Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 : TANDUK YANG TERSISA
Tiga hari setelah kejatuhan Adrian, koridor lantai dua sayap barat terasa begitu lengang. Elara berjalan dengan langkah yang tenang, dan Dante yang setia di belakangnya.
Di sisi kiri Elara, Julian Vance berjalan lambat sembari memegang sebuah tablet, yang sesekali menunjukkan beberapa pembaruan skema enkripsi logistik yang baru ia selesaikan.
"Dengan jalur ini, Nona Elara, distribusi dari dermaga tidak akan menyisakan jejak digital yang bisa dilacak oleh interpol," ujar Julian, suaranya tenang, dibumbui nada pamer yang halus di hadapan Dante.
Elara hanya melirik sekilas tanpa menghentikan langkahnya. "Aku tidak butuh teori, Tuan Julian. Aku hanya butuh sistem itu bekerja tanpa cacat saat pengiriman pertama minggu depan."
"Tentu saja, Anda bisa memegang kata-kata—"
Kalimat Julian terputus seketika.
Dari balik belokan koridor di depan mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan seragam penjaga berlari kencang. Itu adalah salah satu sisa bawahan faksi Adrian yang luput dari pembersihan. Wajahnya merah padam, dipenuhi keputusasaan.
Di tangannya, sebilah pisau berkilat tajam, terarah lurus ke dada Elara.
"Mati kau, jalang!" raung pria itu, suaranya menggema liar di koridor yang sempit.
Semua terjadi dalam hitungan detik.
Julian tersentak mundur secara refleks, tangannya menjatuhkan tablet ke lantai dengan bunyi retakan yang keras. Adrenalinnya melonjak, namun tubuhnya membeku melihat kecepatan serangan mendadak itu.
Dante bergerak secepat kilat. Tangannya langsung menyusup ke balik jas untuk menarik senjata, siap menerjang musuh di depannya. Namun, Elara justru melakukan sesuatu yang di luar dugaan.
Ketika ujung pisau itu tinggal berjarak beberapa senti dari pakaiannya, Elara menggeser kaki kirinya ke belakang dengan gerakan yang sangat mulus, memutar tubuhnya setengah lingkaran ke samping—sebuah gerakan menghindar yang sempurna, membuat pisau pria itu hanya menebas udara kosong di samping lengannya.
Sebelum penyerang itu sempat memulihkan keseimbangannya akibat momentum dorongannya sendiri, tangan kanan Elara yang terbebas bergerak dengan kecepatan yang mengerikan.
Dengan gerakan yang presisi, Elara mencengkeram pergelangan tangan pria itu, lalu memutar bagian persendiannya ke luar dengan sentakan yang sangat keras.
𝘒𝘙𝘌𝘛𝘌𝘒
"AAAGHH!"
Bunyi patahan tulang pergelangan tangan itu langsung diikuti oleh pekikan melengking. Pisau jatuh berdentang di atas lantai.
Tanpa melepaskan cengkeramannya, Elara memanfaatkan berat tubuh pria itu yang limbung. Ia menarik lengan yang patah itu ke bawah, bersamaan dengan lutut kanannya yang naik dengan hantaman tepat ke arah ulu hati sang penyerang.
𝘉𝘜𝘔
Pria kekar itu terbatuk darah, seluruh pasokan udaranya lumpuh seketika. Tubuhnya yang besar ambruk, berlutut di depan kaki Elara yang masih berdiri tegak.
Seluruh koridor kembali sunyi senyap, menyisakan suara napas terengah-engah dari pria yang mengerang kesakitan di lantai.
Elara menunduk, menatap bawahan Adrian itu dengan pandangan tajam, lalu menggunakan ujung sepatu hak tingginya untuk menggeser pisau yang terjatuh agar menjauh.
Seluruh gerakannya tadi begitu anggun, efisien, dan mematikan. Ia bahkan tidak terlihat seperti orang yang kehabisan napas.
Dante segera berdiri di sisi Elara, senjatanya sudah terhunus, matanya berkilat penuh amarah karena merasa gagal bergerak lebih cepat dari Elara.
"Elara... Maafkan aku. Aku terlambat."
Elara mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar Dante menurunkan senjatanya. "Bukan salahmu, Dante. Serangga ini hanya terlalu putus asa." Elara lalu beralih menatap Dante dengan tatapan yang melunak. "Urus dia. Bawa ke sayap bawah tanah, biarkan Adrian menyambut teman lamanya."
"Baik," jawab Dante parau, langsung mencengkeram kerah jaket pria yang sudah lumpuh itu dan menyeretnya pergi.
Kini, di koridor itu hanya tersisa Elara dan Julian yang masih terpaku.
Julian menatap Elara dengan pandangan yang benar-benar baru. Sisa adrenalin di tubuhnya kini bercampur dengan rasa takjub yang luar biasa. Ia mengira Elara hanyalah otak di balik meja yang sepenuhnya bergantung pada perlindungan Dante. Apa yang baru saja ia saksikan mengubah seluruh pandangannya. Wanita ini bisa menjadi algojo jika dia mau.
Julian perlahan berlutut untuk mengambil tabletnya yang retak, lalu bangkit berdiri sambil memperbaiki posisi kacamatanya yang sedikit miring. Sebuah tawa kagum yang sarkas lolos dari bibirnya.
"Saya rasa... saya baru saja melihat sesuatu yang menakjubkan, Nona Elara," bisik Julian, matanya berkilat penuh obsesi. "Anda tidak butuh anjing penjaga. Anda bahkan bisa mematahkan leher siapa saja sendirian jika Anda mau."
Elara berbalik, menatap Julian, "Kau terlalu banyak bicara, Tuan Julian," ucap Elara datar, suaranya bergaung di koridor. "Dante ada untuk mencegahku agar tidak perlu mengotori tanganku dengan darah murahan seperti mereka. Mengerti?"
Tanpa menunggu jawaban, Elara melangkah pergi, meninggalkan Julian yang masih terpaku memandangi punggungnya dengan senyuman miring yang semakin melebar di wajahnya.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..