"Mulai sekarang, setiap satu jam sekali, kamu harus mencium bibirku! Aku tidak akan menerima penolakan," tegas Nathan lagi. "Kamu wajib menciumku di mana pun kita berada, bahkan di dalam kelas atau di tempat umum."
Jenny mulai merasa panik, "Tu - tuan, tapi itu sungguh tidak masuk akal!"
"Jenny, jika ingin ibumu selamat dan semua alat medis tetap terpasang di tubuhnya yang lemah itu, turutilah apa mauku!" ujar Nathan dengan nada mengancam. Ancaman tersebut membuat lamunan Jenny terhenti seketika.
****
Jenny terkejut saat mendengar apa yang baru saja diucapkan Nathan, tuan muda culun yang menjadi murid terbodoh di antara 450 siswa di SMA Taruna. "Jadi, jika kamu ingin aku sembuh dari semua luka trauma yang ditimbulkan oleh ayahmu, mulai sekarang kamu harus menciumku setiap satu jam sekali," ucap Nathan tegas.
****
Jenny adalah seorang perempuan yang sedari kecil hidup penuh kebahagiaan, bahkan hidupnya nyaris sempurna.
Ia terlahir dengan paras yang cantik, hidup penuh kebahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
Nathan pun berjalan ke arah bangku miliknya, para murid tidak ada yang meliriknya sama sekali termasuk Ricard yang satu kelas dengannya. Bahkan guru yang berdiri di depan kelas terlihat kembali menjelaskan pelajaran yang ada hari ini.
Nathan duduk sembari mengepalkan ke dua tangannya, amarah sekarang ini benar benar menguasai dirinya.
"Jenny berani beraninya kau! Kenapa kau itu tidak ada di kelas? Dan kenapa sekarang ini Galen juga tidak ada di kelasnya?" gumam Nathan dalam hatinya, ia nampak melihat ke arah bangku milik Galen yang sekarang ini juga nampak kosong seperti bangku milik pelayannya.
2 Jam pun berlalu dan bel tanda pulang sekolah pun akhirnya berbunyi, karena memang para guru di SMA Taruna akan mengadakan rapat tentang pergantian struktur sekolah. Karena posisi dari pemilik saham dan juga kepala sekolah telah berganti. Tentu saja harus di adakan rapat sesegera mungkin oleh komite pengurus sekolah.
Harusnya rapat di adakan 2 jam yang lalu, namun karena sang kepala sekolah sekaligus pemilik saham SMA Taruna nampak ijin karena ada urusan. Jadi jadwal rapat itu di ganti.
"Selama 2 jam yang sangat membosankan ini aku menunggu mu Jenny! Tapi kau itu tetap saja tidak kembali, bahkan Galen juga sama seperti mu! Lihatlah hukuman apa yang akan aku berikan setelah ini kepadamu!" gumam Nathan dalam hatinya, bahkan percikan api kemarahan nampak terlihat dari ke dua sudut matanya.
Nathan memilih membawa tas miliknya dan juga tas milik pelayannya. Dari kejauhan Nathan melihat teman sekelasnya yaitu Kamila dan juga Tiara nampak di giring oleh Ricard dan juga teman temannya.
Ia memilih acuh dan tetap meninggalkan kelas, karena urusan Kamila maupun Tiara bukanlah menjadi urusannya, hanya nama Jenny ... Jenny ... Jenny yang sekarang ini benar benar menghantui pikirannya.
Nathan nampak berjalan cepan dengan kaki jenjangnya, tinggi Nathan adalah 176 cm. Sunguh sangat berbeda tipis jika di bandingkan dengan Galen, karena tinggi badan Galen sendiri 178 cm dan Jenny memiliki tinggi badan 165 cm.
Nathan berjalan mengelilingi area sekolah, sekarang ini ia tidak mungkin merengek di depan ibunya untuk meminta bantuan, agar ibunya itu mau membantu mencari keberadaaan Jenny.
Karena ia tahu, kalau sekarang ini Vina pasti sedang sibuk rapat dengan para guru.
Setelah 30 menit mengitari area sekolah, Nathan tetap saja tidak menemukan batang hidung Jenny. Bahkan ia yang sesekali mengecek bangku milik Jenny juga tidak menemukan bayang bayang Jenny maupun Galen yang ada di sana.
"Jenny, sebenarnya kau itu dimana? Semua tempat di sekolah ini sudah aku datangi, termasuk gudang kosong yang di ucapkan Galen saat berada di dalam kamar mandi. Namun kenapa sampai sekarang aku itu tidak menemukan keberadaan mu? Kau itu sebenarnya diman?" gumam Nathan sembari mengepalkan ke dua tangannya. Antara amarah dan juga rasa khawatir semuanya nampak menjadi satu.
Di tengah rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya, Nathan tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan memilih duduk di bangku kosong di dekatnya. Ia berusaha merasakan sekitar dan mencoba merenung sejenak, namun sebuah gumaman tak sengaja terlontar dari mulutnya, "Kenapa aku seperti mendengar suara Galen?"
Galen, orang yang paling ia benci di dunia ini, selalu menjadi duri dalam dagingnya. Selain sering membully, Galen juga satu-satunya laki-laki di SMA Taruna yang bisa dekat dengan Jenny, cinta pertama Nathan.
Perasaan penasaran dan kecemburuan mulai menyelimuti pikirannya. "Seharusnya aku tak perlu peduli, tapi kenapa rasa penasaran ini tak bisa kutahan?" batin Nathan dengan rasa tidak nyaman.
Saat itu juga, pintu ruangan unit kesehatan sekolah terbuka dan dua orang perawat keluar. Sejurus kemudian, pikiran Nathan terfokus pada satu hal, mencari keberadaan Jenny, yang sedari tadi ia cari keberadaan nya tapi belum ia temukan.
"Apakah Jenny ada di sini? Mungkinkah ruangan unit kesehatan ini adalah satu-satunya tempat yang belum ku kunjungi?" gumam Nathan dalam hatinya.
Dengan langkah ragu, Nathan memilih membuka pintu unit kesehatan sekolah itu secara perlahan. Namun, apa yang di lihatnya membuat kedua bola matanya terbelalak sempurna. Di hadapannya, terpampang pemandangan yang ia coba hindari sejak awal - Galen sedang mencium Jenny.
Hatinya hancur dan amarah pun tak terbendung, "Bagaimana mungkin? Apakah aku tidak salah lihat?" Nathan terlihat melepaskan kaca matanya, karena sebenarnya matanya itu tidak kenapa kenapa, berkaca mata hanya untuk memperjelas penampilannya saja. Ia hanya ingin memastikan penglihatannya.
"Jenny, kenapa kau itu mau untuk di cium oleh dia?" Nathan merasa dunianya runtuh, hatinya terasa di hancurkan berkeping keping.
Amarah, jengkel semuanya menjadi satu. Nathan terlihat menggebrak pintu ruang Unit Kesehatan Sekolah itu.
"Dimana harga dirimu? Kenapa kau itu jadi gampangan sekarang ini?" teriak Nathan.
kalo berkenan mampir juga ya😉