini akan menjadi beban saat Bapak meninggal. Karena Aden melakukan ini demi melindungi keluarga Bapak.”

“Sebenarnya … apa yang terjadi?” Rina akhirnya bersuara. Suaranya mencicit kecil, kehilangan taring yang biasanya digunakan untuk membentak Satya. “Pak, bukannya Bram anak Pak Arif sudah meninggal? Dan Mas Wahyu, dipenjara karena mencuri uang perusahaan?”

“Bram Satya Utama.” Pak To sedikit mendorong tubuh Satya. “Adalah anak tunggal Tuan Arif dan Bu Dianita. Dulu memang panggilannya Bram. Bapak yang inisiatif ganti nama panggilan, menjadi Satya. Demi melindungi Aden. Dan mengenai kakakmu … tuduhan itu palsu.”

Pria tua itu menghela napas sebelum meneruskan, “Kakakmu dipenjara karena fitnah Tuan Heru. Itu karena kakakmu mengetahui hubungan terlarang Tuan Heru, dengan salah satu stafnya.”

“Apa?” Satya tercengang, baru mengetahui kenyataan perselingkuhan pamannya. Jantungnya berdegup kencang, menyadari intrik busuk yang menyelimuti dalam keluarganya. “Tapi kenapa tadi Bapak mengatakan … Tante Risma mengancam Bapak? Apa Tante tahu perselingkuhan Paman?”

“Intinya, Tuan Heru tidak pernah malu dengan keadaan Aden.” Pak To malah menjawab lain.

“Kalau bukan malu … kenapa aku ditaruh di panti? Apa jangan-jangan kebakaran itu disengaja?”

“Mengenai kebakaran itu … berdasar penyelidikan, memang karena konsleting listrik. Mengenai Nyonya Risma, dia hanya mengambil kesempatan, menyingkirkan Aden. Demi menguasai harta,” balas Pak To terus terang. “Nyonya ingin Bapak menyingkirkan Aden. Membuat kecelakaan palsu. Namun, Tuan Heru tidak setuju. Sehingga dibuatlah karangan tersebut.” Sambil melirik cemas ke luar bengkel.

“Jadi bukan karena malu karena aku cacat?” Satya memastikan. Ia melangkah maju, menuntut kejujuran mutlak dari pria tua yang sudah ia anggap seperti ayah sendiri. “Kok saya tetap dibuang? Kenapa Paman menurut sama Tante?”

“Ya karena Nyonya yang minta.” Pak To menghela napas. “Perlu Aden tahu, awalnya Nyonya Risma ingin Aden mati.” Rahang pria tua itu mengeras.

“Namun Tuan Heru tidak mau. Hingga, perselingkuhan itu terbongkar. Tak ada pilihan, terjadi perdebatan. Hingga dibuat kesepakatan, Aden dibuang. Saya diminta mencari panti yang jauh dari kota. Dengan imbalan, masa tahanan anak saya dikurangi. Karena kalau dikeluarkan cepat. Akan mempengaruhi kredibilitas Tuan Heru. Karena laporan awal itu dari dia.”

“Kenapa Tante melakukan hal jahat itu?” sambar Satya.

"Hal itu dilakukan Nyonya Risma. Ingin Aden mati. Supaya harta keluarga Utama, hanya jatuh ke tangan anaknya. Den Bagas.” Pak To meneruskan, “Sekarang Bapak tak peduli. Usai Wahyu keluar. Bapak dan keluarga. Berencana pindah ke luar kota.” Sambil mengusap air matanya kasar, menunjukkan ketetapan hati yang sudah bulat. Untuk bisa keluar dari lingkaran drama berdarah ini.

Satya terhenyak. Pikirannya selama ini salah. Heru membuangnya, bukan karena malu. Melainkan demi melindunginya.

Kenangan saat pamannya memalingkan wajah di rumah sakit bertahun-tahun lalu kini berputar dengan makna yang sepenuhnya berbeda. “Sepertinya aku harus bertemu, Paman.”

“Iya. Dan bengkel ini, memang hak Aden. Saya tidak mengada-ada. Saat Wahyu dituduh menggelapkan uang. Tuan Arif menyelidiki semuanya. Tak ada bukti Wahyu melakukannya. Namun, karena Tuan Heru ngotot, takut ketahuan buruknya. Wahyu tetap di penjara.” Pak To meraup wajah, meratapi kemalangan nasib anaknya yang menjadi korban intrik kekuasaan.

“Usai kebakaran itu. Nyonya Risma mendatangi saya. Saya itu memang satmya yang bongkar semua. Mengenai perselingkuhan. Harapan saya, Wahyu bebas. Ternyata … saya malah terlibat lebih jauh dalam drama keluarga Utama. Maaf.” Pak To menundukkan kepala sedalam-dalamnya di hadapan Satya.

Satya tersenyum kecil. Ia menepuk pundak Pak To dengan lembut, meluruhkan semua beban bersalah yang membelenggu pria tua itu. “Tak apa. Kalau begini kan jelas, Pak. Saya akan coba tanyakan kepada Paman Heru. Sekalian memberi kabar bahagia.”

“Kabar bahagia?” Pak To kaget. Ia mendongak cepat, mengernyitkan dahi di tengah sisa air matanya.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!